"Apa-apaan ini, Aruna?!" suara gue meninggi, bergema di setiap sudut ruangan kerja gue yang mendadak terasa sangat sempit.
Gue menatap kertas pengunduran diri di tangan gue dengan napas memburu. Amarah yang selama ini gue simpan rapat-rapat di balik topeng profesionalisme rasanya siap meledak kapan saja. Gue menuntut penjelasan, tapi yang gue dapat justru reaksi yang sama sekali gak gue duga.
Aruna gak mundur. Dia gak kelihatan takut sama sekali, gak kayak biasanya saat gue bentak atau gue kasih tugas menumpuk demi melampiaskan dendam pribadi gue. Kali ini, matanya yang biasa sayu dan selalu menghindari tatapan gue justru menatap lurus ke dalam manik mata gue. Ada luka yang mendalam di sana, tapi juga ada kemarahan yang luar biasa besar yang selama ini dia pendam sendiri.
Dia ketawa. Ketawa hambar yang terdengar sangat menyakitkan di telinga gue.
"Kamu tanya apa-apaan ini?" tanya Aruna, suaranya gemetar tapi nadanya sangat tajam. "Ini surat resign gue, Adrian. Gue keluar. Gue gak tahan lagi kerja di sini, di bawah tekanan cowok egois yang terus-terusan nyiksa gue cuma karena dendam masa lalu."
"Dendam masa lalu?" gue mendengus sinis, berdiri dari kursi kebesaran gue dan melangkah mendekatinya sampai jarak kami hanya tersisa beberapa senti. "Kamu yang mulai semua ini, Aruna! Kamu yang ninggalin aku gitu aja pas aku lagi sayang-sayangnya sama kamu! Kamu hilang tanpa kabar setelah mutusin aku lewat chat singkat, dan sekarang kamu bersikap seolah-olah kamu korbannya di sini?!"
"Memang gue korbannya, Adrian!" teriak Aruna. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya yang tirus.
Gue terpaku. Ini pertama kalinya gue melihat Aruna menangis sehisteris ini di depan gue sejak kami putus lima tahun lalu. Di balik meja kerja gue yang mewah, pertahanan gue perlahan goyah melihat kerapuhannya.
"Kamu gak tahu apa-apa..." Aruna terisak, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap-luap. "Kamu pikir gue pergi karena gue udah gak cinta sama kamu? Kamu pikir gue cewek matre yang sengaja ninggalin pacarnya yang mau kuliah ke London demi cari cowok yang lebih kaya?"
"Terus apa?!" tuntut gue, jantung gue mulai berdegup kencang oleh rasa cemas yang tiba-tiba menyerang tanpa alasan yang jelas.
"Papaku!" teriak Aruna lagi, suaranya serak. "Papaku kena kanker usus stadium tiga waktu itu! Bisnis keluarga kami tiba-tiba bangkrut, disabotase sampai kami punya utang miliaran rupiah ke bank! Dan kamu tahu siapa yang datang ke rumah sakit saat papaku kritis, bawa cek senilai lima ratus juta rupiah, dan nyuruh gue menjauh dari kamu?"
Gue mengerutkan dahi. Dunia di sekitar gue mendadak terasa berputar lebih lambat. "Maksud kamu apa? Jangan ngarang cerita, Aruna!"
"Nyokap kamu, Adrian!" Aruna menunjuk ke arah gue dengan jari yang gemetar hebat. "Tante Sarah yang datang! Dia bilang, kalau gue gak pergi dari hidup kamu dan mutusin semua kontak dengan kamu hari itu juga, dia bakal pastiin bisnis papa gue gak akan pernah bisa bangkit lagi dan pihak rumah sakit bakal n****ntiin semua perawatan papa gue saat itu juga! Gue gak punya pilihan! Gue harus milih antara ego cinta remaja kita atau nyawa bokap gue sendiri!"
*Deg.*
Jantung gue rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh pasokan oksigen di dalam ruangan ber-AC ini seolah tersedot habis.
