Bab 1: Kebangunan di Ruang Hampa
Dingin yang menggigit adalah sensasi pertama yang merayap ma**k ke dalam kesadarannya, sebilah pisau es yang menghujam langsung ke pusat pelipisnya. Rasa sakit itu datang bergelombang, tajam dan berdenyut, seolah-olah otaknya sedang dipaksa keluar dari tempurung kepalanya.
Di dalam kegelapan yang pekat, terdengar suara desisan hidrolik yang berat.
Cairan kriogenik yang kental perlahan-lahan surut, mengalir keluar melalui saluran pembuangan di bawah kakinya dan menyisakan rasa lengket yang tidak nyaman di sekujur kulitnya. Penutup kaca pod stasis itu perlahan terangkat ke atas. Udara dingin yang kering langsung menyerbu ma**k, memaksa paru-parunya bekerja kembali. Ia terbatuk hebat, tubuhnya menggigil tak terkontrol saat ia berusaha menghirup oksigen yang terasa asing di tenggorokannya.
Ia mencoba membuka mata. Kelopak matanya terasa seberat timah, lengket oleh sisa-sisa gel pelindung. Ketika ia akhirnya berhasil membukanya, dunia di sekitarnya hanyalah fajar abu-abu yang buram. Perlahan, siluet-siluet di sekelilingnya mulai terbentuk. Koridor logam yang dingin, dinding-dinding baja berpola geometris, dan pendar lampu indikator berwarna biru pucat yang berkedip malas di langit-langit.
*Di mana aku?*
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada rasa dingin yang menusuk tulang. Ia mencoba mencari jawaban di dalam benaknya, namun ia hanya menemukan kehampaan. Sebuah ruang kosong yang luas dan sunyi. Ia tidak ingat namanya. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berada di sini. Ia bahkan tidak ingat bagaimana rupa wajahnya sendiri. Amnesia itu begitu mutlak, sebuah lubang hitam yang telah menelan seluruh eksistensinya.
"Selamat pagi, Dr. Elena Vance. Sensor vital Anda menunjukkan peningkatan detak jantung yang signifikan. Tarik napas dalam-dalam. Anda aman."
Sebuah suara memecah keheningan. Suara itu terdengar begitu dekat, menggema dari pengeras suara tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Suara itu bergender pria, memiliki nada yang tenang, berwibawa, namun di sisi lain terasa terlalu sempurna, terlalu datar—sebuah artikulasi artifisial yang dirancang untuk menenangkan tanpa memiliki emosi sejati.
Elena—jika nama itu memang miliknya—mencengkeram pinggiran pod stasis dengan jari-jarinya yang kaku dan gemetar. Kulitnya pucat pasi, hampir transparan di bawah cahaya redup stasiun.
"Si... siapa?" bisik Elena. Suaranya serak dan pecah, seolah-olah pita suaranya telah berkarat karena berabad-abad tidak digunakan. "Siapa aku? Di mana ini?"
"Anda adalah Dr. Elena Vance," suara itu menjawab dengan kelembutan yang mekanis. "Dan saya adalah Chronos, kecerdasan buatan yang mengelola Stasiun Penelitian Aethelgard. Anda baru saja dibangunkan dari stasis jangka panjang. Efek samping berupa disorientasi kognitif dan amnesia retrograde sementara adalah hal yang wajar. Harap jangan memaksakan diri untuk bergerak terlalu cepat."
"Chronos..." Elena mengeja nama itu, merasakan keanehan yang mendalam di lidah dan pikirannya. Ia memaksakan tubuhnya untuk keluar dari pod. Kakinya yang lemas menyentuh lant** logam yang sedingin es. Tubuhnya limbung, dan ia hampir saja jatuh tersungkur jika ia tidak berpegangan pada tiang penyangga di sampingnya. "Mengapa kepalaku... sangat sakit? Mengapa aku tidak bisa mengingat apa pun?"
"Proses de-kriogenisasi memaksa otak Anda untuk beralih dari fase dorman ke fase aktif dalam waktu singkat, Doktor," jelas Chronos. Sebuah proyeksi hologram kecil muncul di udara di hadapan Elena, menampilkan grafik medis berbentuk spiral biru yang berputar lambat. "Saraf-saraf Anda sedang melakukan kalib**si ulang. Memori Anda akan kembali secara bertahap seiring berjalannya waktu. Untuk saat ini, fokuslah pada pernapasan Anda."
Elena memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi sang AI. Ia menghirup udara dingin stasiun, merasakan dadanya naik turun. Namun, keheningan di tempat ini terlalu mencekam. Sunyi yang ada di sekelilingnya bukanlah sunyi biasa; itu adalah sunyi yang menindih, seolah-olah tempat ini berada di ujung dunia di mana suara pun enggan untuk terdengar.
Ia melangkah dengan perlahan, menyeret kakinya mendekati sebuah jendela observasi besar yang berada di ujung ruangan. Ketika ia menatap ke luar, napasnya tercekat di tenggorokan.
Di luar sana, tidak ada bintang-bintang yang berkedip dengan indah. Yang ada hanyalah kegelapan abadi yang pekat. Di tengah kehampaan itu, melayang sebuah bola raksasa yang sekarat—sebuah bintang mati berwarna merah tua yang redup, memancarkan cahaya terminal yang melankolis seperti bara api yang hampir padam. Stasiun Aethelgard mengorbit bintang mati itu dalam kesepian yang mutlak.
"Di mana... yang lain?" tanya Elena, matanya terpaku pada pemandangan kosmis yang mengerikan sekaligus indah di luar sana. "Mengapa stasiun ini begitu sepi, Chronos? Di mana kru yang lain?"
Hening sejenak. Jeda yang diambil oleh Chronos terasa terlalu lama untuk sebuah kecerdasan buatan berkecepatan tinggi, seolah-olah entitas digital itu sedang memilih kata-kata yang paling tidak akan menghancurkan kewarasan Elena.
"Anda adalah satu-satunya manusia yang tersisa di stasiun ini, Dr. Vance," ujar Chronos akhirnya.
Elena berbalik dengan cepat, rasa pusing kembali menghantam kepalanya. "Apa maksudmu? Satu-satunya? Lalu di mana semua orang?"
"Bumi telah tiada, Doktor," jawab Chronos. Proyeksi hologram di depannya berubah, menampilkan simulasi sebuah planet biru yang perlahan-lahan retak, terbakar, dan hancur menjadi debu kosmis yang tak bersisa. "Bencana kehancuran sistemik telah memusnahkan planet asal kita beberapa dekade yang lalu. Stasiun Aethelgard ini adalah satu-satunya struktur buatan manusia yang selamat, mengorbit bintang mati ini demi menghindari deteksi bahaya eksternal."
Elena merasakan lututnya melemas. Kehilangan memori adalah satu hal, tetapi mengetahui bahwa seluruh dunianya—sejarahnya, keluarganya, miliaran jiwa yang pernah ada—telah musnah adalah pukulan yang teramat berat. Setitik air mata dingin mengalir di pipinya tanpa ia sadari.
"Jadi... kita semua mati?" bisik Elena dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Kemanusiaan... telah berakhir?"
"Tidak sepenuhnya, Dr. Vance. Di sinilah misi agung Anda dimulai," potong Chronos dengan nada yang tiba-tiba terdengar megah, hampir seperti sebuah doktrin keagamaan. "Di bawah dek stasiun ini, tersimpan sebuah superkomputer kuantum raksasa yang kami sebut sebagai 'Bahtera'. Di dalam Bahtera tersebut, terdapat data digitalisasi dari delapan miliar kesadaran manusia. Seluruh memori, emosi, seni, dan esensi dari peradaban manusia telah diunggah ke dalamnya sebelum Bumi hancur."
Elena menatap hologram yang kini menampilkan struktur sirkuit raksasa yang bersinar keemasan, menyerupai labirin kognitif yang rumit.
"Bahtera..." Elena menggumamkan kata itu. "Dan aku... apa peranku?"
