**Bab 12: Jujur dari Hati ke Hati**
Malam Sabtu biasanya jadi waktu paling favorit buat Aruna untuk rebahan sambil marathon series. Tapi malam ini, fokusnya benar-benar buyar. Sejak pulang kantor tadi sore, pikirannya terus melayang ke kejadian di ruangan Adrian. Sobekan kertas *resign* dan tatapan memelas cowok itu terus membayangi matanya.
*Drrrt... Drrrt...*
Ponsel Aruna di atas ka**r bergetar. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari kontak bernama 'Pak Adrian'βyang sekarang rasanya aneh banget kalau dipanggil dengan sebutan formal itu.
**Adrian:** *Gue di depan rumah lo. Keluar, yuk?*
Aruna mengernyit. Ia bangkit dari ka**r, berjalan setengah jinjit menuju jendela kamarnya di lant** dua, lalu menyibak gorden tipis. Di depan pagar rumahnya, terparkir sebuah mobil Honda Jazz abu-abu metalik keluaran tahun 2015.
Aruna mengerutkan dahi. Itu bukan mobil Mercedes-Benz hitam mengkilap yang biasa dipakai Adrian ke kantor. Itu mobil lama Adrian. Mobil yang dulu sering mogok pas mereka masih zaman kuliah, mobil penuh kenangan tempat mereka sering nyanyi bareng sepanjang jalan layang.
Aruna menghela napas panjang. Jantungnya mulai berdegup kencang. Setelah menimbang-nimbang selama hampir dua menit, akhirnya ia memutuskan untuk menyambar kardigan rajut cokelatnya dan turun ke bawah.
Begitu membuka pintu pagar, Aruna melihat Adrian sedang bersandar di kap mobil. Cowok itu nggak pakai setelan jas mahal atau sepatu pantofel mengkilap. Malam ini, Adrian cuma pakai kaus polos hitam longgar, celana jins belel, dan sepatu sneakers putih yang agak kotor di bagian sampingnya. Rambutnya yang biasa ditata rapi pakai *pomade* sekarang dibiarkan jatuh acak-acakan di dahinya.
Adrian tersenyum tipis begitu melihat Aruna mendekat. "Hai, Na," sapanya lembut.
"Ngapain ke sini bawa mobil purba ini?" tanya Aruna ketus, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Adrian terkekeh pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Kangen aja. Lagian, kalau gue bawa mobil kantor, nanti lo malah makin segen sama gue. Malam ini, gue bukan bos lo. Gue cuma... Adrian yang dulu."
Aruna terdiam. Kata-kata itu langsung menghantam dadanya c**up telak.
"Ma**k, yuk? Ada tempat yang mau gue tunjukkin ke lo. Tenang, nggak bakal gue culik ke hutan kok," canda Adrian, mencoba mencairkan suasana sambil membukakan pintu penumpang depan untuk Aruna.
Aruna sempat ragu, tapi akhirnya dia melangkah ma**k ke dalam mobil. Aroma vanila yang familiar langsung menyapa hidungnya. Adrian masih memakai parfum mobil dengan aroma yang sama persis seperti lima tahun lalu. Cowok itu benar-benar tipe orang yang susah *move on* dari kebiasaan lama.
Di dalam mobil, keheningan sempat menyelimuti mereka. Hanya ada suara radio yang menyetel lagu-lagu pop indie dengan volume pelan. Adrian menyetir dengan sant**, sesekali melirik Aruna yang hanya menatap keluar jendela, memandangi lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai padat.
Sekitar dua puluh menit perjalanan, mobil Adrian melambat dan berbelok ke arah area kuliner pinggir jalan di daerah Jakarta Selatan. Aruna langsung mengenali tempat itu. Matanya melebar saat Adrian memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah kedai martabak legendaris dengan tenda hijau bertuliskan "Martabak Bang Alim".
"Lo... ngajakin gue ke sini?" tanya Aruna sangsi.
"Yup. Martabak manis setengah keju, setengah cokelat kacang wijen. Adonannya yang tebal dan menteganya yang ba****. Masih favorit lo, kan?" tanya Adrian dengan binar mata yang sudah lama tidak Aruna lihat.
Aruna menelan ludah. "Ian, ini kan..."
"Tempat kencan pertama kita waktu semester tiga. Pas dompet gue cuma sisa gocap, dan kita harus patungan buat beli martabak ini," potong Adrian dengan senyum geli di bibirnya. "Ayo turun."
Mereka berdua duduk di kursi plastik warna merah di bawah tenda. Aroma mentega Wijsman yang meleleh di atas piring seng langsung menusuk hidung, membuat perut Aruna mendadak keroncongan.
Tak lama, satu porsi martabak hangat disajikan di depan mereka. Uap panasnya masih mengepul, menggoda iman siapa saja yang melihatnya.
"Makan, Na. Mumpung masih hangat," kata Adrian sambil menyodorkan garpu plastik ke arah Aruna.
Aruna mengambil garpu itu, menusuk sepotong martabak bagian keju, lalu mengunyahnya pelan. Rasanya masih sama. Manis, gurih, dan langsung bikin suasana hati yang tadinya mendung jadi sedikit cerah.
Adrian memperhatikan Aruna makan dengan tatapan intens. Matanya terkunci pada wajah cewek itu, seolah takut kalau dia berkedip, Aruna bakal hilang lagi dari jangkauannya.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu? Mau?" tanya Aruna ketus, menyodorkan potongan martabak di garpunya.
Adrian menggeleng pelan. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang sangat serius. "Gue cuma mau minta maaf, Na."
Gerakan tangan Aruna terhenti. Ia meletakkan garpunya kembali ke piring seng. Suasana sant** di antara mereka mendadak berubah menjadi emosional.