"Gue kerja paruh waktu di tiga tempat berbeda setiap hari demi bayar sisa utang pengobatan, bahkan setelah bokap gue akhirnya meninggal," lanjut Aruna, air matanya mengalir makin deras hingga membasahi kerah kemeja kerjanya yang sederhana. "Sementara kamu... kamu kuliah dengan nyaman di London sambil membenci gue setengah mati. Dan sekarang, setelah gue berhasil bertahan hidup dan gak sengaja keterima kerja di sini, kamu malah terus-terusan nyiksa gue secara mental di kantor ini."
Aruna menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Dia menatap gue dengan pandangan paling dingin dan paling asing yang pernah gue lihat seumur hidup gue.
"Gue udah bayar semua kesalahan yang bahkan gak pernah gue lakuin, Adrian. Sekarang, tolong lepasin gue."
Tanpa menunggu jawaban dari gue yang masih mematung seperti patung batu, Aruna berbalik, menyambar tasnya yang ada di sofa, dan melangkah cepat keluar dari ruangan gue. Pintu kaca itu tertutup dengan bunyi berdebam pelan, meninggalkan gue yang masih berdiri kaku di tengah ruangan yang mendadak terasa sangat sunyi.
Tubuh gue mendadak lemas. Lutut gue gak kuat lagi menopang berat badan gue sendiri. Gue jatuh terduduk di kursi, bersandar pada pinggiran meja kerja gue dengan tatapan kosong menatap lant**.
"Gak mungkin..." bisik gue pada ruangan yang sepi.
Mama? Mama gue yang terkenal lemah lembut, anggun, dan selalu mendukung semua keputusan gue, tega melakukan hal sekejam itu di belakang gue? Dan Aruna... selama ini dia berjuang sendirian di tengah kemiskinan dan duka kehilangan ayahnya, sementara gue di sini hidup mewah dan terus memelihara kebencian?
Setengah dari diri gue menolak percaya. Gue pengen berpikir kalau Aruna cuma mengarang cerita agar gue merasa bersalah dan menahan kepergiannya. Tapi setengahnya lagiβbagian terdalam dari hati gue yang sebenarnya gak pernah berhenti mencint** perempuan ituβtahu betul kalau Aruna gak pernah bisa berbohong dengan mata yang seputus asa itu.
Dengan tangan yang gemetar hebat, gue menyambar ponsel di atas meja. Gue mencari kontak seseorang yang sangat gue percayai untuk urusan personal gue.
"Dimas. Ma**k ke ruangan gue sekarang. Detik ini juga," perintah gue begitu telepon tersambung, tanpa menunggu jawaban dari asisten sekaligus sahabat gue sejak masa kuliah itu.
Kurang dari satu menit, pintu ruangan gue terbuka. Dimas ma**k dengan wajah heran, yang langsung berubah jadi panik begitu melihat kekacauan di meja kerja gue dan wajah gue yang pucat pasi seperti mayat.
"Bos? Lo gak apa-apa? Muka lo pucat banget," Dimas buru-buru mendekat.
Gue menatap Dimas dengan pandangan tajam tapi rapuh. "Dim, gue butuh bantuan lo. Tolong selidiki semuanya tentang Aruna Diningrat. Khususnya kejadian lima tahun yang lalu."
Dimas mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan sikap gue yang mendadak. "Aruna? Sekretaris lo? Ada masalah apa lagi sama dia?"
"Cari tahu tentang kebangkrutan bisnis tekstil ayahnya, rekam medis rumah sakit ayahnya, dan..." Gue menarik napas dalam, rasanya ada batu besar yang menyumbat tenggorokan gue hingga membuat dada gue sesak. "Cari tahu apakah ada aliran dana atau intervensi dari nyokap gue, Sarah Adiningrat, ke keluarga Aruna waktu itu. Gue mau det**lnya. Lengkap."
