Kita Putus Setelah 100 Hari

Bab 4: Bab 4: Foto Pertama

Pengaturan Membaca

Hubungan palsu ternyata membutuhkan dokumentasi.

Aku tahu itu setelah Nara menatap kontrak, lalu menatapku, dan berkata, “Tidak ada orang yang percaya kita pacaran kalau satu-satunya bukti cuma kamu berdiri di sebelahku dengan ekspresi mau sidang.”

“Aku tidak punya ekspresi mau sidang.”

“Kamu punya satu ekspresi.”

“Efisien.”

Kami masih di Kafe Titik Temu. Matahari sore ma**k dari kaca depan dan membuat meja kami terlihat lebih hangat daripada percakapan tentang bagaimana cara memalsukan kedekatan.

Nara membuka kamera depan ponselnya.

“Dekat sini.”

Aku bergeser satu kursi.

“Lebih dekat.”

Aku bergeser lagi.

“Raka.”

“Ini sudah dekat.”

“Bahu kita bahkan belum nyentuh.”

“Bahu bukan syarat hubungan.”

“Untuk foto, iya.”

Ia menarik lengan jaketku. Refleks pertamaku adalah menahan napas. Bukan karena sentuhannya istimewa. Hanya karena aku tidak terbiasa disentuh orang yang baru kukenal tiga hari.

“Jangan kaku,” katanya.

“Aku tidak kaku.”

“Kamu seperti orang diculik.”

“Secara teknis—”

“Jangan mulai.”

Foto pertama gagal karena aku melihat kamera seperti sedang mengidentifikasi tersangka. Foto kedua gagal karena Nara tertawa. Foto ketiga justru terlihat paling ma**k akal karena ia masih tertawa dan aku sedang menoleh kepadanya.

Ia menatap hasilnya lama.

“Ini bagus.”

Aku ikut melihat. Dalam foto itu, Nara tidak terlihat seperti seseorang yang baru keluar dari hubungan buruk. Ia terlihat ringan. Dan aku terlihat… lebih dekat pada versi diriku yang jarang muncul di foto.

“Unggah?” tanyanya.

“Kalau itu bagian rencana.”

Ia mengunggah ke close friends lebih dulu. Lima menit kemudian, reaksinya datang seperti hujan.

KEIRA: APA INI

IQBAL: NARA MAHESWARI JELASKAN SEKARANG

Satu nama lain muncul lebih cepat daripada yang kami perkirakan.

DIMAS: Kita perlu bicara.

Nara menatap layar. Senyumnya hilang.

“Aku bisa jawab,” kataku.

Ia langsung menggeleng. “Tidak. Ini bagian yang harus aku tangani.”

Aku menghargai itu. Maka aku menunggu.

Nara mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya ia hanya menulis: Tidak ada yang perlu dibicarakan. Tolong hormati keputusanku.

Dimas membalas hampir seketika: Kamu yakin sama orang yang baru kamu kenal?

Aku melihat rahang Nara mengeras.

“Jangan jawab kalau kamu nggak mau,” kataku.

“Aku tahu.”

Ia menekan tombol blokir.

Gerakan kecil. Tidak dramatis. Tidak ada musik. Tetapi aku melihat tangannya sedikit gemetar setelahnya.

“Kamu oke?”

“Pertanyaan yang rumit.”

“Kamu mau jawaban jujur atau jawaban yang bikin tenang?”

Ia menatapku, lalu tertawa pendek. “Itu kalimatku harusnya.”

“Jawabannya?”

“Aku nggak tahu.”

Aku mengangguk. “Oke.”

Kami duduk dalam diam. Aku tidak mencoba memperbaiki. Tidak memberi saran. Aku hanya memindahkan gelas air lebih dekat karena ia belum menyentuhnya sejak pesan ma**k.

Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi.

Sela mengirim screenshot foto kami.

SELA: Sejak kapan?

Aku memperlihatkannya pada Nara.

“Selamat,” katanya. “Masalahmu mulai selesai.”

“Masalah kita.”

Ia mengangkat alis. “Jangan terlalu cepat pakai ‘kita’.”

Aku melihat lagi foto yang sudah tersebar lebih jauh daripada rencana awal.

“Agak terlambat.”

Nara menatap layar dan menghela napas.

Hubungan kami baru berumur beberapa jam.

Dan dunia sudah mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang nyata.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca