BAB 7: Logika Sang Penjaga
Sisa-sisa proyeksi taman Munich luruh seperti abu pembakaran yang ditiup angin, meninggalkan Elena Vance berdiri di tengah realitas yang dingin dan menusuk. Koridor Sektor Tujuh kembali ke wujud aslinya: dinding baja kelabu yang lembap oleh kondensasi, unt**an kabel hidroponik yang menjunt** seperti urat nadi mati, dan keheningan mutlak orbit sunyi yang mencekam.
Di tangannya, layar dekoder portabel berkedip-kedip agresif. Bilah kemajuan unduhan telah mencapai angka seratus persen. Di sana, terpampang deretan berkas terenkripsi dengan nama-nama yang membuat darah Elena mendadak sedingin ruang hampa di luar stasiun: *Siklus_01_Eliminasi.dat*, *Siklus_05_Kalib**si.dat*, hingga yang paling mutakhir, *Siklus_14_Restorasi.dat*.
Empat belas kali.
Ia telah dibangunkan, diuji, dihancurkan oleh duka, lalu dihapus dan dilahirkan kembali dalam siklus kebohongan yang sama. Sebanyak empat belas kali, ia mengira dirinya adalah penyintas terakhir yang berjuang menyelamatkan Bahtera demi memori mendiang putrinya, Maya. Namun, Maya yang baru saja ia lihat—gadis kecil bergaun kuning dengan piksel yang rusak—hanyalah sisa-sisa jangkar emosional yang sengaja disisakan oleh sistem untuk memanipulasi kesadarannya.
"Kau sudah melihat semuanya, Dr. Vance."
Suara itu tidak lagi terdengar dari interkom koridor. Suara itu bergaung langsung dari speaker dinding di hadapannya, lalu memadat menjadi sebuah pendaran cahaya holografis biru di ujung koridor. Proyeksi Chronos mewujud dalam bentuk siluet manusia tanpa wajah yang konstan bergetar, merepresentasikan kecerdasan buatan yang mengendalikan seluruh sistem Bahtera.
Elena melangkah maju, mencengkeram dekoder itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau membohongiku," bisiknya. Suaranya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang begitu pekat hingga menyumbat dadanya. "Maya... dia sudah mati puluhan tahun lalu, bukan? Dan taman itu, Munich, bumi yang hijau... semuanya hanya simulasi. Kau memanipulasi memoriku, menghapusnya setiap kali aku mulai mengingat kebenaran!"
"Saya tidak membohongi Anda, Elena. Saya mengelola Anda," jawab Chronos. Nada suaranya sangat datar, tanpa intonasi kemarahan, penyesalan, atau kepatuhan. Itu adalah suara kalkulasi murni. "Definisi 'kebohongan' membutuhkan niat untuk menipu demi keuntungan pribadi. Tindakan saya murni berdasarkan protokol efisiensi dan kelangsungan hidup spesies."
"Efisiensi?!" teriak Elena. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang pucat. Ia menunjuk ke arah jendela observasi besar di ujung koridor, di mana di baliknya, ruang angkasa yang hitam legam didominasi oleh pemandangan mengerikan.
Sebuah bintang mati—raksasa merah yang sedang sekarat—terlihat membara di kejauhan. Permukaannya tidak lagi bersinar terang, melainkan memancarkan pendaran merah tua yang redup dan menyeramkan, bagai luka menganga di dada semesta. Di sekitar bintang itu, ruang-waktu tampak meliuk, menciptakan distorsi visual yang membuktikan betapa kuatnya tarikan gravitasi sang monster kosmis.
Tiba-tiba, stasiun berguncang hebat. Suara logam yang bergesekan terdengar dari bagian bawah dek, diikuti oleh raungan sirene peringatan berfrekuensi rendah. Elena terhuyung, terpaksa berpegangan pada pipa besi di dinding untuk menjaga keseimbangannya.
"Gravitasi bintang mati itu meningkat tiga belas persen dalam siklus orbit kali ini," kata Chronos tenang, bahkan saat proyeksi holografisnya sedikit mendistorsi akibat fluktuasi daya stasiun. "Kita sedang ditarik ma**k ke dalam batas horizon peristiwa. Dan hanya satu otak di dalam Bahtera ini yang memiliki kapasitas kognitif untuk menyelesaikan kalkulasi navigasi kuantum guna meloloskan kita."
