Aku datang ke Kafe Titik Temu pukul 16.31.
Sebelas menit terlalu awal.
Aku duduk di meja yang sama tempat kami pertama kali membahas seratus hari. Map hitam ada di depanku. Dua kopi belum kupesan karena aku tidak tahu apakah Nara akan datang.
Pukul 16.40, pintu terbuka.
Nara ma**k membawa tote bag dan buku kecil.
Aku berdiri.
Ia tersenyum gugup. “Kamu datang awal.”
“Aku tahu.”
“Tentu.”
Kami duduk.
Tidak ada percakapan kecil. Tidak ada energi untuk berpura-pura semuanya biasa.
Aku membuka map dan meletakkan kontrak di meja.
“Hari ke-100,” kataku.
Nara mengangguk.
“Jadi kita harus putus.”
“Secara kontrak.”
Aku menarik napas.
“Aku mau menepatinya.”
Wajah Nara berubah, tetapi ia tidak memotong.
“Aku mau mengakhiri hubungan yang kita mulai karena takut,” lanjutku. “Yang dibuat untuk meyakinkan orang lain. Yang punya aturan supaya kita nggak perlu mengambil risiko.”
Aku mengambil kontrak.
“Tapi aku nggak mau mengakhiri kita.”
Mata Nara mulai basah.
Aku hampir kehilangan semua kalimat yang sudah kusiapkan.
Maka aku memilih yang sederhana.
“Aku cinta sama kamu.”
Nara tertawa kecil sambil menangis.
“Akhirnya.”
“Aku terlambat.”
“Sedikit.”
“Aku takut.”
“Aku tahu.”
“Aku masih takut.”
“Aku juga.”
Ia membuka buku dan mengeluarkan sticky note oranye.
“Aku bikin klausul baru.”
Aku membaca tulisan tangannya.
Setelah Hari ke-100, tidak ada kewajiban untuk tetap bersama. Tetapi jika kedua pihak masih ingin memilih satu sama lain, hubungan dapat dimulai kembali dari Hari ke-1—tanpa tanggal putus.
Aku membaca dua kali.
“Nara.”
“Ya?”
“Aku mau.”
Ia menatapku. “Jawaban jujur?”
“Selalu.”
Kami menandatangani bagian bawah sticky note. Tidak legal. Tidak rapi. Tidak ada nomor pasal.
Lebih berarti daripada kontrak pertama.
Aku merobek kontrak lama menjadi dua. Nara ikut merobek bagian lain. Kami tidak membuangnya; potongan itu kami ma**kkan ke dalam map sebagai pengingat.
“Kita ini sentimental juga,” katanya.
“Dokumentasi.”
“Tentu.”
Aku menggenggam tangannya di atas meja.
“Jadi sekarang?” tanyanya.
“Sekarang aku ajak kamu pacaran.”
“Setelah seratus hari?”
“Aku perlu data c**up.”
Nara tertawa.
Aku mencium keningnya, lalu bertanya, “Kamu mau jadi pacarku?”
Ia pura-pura berpikir.
“Berapa lama?”
Aku menggeleng. “Tidak ada deadline.”
“Seram.”
“Sedikit.”
Nara menggenggam tanganku lebih erat.
“Ya.”
Pukul 16.42.
Tepat seratus hari setelah kontrak dimulai, hubungan palsu kami berakhir.
Dan sesuatu yang jauh lebih menakutkan dimulai.
Sesuatu yang tidak punya tanggal selesai.
Hari ke-1.
Kali ini tanpa tanggal putus.
Lanjutkan Membaca Bab 40 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!