Dimas datang membawa sebuah kardus.
Bukan ke kampus. Ke kosku.
Aku melihatnya dari jendela lant** dua dan langsung tahu isi kardus itu: sisa hubungan dua tahun yang tidak pernah benar-benar kami bagi. Buku, hoodie, surat, charger, foto cetak.
Keira berdiri di belakangku. “Mau aku turun?”
Aku menggeleng.
Dimas mengirim pesan dari nomor baru.
Aku cuma mau balikin barang. Nggak perlu ngobrol kalau kamu nggak mau.
Dulu, kalimat seperti itu akan membuatku turun. Karena terdengar ma**k akal. Karena terlihat dewasa. Karena aku akan takut dianggap kejam kalau tidak membuka pintu untuk orang yang “cuma mau mengembalikan barang”.
Aku menelepon Raka.
Ia menjawab pada dering kedua.
“Aku di sini,” katanya setelah aku menjelaskan.
Tiga kata itu.
Bukan Aku datang. Bukan Suruh dia pergi. Bukan Jangan takut.
Aku di sini.
Aku duduk di lant** dekat pintu kamar sambil memegang ponsel. Raka tidak banyak bicara. Ia hanya mendengarkan napasku, sesekali menceritakan hal-hal tidak penting tentang maket agar keheningan tidak terasa terlalu besar.
Akhirnya aku mengirim pesan pada Dimas: Titipkan ke penjaga kos. Terima kasih.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada maaf.
Lima menit kemudian, kardus itu sudah di bawah.
Aku tidak turun sampai satu jam setelah Dimas pergi.
Barang-barang itu terasa seperti milik orang lain. Aku membuka kardus bersama Keira. Ada gelang, foto, tiket bioskop, dan surat ulang tahun yang dulu kubaca sampai hafal.
Aku tidak menangis.
Yang membuatku menangis justru ketika melihat layar ponsel. Pangg***n dengan Raka sudah berlangsung satu jam dua puluh tiga menit.
“Kamu masih di sana?” tanyaku.
“Ya.”
“Kok nggak tutup?”
“Kamu belum bilang selesai.”
Aku menutup mata.
Hari ke-41.
Di situlah aku tahu.
Bukan cinta. Belum. Aku belum berani menyebutnya begitu.
Aku menyebutnya efek kebiasaan. Rasa aman sementara. Konsekuensi dari terlalu sering bicara.
Tetapi malam itu, setelah pangg***n berakhir, aku membuka countdown.
59 hari tersisa.
Untuk pertama kalinya, angka itu membuatku takut.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!