Kencan pertama kami dimulai dengan spreadsheet.
Aku datang ke Kafe Titik Temu dan menemukan Raka sudah membuka laptop. Di layar ada tabel berjudul DET**L HUBUNGAN.
“Tidak,” kataku sambil duduk.
“Kamu belum lihat.”
“Aku nggak perlu lihat.”
“Kemarin Iqbal nanya kita pertama kali ketemu di mana. Jawaban kita beda.”
“Itu karena kamu bilang perpustakaan dan aku bilang acara kampus.”
“Makanya perlu satu versi.”
Aku menatap tabel itu. Ada kolom makanan favorit, kebiasaan, tempat pertama bertemu, tanggal pertama jalan, sampai nama pangg***n.
“Nama pangg***n dikosongkan,” kataku.
“Karena aku tidak tahu.”
“Bagus. Jangan diisi.”
Raka mengangguk seolah menerima keputusan rapat.
Kami menghabiskan satu jam menciptakan sejarah yang tidak pernah terjadi. Menurut versi resmi, kami pertama kali bertemu saat berebut colokan di perpustakaan. Raka meminjamkan charger. Aku mengembalikan charger dengan sticky note. Hubungan berkembang karena kopi dan tugas malam.
“Ini terlalu manis,” kataku.
“Kamu yang menulis bagian sticky note.”
“Karena kamu mau menulis ‘kemudian komunikasi berlanjut secara berkala’.”
“Itu akurat.”
“Itu laporan penelitian.”
Setelah sejarah palsu selesai, kami ma**k ke bagian yang lebih sulit: bagaimana terlihat seperti pasangan.
“Pasangan biasanya tahu pesanan satu sama lain,” kataku.
“Kopi susu, gula setengah, tanpa whipped cream.”
Aku berhenti.
Raka tetap melihat laptop.
“Kamu baru sekali lihat aku pesan.”
“Dua kali.”
“Dua kali?”
“Pertama waktu kita bicara soal solusi. Kedua waktu tanda tangan kontrak.”
Aku menatapnya.
“Apa?” tanyanya.
“Tidak ada.”
Secara teknis, tidak ada yang aneh dari mengingat pesanan. Secara teknis, Raka mungkin mengingat semua hal. Secara teknis, jantungku tidak perlu bereaksi seperti baru mendapat informasi penting.
“Sekarang kamu,” katanya.
“Americano panas, tanpa gula.”
Ia mengangkat pandangan.
Aku tersenyum puas. “Aku juga bisa memperhatikan.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya naik sedikit.
Kami lalu membuat daftar kebiasaan pasangan yang bisa digunakan ketika harus tampil di depan orang lain: duduk berdekatan, saling menunggu setelah kelas, tahu jadwal penting, sesekali mengunggah foto, dan—setelah perdebatan panjang—boleh bergandengan tangan jika situasi membutuhkan.
“Kalau nggak membutuhkan?” tanyaku.
“Tidak perlu.”
“Bagus.”
Aku tidak tahu kenapa jawabannya membuatku sedikit kecewa.
Sore itu kami mencoba “kencan” pertama: berjalan dari kafe ke toko buku kecil dekat kampus. Tidak ada kamera. Tidak ada Dimas. Tidak ada keluarga Sela. Hanya kami berdua dan kewajiban untuk belajar terlihat alami.
Anehnya, bagian paling sulit justru mengingat bahwa semua ini latihan.
Raka berhenti di rak arsitektur selama dua belas menit. Aku mengeluh. Ia membalas dengan membawa satu buku komunikasi visual dan berkata, “Biar adil.” Kami berdebat tentang sampul buku jelek. Ia membeli pulpen yang tidak dibutuhkannya karena aku bilang warnanya bagus.
Ketika keluar, hujan Bandung turun tanpa peringatan.
Aku membuka tote bag dan menemukan payung lipatku patah.
Raka membuka payung hitamnya.
“Ma**k.”
“Ini situasi kontrak?”
“Ini situasi hujan.”
Kami berjalan berdampingan. Bahu kami beberapa kali bersentuhan karena trotoar sempit. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang perlu diyakinkan.
Di depan kosku, aku menyerahkan payung kepadanya.
“Besok jam sembilan kamu kelas, kan?” tanyanya.
Aku menatapnya. “Kamu hafal jadwalku?”
“Ma**k spreadsheet.”
“Tentu.”
Ia berjalan pergi sebelum aku bisa bertanya kenapa nada suaranya terdengar seperti ia memang mengingat tanpa perlu membuka tabel.
Malam itu, saat memeriksa file det**l hubungan, aku menambahkan satu catatan yang tidak kukirim kepada Raka.
Hal pertama yang kutahu tentang pacar palsuku: dia mengingat hal-hal kecil.
Hal kedua: aku mulai memperhatikan bahwa dia mengingat.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!