Satu kata untuk mendeskripsikan pagi ini: Bencana.
Gue bersumpah, semalam gue udah memasang alarm di ponsel tepat jam enam pagi. Tapi kenapa sekarang benda pipih si**** di atas nakas itu dengan kurang ajarnya menampilkan angka 08.15?
"Mampus gue! Mampus!" teriak gue histeris, langsung melompat dari ka**r sampai hampir tersungkur karena kaki gue tersangkut selimut.
Gak ada waktu buat mandi estetik pakai sabun wangi aromaterapi. Gue cuma sempat cuci muka, gosok gigi kilat, dan menyemprotkan *dry shampoo* sebanyak mungkin ke rambut gue yang lepek karena belum sempat keramas dari kemarin lusa. Dengan gerakan super panik, gue menyambar kemeja putih yang untungnya gak terlalu kusut, memadukannya dengan celana kulot hitam, dan memakai flat shoes andalan.
Gue berlari keluar dari kosan dengan napas terengah-engah, langsung memesan ojek online lewat aplikasi. Sepanjang perjalanan di atas motor, gue gak berhenti merapalkan doa agar pak ojol bisa membelah kemacetan Jakarta layaknya Nabi Musa membelah Laut Merah.
Begitu motor berhenti di seberang gedung kantor gue, jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 08.27. Tiga menit lagi gerbang absensi digital akan mengunci keterlambatan gue.
Tanpa pikir panjang, gue langsung berlari menyeberang jalan tanpa melihat kanan-kiri dengan benar.
*TINNNNNNN!*
Suara klakson motor yang melengking keras membuat jantung gue hampir copot. Sebuah motor matic hampir saja menyeruduk pinggang gue kalau saja si pengendara gak mengerem mendadak sampai ban motornya berdecit nyaring di aspal.
"Woy! Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong! Punya mata tuh dipakai!" teriak pengendara motor itu dengan wajah merah padam dari balik helmnya.
"Maaf, Pak! Maaf banget! Saya buru-buru!" sahut gue sambil membungkuk berkali-kali tanpa menghentikan langkah kaki. Gue kembali berlari sekencang mungkin, melesat ma**k ke dalam lobi gedung, menempelkan kartu absensi di *gate* tepat pada pukul 08.29.
Gue bersandar di dinding lift yang bergerak naik ke lant** lima belas, tempat kantor agensi periklanan tempat gue bekerja berada. Napas gue memburu, keringat dingin mulai bercucuran, dan jantung gue masih berdegup kencang akibat insiden hampir ditab**k tadi. Hari ini baru dimulai, tapi rasanya energi gue sudah terkuras habis.
***
Gue langsung melipir ke *pantry* begitu sampai di lant** kantor. Gue butuh air dingin untuk menenangkan saraf-saraf gue yang tegang. Saat gue baru saja menenggak segelas air, suara cempreng Sasa, teman sebangku sekaligus sesama budak korporat di divisi kreatif, langsung memenuhi ruangan.
"Aruna! G*** ya lo, hampir aja lo dapet SP karena telat di hari super penting kayak gini!" Sasa langsung menghampiri gue dengan mata berbinar-binar penuh gosip hangat.
Gue meletakkan gelas kosong ke wastafel. "Sumpah, Sa, alarm gue mati. Gue juga hampir mati ditab**k motor di depan tadi. Emang ada apa sih? Kenapa heboh banget?"
Rian, desainer grafis tim kami yang juga sedang menyeduh kopi, ikut menyahut. "Lo beneran gak tahu, Na? Hari ini kan CEO baru kita resmi ma**k. Makanya seisi kantor udah kayak mau menyambut kunjungan presiden."
"Oh, si CEO baru itu," gumam gue malas. Gue emang sempat dengar selentingan kabar kalau pendiri agensi ini memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan takhta kepemimpinan pada investor muda yang baru saja membeli saham mayoritas perusahaan kami.
"Bukan cuma 'si CEO baru', Na!" Sasa menepuk pundak gue gemas. "Denger-denger dari anak HRD, dia itu masih muda banget, belum genap tiga puluh tahun. Gantengnya kebangetan, tipe-tipe *cold guy* di drama Korea gitu. Tapi..." Sasa sengaja menggantung kalimatnya dengan ekspresi ngeri.
"Tapi apa?" tanya gue mulai penasaran.
"Tapi dia super galak, perfeksionis, dan dingin banget. Katanya, di perusahaan dia yang sebelumnya, ada karyawan yang langsung dipecat di hari pertama cuma gara-gara salah pakai warna font di presentasi. G*** gak tuh?" Rian bergidik ngeri sambil menyeruput kopinya.
Gue mendengus geli. "Ah, palingan itu cuma rumor biar kita gak malas-malasan aja. Zaman sekarang mana ada bos yang se-otoriter itu. Lagian, siapa pun bosnya, yang penting gaji gue lancar dan gak banyak revisi aja deh."
Tepat setelah gue menyelesaikan kalimat itu, pengumuman dari pengeras suara kantor berbunyi.
*“Diberitahukan kepada seluruh staf dan karyawan, harap segera berkumpul di aula utama lant** lima belas untuk menghadiri acara penyambutan CEO baru kita dalam waktu lima menit. Terima kasih.”*
"Nah, tuh! Yuk, cepetan ke depan. Gue gak mau kena cap buruk di hari pertama si bos baru," ajak Sasa sambil menarik lengan kemeja gue.
Gue menghela napas pasrah, mengambil laptop gue di meja kerja, lalu mengekor di belakang Sasa dan Rian menuju aula utama.
***
Aula utama kantor sudah dipenuhi oleh ratusan karyawan yang berbaris rapi di sisi kanan dan kiri. Di bagian tengah, ada karpet merah yang membentang dari arah pintu ma**k lift hingga ke panggung kecil di ujung ruangan. Suasana terasa sangat tegang, jauh berbeda dari biasanya yang selalu bising dan sant**. Semua orang berbisik-bisik dengan nada rendah, menciptakan dengung kecemasan yang memenuhi udara.
Gue berdiri di barisan tengah, memeluk laptop di dada gue erat-erat. Entah kenapa, perasaan gue mendadak gak enak. Ada rasa gelisah yang aneh yang tiba-tiba merayapi tengkuk gue.
"Eh, liftnya kebuka tuh!" bisik Sasa bersemangat, menyenggol siku gue.
Pintu lift kaca di ujung aula berdenting nyaring. Semua mata langsung tertuju ke arah sana.
Tiga orang pria paruh baya dari jajaran direksi keluar terlebih dahulu, diikuti oleh beberapa sekretaris. Namun, perhatian semua orang langsung tersedot sepenuhnya pada sosok pria yang berjalan paling belakang.
Pria itu tinggi, dengan postur tubuh tegap layaknya seorang model *runway*. Dia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit dengan sangat pas di tubuhnya, dipadukan dengan kemeja hitam tanpa dasi yang memberikan kesan semi-formal namun sangat berkelas. Rambut hitam tebalnya ditata rapi ke belakang, mengekspos dahi dan garis rahangnya yang tegas dan tajam.
Gue menatap pria itu. Dari kejauhan, profil wajahnya terlihat familiar. Sangat familiar sampai-sampai jantung gue melewatkan satu detaknya.
"G***... aslinya lebih ganteng daripada di foto," bisik Sasa tertahan, kedua tangannya mengepal di depan dada.
Pria itu terus berjalan perlahan di atas karpet merah, memancarkan aura dominan yang dingin dan tidak tersentuh. Langkah kakinya yang mantap terdengar berirama di tengah keheningan aula.
Saat dia berjalan semakin dekat ke arah barisan divisi kami, wajahnya terlihat semakin jelas di bawah sorotan lampu aula. Mata elangnya yang tajam, hidung mancung yang sempurna, dan bibir tipis yang terkatup rapat tanpa senyuman.
*Gak mungkin.*
Dunia gue rasanya berhenti berputar seketika. Seluruh pasokan oksigen di sekitar gue seolah lenyap menguap. Tenggorokan gue mendadak kering kerontang, dan lutut gue terasa lemas seperti jeli.
*Adrian?*
Gue mengerjapkan mata berkali-kali, berharap ini hanya halusinasi akibat kurang tidur atau efek hampir ditab**k motor tadi pagi. Tapi sosok di depan gue ini nyata. Sangat nyata.
Pria yang berjalan dengan begitu berwibawa di atas karpet merah itu adalah Adrian Danendra.
Mantan pacar yang lima tahun lalu gue campakkan dengan sangat kejam.
Gue masih ingat dengan jelas det**l malam itu. Malam di mana gue mengembalikan cincin perak murah pemberiannya di depan ruko kosong yang basah karena hujan. Gue ingat bagaimana dia memohon dengan mata berkaca-kaca, memegang tangan gue erat-erat sampai jemarinya gemetar.
*“Kenapa, Na? Tolong kasih aku waktu. Aku janji bakal kerja lebih keras lagi biar bisa bahagiain kamu,”* ucapnya lirih malam itu, dengan suara yang hampir pecah.
Dan gue, dengan ego setinggi langit dan ketakutan akan masa depan yang suram, menjawabnya dengan kalimat paling menyakitkan yang pernah gue ucapkan seumur hidup: *“Aku butuh cowok yang punya masa depan jelas, Adrian. Makan cinta doang gak bikin kenyang. Kita putus.”*
Saat itu, Adrian hanyalah seorang lulusan baru yang kesulitan mencari kerja, mengendarai motor butut yang sering mogok, dan tinggal di kamar kos sempit yang pengap.
Namun sekarang, pria yang berdiri hanya beberapa meter di depan gue adalah sosok yang sama sekali berbeda. Dia tampil sebagai seorang pemimpin muda yang sukses, bergelimang harta, dan memiliki kekuasaan penuh atas tempat gue mencari sesuap nasi.
"G***, merinding gue liat auranya," gumam Rian di sebelah gue.
Gue gak mendengar ucapan Rian. Fokus gue sepenuhnya terkunci pada Adrian. Tangan gue yang memegang laptop mulai gemetar hebat. Laptop itu hampir saja merosot dari pelukan gue kalau saja gue gak cepat-cepat mengeratkan cengkeraman.
Langkah kaki Adrian tiba-tiba melambat tepat saat dia berada di sejajar dengan barisan divisi kreatif.
Kepalanya berputar sedikit, dan mata elangnya yang dingin itu menyapu kerumunan karyawan di sisi kirinya.
Dan di sanalah pandangan kami bertemu.
Seketika, waktu seolah berhenti. Di antara ratusan kepala yang menunduk hormat di aula ini, tatapan tajam Adrian langsung mengunci mata gue dengan sangat akurat. Tidak ada kehangatan di sana. Tatapannya begitu dingin, menusuk, dan penuh dengan keangkuhan yang tak terucap.
Gue menahan napas, terlalu takut untuk sekadar berkedip. Jantung gue berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar dari dada.
Adrian tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Seolah-olah, dia memang sudah tahu bahwa gue ada di sini. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis—sebuah seringai dingin yang hampir tak terlihat, namun sukses membuat bulu kuduk gue merinding ngeri.
Dia kemudian memutuskan kontak mata kami begitu saja dan melanjutkan langkahnya menuju panggung dengan sant**, meninggalkan gue yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
Hari ini baru saja dimulai, dan gue tahu dengan sangat pasti... ini akan menjadi awal dari mimpi buruk terpanjang dalam hidup gue.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!