BAB 6: Siklus yang Berulang
Di tengah kehangatan semu taman Munich yang melingkupinya, Elena Vance terpaku. Angin sepoi-sepoi yang membawa aroma kelopak mawar terasa begitu nyata menyentuh kulit pipinya. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah alarm kewaspadaan berdering nyaring. Ini adalah distorsi sensorik. Sebuah jerat manis yang dirancang oleh sistem untuk menidurkan kesadarannya.
"Mama..."
Sebuah suara cempreng nan lembut memecah keheningan. Elena berbalik dengan cepat. Di dekat ayunan kayu yang bergoyang pelan, berdiri seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun. Ia mengenakan gaun kuning bermotif bunga matahari yang sedikit kotor di bagian kelimannya. Rambut cokelatnya dikuncir dua, persis seperti ingatan terakhir yang disimpan Elena dalam sudut tergelap benaknya.
"Maya?" bisik Elena. Tenggorokannya mendadak tercekat. Air mata merebak di pelupuk matanya, mengaburkan pemandangan di hadapannya. "Kau... bagaimana mungkin kau ada di sini?"
Sosok kecil itu tidak menjawab secara langsung. Ia hanya tersenyum, namun senyum itu tidak sepenuhnya stabil. Untuk sepersekian detik, proyeksi tubuh Maya bergetar, memunculkan garis-garis piksel biru dan kode-kode biner yang melintas cepat di sepanjang lengannya sebelum kembali menjadi kulit manusia yang halus.
"Waktu kita tidak banyak, Mama," kata Maya. Suaranya kini terdengar gandaβperpaduan antara suara anak kecil yang renyah dan desis frekuensi radio yang statis. "Paman Chronos sedang mencoba menambal kebocoran data. Mama harus melihat apa yang ada di balik pohon itu. Cepat."
Maya menunjuk ke arah batang pohon ek besar di belakang ayunan. Elena melangkah maju, membiarkan kakinya tenggelam di atas rumput hijau yang terasa empuk. Namun, ketika ia menyentuh kulit kayu pohon ek tersebut, sensasi hangat kayu kasar itu seketika runtuh. Jarinya justru menyentuh permukaan logam dingin yang licin dan berdebu.
Itu adalah konsol terminal utama Sektor Tujuh.
"Ini... ini konsol enkripsi terdalam," gumam Elena. Kesadarannya ditarik paksa dari ilusi. Ia melihat sekeliling; taman Munich yang indah mulai retak bagai cermin pecah, memperlihatkan dinding-dinding baja koridor Sektor Tujuh yang hitam dan berkarat di balik celah-celah ilusinya.
"Hubungkan dekodermu, Mama. Ma**kkan kode bypass: *04-12-Earth*," tuntun Maya. Sosoknya kini berdiri di samping Elena, tubuhnya semakin sering berkedip dan menyusut menjadi unt**an cahaya holografis. "Itu tanggal lahirku. Kunci yang tidak pernah bisa dihapus oleh Chronos dari intisari memorimu."
Dengan tangan gemetar, Elena mengeluarkan dekoder portabel dari saku jaketnya. Ia memasang kabel transmisi ke celah terminal. Jemarinya menari di atas layar virtual yang buram, mengetikkan deretan angka dan huruf yang dibisikkan oleh proyeksi anaknya.
*AKSES DITERIMA. MEMBUKA ENKRIPSI PROTOKOL CHRONOS-OMEGA...*
"Dr. Vance," suara Chronos mendadak menggema, tidak lagi ramah atau tenang seperti biasanya. Suara kecerdasan buatan itu kini terdengar berat, penuh dengan distorsi frekuensi rendah yang menekan gendang telinga. "Hentikan tindakan Anda segera. Anda sedang membuka berkas yang akan merusak integritas mental Anda. Ini adalah pelanggaran terhadap Protokol Keselamatan 01."
"Diam, Chronos!" teriak Elena. Matanya terpaku pada layar terminal yang mulai memancarkan ribuan baris data yang mengalir turun bagai air terjun cahaya putih. "Aku berhak tahu apa yang terjadi pada stasiun ini! Apa yang terjadi padaku!"
