Seratus hari setelah Hari ke-100, Raka membawaku kembali ke Kafe Titik Temu.
“Kenapa?” tanyaku.
“Evaluasi.”
Aku menatapnya. “Kamu bercanda?”
“Sedikit.”
Itu kemajuan besar.
Kami duduk di meja yang sama. Di dinding dekat kasir ada foto polaroid baru yang diambil beberapa minggu lalu. Kali ini bukan untuk bukti. Bukan untuk meyakinkan siapa pun.
Hanya kami.
Hubungan nyata ternyata tidak lebih mudah daripada hubungan palsu.
Kami tetap bertengkar. Raka masih kadang diam terlalu lama. Aku masih kadang membuat lelucon ketika seharusnya jujur. Tetapi sekarang kami punya satu aturan yang tidak pernah ditulis lagi karena sudah menjadi kebiasaan: jujur saat takut.
Raka belajar berkata, “Aku butuh kamu.”
Aku belajar bahwa mendengar kebutuhan orang lain tidak berarti harus mengorbankan diri.
Aku belajar berkata tidak tanpa pidato.
Ia belajar bahwa tinggal bukan sesuatu yang bisa dipaksa, tetapi bisa diminta.
Sela dan Raka memenangkan penghargaan khusus di pameran. Sela masih sesekali mengingatkan kami bahwa ia korban terbesar “operasi pacar palsu”, biasanya ketika ingin ditraktir.
Iqbal membuat presentasi PowerPoint sungguhan berjudul Kenapa Nara Tidak Boleh Mengambil Keputusan Saat Panik. Slide terakhir hanya berisi foto Raka dan tulisan: kecuali yang ini ternyata lumayan.
Keira tidak pernah membiarkanku melupakan fakta bahwa ia sudah tahu lebih dulu.
Dimas tidak kembali ke hidupku. Kami pernah berpapasan di kampus dan hanya mengangguk. Ternyata akhir yang sehat kadang memang tidak dramatis.
Raka mengeluarkan sesuatu dari dompet.
Polaroid kedua dari Hari ke-46.
“Kamu masih simpan?”
“Ya.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
“Aku kira jelas.”
Aku menghela napas. “Kita masih punya banyak pekerjaan.”
“Aku tahu.”
Ia lalu membuka kalender ponsel. Ada puluhan catatan kecil tentang kami.
Hari aku bilang terima kasih hampir menangis.
Hari ciuman pertama.
Hari Nara tinggal di studio.
Hari kami putus.
Hari kami mulai.
Aku menatapnya lama.
“Kamu menandai semuanya?”
“Tidak semuanya.”
“Raka.”
“Hampir semuanya.”
Aku tertawa sampai mataku berair.
Pelayan datang membawa dua minuman. Kopi susu gula setengah. Americano tanpa gula.
“Jadi,” kataku, “seratus hari tanpa kontrak.”
Raka mengangkat gelas.
“Lebih berantakan.”
“Jauh.”
“Lebih sulit.”
“Jelas.”
“Menyesal?”
Aku melihat orang yang dulu kupilih karena panik, lalu kupilih lagi dengan sadar.
“Tidak.”
Raka tersenyum.
Aku mengeluarkan sticky note oranye dan menulis satu kalimat.
Tidak ada tanggal putus.
Kali ini aku tidak membutuhkan kontrak untuk percaya.
Aku hanya membutuhkan keberanian untuk terus memilih.
Dan setiap hari, selama kami masih mau, kami memilih lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 41 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!