Kita Putus Setelah 100 Hari

Bab 2: Bab 2: Dua Masalah, Satu Solusi

Pengaturan Membaca

Aku tidak percaya pada solusi yang muncul karena panik. Biasanya solusi semacam itu menambah pekerjaan.

Namun ketika Nara Maheswari menunjukku sebagai pacarnya di koridor, aku sedang memiliki masalah yang sangat spesifik dan sangat bodoh: keluarga Sela mulai mengira aku akan menikah dengan anak mereka.

Itu berawal dari satu foto proyek. Aku dan Sela berdiri terlalu dekat di depan maket, lalu seorang tante mengirim emoji hati di grup keluarga. Dalam dua minggu, candaan berubah menjadi pertanyaan. Pertanyaan berubah menjadi a**msi. Dan a**msi mulai mengganggu Sela yang sudah tiga kali menjelaskan bahwa kami sahabat sejak semester satu.

Sela mengetuk meja studio dengan ujung pensil. “Jadi solusi kamu apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

“Raka.”

“Aku dengar.”

“Kamu dari tadi lihat layar kosong.”

“Lagi mikir.”

“Seram.”

Aku memutar laptop ke arahnya. Di layar ada pesan dari ibu Sela: Kalau Raka memang dekat sama orang lain, Tante cuma ingin tahu supaya tidak salah paham.

Sela menghela napas. “Aku sayang Mama, tapi ini sudah mulai ma**k ke wilayah absurd.”

“Aku mungkin punya solusi.”

Ia menyipitkan mata. “Kenapa kalimat itu terdengar seperti awal masalah baru?”

Aku tidak menjelaskan sampai sore, ketika aku bertemu Nara di Kafe Titik Temu. Ia datang tujuh menit terlambat, membawa tote bag yang tampak seperti akan meledak karena terlalu penuh. Ia duduk di depanku dan langsung berkata, “Aku sudah memikirkan seratus alasan kenapa aku seharusnya nggak datang.”

“Kenapa tetap datang?”

“Karena seratus satu: aku butuh tahu apa yang kamu maksud.”

Aku mengangguk. “Ma**k akal.”

“Jangan bilang ma**k akal dengan muka seperti dosen statistik.”

“Aku anak arsitektur.”

“Lebih buruk.”

Aku hampir tertawa. Hampir.

Aku menjelaskan tentang Sela, proyek kompetisi, keluarga yang terlalu cepat menarik kesimpulan, dan bagaimana satu hubungan publik akan membuat semua orang berhenti menunggu sesuatu yang tidak pernah ada.

Nara menyandarkan punggung. “Jadi kita sama-sama butuh pacar palsu.”

“Untuk alasan berbeda.”

“Ini terdengar seperti ide sinetron.”

“Kalau sinetronnya efektif, aku tidak melihat masalah.”

Ia menatapku lama. “Kamu serius?”

“Aku jarang bercanda tentang pekerjaan tambahan.”

“Hubungan palsu itu pekerjaan tambahan.”

“Makanya perlu aturan.”

Aku sudah membawa notebook hitam kecil. Ketika kubuka, Nara menatapku seperti baru menyadari aku mungkin jauh lebih aneh daripada yang ia kira.

“Kamu sudah menulis aturan?”

“Kerangka.”

“Raka, kita belum setuju.”

“Aku catat kemungkinan.”

Ia tertawa, kali ini benar-benar. “Kamu selalu begini?”

“Begini bagaimana?”

“Seolah hidup bisa diselesaikan dengan tabel.”

“Sebagian besar bisa.”

“Hubungan nggak.”

Aku menatapnya. “Bagus. Karena ini bukan hubungan.”

Kalimat itu membuat senyumnya hilang sepersekian detik. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan.

Kami membahas risiko. Dimas. Sela. Teman kampus. Media sosial. Berapa lama sandiwara harus berlangsung. Nara menolak enam bulan. Aku menolak satu minggu.

“Seratus hari,” kataku akhirnya.

“Kenapa seratus?”

“Pameran akhir semester selesai seratus hari lagi. Setelah itu proyekku beres, masalah Sela selesai, dan…”

“Dan mantanku seharusnya sudah capek.”

“Harapannya.”

Ia mengambil sedotan dari gelas es kopi dan memutarnya pelan. “Hari ke-seratus kita putus.”

“Ya.”

“Tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Aku mengangguk.

Ia menatapku seolah sedang mencari celah.

“Dan kalau salah satu dari kita benar-benar suka orang lain?”

“Kontrak berakhir lebih cepat.”

“Kalau salah satu dari kita jatuh cinta pada yang lain?”

Aku hampir menjawab itu tidak akan terjadi. Namun aku tidak suka menulis aturan berdasarkan a**msi.

“Dilarang,” kataku.

Nara tertawa lagi. “Perasaan nggak baca kontrak.”

“Kalau begitu kita pastikan tidak memberi alasan.”

Ia mengulurkan tangan di atas meja.

“Seratus hari?”

Aku menatap telapak tangannya.

“Seratus hari.”

Kami berjabat tangan.

Saat itu aku benar-benar percaya dua masalah bisa diselesaikan dengan satu kontrak.

Aku belum tahu kontrak itu akan menjadi masalah terbesar kami.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca