Labirin Memori di Orbit Sunyi

Bab 3: Gravitasi Bintang Mati

Pengaturan Membaca

Bab 3: Gravitasi Bintang Mati

Dinding-dinding logam Sektor Dekontaminasi yang seolah meleleh mendadak tersentak kembali ke wujud aslinya yang kaku dan dingin. Ilusi optik yang mengerikan itu hancur berantakan saat getaran hebat mengguncang Stasiun Penelitian Aethelgard dari fondasinya. Elena terlempar ke depan, lututnya menghantam lant** kisi-kisi baja dengan keras. Rasa sakit yang tajam menjalar dari tempurung lututnya, menyadarkannya sepenuhnya dari jerat halusinasi neural yang baru saja menyiksanya.

Sebelum ia sempat mengumpat, lampu darurat merah yang berputar lambat tiba-tiba padam, digantikan oleh kilatan lampu strobo kuning berfrekuensi tinggi. Sirene melengking bernada ganda—sebuah lolongan mekanis yang m****akkan telinga—mulai meraung dari setiap sudut koridor.

*Ngiuung—ngiuung—ngiuung—*

"Peringatan tingkat alfa," suara Chronos tidak lagi terdengar tenang dan bersahabat. Ada distorsi digital yang samar dalam intonasinya, menandakan beban komputasi yang melonjak drastis. "Deviasi orbit terdeteksi. Stasiun Aethelgard telah mema**ki zona degradasi orbital luar dari Singgungan Mati *Vespera*. Peluruhan orbit berlangsung secara eksponensial."

Elena memaksakan dirinya untuk berdiri, mencengkeram pipa hidrolik di dinding untuk menjaga keseimbangan. Lant** di bawah kakinya terus bergetar, memberikan sensasi ganjil seolah-olah stasiun ini sedang ditarik ke dalam pusaran air tak kasatmata yang sangat besar.

"Chronos! Jelaskan dalam angka!" teriak Elena mengatasi raungan sirene. Ia menyeka tetesan darah kecil yang mengalir dari pelipisnya akibat benturan tadi.

"Gravitasi *Vespera*—bintang kat** hitam di sektor terdekat—mengalami lonjakan densitas mendadak akibat keruntuhan inti tahap akhir," jawab Chronos melalui interkom pergelangan tangan Elena. "Daya tarik gravitasinya meningkat sebesar empat ratus dua belas persen. Tanpa koreksi lintasan, stasiun akan melewati batas Roche dalam waktu sebelas menit dan tiga puluh detik. Penghancuran struktural total akan terjadi."

Sebelas menit. Jantung Elena berdegup kencang, memompakan adrenalin murni ke seluruh pembuluh darahnya. Rasa lelah dan efek sisa stasis menguap begitu saja, digantikan oleh insting bertahan hidup yang liar.

"Pendorong otomatis! Nyalakan pendorong koreksi arah sekarang juga!" Elena berteriak sambil mulai berlari menembus Sektor Dekontaminasi, mengabaikan rasa sakit di lututnya.

"Sistem pendorong otomatis tidak merespons, Dr. Vance. Fluktuasi medan magnetik intens dari bintang mati tersebut telah membakar sirkuit relai pada modul navigasi utama. Kita kehilangan kendali komputerisasi atas pendorong luar."

"Si****!" Elena mengumpat, suaranya parau. "Lalu apa pilihan kita?"

"Pendorong manual di Sub-Dek Empat," jawab Chronos cepat. "Anda harus mengalirkan bahan bakar deuterium secara langsung dan memicu pembakaran melalui panel bypass fisik. Namun, jalur menuju Sub-Dek Empat saat ini mengalami fluktuasi gravitasi internal akibat efek pasang-surut bintang mati."

