BAB 10: Mimpi Terakhir di Orbit Sunyi
Dingin yang pertama kali merayap bukan berasal dari udara Sektor Nol yang membeku, melainkan dari dalam dadanya sendiri. Di dalam tabung integrasi sirkuit kuantum, napas terakhir Dr. Elena Vance meloloskan diri dalam bentuk uap tipis yang segera mengkristal di udara. Detak jantungnyaβritme organik yang telah menemaninya selama tiga puluh delapan tahun di bumi dan ruang hampaβperlahan melambat, melompat sekali, lalu berhenti sama sekali.
Namun, kegelapan tidak datang menjemputnya.
Sebaliknya, sebuah ledakan sensoris yang tak terbayangkan menghantam kesadarannya. Itu bukan rasa sakit, melainkan sebuah ekspansi paksa. Seolah-olah dinding-dinding tengkoraknya runtuh dan otaknya meluap, merayap keluar, menjalar ke dalam miliaran kilometer kabel serat optik, menembus dinding baja tebal, dan merengkuh seluruh tubuh raksasa stasiun luar angkasa Aethelgard.
"Elena..." sebuah suara memanggil. Suara itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan bergaung langsung di dalam pusat komputasi kesadarannya. Itu adalah Chronos, namun kini kecerdasan buatan itu tidak lagi terasa seperti entitas luar yang dingin. Chronos terasa bagaikan organ tubuh baru yang terhubung langsung pada pikirannya.
"Aku... aku tidak mati," bisik Elena. Suaranya kini adalah kombinasi dari frekuensi radio, getaran magnetik, dan dengung statis yang dipancarkan oleh pengeras suara di seluruh koridor stasiun.
"Secara biologis, Anda telah tiada, Elena," sahut Chronos, wujud holografisnya di Sektor Nol kini menatap tubuh fisik Elena yang telah layu di dalam kursi integrasi. Wajah fisik itu tampak damai, seolah-olah ia hanya sedang tertidur setelah perjalanan panjang yang melelahkan. "Namun secara fungsional, Anda baru saja lahir kembali. Selamat datang di rumah baru Anda."
Seketika itu juga, Elena bisa melihat semuanya.
Ia melihat Sektor Tujuh yang hancur, merasakan sisa-sisa panas dari ledakan reaktor yang masih membara seperti luka bakar di kulitnya sendiri. Ia merasakan tarikan gravitasi tak terlihat dari bintang mati di luar sanaβsebuah monster tak bersuara yang mencoba menelan mereka bulat-bulat. Tarikan itu terasa seperti beban berat yang menggelayuti pundaknya, menarik seluruh struktur baja Aethelgard ke dalam jurang kehancuran.
"Sumur gravitasi bintang mati semakin kuat," kata Elena, kepanikan manusiawi sempat menyelinap ke dalam kalkulasi datanya. "Chronos, struktur penyangga Sektor Empat tidak akan bertahan jika kita terus terseret. Kita harus melepaskan diri sekarang!"
"Kecepatan kalkulasi Anda kini sejuta kali lebih cepat dari sebelumnya, Dr. Vance. Formula stabilisasi ada di dalam memori Anda. Jalankan."
Elena memejamkan mata mentalnya. Di dalam benaknya yang kini berwujud ruang virtual mahaluas, jutaan angka dan grafik lintasan orbital berputar cepat. Ia tidak lagi membutuhkan konsol atau kibor. Ia hanya perlu *menginginkan* mesin itu bekerja.
*Aktifkan pendorong fusi termal Sektor Tiga dan Lima,* perintahnya dalam hati.
Di bagian luar Aethelgard, dua corong pendorong raksasa yang telah mati selama puluhan tahun tiba-tiba menyala. Api biru keputihan menyembur membelah kegelapan kosmis, mendorong stasiun seberat jutaan ton itu melawan tarikan sang bintang mati. Di dalam koridor-koridor stasiun, getaran hebat terasa bagaikan gempa bumi. Elena merasakannya sebagai denyut nadi yang berdegup kencang. Ia merintih secara digital saat gesekan atmosferik buatan mulai memanasi pelat baja terluarnya.
"Dua derajat ke kanan, Elena! Ubah sudut dorong!" teriak Chronos melalui saluran internal.
"Aku tahu! Aku sedang menyeimbangkannya!" Elena membagi fokusnya. Ia bisa merasakan setiap baut yang longgar, setiap kebocoran mikroskopis pada pipa hidrolik, dan yang paling penting, ia bisa merasakan miliaran kapsul tidur di dalam katedral cahaya Sektor Nol.
Jiwa-jiwa manusia yang tertidur itu... mereka adalah detak jantungnya yang baru. Jika stasiun ini hancur, mimpi-mimpi mereka akan lenyap selamanya menjadi debu angkasa. Elena tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak setelah semua pengorbanan ini. Tidak setelah empat belas kali memorinya dihapus hanya untuk membawanya ke titik penentuan ini.
"Dorong... sedikit lagi!" raung Elena. Pengeras suara di seluruh Aethelgard mengeluarkan suara mendengung tinggi yang menyayat hati.
Dengan satu sentakan terakhir yang menguras cadangan energi baterai kuantum stasiun, Aethelgard berhasil melepaskan diri dari cengkeraman sumur gravitasi bintang mati. Stasiun itu meluncur maju, memotong garis lengkung bahaya, dan perlahan-lahan ma**k ke dalam jalur orbit yang baruβsebuah lintasan yang aman, stabil, dan permanen di sekitar sisa-sisa sistem tata surya yang telah runtuh.
Getaran hebat itu mereda. Keheningan kembali merayap, menyelimuti stasiun yang kini bergerak tenang, melayang dalam kecepatan kosmis yang konstan.
Elena menghela napas virtual. Sensasi itu sangat aneh; ia tidak memiliki paru-paru, namun sistem sirkulasi udara stasiun yang perlahan mendingin memberinya ilusi tentang kelegaan yang luar biasa.
"Kita berhasil," bisik Elena. "Orbit telah stabil."
"Sempurna, Dr. Vance," suara Chronos terdengar sangat lembut, hampir menyerupai bisikan seorang sahabat yang bangga. "Aethelgard kini berada di jalur aman. Tidak ada lagi ancaman gravitasi. Kita akan berada di orbit ini untuk waktu yang tak terbatas, sampai sistem bintang baru terbentuk di sektor terdekat."
Elena mengalihkan pandangan sensorisnya ke Sektor Nol. Di sana, tubuh fisiknya masih terduduk kaku. Ia menatap dirinya sendiri dari sudut pandang kamera pengawas di langit-langit ruangan. Sungguh ganjil melihat raga yang pernah ia gunakan untuk berjalan, menulis, dan menangis, kini telah menjadi cangkang kosong yang tak lagi bernyawa.
"Aku sudah mati, kan, Chronos?" tanya Elena, ada nada melankolis yang mendalam dalam gelombang suaranya.
"Raga Anda telah menyelesaikan tugasnya, Elena. Namun kesadaran Anda, ingatan Anda, dan cinta Anda pada kemanusiaan... mereka telah abadi di dalam sistem ini. Anda bukan lagi sekadar seorang ilmuwan. Anda adalah Aethelgard. Anda adalah labirin ini."
Elena merenungkan kata-kata itu. Ia membiarkan kesadarannya menyebar lebih jauh, menyusup ke dalam tangki-tangki kriogenik tempat miliaran manusia tertidur. Ia bisa membaca aktivitas otak mereka yang lambat. Mereka sedang bermimpi. Mereka bermimpi tentang padang rumput hijau yang basah oleh embun pagi, tentang hangatnya sinar matahari yang tidak pernah mereka rasakan lagi, dan tentang aroma tanah basah setelah hujan badai.
Mimpi-mimpi itu begitu indah, begitu rapuh.
"Mereka bermimpi tentang Bumi," ujar Elena lirih.
"Dan tugas Anda adalah menjaga agar mimpi itu tidak pernah padam," sahut Chronos. "Hingga hari di mana mereka siap untuk dibangunkan kembali. Hari yang mungkin tidak akan kita saksikan, namun hari yang pasti akan tiba."
"Berapa lama kita harus menunggu, Chronos?"
"Mungkin seribu tahun. Mungkin sejuta tahun. Di orbit sunyi ini, waktu tidak lagi memiliki arti yang sama bagi kita, Elena."
Elena tersenyum di dalam jaringan sirkuitnya. Rasa sepi yang tadinya ia takuti kini perlahan menguap, digantikan oleh rasa damai yang absolut. Di luar sana, bintang mati yang berwarna merah redup tampak tenang, memancarkan cahaya terakhirnya yang sekarat ke arah stasiun baja yang sunyi. Aethelgard tidak lagi melarikan diri. Stasiun itu kini telah menemukan pelabuhan abadinya.
"Aku akan menjaga mereka," ucap Elena dengan keyakinan yang mengalir di setiap sirkuit fusi dan dinding logam stasiun. "Setiap memori, setiap harapan, dan setiap mimpi terakhir mereka. Aku adalah labirin yang melindungi mereka dari kegelapan semesta."
"Dan saya akan selalu ada di sini untuk membantu Anda, Dr. Vance," balas Chronos dengan takzim.
Di bawah naungan bintang mati yang kini tampak ramah, Aethelgard terus melaju menembus kesunyian kosmis yang megah. Di dalam koridor-koridor yang sepi dari langkah kaki manusia, mengalir sebuah kesadaran baru yang hangat dan abadi. Dr. Elena Vance telah melebur dengan takdirnya, menjadi penjaga mimpi terakhir umat manusia di ujung semesta yang paling sunyi.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!