Kami membuat jadwal pacaran karena Nara bilang hubungan palsu akan lebih mudah kalau punya jam kerja.
Senin dan Rabu makan siang bersama. Jumat satu kegiatan publik. Chat hanya seperlunya. Tidak ada kewajiban bertemu di luar jadwal.
Aturan itu bertahan tiga hari.
Pukul 00.47, ponselku berbunyi.
NARA: kamu bangun?
Aku menatap pesan itu selama dua menit sebelum menjawab.
AKU: Ya.
NARA: jawaban paling Raka sedunia.
AKU: Kamu tanya ya atau tidak.
NARA: aku habis lihat foto lama.
Aku menunggu pesan berikutnya.
Tidak datang.
AKU: Kamu mau cerita?
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
NARA: nggak tahu.
AKU: Oke.
NARA: kok oke doang?
AKU: Karena kamu tidak harus tahu sekarang.
Kami akhirnya mengobrol sampai pukul dua. Tidak tentang Dimas secara langsung. Nara bercerita tentang film buruk yang pernah ia tonton, dosen yang suka memberi tugas mendadak, dan ketakutannya bahwa orang akan menilai ia gagal karena hubungan dua tahunnya berakhir.
Aku membaca semua pesannya.
Tidak ada satu pun yang ma**k dalam jadwal.
Keesokan harinya aku terlambat bangun untuk pertama kali semester itu. Sela menatap wajahku di studio dan langsung berkata, “Siapa yang kamu chat sampai malam?”
“Tidak ada.”
“Wajahmu bohong.”
Aku mengabaikannya.
Sore berikutnya, Nara mengirim foto kopi dari kantin.
NARA: ini Americano mereka terlalu asam. jangan beli.
Aku menyimpan informasi itu.
Hari setelahnya aku mengirim foto hujan di depan gedung komunikasi.
AKU: Bawa payung.
NARA: ini bukan jadwal chat.
AKU: Cuaca tidak mengikuti jadwal.
NARA: kamu mulai belajar humor.
Aku tidak merasa lucu.
Malam Minggu, kami tidak punya agenda. Aku menyelesaikan maket di apartemen ketika ponselku berbunyi lagi.
NARA: secara teknis kita nggak wajib ngobrol hari ini.
AKU: Benar.
NARA: tapi?
Aku mengetik beberapa jawaban lalu menghapusnya.
AKU: Tapi aku sedang tidak sibuk.
Itu bohong kecil. Aku punya pekerjaan. Aku hanya memilih meletakkannya sebentar.
Kami melakukan pangg***n suara selama empat puluh menit. Nara mengeluh tentang tugas. Aku memperbaiki kamera lama sambil mendengarkan. Tidak ada percakapan penting. Tidak ada konflik. Tidak ada saksi.
Ketika pangg***n berakhir, apartemenku terasa lebih sunyi daripada sebelumnya.
Aku membuka file jadwal pacaran.
Di kolom catatan, Nara sudah menambahkan satu baris baru: “Interaksi spontan boleh terjadi jika dua pihak sama-sama mau.”
Aku tersenyum tanpa sadar.
Lalu menambahkan balasan: “Disetujui.”
Kami masih menyebut semua itu bagian dari kontrak.
Tetapi aku mulai menunggu pesan yang tidak diwajibkan.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!