Dimas tampak sangat terkejut mendengar nama nyokap gue disebut, tapi melihat kondisi gue yang kacau, dia langsung mengangguk paham. "Oke, gue bakal cari tahu sekarang. Kebetulan gue punya kenalan orang dalam di bank keluarga lo dan rumah sakit pusat tempat mendiang ayahnya dulu dirawat. Gue usahain secepatnya."
"Gue mau hasilnya malam ini juga, Dim. Gak pakai tapi."
"Siap, Bos."
Setelah Dimas keluar, waktu rasanya berjalan lambat sekali. Setiap detiknya terasa seperti siksaan. Gue gak bisa fokus mengerjakan apa pun. Pandangan gue terus-terusan teralih ke luar dinding kaca ruangan gue, menatap kubikel Aruna yang kini kosong melompong. Meja kerjanya kelihatan sangat rapi, tanpa ada satu pun barang pribadi yang tersisa. Dia benar-benar pergi tanpa berniat kembali lagi.
Penyesalan mulai merayap ma**k ke dalam dada gue, pelan tapi pasti, meremas jantung gue hingga rasanya sangat sakit.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika pintu ruangan gue akhirnya diketuk. Dimas ma**k membawa sebuah map cokelat tebal di tangannya. Wajah Dimas kelihatan sangat serius, bahkan ada gurat prihatin dan kecewa di matanya saat dia menatap gue.
"Ini hasil penyelidikannya, Adrian," kata Dimas pelan. Kali ini dia memanggil gue dengan nama aslinya, tanda bahwa situasi ini sudah bukan lagi urusan pekerjaan.
Gue langsung merebut map itu dari tangan Dimas. Dengan tangan yang masih gemetar, gue membuka segelnya dan mengeluarkan tumpukan kertas di dalamnya.
Lembar pertama: Dokumen pembatalan kontrak sepihak dari PT Megah Sejahteraβperusahaan milik keluarga gueβkepada perusahaan tekstil milik ayah Aruna. Tanggalnya tepat satu minggu sebelum ayah Aruna dinyatakan bangkrut karena terlilit utang operasional yang sangat besar.
Lembar kedua: Rekam medis Surya Diningrat. Beliau dirawat karena kanker usus stadium akhir. Biaya pengobatannya mencapai ratusan juta rupiah, dan ada surat peringatan penghentian perawatan karena tunggakan biaya yang belum dibayar.
Lembar ketiga: Ini bukti yang paling telak yang membuat seluruh dunia gue runtuh seketika. Bukti transfer bank dari rekening pribadi nyokap gue, Sarah Adiningrat, sebesar 500 juta rupiah ke rekening ibu Aruna. Tanggal transfer itu... tepat satu hari setelah Aruna memutuskan hubungan dengan gue dan mengganti nomor ponselnya secara misterius.
Di lembar terakhir, ada laporan aktivitas harian Aruna setelah kejadian itu yang dikumpulkan oleh informan Dimas.
*Aruna Diningrat bekerja sebagai kasir minimarket dari jam 8 pagi sampai 4 sore, lalu melanjutkan bekerja sebagai pelayan restoran dari jam 5 sore sampai 11 malam. Terkadang dia juga mengambil shift malam di pom bensin demi membayar sisa utang pengobatan mendiang ayahnya.*
Ada satu foto lampiran yang buram di bagian bawah kertas. Foto Aruna dengan kaos yang sudah pudar warnanya, wajahnya yang sangat tirus, lingkaran hitam tebal di bawah matanya, sedang tertidur pulas di kursi plastik koridor rumah sakit dengan kepala bersandar di dinding dingin.
*B**k.*
Map di tangan gue terjatuh begitu saja ke lant**. Lembaran kertas berharga itu berserakan di dekat sepatu gue.
Gue mundur beberapa langkah sampai punggung gue menab**k dinding kaca. Air mata yang selama ini jarang sekali gue keluarkan, kini pecah begitu saja. Gue menutup wajah gue dengan kedua tangan, bahu gue terguncang hebat oleh tangisan yang sangat menyakitkan.
