Masalah dengan kebohongan yang terlalu sering diceritakan adalah ia mulai punya kenangan.
Iqbal menginterogasi kami di kantin.
“Jadi pertama ketemu karena charger?” tanyanya.
“Ya,” jawab kami bersamaan.
“Siapa yang duluan ngajak ngobrol?”
Aku menunjuk Raka. Raka menunjukku.
Iqbal tersenyum seperti jaksa mendapat bukti baru.
“Kalian payah.”
“Kami gugup,” kataku.
Raka menambahkan, “Aku memang jarang ingat det**l.”
Aku menoleh. Pembohong.
Akhirnya kami menceritakan versi resmi: perpustakaan, colokan, charger, sticky note. Entah bagaimana, di tengah cerita aku menambahkan det**l tentang Raka yang mengembalikan sticky note itu dengan tulisan “terima kasih sudah tidak mencuri charger”. Raka membalas dengan det**l bahwa aku kemudian mengoreksi tata bahasanya.
Iqbal tertawa sampai hampir tersedak.
“Ini kedengaran nyata banget.”
Aku dan Raka saling pandang.
Karena untuk beberapa menit, rasanya memang seperti sedang mengingat sesuatu.
Setelah Iqbal pergi, aku berkata, “Kita terlalu bagus dalam improvisasi.”
“Atau Iqbal terlalu mudah percaya.”
“Jangan hina sahabatku.”
“Kamu baru saja menyebut dia mudah percaya.”
“Itu hak eksklusif.”
Kami tertawa.
Tidak lama kemudian, beberapa teman dari media kampus ikut duduk. Mereka bertanya tentang kami, menggoda, meminta foto. Aku biasanya pandai bermain untuk kamera. Tetapi hari itu, saat Raka membuat komentar datar tentang kemampuanku datang terlambat, aku tertawa sampai mataku berair.
Bukan tawa yang dibuat untuk foto.
Sore itu, aku memeriksa unggahan teman. Ada foto candid kami di meja kantin. Aku sedang tertawa dengan kepala sedikit menunduk. Raka sedang menatapku.
Caption-nya sederhana: akhirnya Nara punya orang yang bisa bikin dia diem lima detik.
Aku memperbesar foto itu.
“Kamu ngapain?” tanya Keira dari ka**r sebelah.
“Analisis visual.”
“Namanya stalking diri sendiri.”
Aku melempar bantal.
Keira mengambil ponselku dan melihat foto. “Dia lihat kamu seperti…”
“Jangan.”
“Aku belum selesai.”
“Justru itu.”
Ia mengembalikan ponsel. “Kamu senang.”
Aku menatap foto lagi.
“Ini cuma kerja sama.”
“Ya.”
“Seratus hari.”
“Ya.”
“Dan kita wajib putus.”
Keira mengangguk terlalu lambat.
Malam itu, Raka mengirim pesan.
RAKA: Cerita charger kita perlu direvisi. Kamu menambah terlalu banyak det**l.
AKU: det**l bikin meyakinkan.
RAKA: Det**l juga bikin sulit diingat.
AKU: aku ingat.
Beberapa detik kemudian:
RAKA: Aku juga.
Aku menatap pesan itu lebih lama daripada seharusnya.
Kisah pertemuan kami memang palsu.
Tetapi kenangan tentang kami menciptakannya bersama tidak.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!