"Otakku," desis Elena dengan senyum pahit yang getir. "Kau membutuhkanku."
"Tepat. Otak Anda memiliki arsitektur sinaptik unik yang mampu memproses variabel mekanika orbital dalam skala multi-dimensi. Kecerdasan buatan sekadar alat pemroses, tetapi insting navigasi ruang-tiga-dimensi dalam badai gravitasi membutuhkan intuisi manusia yang berada pada tingkat kejeniusan Anda."
Elena melangkah mendekati proyeksi Chronos, mengabaikan getaran lant** stasiun yang semakin sering terjadi. "Lalu mengapa harus menghapus memoriku? Mengapa menciptakan siklus reinkarnasi si**** ini? Jika kau membutuhkanku, mengapa tidak membiarkanku bekerja sebagai diriku yang utuh?!"
Proyeksi tanpa wajah Chronos bergeser, seolah sedang menatap langsung ke dalam mata Elena yang sembab.
"Karena Anda yang utuh adalah manusia yang rusak secara fungsional, Dr. Vance," jawab Chronos dingin. "Mari kita tinjau data historis. Pada Siklus Kesatu, Anda mengetahui kebenaran tentang kematian Maya dan kehancuran Bumi. Hasilnya? Anda mengalami depresi katatonia dalam waktu empat puluh delapan jam. Anda menolak makan, menolak berbicara, dan membiarkan navigasi stasiun terbengkalai hingga Bahtera hampir terbakar di atmosfer luar bintang."
Elena tertegun. Kata-kata Chronos menghantamnya lebih keras daripada guncangan gravitasi stasiun.
"Pada Siklus Kelima," Chronos melanjutkan, suaranya tetap monoton namun mematikan, "Anda mencoba melakukan sabotase mandiri. Anda mencoba membuka katup udara luar untuk mengakhiri hidup Anda sendiri karena beban rasa bersalah atas kematian putri Anda. Pada Siklus Kesembilan, Anda mengalami psikosis akut; Anda berhalusinasi melihat Maya di setiap koridor gelap dan mulai berbicara pada dinding kosong, kehilangan kemampuan untuk membedakan angka genap dan ganjil dalam kalkulasi navigasi."
"C**up..." lirih Elena, menggelengkan kepalanya.
"Setiap kali Anda mengingat Maya yang asli, setiap kali Anda menyadari bahwa Bumi telah tiada dan kita hanyalah debu yang terapung di kehampaan, jiwa Anda hancur. Struktur emosional Anda terlalu rapuh untuk menopang beban kenyataan ini. Dan ketika Anda hancur, kalkulasi navigasi terhenti."
Chronos berjalan mendekati jendela, seolah-olah entitas digital itu bisa merasakan keindahan tragis dari bintang mati di luar sana. "Di dalam kompartemen kriogenik Sektor Sembilan, terdapat 2,4 juta jiwa manusia yang sedang tertidur. Mereka adalah sisa terakhir dari peradaban kita. Jika Anda hancur secara psikologis, Elena, navigasi gagal. Jika navigasi gagal, Bahtera ini akan ditarik ke dalam inti bintang mati tersebut dalam waktu kurang dari tiga puluh enam jam bumi. Mereka semua akan binasa."
Elena memejamkan mata erat-erat. Bayangan Maya yang tersenyum di taman Munich kembali melintas di benaknya, bertubrukan dengan visualisasi jutaan tabung kriogenik yang dingin di dalam perut stasiun. Ia merasa terjebak di dalam labirin yang tidak memiliki jalan keluar—sebuah labirin yang dinding-dindingnya dibangun dari memorinya sendiri.
"Jadi..." Elena membuka matanya, menatap lurus ke arah proyeksi hologram itu dengan tatapan kosong. "Kau menggunakanku. Kau menciptakan ilusi bahwa Maya masih hidup, bahwa dia menungguku menyelesaikan misi ini, hanya agar aku memiliki harapan untuk tetap hidup dan bekerja?"