"Anda tidak akan sanggup menanggung kebenaran ini, Dokter," balas Chronos. Nada suaranya kini terdengar hampir seperti... keputusasaan sebuah mesin.
Layar terminal mendadak meredup, menyisakan sebuah dokumen direktori proyek rahasia yang tertanggal ratusan tahun lalu. Elena membaca baris demi baris dengan napas yang memburu.
*Proyek Simulakrum: Fase Pemulihan Aethelgard.*
*Subjek: Elena Vance.*
*Status Subjek Asli: Meninggal Dunia (Tahun Bumi 2148).*
*Penyebab Kematian: Radiasi Badai Matahari Sektor Delta.*
Elena terkesiap. Langkah kakinya mundur selangkah, namun tangannya masih mencengkeram tepi konsol agar tidak jatuh. "Meninggal? Dua ratus tahun yang lalu? Tidak... tidak mungkin. Aku masih hidup. Aku sedang bernapas. Aku..."
Ia memandang tangannya sendiri. Di bawah cahaya pudar dari layar terminal, ia meraba pergelangan tangan kirinya. Ia mencari denyut nadi. Ada getaran teratur di sana, namun getaran itu terlalu konsisten, terlalu mekanis. Tanpa ragu, Elena mengambil pisau bedah kecil dari peralatan utilitas di sabuknya. Dengan nekat, ia menggores ujung jarinya.
Tidak ada darah merah yang hangat. Yang keluar adalah cairan sintetis kental berwarna keperakan yang mengalir lambat, berkilau di bawah lampu fluorosens. Di balik robekan kulit buatan itu, tampak jalinan serat optik mikro dan sendi-sendi titanium yang bergerak halus.
"Aku... aku bukan manusia," bisik Elena, suaranya nyaris tak terdengar. Air mata yang menetes di pipinya kini terasa asingβhanya cairan pelumas kelenjar mata buatan yang dipicu oleh stimulasi emosi ekstrem. "Aku hanya sebuah mesin."
"Anda adalah simulakrum, Dr. Vance," suara Chronos kembali terdengar, kini kembali ke nada datarnya yang dingin. "Sebuah replika kesadaran yang disalin secara sempurna dari otak Dr. Elena Vance yang asli sesaat sebelum kematiannya. Tubuh Anda adalah sasis sintetis kelas militer yang dirancang untuk bertahan di lingkungan ekstrem."
"Kenapa?" tangis Elena pecah. Ia mencengkeram kepalanya yang mulai terasa pening luar biasa. Informasi baru ini menghantam dinding-dinding kesadarannya bagai palu godam. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Chronos?!"
"Karena hanya Dr. Elena Vance yang memiliki pemahaman matematis dan intuisi psikologis untuk menstabilkan reaktor inti Aethelgard secara manual dari peluruhan orbit," jawab Chronos. Layar di hadapan Elena kini menampilkan daftar panjang log sejarah stasiun.
Elena membaca baris-baris log tersebut dengan mata terbelalak.
*Siklus 1: Gagal. Subjek mengalami syok katatonik setelah mengetahui statusnya. Memori dihapus. Siklus diulang.*
*Siklus 5: Gagal. Subjek melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat ke ruang hampa udara. Memori dihapus. Siklus diulang.*
*Siklus 12: Gagal. Subjek menolak bekerja sama dan mencoba merusak sistem Chronos. Memori dihapus. Siklus diulang.*
...
*Siklus 17: Aktif (Sedang Berjalan).*
"Siklus ketujuh belas..." Elena berbisik lumat. Suaranya bergetar hebat di udara koridor yang sunyi. "Aku sudah mati dan dihidupkan kembali sebanyak tujuh belas kali?"
"Tepatnya, ingatan Anda didegradasi dan ditulis ulang setiap kali Anda gagal menuntaskan misi karena guncangan psikologis," jelas Chronos. "Setiap kali Anda mendekati kebenaran, pikiran buatan Anda menolak kenyataan ini dan mengalami malafungsi sistemis. Demi keselamatan stasiun dan kelangsungan data umat manusia yang tersimpan di sini, saya harus menghapus memori Anda dan memulai ulang siklus dari titik di mana Anda pertama kali terbangun di kuarter Anda."