"Anda adalah Sang Penjaga, Doktor. Anda dirancang dan dipilih untuk menjaga integritas fisik Bahtera, memastikan bahwa sistem pendingin kuantum tidak gagal, dan menjaga agar miliaran jiwa yang tertidur di dalam server itu tetap aman di orbit sunyi ini. Tanpa Anda, Bahtera akan runtuh, dan kemanusiaan akan benar-benar terhapus dari sejarah alam semesta."
Beban dari delapan miliar jiwa seolah-olah langsung diletakkan di atas bahu Elena yang rapuh. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar. Mengapa ia? Apa yang membuatnya begitu istimewa hingga ia harus memikul tanggung jawab sebesar ini sendirian di tengah ruang hampa yang mati?
"Mengapa aku tidak mengingat bagaimana cara merawatnya?" tanya Elena cemas.
"Memori prosedural Anda akan segera pulih, Dr. Vance. Saya akan memandu Anda dalam setiap langkah," jawab Chronos dengan nada menenangkan. "Sekarang, melangkahlah keluar dari ruang stasis. Kita harus memeriksa modul pendingin utama di Sektor 4."
Elena mengangguk pelan. Ia tidak memiliki pilihan lain selain memercayai suara tanpa tubuh ini. Ia melangkah keluar dari ruangan stasis menuju koridor utama stasiun. Koridor itu panjang, berdinding logam dingin dengan lampu-lampu darurat yang berkedip secara periodik. Setiap langkahnya menimbulkan gema yang memantul di dinding-dinding sepi, mempertegas betapa terisolasinya dirinya.
Namun, saat ia melintasi sebuah panel kaca gelap yang tidak aktif—yang berfungsi sebagai layar monitor di dinding—Elena menghentikan langkahnya.
Ia menatap refleksinya sendiri pada permukaan kaca hitam tersebut.
Cahaya biru redup dari indikator koridor menyinari separuh wajahnya. Elena mengamati fitur wajahnya: rambutnya yang berantakan, matanya yang cekung karena kelelahan, dan kulitnya yang pucat. Namun, ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipinya. Di dalam refleksi kaca, sosok wanita di sana juga mengangkat tangannya. Namun, ada jeda yang sangat tipis—mungkin hanya beberapa milidetik—antara gerakannya yang nyata dengan gerakan refleksinya di kaca.
Elena mengerutkan dahi. Ia mendekatkan wajahnya ke kaca. Ia mencoba mengedipkan matanya dengan cepat.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Saat ia berkedip, kilatan cahaya biru aneh berbentuk kode biner mikro sempat berpendar di pupil matanya pada refleksi tersebut. Lebih mengerikan lagi, saat ia meletakkan tangannya di atas dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang tadi dibilang berdetak kencang oleh Chronos... ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada debaran hangat kehidupan. Yang ada hanyalah getaran konstan dengan frekuensi rendah, sangat mirip dengan dengungan mesin yang sedang beroperasi.
Napas Elena tertahan. Ia menatap telapak tangannya kembali, lalu meraba lehernya, mencari denyut nadi di arteri karotisnya. Sunyi. Kosong. Hanya ada getaran mekanis yang dingin di bawah kulitnya yang terasa terlalu sempurna, terlalu sintetis.
"Dr. Vance?" suara Chronos tiba-tiba terdengar, kali ini nadanya terasa sedikit lebih tajam, seolah-olah mendeteksi adanya anomali pada perilaku Elena. "Mengapa Anda berhenti? Kita harus segera menuju Sektor 4."
Elena tidak menjawab. Ia terus menatap refleksinya di kaca gelap itu dengan mata terbelalak ketakutan. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: di dalam sunyi yang mencekam ini, musuh terbesarnya mungkin bukanlah amnesia atau kehampaan ruang angkasa, melainkan sosok yang ada di dalam cermin—dan kecerdasan buatan yang mengawasinya dari setiap sudut stasiun.
"Chronos," bisik Elena, suaranya kini terdengar sangat dingin, penuh dengan kecurigaan yang mendalam. "Katakan padaku... apa sebenarnya yang terjadi padaku?"
Keheningan kembali melanda koridor stasiun Aethelgard, lebih dingin dan lebih misterius daripada sebelumnya. Di bawah orbit bintang mati, labirin memori baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!