Dimas menungguku di koridor setelah kelas, dan tubuhku mengingat ketakutan lebih cepat daripada pikiranku.
“Aku cuma mau kasih ini.” Ia mengangkat sebuah gelang kain yang pernah kubuat saat kami masih pacaran. “Ketinggalan di mobil.”
“Taruh saja.”
“Nar, kita nggak harus jadi musuh.”
“Aku nggak sedang jadi musuhmu.”
“Kalau begitu kenapa blokir aku?”
Aku bisa merasakan mahasiswa berlalu-lalang di belakangku. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan, tetapi rasa diawasi tetap ada. Dimas tahu itu. Ia selalu lebih pandai bicara ketika ada saksi tak sengaja.
“Karena aku sudah bilang aku butuh jarak.”
“Dan sekarang kamu langsung punya pacar?”
Aku menahan napas.
“Jangan bikin ini tentang dia.”
“Dia siapa sebenarnya?”
Sebelum aku menjawab, suara lain datang dari samping.
“Orang yang seharusnya jemput dia lima menit lalu.”
Raka berdiri beberapa langkah dari kami. Ia tidak terlihat marah. Justru itu membuat kehadirannya terasa lebih tegas.
Dimas tertawa kecil. “Kamu bahkan nggak tahu dia.”
Raka mendekat dan berdiri di sebelahku, bukan di depanku. Tidak mengambil alih. Tidak memutus percakapan seolah aku tidak mampu.
“Aku tahu dia sudah bilang tidak,” katanya.
Dimas memandangku. “Kamu butuh dia buat ngomong buat kamu sekarang?”
Aku merasakan sesuatu di dalamku ingin mengecil. Lalu tangan Raka menyentuh tanganku. Tidak menggenggam dulu. Hanya menunggu, memberi ruang untukku memilih.
Aku membalik telapak tangan dan menggenggamnya.
“Tidak,” kataku pada Dimas. “Aku nggak butuh siapa pun buat ngomong untukku. Aku cuma mau kamu dengar kalau aku ngomong.”
Dimas diam.
“Jangan tunggu aku setelah kelas lagi.”
Ia melihat tangan kami, lalu wajahku. “Oke.”
Kali ini ia pergi.
Aku baru sadar aku menahan napas ketika koridor terasa lebih sepi.
“Kamu oke?” tanya Raka.
“Pertanyaan rumit.”
“Jawaban jujur atau yang bikin tenang?”
Aku menatapnya. “Kamu mencuri kalimat itu.”
“Aku catat.”
Kami berjalan menuju tangga. Tangan kami masih bergandengan.
Baru di lant** bawah aku sadar.
“Raka.”
“Ya?”
“Kita sudah nggak dilihat Dimas.”
Ia melihat tangan kami, seolah baru menyadari hal yang sama.
“Oh.”
Kami melepaskan hampir bersamaan.
Jarak yang muncul di antara jari-jari kami terasa aneh. Terlalu dingin untuk sesuatu yang seharusnya tidak berarti.
Di luar gedung, Raka menyerahkan gelang kain yang tadi ditinggalkan Dimas. Aku memandang benda itu lama.
“Kamu mau buang?” tanyanya.
“Belum tahu.”
“Tidak harus putuskan sekarang.”
Aku mema**kkannya ke tote bag.
Hari itu aku belajar bahwa rasa aman tidak selalu datang dari seseorang yang berdiri di depanmu melawan dunia. Kadang ia datang dari seseorang yang berdiri di sebelahmu dan membiarkan suaramu tetap menjadi milikmu.
Dan untuk pertama kalinya, aku takut kontrak seratus hari itu akan berakhir terlalu cepat.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!