**Bab 13: Mantan Pacar, Bos, dan Masa Depan**
Enam bulan itu ternyata waktu yang c**up buat mengubah banyak hal.
Kalau dulu suasana kantor Divisi Marketing selalu terasa tegang kayak nungguin hasil ujian nasional, sekarang suasananya jauh lebih sant** dan hidup. Nggak ada lagi drama bisik-bisik tetangga di pantry yang mencekam, atau tatapan sinis dari kubikel sebelah. Semua orang bekerja dengan ritme yang menyenangkan, bahkan saat tenggat waktu proyek sedang padat-padatnya.
Satu hal lagi yang berubah drastis: hubungan Aruna dan Adrian.
Iya, mereka sudah *go public*.
Satu kantor sempat heboh tiga bulan lalu waktu Adrian dengan sant**nya menggandeng tangan Aruna di area lobi saat jam pulang kantor. Gosip langsung menyebar secepat kilat di grup WhatsApp tanpa admin. Tapi untungnya, kehebohan itu nggak bertahan lama karena mereka berdua punya komitmen yang kuat banget soal profesionalisme.
Di dalam kantor, saat jam kerja dari pukul sembilan pagi sampai lima sore, Adrian tetaplah "Pak Adrian" yang tegas, disiplin, dan kadang menyebalkan kalau sudah urusan target penjualan. Sementara Aruna tetap menjadi "Aruna si asisten andalan" yang cekatan dan serb***sal. Nggak ada pangg***n sayang, nggak ada pegangan tangan di bawah meja rapat, dan nggak ada perlakuan istimewa.
"Na, tolong dong berkas analisis pasar buat proyek kosmetik besok pagi ditaruh di meja gue sebelum jam makan siang," ucap Adrian ketus saat berpapasan dengan Aruna di depan mesin fotokopi. Wajahnya lempeng banget, tanpa ekspresi.
"Siap, Pak. Segera saya siapkan," jawab Aruna profesional, lengkap dengan senyum sopan khas karyawan teladan.
Tapi begitu Adrian berbalik dan berjalan menjauh, sebuah pesan WhatsApp ma**k ke ponsel Aruna.
**Pak Adrian:** *Nanti makan siang bareng di luar, yuk? Gue kangen. Tadi pas lewat wangi parfum lo bikin fokus gue buyar.*
Aruna menahan senyumnya setengah mati agar tidak dicurigai oleh rekan kerja lain yang lalu-lalang. Ia buru-buru mengetik balasan dengan cepat.
**Aruna:** *Fokus kerja, Pak Bos! Jangan bucin pas jam kantor. Nanti saya aduin ke HRD loh.*
**Pak Adrian:** *HRD-nya kan gue yang bayar gajinya, sayang.*
Aruna memutar bola matanya, tapi hatinya tidak bisa bohong kalau dia merasa sangat bahagia. Rasanya luar biasa lega karena tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan mereka di bawah bayang-bayang masa lalu yang belum selesai.
***
Perubahan terbesar sebenarnya bukan cuma di kantor, tapi di kehidupan pribadi mereka. Khususnya, restu dari Ibu Sofia, mama Adrian yang terkenal perfeksionis dan sempat memandang sebelah mata latar belakang Aruna yang "cuma" staf biasa.
Aruna masih ingat betul momen menegangkan dua bulan lalu, saat Adrian mengajaknya makan malam bersama mamanya di sebuah restoran mewah di kawasan Jakarta Selatan. Malam itu, Aruna sudah siap mental kalau-kalau dia bakal disiram air atau disodori cek kosong untuk menjauhi Adrian—persis seperti adegan di sinetron atau novel romantis klise.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Adrian menunjukkan kelasnya sebagai cowok dewasa yang bertanggung jawab.
Di depan mamanya, Adrian membuka laptopnya. Bukan untuk menunjukkan presentasi kerja biasa, melainkan portofolio perkembangan bisnis perusahaannya selama satu tahun terakhir yang grafiknya melonjak tajam.
"Mah," kata Adrian malam itu sambil menggenggam tangan Aruna di atas meja, tepat di hadapan mamanya yang menatap mereka dengan dingin. "Semua pencapaian ini, semua kontrak besar yang berhasil kita dapet, nggak akan pernah ada tanpa Aruna di samping Adrian. Dia yang nemenin Adrian lembur sampai pagi, dia yang tenangin Adrian saat semua investor hampir tarik modal, dan dia yang selalu percaya kalau Adrian bisa memimpin perusahaan ini dengan baik bahkan saat Adrian sendiri ragu sama kemampuan diri sendiri."
Adrian menatap mamanya dengan tatapan memohon yang sangat tulus. "Adrian butuh Aruna, Mah. Bukan cuma sebagai asisten di kantor, tapi sebagai partner hidup Adrian. Tanpa dia, Adrian cuma bos yang punya jabatan tapi nggak punya arah."
Mendengar ucapan tulus itu, pertahanan Ibu Sofia akhirnya runtuh juga. Beliau menghela napas panjang, menatap Aruna dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu tersenyum tipis—senyuman pertama yang paling tulus yang pernah Aruna lihat dari wanita paruh baya itu.
"Tolong jagain Adrian ya, Aruna," kata Ibu Sofia malam itu, suaranya melembut. "Anak ini kalau sudah kerja suka lupa makan dan keras kepala sekali. Hanya kamu yang bisa menjinakkan dia."
Mengingat momen itu, mata Aruna selalu berkaca-kaca karena bahagia. Perjuangan mereka selama ini akhirnya membuahkan hasil yang manis.
***
Hari merayap malam. Jarum jam dinding di kantor sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana kantor sudah sepi, sebagian besar karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing untuk menikmati malam sabtu mereka. Hanya tersisa beberapa lampu koridor yang menyala, memberikan kesan temaram yang hangat.
Aruna baru saja mematikan laptopnya dan meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku setelah seharian menatap layar monitor.
"Capek, ya?"
Aruna menoleh dan mendapati Adrian sudah berdiri di samping kubikelnya. Cowok itu sudah melepas dasinya, menyisakan kemeja biru muda yang dua kancing teratasnya sengaja dibuka, memberikan kesan ka**al dan sangat tampan. Rambutnya agak berantakan, tapi justru itu yang membuat Aruna selalu berdebar.
"Dikit, Pak Bos," sahut Aruna sambil tersenyum geli. "Tapi untungnya laporan buat minggu depan udah kelar semua."
"Bagus. Kalau gitu, ikut gue sekarang," ajak Adrian sambil mengulurkan tangannya.
"Ke mana? Ini udah malem loh. Aku mau langsung pulang, mau rebahan."
"Sebentar aja. Ke tempat favorit kita."
Aruna mengernyitkan dahi, tapi tetap menyambut uluran tangan Adrian. Mereka berdua berjalan menuju lift, lalu naik ke lant** paling atas gedung kantor—atap gedung alias *rooftop*.
Begitu pintu besi pembatas *rooftop* dibuka, embusan angin malam Jakarta langsung menerpa wajah mereka. Suara bising jalanan di bawah sana terdengar samar, berganti dengan pemandangan lampu-lampu gedung pencakar langit kota Jakarta yang berkilauan seperti taburan permata di malam hari. Indah banget.
Di sudut *rooftop*, di dekat tumpukan kursi kayu yang biasa dipakai karyawan untuk merokok atau mencari udara segar, sudah tersedia dua cangkir kopi instan hangat yang masih mengepulkan asap tipis.
"Kok ada kopi?" tanya Aruna heran.
"Tadi gue minta tolong OB buat bikinin sebelum dia pulang," jawab Adrian sant**. Ia menarik satu kursi kayu, lalu menepuk-nepuknya agar Aruna duduk. "Inget nggak dulu? Zaman kita masih merintis karier di sini, setiap kali dapet revisi g***-g***an dari klien, kita pasti kabur ke sini sambil minum kopi saset murah."
Aruna duduk dan menerima cangkir kopi hangat itu. Dia menyesapnya perlahan, membiarkan rasa manis dan hangatnya menjalar di tenggorokannya. "Inget bangetlah. Dulu kamu sering banget mau nangis gara-gara draf presentasi kamu didelete sama manajer lama."
"Dih, fitnah! Siapa yang mau nangis? Gue cuma frustrasi aja ya waktu itu," bantah Adrian tak mau kalah, meski telinganya mulai memerah karena malu.
