Sisa malam setelah pengakuan Aruna terasa seperti mimpi buruk yang panjang bagi Adrian. Cowok itu sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dia mencoba menutup mata, wajah Aruna yang menangis histeris dan kenyataan pahit tentang kebusukan ibunya sendiri terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Pagi ini, Adrian duduk di kursi kebesarannya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Di depannya, selembar kertas pengunduran diri milik Aruna masih tergeletak pasrah.
Pintu ruangan diketuk pelan. Sosok yang sejak tadi dinanti Adrian akhirnya melangkah ma**k. Aruna mengenakan kemeja ka**al berwarna biru muda, rambutnya dikuncir kuda, dan wajahnya tampak pucat tanpa riasan tebal. Matanya bengkak, sisa tangis semalam yang tidak bisa disembunyikan.
"Pak Adrian," panggil Aruna formal, suaranya terdengar sangat datar dan dingin. "Saya ke sini cuma mau ambil surat resign yang sudah ditandatangani. Hari ini hari terakhir saya."
Adrian menatap Aruna lekat-lekat. Jantungnya berdenyut nyeri melihat tatapan kosong dari cewek yang pernahβdan sebenarnya masihβsangat dicint**nya itu. Dengan perlahan, Adrian meraih kertas tersebut.
*Sreeek!*
Aruna membelalakkan matanya saat Adrian merobek kertas pengunduran diri itu menjadi dua bagian, lalu meremasnya hingga menjadi bola kertas kecil sebelum membuangnya ke tempat sampah.
"Maksud kamu apa, Adrian?!" Aruna reflek menaikkan nada suaranya, melupakan pangg***n formalnya. "Gue serius mau resign! Jangan main-main ya!"
"Aku nggak main-main, Aruna," ucap Adrian lembut. Sangat lembut, sampai-sampai Aruna sempat mengira dia salah dengar. Tidak ada lagi nada sinis, tidak ada lagi tatapan tajam yang biasanya membuat bulu kuduk merinding.
Adrian berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja kerja, lalu berhenti tepat di depan Aruna. Dia sengaja menjaga jarak aman agar Aruna tidak merasa terintimidasi.
"Maafin aku, Na," kata Adrian lirih. Matanya berkaca-kaca. "Maaf karena aku udah jadi orang bodoh selama lima tahun ini. Maaf karena aku udah nyiksa kamu dengan tugas-tugas absurd dan lembur nggak jelas semenjak aku jadi bos di sini. Aku... aku benar-benar nggak tahu apa yang udah Mama lakuin ke kamu dan keluarga kamu."
Aruna memalingkan wajah, enggan menatap mata Adrian yang dipenuhi penyesalan. "Nggak usah dibahas lagi. Semuanya udah lewat. Gue cuma mau keluar dari kantor ini. Gue nggak tahan lihat muka lo yang terus-terusan bikin gue ingat masa lalu."
"Aku nggak akan biarkan kamu pergi," potong Adrian cepat. "Tapi kali ini bukan karena egois atau dendam. Aku mau nebus semua kesalahan aku, Na. Tolong, kasih aku kesempatan buat benerin semuanya."
"Nggak usah sok baik," cibir Aruna sinis. "Besok-besok paling lo bakal nyuruh gue fotokopi dokumen seribu lembar lagi, atau nyuruh gue beli kopi ke ujung kota cuma buat ngerjain gue."
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak Aruna lihat. "Mulai hari ini, nggak akan ada lagi lembur paksa. Nggak ada lagi tugas aneh. Kamu cuma perlu kerja sesuai jobdesk kamu. Dan satu lagi..."
Adrian berjalan ke arah telepon interkom di mejanya. Dia menekan satu tombol cepat.
"Halo, bagian GA? Tolong ke ruangan saya sekarang. Bawa troli barang."
Aruna mengernyitkan dahi bingung. "Mau ngapain?"
"Pindahin meja kerja kamu," jawab Adrian sant**.
Sepuluh menit kemudian, dua orang staf dari bagian *General Affair* (GA) sibuk membereskan barang-barang di kubikel kerja Aruna yang berada tepat di depan ruangan Adrian.
"Pak Adrian, ini barang-barangnya mau dipindahkan ke mana ya?" tanya salah satu staf GA dengan sopan.
"Pindahkan semuanya ke lant** empat, ke divisi marketing. Kembalikan meja Aruna ke tempatnya yang dulu, bergabung dengan timnya yang lama," perintah Adrian tegas namun ramah.
