Sela tahu kalau aku berbohong. Ia hanya belum tahu tentang apa.
Kami sedang di studio arsitektur ketika ia menaruh cutter di meja dan menatapku seperti sedang memeriksa struktur bangunan yang berpotensi roboh.
“Jadi,” katanya, “Nara.”
Aku tetap memotong karton maket. “Ya.”
“Sejak kapan?”
“Belum lama.”
“Berapa belum lama?”
Aku mengangkat kepala. “Kamu sedang wawancara?”
“Aku sahabatmu. Lebih buruk.”
Ia duduk di meja seberang. “Aku senang kalau kamu benar-benar suka seseorang. Tapi kamu tiba-tiba punya pacar tepat setelah Mama mulai salah paham soal kita. Timing-nya terlalu rapi.”
Aku tidak suka berbohong pada Sela. Kami sudah melewati begadang, kompetisi gagal, revisi dosen, dan satu semester ketika ayahku pergi dari rumah tanpa penjelasan yang c**up. Tetapi kontrak itu melibatkan Nara. Aku tidak berhak membuka rahasianya hanya supaya aku merasa lebih jujur.
“Aku memang sedang dekat dengan Nara,” kataku.
“Jawaban politis.”
“Aku nggak bisa cerita semua sekarang.”
Sela menatapku lama, lalu mengangguk. “Oke. Tapi satu hal, Ka. Jangan pakai orang lain untuk menyelesaikan masalah kita.”
Aku berhenti memotong.
Kalimat itu menempel sampai malam.
Nara datang ke studio membawa dua kotak nasi. Ia bilang itu bagian dari “riset kebiasaan pacar”, tetapi aku tahu ia datang karena aku belum menjawab pesan selama empat jam.
“Kamu makan?” tanyanya.
“Belum.”
“Bagus. Berarti aku heroik.”
Kami makan di antara potongan karton dan lampu meja. Nara bercerita tentang Iqbal yang mengancam akan membuat presentasi PowerPoint berjudul Kenapa Nara Tidak Boleh Mengambil Keputusan Saat Panik. Aku mendengarkan sambil memikirkan ucapan Sela.
“Aku bohong ke Sela,” kataku akhirnya.
Nara berhenti mengunyah.
“Bukan bohong penuh. Aku nggak cerita kontrak.”
“Karena kita sepakat belum cerita.”
“Ya.”
“Tapi kamu nggak suka.”
Aku menggeleng.
Nara menatap kotak makannya. “Kamu boleh bilang kalau ini terlalu berat.”
“Aku nggak bilang itu.”
“Kamu nggak harus bilang. Aku cuma mau memastikan kamu tahu pintunya ada.”
Kalimat itu terdengar familiar. Pilihan untuk pergi. Tanpa hukuman.
“Aku masih mau lanjut,” kataku.
“Yakin?”
“Yakin.”
Ia tersenyum kecil. “Oke.”
Aku tidak mengatakan pada Nara bahwa alasan awalku memang praktis, tetapi sekarang ada hal lain yang membuatku tidak ingin berhenti: ketika ia datang ke studio, ruangan yang sama mendadak terasa tidak terlalu sepi.
Rahasia pertama kami adalah kontrak.
Rahasia keduaku adalah aku mulai menyukai keberadaannya bahkan ketika tidak ada orang yang perlu diyakinkan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!