Mereka berdua tertawa bersama, suara tawa yang lepas dan tanpa beban. Mengenang masa-masa sulit itu sekarang terasa lucu, padahal dulu rasanya seperti akhir dari dunia.
Adrian ikut duduk di kursi sebelah Aruna, lalu menatap lurus ke arah pemandangan kota di depan mereka. "Na," panggilnya lembut setelah keheningan yang nyaman sempat tercipta di antara mereka.
"Kenapa?" Aruna menoleh, menatap profil samping wajah Adrian yang terkena pantulan cahaya lampu kota.
"Gue bersyukur banget." Adrian memutar badannya menghadap Aruna sepenuhnya. Tatapan matanya malam ini begitu dalam dan penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan. "Gue bersyukur karena takdir bawa lo balik lagi ke hidup gue. Meskipun awalnya lewat jalur yang rada menyebalkan—lo jadi staf gue, dan gue jadi bos lo yang menyebalkan."
Aruna terkekeh. "Emang menyebalkan banget sih. Rasanya aku pengen buru-buru resign tiap hari."
"Tapi lo nggak pergi," potong Adrian cepat. Tangannya bergerak meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat-erat di sela-sela jari jemarinya. "Lo tetep bertahan di samping gue. Lo bantu gue tumbuh jadi versi terbaik dari diri gue sendiri."
Adrian menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah marun.
Jantung Aruna serasa berhenti berdetak saat melihat kotak itu.
Adrian membuka kotak tersebut, menunjukkan sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang berkilau indah di tengahnya. Desainnya sangat sederhana tapi elegan, tipe kesukaan Aruna.
"Adrian..." suara Aruna mendadak tercekat di tenggorokan. Matanya mulai berkaca-kaca karena terkejut sekaligus bahagia.
"Aruna," ucap Adrian dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup. "Gue nggak mau kita cuma jadi mantan pacar yang terjebak di masa lalu. Gue juga nggak mau hubungan kita cuma sebatas bos dan karyawan di kantor ini."
Adrian berlutut dengan satu kaki di depan Aruna, menatap langsung ke dalam mata cewek yang sangat dicint**nya itu.
"Gue mau lo jadi masa depan gue. Gue mau lo jadi orang pertama yang gue lihat pas bangun tidur, dan orang terakhir yang gue peluk sebelum merem. Gue mau kita lewati semua revisi kehidupan ini bareng-bareng." Adrian tersenyum sangat manis. "Aruna Paramitha, *will you marry me?*"
Air mata Aruna akhirnya luruh juga, mengalir membasahi pipinya yang memerah. Dia tidak pernah menyangka kalau tempat kerja yang dulunya dia anggap sebagai "neraka dunia" tempatnya memeras keringat demi sesuap nasi, kini berubah menjadi tempat paling romantis dalam hidupnya.
Aruna buru-buru mengangguk mantap sambil tersenyum sangat lebar. "Iya, Adrian. *Yes, I will.*"
Adrian langsung mengembuskan napas lega yang panjang, seolah beban berat di pundaknya baru saja diangkat. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena saking bahagianya, ia menyematkan cincin itu di jari manis Aruna. Pas sekali.
Begitu cincin itu terpasang sempurna, Adrian langsung berdiri dan menarik Aruna ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Aruna melingkarkan lengannya di leher Adrian, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu, menghirup aroma parfum vanila bercampur mint yang sangat familier dan menenangkan.
"Makasih ya, Na. Makasih banyak," bisik Adrian lembut di telinga Aruna, lalu mengecup puncak kepala cewek itu berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
Aruna tersenyum bahagia dalam dekapan hangat Adrian. Sambil memandangi cincin yang kini melingkar indah di jarinya di bawah siraman cahaya lampu kota Jakarta, Aruna menyadari satu hal.
Nasibnya sebagai budak korporat yang setiap hari mengeluh soal kerjaan, ternyata berakhir dengan sangat manis. Dia tidak hanya berhasil menaklukkan pekerjaan dan masa depannya, tapi dia juga berhasil mendapatkan kembali hati sang mantan pacar yang kini resmi menjadi calon suaminya—sekaligus bos barunya yang paling dia cint** selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!