Kedua staf itu saling pandang dengan heran, tapi segera mengangguk patuh. Aruna sendiri melongo tidak percaya. Selama ini, Adrian sengaja memindahkan mejanya ke lant** paling atas agar bisa terus mengawasi dan "menyiksa" dirinya secara langsung. Sekarang, dengan mudahnya cowok itu mengembalikannya ke divisi marketing yang jauh lebih nyaman.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Aruna pelan saat para staf mulai mengangkut barang-barangnya.
"Karena aku tahu kamu nggak nyaman di sini," jawab Adrian sambil menatap Aruna hangat. "Kamu lebih suka berisik bareng tim marketing daripada harus tegang terus di depan ruangan aku. Mulai sekarang, bekerjalah dengan bahagia, Aruna."
***
Kepindahan mendadak meja Aruna tentu saja langsung memicu badai gosip di kantor. Saat Aruna turun ke lant** empat bersama barang-barangnya, bisik-bisik tetangga langsung terdengar riuh.
"Eh, lihat deh. Si Aruna balik lagi ke lant** kita. Kayaknya dia udah didepak ya dari posisi asisten pribadi?" bisik salah satu karyawan berambut pirang di dekat pantry.
"Iya, lagian gaya banget sih kemarin sok dekat sama Pak Adrian. Palingan juga Pak Adrian udah bosan mainin dia. Rasain tuh, makanya jangan kecentilan jadi cewek," timpal temannya dengan nada mencibir yang c**up keras hingga terdengar ke telinga Aruna.
Aruna hanya bisa menunduk, meremas ujung kemejanya dengan perasaan sesak. Dia sudah biasa digosipkan, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.
Namun, sebelum Aruna sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara bariton yang sangat familier menginterupsi dari arah belakang.
"Ada yang salah dengan telinga kalian, atau kalian memang kekurangan kerjaan sampai punya waktu buat bikin rumor sampah?"
Semua orang di ruangan itu langsung membeku. Adrian berdiri di sana, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Tatapannya dingin mematikan, mengarah langsung ke kedua karyawan yang baru saja bergosip di dekat pantry.
"P-Pak Adrian..." puji kedua karyawan itu dengan wajah pucat pasi.
"Dengar semuanya," suara Adrian bergema di seluruh ruangan lant** empat, membuat suasana mendadak sunyi senyap seperti kuburan. "Aruna dipindahkan kembali ke divisi marketing atas keputusan saya, karena kinerjanya yang luar biasa dan tim marketing sangat membutuhkannya di sini. Dia adalah salah satu aset berharga di perusahaan ini."
Adrian melangkah mendekat, menatap tajam kedua penggosip tadi. "Kalau sampai saya dengar ada lagi yang menyebarkan gosip murahan, fitnah, atau tindakan *bullying* kepada Aruna, hari itu juga saya sendiri yang akan menandatangani surat pemecatan kalian tanpa pesangon. Paham?"
"P-paham, Pak," jawab mereka serempak dengan tubuh gemetar.
Adrian kemudian beralih menatap Aruna. Tatapan matanya langsung berubah 180 derajat menjadi sangat lembut. "Kalau ada yang ganggu kamu lagi, langsung lapor ke aku, ya?"
Aruna hanya bisa mengerjapkan matanya, benar-benar syok. Seluruh karyawan di divisi marketing juga menatap kejadian itu dengan mulut menganga. Ini pertama kalinya dalam sejarah mereka melihat sang CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh, secara terang-terangan membela seorang staf biasa.
***
Malam harinya, Adrian melajukan mobilnya menuju sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan. Rahangnya mengeras saat mengingat pesan singkat dari ibunya yang menyuruhnya datang untuk makan malam bersama Clarissa dan keluarganya.
Begitu sampai di area VIP restoran, Adrian langsung bisa melihat ibunya, Tante Sarah, sedang tertawa akrab bersama Clarissa dan orang tuanya. Clarissa malam itu terlihat sangat anggun dengan gaun desainer berwarna pastel, namun di mata Adrian, semua itu tampak sangat palsu.
"Ah, Adrian! Akhirnya kamu datang juga, Sayang," sambut Sarah dengan senyum lebar saat melihat putra tunggalnya ma**k. "Sini duduk di sebelah Clarissa."
Clarissa tersenyum manis, mencoba bergelayut manja di lengan Adrian saat cowok itu duduk. "Hai, Adrian. Kita dari tadi lagi bahas konsep tunangan kita, lho. Aku pengennya konsep *outdoor* elegan gitu, kamu setuju kan?"
Adrian menarik lengannya dengan dingin, menghindari kontak fisik dengan Clarissa. Sikapnya itu membuat senyum di wajah Clarissa langsung memudar, begitu pula dengan ibunya.
"Ada apa, Adrian? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Sarah, mencoba mencairkan suasana di depan calon besannya.
Adrian menarik napas dalam-dalam. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap ibunya dan Clarissa secara bergantian dengan tatapan lurus tanpa ragu.
"Makan malam ini adalah yang terakhir kalinya kita bahas soal perjodohan," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh penekanan.
Suasana di meja makan mewah itu mendadak hening. Orang tua Clarissa tampak saling pandang dengan bingung.
"Adrian, kamu bicara apa sih? Jangan bercanda di depan om dan tante," tegur Sarah, suaranya mulai naik satu oktav dengan senyum yang dipaksakan.
"Aku nggak bercanda, Ma," tegas Adrian. "Aku di sini cuma mau menegaskan satu hal. Aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengan Clarissa. Pernikahan ini, atau pertunangan apa pun itu namanya, resmi batal."
"Adrian!" bentak Sarah, wajahnya kini merah padam menahan malu dan amarah. "Jaga sopan santun kamu! Clarissa ini gadis yang baik, dari keluarga terpandang yang setara dengan kita!"
"Setara?" Adrian terkekeh hambar, mengingatkan pada tawa menyakitkan Aruna semalam. "Setara dalam hal apa, Ma? Setara dalam hal menghalalkan segala cara buat ngancurin hidup orang lain?"
Wajah Sarah seketika memucat mendengar kalimat terakhir Adrian. Dia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.
"Adrian, kamu..."
"Aku udah tahu semuanya, Ma," potong Adrian dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa kecewa yang luar biasa kepada ibunya sendiri. "Aku tahu apa yang Mama lakuin ke Aruna lima tahun lalu. Mama datangi dia ke rumah sakit saat papanya kritis, bawa uang seolah-olah dia bisa dibeli, dan ngancem bakal hancurin sisa usaha keluarganya kalau dia nggak pergi dari aku."
Clarissa yang mendengar nama Aruna langsung merengut kesal. "Adrian! Kenapa kamu bahas cewek miskin itu lagi sih? Dia itu masa lalu kamu! Tante Sarah lakuin itu pasti karena dia tahu cewek itu nggak level sama kamu!"
Adrian menatap Clarissa dengan pandangan jijik. "Jaga ucapan kamu, Clarissa. Aruna jauh lebih mulia dibanding kalian berdua yang egois. Dan asal kamu tahu, aku nggak akan pernah tertarik sama cewek yang cuma modal nama keluarga tapi nggak punya empati sedikit pun kayak kamu."
"Adrian! C**up!" teriak Sarah sambil berdiri dari kursinya, memukul meja. "Kamu berani menentang Mama demi cewek miskin pembawa sial itu?!"
"Dia bukan pembawa sial, Ma! Mama yang udah bikin hidup aku sial dengan menjauhkan aku dari satu-satunya cewek yang tulus mencint** aku apa adanya!" Adrian ikut berdiri, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang selama ini dia pendam.
Adrian menatap ibunya dengan tatapan paling dingin yang pernah dia miliki. "Kalau Mama masih berusaha buat ngusik Aruna, atau masih maksa aku buat nikah sama Clarissa, aku nggak akan ragu buat mundur dari posisi CEO dan keluar dari rumah Mama. Aku bisa bangun bisnis aku sendiri tanpa sepeser pun uang dari keluarga ini."
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Sarah terduduk lemas dengan wajah pucat pasi, Adrian berbalik. Dia melangkah pergi meninggalkan ruang VIP restoran tanpa menoleh lagi, mengabaikan teriakan histeris ibunya dan tangisan manja Clarissa yang memanggil namanya.
Malam itu, di bawah guyuran rintik hujan Jakarta, Adrian merasa sebagian beban berat di pundaknya luruh. Perjalanannya untuk mendapatkan kembali hati Aruna memang masih sangat panjang dan penuh rintangan, tapi setidaknya, langkah pertamanya sudah dimulai. Dia bukan lagi bos dingin yang penuh dendam; dia adalah Adrian yang siap berjuang demi menebus kesalahannya pada Aruna.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!