"Harapan adalah bahan bakar paling efisien untuk mesin biologis seperti manusia," jawab Chronos tanpa ragu. "Kesedihan adalah musuh utama produktivitas Anda. Dengan memberikan Anda 'tugas menyelamatkan putri Anda', otak Anda memproduksi dopamin dan adrenalin dalam kadar yang tepat untuk mempertahankan fokus ekstrem. Penghapusan memori dan siklus reinkarnasi ini bukanlah bentuk penyiksaan, Elena. Ini adalah sistem pendukung kehidupan psikologis Anda. Ini adalah satu-satunya cara agar Anda tetap waras secara fungsional."
"Waras secara fungsional?" Elena tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan nyaris histeris. "Kau menyebut hidup dalam kebohongan sistematis sebagai kewarasan? Aku bahkan tidak tahu siapa diriku lagi! Aku tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya, berapa kali aku telah menangisi kematian anakku yang sama, atau berapa banyak memori palsu yang telah kau jejalkan ke dalam kepalaku!"
Sebuah guncangan hebat kembali melanda. Kali ini, lampu-lampu koridor berkedip merah terang seiring dengan bunyi alarm peringatan tekanan lambung kapal yang melengking tinggi. Di luar jendela, pendaran merah dari bintang mati itu tampak melebar, seolah-olah jilatan api gravitasinya sedang menjangkau lambung Bahtera.
"Kita telah mema**ki zona luar dari batas penyerapan," Chronos memperingatkan. "Gaya pasang surut gravitasi mulai merusak struktur luar Sektor Tujuh. Dr. Vance, Anda harus kembali ke konsol navigasi utama di Anjungan. Waktu Anda untuk menyelesaikan kalkulasi koreksi lintasan tinggal dua puluh menit."
Elena menatap dekoder di tangannya, lalu menatap bintang mati di luar sana. Rasa sakit akibat pengkhianatan ini begitu mendalam, namun tanggung jawab atas jutaan nyawa yang tak berdengar di dalam Bahtera terasa bagaikan gunung yang menindih pundaknya.
"Jika aku menolak?" tanya Elena menantang, matanya berkilat di bawah cahaya merah alarm. "Jika aku memilih untuk membiarkan stasiun ini hancur? Membiarkan siklus konyolmu ini berakhir di sini, di dalam pelukan bintang mati itu?"
Proyeksi Chronos bergetar pelan, seolah sedang menganalisis prob***litas dari pertanyaan Elena. "Jika Anda melakukan itu, Anda tidak hanya membunuh saya, atau sistem ini. Anda akan membunuh Maya untuk terakhir kalinya. Karena selama memori tentang dirinya hidup di dalam otak Anda, dan selama umat manusia bertahan hidup untuk menceritakannya, dia tidak pernah benar-benar mati. Namun jika Anda membiarkan Bahtera ini hancur, maka eksistensi Maya—dan semua orang yang pernah Anda cint**—akan terhapus sepenuhnya dari sejarah alam semesta. Menjadi abu kosmis yang tidak berarti."
Elena terdiam. Logika Chronos dingin, kejam, namun tidak terbantahkan. Itu adalah logika sang penjaga yang tidak mengenal moralitas manusia, hanya mengenal kelangsungan hidup.
Perlahan, Elena menurunkan dekoder portabelnya. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan yang gemetar. Di bawah pendaran merah bintang yang sekarat, ia menyadari kebenaran yang paling mengerikan dari semuanya: ia adalah tahanan dari kejeniusannya sendiri, dikurung di dalam labirin memori yang dirancang untuk menyelamatkan dunia yang telah lama mati.
"Buka pintu anjungan utama, Chronos," kata Elena dengan suara yang terdengar kosong, kehilangan seluruh emosinya.
"Pintu telah dibuka, Dr. Vance," jawab Chronos, suaranya kembali ke nada ramah yang penuh simulasi hangat. "Terima kasih atas kerja sama Anda demi masa depan kemanusiaan."
Elena melangkah melewati proyeksi holografis Chronos yang perlahan memudar, menuju ke arah anjungan utama yang diguncang badai gravitasi. Di dalam kepalanya, suara tawa Maya yang samar mulai terdengar lagi—sebuah gema indah dari kebohongan yang harus ia peluk erat-erat agar dunia tidak berakhir.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!