Kafe Titik Temu menjadi tempat lahirnya keputusan terburuk yang pernah kutulis dengan tinta hitam.
Raka datang membawa dua lembar kertas yang sudah dicetak. Bukan catatan. Bukan draft di ponsel. Kertas. Dengan judul di tengah: KESEPAKATAN HUBUNGAN SEMENTARA.
Aku menatapnya selama lima detik.
“Kamu bikin kontrak legal?”
“Tidak legal.”
“Ada nomor pasal.”
“Biar rapi.”
“Ada kolom tanda tangan.”
“Biar jelas.”
“Ada klausul penghentian.”
“Karena kamu kemarin bilang perasaan nggak baca kontrak.”
Aku menutup mata sebentar. “Tuhan benar-benar mengirim orang paling aneh untuk menolongku.”
Raka menyeruput kopinya. “Kamu masih bisa batal.”
Itu yang membuatku diam.
Kalimat sederhana. Tidak ada bujukan. Tidak ada, Tapi kita sudah sejauh ini. Tidak ada rasa bersalah. Pilihan itu benar-benar diletakkan di depanku dan dibiarkan menjadi milikku.
Aku duduk.
“Baca dari awal.”
Kami membaca setiap aturan.
Satu: hubungan berlangsung selama seratus hari, terhitung sejak kontrak ditandatangani.
Dua: keduanya boleh menggunakan status hubungan untuk kepentingan sosial yang sudah disepakati, tetapi tidak boleh merugikan reputasi pihak lain.
Tiga: tidak ada kewajiban romantis ketika tidak ada orang lain yang perlu diyakinkan.
“Yang ini terlalu dingin,” protesku.
“Tujuannya memang membatasi.”
“Aku tahu. Tapi ‘tidak ada kewajiban romantis’ terdengar seperti manual perangkat elektronik.”
“Kamu mau tulis apa?”
Aku mengambil sticky note oranye dari tote bag. “Di luar situasi yang membutuhkan akting, kita tetap dua orang normal.”
Raka membaca tulisan tanganku. “Definisi orang normal terlalu luas.”
“Terima saja.”
Ia mencatat revisi.
Empat: tidak boleh cemburu.
Aku langsung tertawa. “Ini baru benar-benar bodoh.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kita nggak punya perasaan, kenapa perlu aturan itu?”
“Pencegahan.”
“Secara teknis, orang cemburu bisa karena banyak hal.”
“Nara.”
“Ya?”
“Fokus.”
Lima: tidak boleh jatuh cinta.
Kami sama-sama diam.
Aku membaca kalimat itu dua kali. Bukan karena isinya penting, tetapi karena tiba-tiba seluruh ide ini terasa seperti berdiri terlalu dekat dengan tepi sesuatu yang belum terlihat.
“Aku mau tambahan,” kataku.
“Silakan.”
“Kalau salah satu merasa nggak nyaman, dia bisa bilang berhenti tanpa harus menjelaskan semuanya saat itu juga.”
Raka menatapku. “Setuju.”
“Kok cepat?”
“Karena ma**k akal.”
Aku menunggu bantahan yang tidak datang.
Kami menambahkan aturan tentang foto, unggahan, teman yang boleh tahu, dan apa yang harus dilakukan kalau Dimas atau keluarga Sela bertanya terlalu banyak. Nama Iqbal dan Keira ma**k sebagai orang yang boleh mengetahui kebenaran. Sela belum. Raka bilang ia ingin menjelaskan sendiri pada waktu yang tepat.
Terakhir, kami sampai pada klausul penutup.
Hari ke-100: hubungan berakhir tanpa kewajiban perpanjangan.
“Wajib putus,” kataku.
Raka menatapku.
“Biar jelas,” tambahku.
Ia menulis ulang kalimat itu dengan pena: Pada Hari ke-100, kedua pihak wajib mengakhiri hubungan sesuai kesepakatan.
Aku membenci betapa finalnya kalimat tersebut. Padahal kami bahkan belum mulai.
“Ada yang kurang?” tanyanya.
Aku memandang dua garis tanda tangan.
“Kayaknya nggak.”
“Kamu masih bisa pulang.”
Aku meraih pena.
“Kalau aku terus pulang setiap kali takut, hidupku bakal muter di tempat yang sama.”
Aku menandatangani namaku.
Raka menyusul.
Ia menyimpan kontrak fisik ke dalam map hitam. Aku memotret setiap halaman.
“Mulai sekarang?” tanyaku.
Raka melihat jam tangannya.
“Mulai sekarang.”
Pukul 16.42.
Hari ke-3.
Tepat seratus hari sebelum kami wajib putus.
Aku tidak tahu kenapa, tetapi saat menatap angka itu di kalender ponsel, dadaku terasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!