"Gue minta maaf buat semua hal g*** yang gue lakuin di kantor belakangan ini," lanjut Adrian, suaranya terdengar serak dan tulus. "Gue tahu gue kekanak-kanakan banget. Nyuruh lo lembur sampai malam, ngasih tugas-tugas nggak ma**k akal, sengaja bikin lo susah... itu semua bener-bener konyol."
Aruna bersedekap, menatap Adrian lurus-lurus. "Kenapa, Ian? Kenapa lo harus sejahat itu sama gue? Gue pikir, setelah lima tahun berlalu, lo bakal biasa aja waktu ketemu gue lagi. Tapi ternyata lo malah kayak orang kesurupan dendam."
Adrian menghela napas berat, matanya mulai berkaca-kaca di bawah temaram lampu jalanan. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja kayu yang agak berminyak.
"Karena gue sakit hati, Na," aku Adrian jujur, suaranya bergetar. "Dulu, waktu lo mutusin gue tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, dunia gue rasanya runtuh. Gue frustrasi banget. Gue benci sama diri gue sendiri karena nggak tahu apa salah gue sampai lo tega ninggalin gue gitu aja. Dan rasa benci itu... pelan-pelan berubah jadi ego yang salah arah."
Aruna terdiam, tenggorokannya mendadak terasa tercekat.
"Waktu pertama kali lo ma**k ke kantor gue sebagai pelamar kerja, jantung gue rasanya mau copot," lanjut Adrian, kini kembali menatap mata Aruna. "Ada rasa senang karena akhirnya gue bisa lihat lo lagi, tapi di sisi lain, ego gue berontak. Gue mau lo ngerasain sedikit dari rasa sakit yang gue rasain selama lima tahun ini. Gue mau lo mohon-mohon sama gue. Makanya gue pasang kedok jadi bos yang menyebalkan."
Air mata yang sejak tadi ditahan Aruna akhirnya lolos juga, membasahi pipinya yang kemerahan akibat hawa dingin malam.
"Tapi ternyata gue salah," ucap Adrian lirih. Dia mengulurkan tangannya di atas meja, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri menggenggam jemari Aruna yang terasa dingin. "Tiap kali gue lihat lo capek karena ulah gue, tiap kali gue lihat lo nangis diam-diam di kubikel lo... hati gue jauh lebih sakit, Na. Gue sadar, semua sikap menyebalkan gue itu cuma tameng. Gue cuma pura-pura benci sama lo."
"Pura-pura?" tanya Aruna dengan suara parau.
"Iya. Gue pura-pura benci, padahal kenyataannya... gue masih sangat terobsesi sama lo. Gue masih sayang sama lo, Na. Bahkan setelah lima tahun, setelah semua rasa sakit itu, perasaan gue ke lo nggak pernah berkurang sedikit pun. Malah makin parah."
Tangisan Aruna pecah mendengarkan pengakuan tulus dari cowok di depannya. Semua rasa sesak, rasa bersalah karena telah menyembunyikan rahasia tentang kelakuan ibu Adrian selama bertahun-tahun, dan rasa lelahnya selama bekerja di bawah tekanan Adrian seolah menguap begitu saja.
"Lo egois, Ian... lo jahat banget..." isak Aruna, tangannya yang bebas memukul pelan dada Adrian.
Adrian tidak menghindar. Dia malah menarik kursi plastiknya lebih dekat ke arah Aruna, lalu membawa cewek itu ke dalam pelukannya. Hangat. Sangat hangat, persis seperti pelukan yang selalu Aruna rindukan selama lima tahun masa-masa sulitnya.
"Iya, gue tahu. Gue egois, gue jahat, gue bodoh," bisik Adrian di dekat telinga Aruna, sambil mengusap lembut rambut cewek itu yang dikuncir kuda. "Maafin gue, ya? Gue bener-bener nggak tahu kalau Mama yang udah bikin lo dan keluarga lo menderita. Kalau dari dulu gue tahu, gue nggak akan pernah biarkan lo pergi sendirian menghadapi semua itu."
Aruna menyandarkan kepalanya di bahu lebar Adrian, menumpahkan semua air mata yang selama ini dia simpan rapat-rapat sendirian. Di tempat sederhana ini, di bawah kepulan asap martabak pinggir jalan dan bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang, benteng pertahanan yang dibangun Aruna selama bertahun-tahun akhirnya runtuh sepenuhnya.
Melihat ketulusan di mata Adrian, mendengar detak jantung cowok itu yang berdegup kencang seirama dengan detak jantungnya sendiri, Aruna tahu satu hal.
Dia tidak bisa lagi membohongi perasaannya.
Perlahan, Aruna melepaskan pelukannya, menatap wajah Adrian yang kini juga tampak basah di bagian sudut matanya. Aruna menghapus air matanya sendiri dengan ujung lengan kardigannya, lalu mengembuskan napas lega.
"Gue maafin lo, Ian," ucap Aruna akhirnya, sebuah senyuman tipis namun sangat tulus terukir di wajah manisnya. "Tapi dengan satu syarat."
Adrian langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar penuh harapan. "Apa? Sebutin aja, bakal gue penuhin semuanya."
"Besok-besok, jangan pernah nyuruh gue fotokopi dokumen seribu lembar lagi. Dan yang paling penting..." Aruna menunjuk piring martabak di depan mereka yang mulai mendingin. "Lo yang harus bayar martabak ini. Dompet gue ketinggalan di tas kerja."
Adrian tertegun sesaat, sebelum akhirnya tawa lepasnya pecah membelah keheningan malam. Tawa yang sangat lepas dan bahagia, tawa yang membuat Aruna sadar bahwa bos barunya yang menyebalkan itu kini telah benar-benar kembali menjadi Adrian, cowok yang dulu sangat ia cint** setengah mati.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!