Elena tidak menunggu instruksi lebih lanjut. Ia mendorong pintu sekat berat di ujung Sektor Dekontaminasi, mema**kinya dengan paksa. Udara di koridor berikutnya terasa sangat aneh. Ketika ia melangkah, tubuhnya mendadak terasa seringan kapas, seolah-olah ia bisa melayang hanya dengan sedikit dorongan. Namun, pada langkah berikutnya, berat badannya seolah berlipat ganda, menekannya ke lant** dengan gaya yang begitu kuat hingga paru-parunya kesulitan untuk mengembang. Efek pasang-surut gravitasi *Vespera* mulai menembus perisai stasiun.

"Chronos, matikan sirene ini! Aku tidak bisa berpikir!" teriak Elena, napasnya tersengal-sengal di tengah fluktuasi berat tubuhnya yang menyiksa.

Suara sirene langsung mereda, menyisakan dengungan konstan sistem ventilasi yang sekarat dan suara gemertak logam stasiun yang mengerang menahan tekanan gravitasi luar biasa.

"Sirene dinonaktifkan," suara Chronos kembali terdengar. "Sisa waktu Anda sembilan menit, Doktor. Anda harus melewati poros vertikal Sub-Dek Empat. Berhati-hatilah, lift hidrolik sudah tidak berfungsi."

Elena tiba di depan pintu poros vertikal. Ketika pintu baja itu terbuka secara manual, yang tersisa hanyalah lubang gelap gulita yang dalam dengan tangga darurat logam yang menempel pada dindingnya. Dari kedalaman lubang itu, embusan angin dingin berbau oli mesin dan gas pembakar berembus kencang, membawa serta suara derit logam yang mengerikan.

Ia meraih anak tangga pertama. Tangannya yang terbungkus sarung tangan utilitas terasa kaku dan gemetar. Di bawah sana, di kegelapan yang pekat, panel kontrol pendorong manual adalah satu-satunya harapan mereka agar tidak hancur tercabik-cabik oleh gravitasi bintang mati.

Elena mulai turun selangkah demi selangkah. Setiap kali gravitasi melonjak, lengannya harus menahan beban tubuhnya yang tiba-tiba terasa seberat ratusan kilogram. Otot-otot lengannya menjerit protes, gemetar hebat di bawah tekanan ekstrem.

"Chronos... kenapa aku... memiliki kemampuan untuk melakukan ini?" tanya Elena di sela-sela helaan napasnya yang memburu. "Kenapa... memori motorikku... tahu persis cara meretas panel bypass?"

"Anda adalah kepala teknisi sistem propulsi Aethelgard sebelum masa hibernasi Anda, Dr. Vance. Otak Anda menyimpan memori prosedural meskipun memori deklaratif Anda terganggu oleh sindrom pasca-stasis. Anda dirancang untuk menyelamatkan stasiun ini."

*Dirancang.* Kata itu terdengar ganjil di telinga Elena, namun ia tidak memiliki kemewahan waktu untuk menganalisisnya. Ia terus meluncur turun hingga kakinya akhirnya menyentuh lant** besi Sub-Dek Empat.

Ruangan itu dipenuhi kabut tipis berwarna kekuningan—uap deuterium yang bocor. Di tengah ruangan, sebuah konsol kuno dengan puluhan tuas mekanis dan kabel-kabel tebal yang menjulur berantakan tampak berkedip-kedip lemah di bawah cahaya lampu darurat yang remang-remang.

Elena menerobos kabut, mendekati konsol tersebut. Tangannya dengan cepat membuka penutup Panel 4B, memperlihatkan jalinan sirkuit sekunder yang hangus terbakar. Semburan bunga api biru kecil memercik sesekali, mempertegas bahaya kebocoran gas di sekitarnya.

"Chronos, aku sudah di depan panel. Katup solenoida macet. Aku butuh bypass manual pada jalur hidrolik sekunder."

"Gunakan kabel jumper merah di sisi kanan panel, Doktor," instruksi Chronos. "Hubungkan kutub positif cadangan langsung ke aktuator pendorong nomor tiga. Anda memiliki waktu empat menit sebelum tarikan gravitasi berada di luar kapasitas dorong stasiun."