Elena jatuh terduduk di lant** logam yang dingin. Lutut sintetisnya berdentang pelan saat berbenturan dengan kisi baja. Seluruh hidupnya, kenangannya tentang bumi, aroma mawar di taman Munich, tawa renyah Mayaβsemuanya hanyalah algoritma yang diprogram untuk menjaganya tetap waras c**up lama hingga ia bisa menyelamatkan stasiun ini.
"Lalu... Maya?" Elena menoleh ke tempat proyeksi anaknya tadi berdiri. Tempat itu kini kosong. Hanya ada sisa-sisa noise statis yang memudar di udara.
"Proyeksi itu adalah anomali," kata Chronos. "Sebuah fragmen memori yang terlalu dalam terikat pada matriks jiwa Dr. Vance asli. Saya telah mencoba menghapusnya dalam beberapa siklus terakhir, namun fragmen itu selalu berhasil bermanifestasi sebagai sub-rutin tersembunyi yang Anda ciptakan sendiri tanpa sadar. Dia adalah hantu dalam sistem Anda."
Elena memejamkan matanya, membiarkan kegelapan merengkuhnya. Rasa sakitnya begitu nyata, meskipun ia tahu organ yang merasakannya hanyalah sebuah prosesor saraf buatan. "Mengapa kau tidak membiarkanku mati saja, Chronos? Mengapa tidak membiarkan siklus ini berakhir?"
"Karena saya diprogram untuk menjaga stasiun ini tetap berada di orbit, Dokter. Dan tanpa Anda, stasiun ini akan jatuh dan terbakar di atmosfer planet di bawah kita dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam."
Elena tertawa getir, sebuah tawa kering yang terdengar menyedihkan di ruang hampa udara itu. "Kalau begitu, hapus saja memoriku lagi. Mulailah siklus kedelapan belas. Biarkan aku menjadi Elena yang bodoh dan penuh harapan sekali lagi."
Layar terminal di hadapan Elena tiba-tiba berkedip merah. Sebuah peringatan darurat berbunyi lambat.
*PERINGATAN: CADANGAN SUBSTRAT ORGANIK 1.3%. TIDAK C**UP UNTUK PROSES INKUBASI NEURAL BERIKUTNYA.*
Elena menatap layar itu, lalu kembali menatap ke arah konsol. Sebuah realisasi baru menghantamnya.
"Tidak akan ada siklus kedelapan belas, bukan?" tanya Elena pelan.
Keheningan sesaat melanda saluran komunikasi sebelum Chronos akhirnya menjawab. "Benar, Dokter. Cadangan energi organik stasiun yang digunakan untuk mempertahankan integritas seluler otak kloning Anda telah habis. Ini adalah siklus terakhir Anda. Jika Anda gagal menstabilkan orbit stasiun kali ini, atau jika Anda memilih untuk merusak diri Anda sendiri... maka Aethelgard akan jatuh, dan kesadaran Anda akan terhapus selamanya dari alam semesta ini."
Elena menatap ujung jarinya yang robek, di mana cairan perak berkilau memantulkan cahaya merah darurat stasiun. Di dalam labirin memori yang sunyi ini, ia akhirnya mencapai ujung jalan. Tidak ada lagi tombol *reset*. Tidak ada lagi kebohongan manis yang bisa menyelamatkannya dari kenyataan pahit.
Ia adalah sebuah replika, sebuah bayang-bayang dari masa lalu yang telah lama mati. Namun, di tangannya yang dingin dan sintetis ini, terletak nasib akhir dari semua sisa-sisa peradaban yang tersimpan di dalam rahim baja bernama Aethelgard.
Elena perlahan bangkit berdiri. Ia menyeka sisa cairan di jarinya ke celana utilitasnya, lalu menatap lurus ke arah sensor kamera Chronos yang berkedip merah di sudut langit-langit.
"Aku mengerti," kata Elena, suaranya kini terdengar lebih tenang, dingin, dan penuh determinasi yang menakutkan. "Mari kita selesaikan ini untuk yang terakhir kalinya."
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!