"Ya Tuhan... apa yang udah gue lakuin selama ini?" bisik gue dengan suara parau yang nyaris habis.
Semua ingatan tentang bagaimana gue memperlakukan Aruna selama beberapa bulan terakhir ini berputar di kepala gue seperti film horor yang mengerikan.
Gue ingat hari pertama dia ma**k kerja sebagai sekretaris baru gue. Gue menatapnya dengan pandangan paling dingin, melempar tumpukan dokumen tebal ke mejanya, dan berkata dengan nada merendahkan, *"Jangan harap kamu bisa sant** di sini setelah apa yang kamu lakuin dulu. Kerja yang bener, atau kamu saya pecat."*
Gue ingat saat gue sengaja menyuruhnya lembur sampai tengah malam untuk mengerjakan laporan yang sebenarnya sama sekali gak mendesak, cuma karena gue pengen melihat wajahnya yang kelelahan sebagai bentuk pembalasan dendam gue.
Gue ingat saat rekan-rekan kerja di kantor bergosip jahat tentang dia, menyebutnya cewek gatal yang berusaha mendekati bosnya demi uang. Gue tahu gosip itu, tapi gue sengaja diam dan membiarkan mereka menindasnya secara verbal. Gue pikir, dia pantas mendapatkan semua rasa sakit itu.
Tapi kenyataannya?
Dia bertahan di bawah semua perlakuan kejam gue hanya karena dia butuh pekerjaan ini untuk menghidupi ibunya yang sakit-sakitan setelah ayahnya meninggal. Dia menerima semua makian dan sikap dingin gue dengan kepala tertunduk, bukan karena dia lemah, tapi karena dia merasa bersalah pada gue atas hal yang bahkan bukan merupakan pilihannya sendiri.
Perempuan yang sangat gue cint**, perempuan yang dulu pernah gue janjikan akan selalu gue lindungi dari kerasnya dunia... ternyata dihancurkan oleh keluarga gue sendiri. Dan yang paling membuat gue merasa menjijikkan, gue ikut andil dalam menghancurkannya untuk kedua kali dengan tangan gue sendiri.
"Gue ba******, Dim..." tangis gue pecah di depan Dimas. Gue gak peduli lagi dengan harga diri gue sebagai seorang CEO. Rasa bersalah ini terlalu besar, menghantam dada gue hingga rasanya gue gak bisa bernapas dengan normal. "Gue udah nyiksa dia... Gue jahat banget sama dia..."
Dimas hanya diam, menatap gue dengan tatapan penuh simpati. Dia melangkah maju dan menepuk bahu gue pelan. "Sekarang lo udah tahu kebenarannya, Adrian. Menyesal pun gak akan mengubah apa yang udah terjadi di masa lalu. Pertanyaannya, apa yang mau lo lakuin sekarang untuk menebus semua ini?"
Gue menghapus air mata gue dengan kasar, meskipun air mata baru terus mengalir deras membasahi pipi gue. Gue menatap lembaran kertas yang berserakan di lant**, lalu menatap ke arah pintu keluar ruangan gue.
Gue harus nemuin Aruna. Gue harus minta maaf, bahkan jika gue harus berlutut di depannya sampai dia mau memaafkan gue, gue bakal lakuin. Gue gak peduli lagi dengan ego gue yang setinggi langit itu.
"Gue harus ketemu dia, Dim. Gue harus jelasin semuanya," kata gue dengan suara serak, langsung menyambar kunci mobil di atas meja tanpa berpikir panjang lagi.
Gue berlari keluar dari ruangan kerja gue yang sunyi, mengabaikan pangg***n Dimas yang menyuruh gue untuk tenang. Pikiran gue saat ini cuma tertuju pada satu nama, satu-satunya perempuan yang selalu memiliki hati gue seutuhnya.
*Aruna.*
Tolong tunggu aku. Tolong jangan pergi lagi dari hidupku.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!