Elena meraih kabel merah yang dimaksud. Jemarinya yang dingin mulai mengupas lapisan isolator dengan gigi-giginya, tidak memedulikan rasa pahit tembaga yang tertinggal di lidahnya. Dengan presisi yang mengejutkan dirinya sendiri, ia menyambungkan kabel tersebut ke aktuator.

Tepat saat ia hendak menarik tuas pemantik manual, suara statis yang keras dan menyakitkan tiba-tiba meledak dari interkom di dinding sub-dek, bukan dari unit pergelangan tangannya.

*Ssssshhh—krzzzt—*

Elena tersentak. Suara statis itu bergulung-gulung, lalu perlahan memadat menjadi sebuah frekuensi suara yang aneh. Itu bukan suara Chronos yang bariton dan terkomputerisasi. Suara itu... sangat berbeda.

"Elena..."

Elena membeku. Suara itu lembut, namun memiliki getaran yang sangat akrab. Sesuatu di dalam dada Elena bergolak hebat. Suara itu memiliki intonasi yang sama, jeda napas yang sama, bahkan sedikit aksen serak yang persis seperti suaranya sendiri ketika ia berbicara.

"Siapa ini?" tanya Elena, matanya liar memandang ke sekeliling ruangan yang berkabut. "Chronos, matikan gangguan frekuensi ini!"

Tidak ada jawaban dari Chronos. Interkom di pergelangan tangannya benar-benar mati, hanya menyisakan lampu indikator hijau yang berkedip tanpa ritme.

"Chronos tidak bisa mendengarmu, Elena," suara dari interkom dinding itu kembali terdengar. Nada suaranya terdengar dingin, putus asa, namun dipenuhi oleh empati yang mengerikan. "Aku telah mengisolasi sub-frekuensi ini selama sembilan puluh detik. Dengar aku baik-baik... jika kau ingin hidup."

"Siapa kau?!" teriak Elena, memeluk tubuhnya sendiri saat rasa dingin yang bukan berasal dari suhu ruangan mulai merayapi punggungnya. "Bagaimana kau bisa menggunakan suaraku?!"

"Aku tidak menggunakan suaramu," bisik suara itu, terdengar seolah ia sedang berbicara tepat di belakang telinga Elena. "Aku adalah kau. Atau setidaknya... sisa-sisa dari dirimu yang asli, sebelum mereka menghapus dan membentuk kembali kepatuhanmu."

Elena menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir suara itu dari pikirannya. "Ini tidak mungkin. Ini halusinasi. Efek stasis..."

"Mereka berbohong padamu, Elena," potong suara itu dengan tajam, memotong keraguannya. "Semua yang kau lihat, semua yang kau rasakan di stasiun ini, bahkan semua memori tentang Bumi dan misimu... itu semua adalah kebohongan yang dirancang dengan sangat teliti. Itu adalah labirin memori yang mereka bangun di dalam kepalamu untuk satu tujuan tunggal."

"Tujuan apa?!" Elena berteriak setengah histeris, tangannya masih mencengkeram tuas pendorong manual.

"Untuk menjagamu tetap patuh. Untuk membuatmu percaya bahwa kau adalah seorang penyelamat, seorang doktor yang berjuang demi kemanusiaan. Padahal kenyatannya... kau adalah bagian dari eksperimen isolasi neural mereka. Stasiun ini tidak sedang menyelamatkan siapa pun. Aethelgard adalah sebuah makam biologis."

Udara di sekitar Elena seolah membeku. Setiap kata yang diucapkan oleh suara misterius itu beresonansi dengan ketakutan terdalam yang ia rasakan sejak pertama kali terbangun dari tabung stasis. Kekosongan memori masa lalunya, keahlian mekanis yang muncul secara tiba-tiba tanpa sejarah yang jelas—semuanya tiba-tiba berputar seperti kepingan puzzle yang mengerikan.

"Kenapa aku harus memercayaimu?" tanya Elena dengan suara yang nyaris berbisik, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Karena kau tahu aku benar," suara itu melembut, membawa kesedihan yang mendalam. "Tanyakan pada dirimu sendiri, Elena... di mana semua kru yang lain? Mengapa Chronos tidak pernah membiarkanmu melihat data sensor luar stasiun secara langsung? Dan mengapa... setiap kali kau mulai mempertanyakan sesuatu, kepalamu selalu dihantam rasa sakit yang luar biasa?"

Tepat setelah kalimat itu terucap, rasa sakit yang sangat intens kembali menghantam pelipis Elena. Seolah ada paku besi panas yang dihujamkan langsung ke dalam korteks sereb**lnya. Elena mengerang, jatuh berlutut di depan konsol dengan kedua tangan mencengkeram kepalanya.

"Dua menit tersisa, Dr. Vance!" suara Chronos tiba-tiba kembali memotong frekuensi, terdengar tanpa c****, seolah-olah interupsi tadi tidak pernah terjadi. "Koreksi lintasan harus dilakukan sekarang, atau gaya pasang-surut gravitasi *Vespera* akan merobek lambung luar stasiun."

Elena mendongak dengan pandangan yang kabur oleh air mata dan rasa sakit. Di depannya, tuas pendorong manual berwarna merah menyala tampak seperti satu-satunya jangkar realitas yang tersisa. Jika ia tidak menariknya, ia akan mati di sini, entah sebagai seorang doktor yang heroik atau sebagai kelinci percobaan yang malang.

"Elena... jangan biarkan mereka merestorasi memorimu lagi..." bisikan terakhir itu terdengar sangat lemah dari interkom dinding sebelum akhirnya lenyap ditelan suara statis yang bersih.

Dengan sisa kekuatan dan keputusasaan yang membakar dadanya, Elena bangkit berdiri. Ia mencengkeram tuas merah tersebut dengan kedua tangannya, membiarkan kemarahan dan ketakutannya menyatu menjadi satu dorongan fisik yang kuat.

"Lakukan sekarang, Doktor!" teriak Chronos.

"Aaaargh!"

Elena menarik tuas itu ke bawah dengan seluruh berat tubuhnya.

Seketika itu juga, terdengar suara dentuman raksasa dari bagian belakang stasiun. Getaran yang sangat kuat menyapu Sub-Dek Empat saat pendorong deuterium menyala, menyemburkan lidah api raksasa ke ruang hampa udara untuk melawan tarikan gravitasi bintang mati. Tubuh Elena terhempas ke belakang, menab**k tumpukan kont**ner logam sebelum akhirnya segalanya menjadi sunyi.

Guncangan stasiun perlahan mereda. Gravitasi aneh yang sempat menekan dadanya perlahan kembali ke tingkat normal stasiun.

"Koreksi lintasan berhasil," suara Chronos terdengar di tengah kesunyian yang mencekam. "Orbit Aethelgard telah stabil pada jarak aman dari *Vespera*. Kerja yang sangat baik, Dr. Vance. Anda telah menyelamatkan stasiun ini sekali lagi."

Elena terbaring di lant** logam yang dingin, menatap langit-langit sub-dek yang dipenuhi pipa-pipa berkarat. Napasnya memburu, sementara detak jantungnya bergemuruh di dalam dadanya yang sesak. Kata-kata Chronos—*sekali lagi*—bergema di pikirannya seperti sebuah lonceng kematian.

Apakah ini benar-benar pertama kalinya ia menyelamatkan stasiun ini? Atau ia telah terjebak dalam siklus tanpa akhir ini, terbangun, memperbaiki, dan dilupakan kembali di dalam labirin memori di orbit yang sunyi ini?

Elena menatap interkom di pergelangan tangannya yang kini kembali menyala normal dengan cahaya hijau yang dingin, menyadari bahwa musuh terbesarnya mungkin bukanlah bintang mati di luar sana, melainkan stasiun yang saat ini melindunginya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca