Begitu presentasi perkenalan CEO baru di aula utama selesai, riuh tepuk tangan langsung menggema di seluruh ruangan. Semua orang tampak antusias, terutama para staf perempuan yang sedari tadi tidak berhenti mengagumi ketampanan bos baru mereka.
Kecuali gue.
Gue merasa separuh jiwa gue baru saja terbang melayang meninggalkan raga. Lutut gue lemas, telapak tangan gue dingin, dan jantung gue berdegup kencang dengan ritme yang sama sekali gak sehat.
*Adrian.*
Cowok tinggi tegap dengan setelan jas mahal pas badan yang berdiri di podium itu adalah Adrian. Mantan pacar yang gue campakkan dengan kejam tiga tahun lalu saat kami masih kuliah. Dulu, dia hanyalah mahasiswa biasa dengan motor matic butut yang knalpotnya sering meletup-letup. Sekarang? Dia berdiri di sana sebagai CEO baru di agensi periklanan tempat gue menggantungkan hidup.
Gue buru-buru merapatkan barisan, mencoba bersembunyi di balik tubuh Rian yang tinggi menjulang, berharap Adrian gak sempat menyadari keberadaan gue di antara ratusan karyawan lainnya.
"Rapat selesai, silakan kembali ke kubikel masing-masing," suara moderator terdengar melegakan.
Gue langsung berbalik arah dengan cepat, berniat kabur secepat mungkin. Baru saja gue melangkah dua kali, suara bariton Pak Bambang, kepala divisi marketing sekaligus atasan langsung gue, menginterupsi.
"Aruna! Tunggu sebentar!"
Gue memejamkan mata erat-repat, merapalkan doa dalam hati sebelum berbalik dengan senyum yang dipaksakan. "Iya, Pak Bambang? Ada apa ya?"
"Kamu dipanggil ke ruangan CEO sekarang juga," ucap Pak Bambang sant**, tanpa dosa.
Dunia rasanya runtuh seketika. "Hah? Saya, Pak? Gak salah orang? Saya kan staf biasa, laporan bulanan juga belum sayaβ"
"Gak salah, Aruna. Sekretarisnya Pak Adrian yang baru saja menyampaikan langsung ke saya. Nama kamu yang disebut. Udah sana, jangan bikin bos baru kita nunggu lama. Nilai plus buat divisi kita kalau kamu bisa langsung akrab sama beliau," Pak Bambang menepuk bahu gue memberi semangat, lalu melenggang pergi begitu saja.
Akrab katanya? Yang ada gue bakal langsung dieksekusi di tempat!
Dengan langkah super berat yang rasanya seperti dirant** bola besi seberat seratus kilogram, gue berjalan menuju lant** paling atas gedung iniβlant** dua puluh, tempat ruangan khusus CEO berada.
Begitu sampai di depan pintu kayu m***ni besar yang tampak sangat kokoh, gue menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Gue merapikan kemeja putih gue yang agak kusut karena lari-larian tadi pagi, lalu mengetuk pintu itu tiga kali.
*Tok. Tok. Tok.*
"Ma**k."
Suara berat dari dalam sana membuat bulu kuduk gue merinding. Gue memutar knop pintu dan melangkah ma**k dengan kepala agak tertunduk.
Ruangan itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam yang memberikan kesan maskulin dan intimidatif. Di balik meja kerja kaca yang besar, Adrian sedang duduk sant** sambil menatap beberapa berkas di tabletnya. Desain ruangan ini benar-benar menggambarkan dirinya yang sekarang: dingin dan tak tersentuh.
"Permisi, Pak Adrian. Saya Aruna dari divisi marketing," ucap gue seformal mungkin, mencoba menyembunyikan getaran di suara gue.
Adrian tidak langsung menyahut. Dia meletakkan tabletnya perlahan, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, lalu menatap gue lekat-lekat. Tatapannya dingin, menusuk, dan sama sekali gak menunjukkan kehangatan masa lalu kami.
"Silakan duduk, Karyawan... Aruna, benar?" tanya Adrian dengan nada suara yang dibuat-buat, seolah dia baru pertama kali mengeja nama gue.
Gue menelan ludah, lalu duduk di kursi kulit di hadapannya. Jarak kami hanya terpisah meja kerja lebar, tapi rasanya seperti ada jurang pemisah yang sangat dalam.
*G*** ya, sok amnesia banget! Kita pacaran tiga tahun, Adrian! Bahkan lo hafal luar dalam berapa sendok gula yang gue mau di kopi gue!* jerit gue dalam hati. Tapi di dunia nyata, gue cuma bisa mengangguk sopan. "Benar, Pak."
Adrian tersenyum tipis. Tapi itu bukan senyum ramah, melainkan senyum sinis yang membuat alarm bahaya di otak gue berbunyi nyaring.
"Saya sudah membaca profil singkat semua karyawan di sini, terutama yang memiliki... catatan menarik," Adrian membuka sebuah map hitam di atas mejanya, lalu mengetukkan jarinya ke atas kertas di dalamnya. "Aruna Adhisti. Ma**k ke agensi ini dua tahun lalu. Performa kerja lumayan, tapi catatan absensi pagi ini sangat tidak mencerminkan profesionalitas. Kamu hampir terlambat di hari pertama saya menjabat."
Gue langsung menegakkan punggung. "Maaf, Pak. Tadi pagi ada kendala di jalan, tapi saya pastikan hal itu tidak akan terulang lagi."
"Tentu saja tidak boleh terulang," potong Adrian cepat. Dia menatap gue dengan mata elangnya yang tajam. "Karena mulai hari ini, jam kerja kamu tidak akan sebebas dulu lagi."
Gue mengernyitkan dahi, bingung. "Maksud Bapak?"
Adrian memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja. "Per hari ini, kamu resmi saya pindahkan dari divisi marketing ke divisi sekretariat. Tugas baru kamu adalah menjadi asisten pribadi saya."
"Apa?!" Saking terkejutnya, suara gue naik satu oktav. Gue langsung membekap mulut sendiri begitu menyadari kelancangan gue. "M-maaf, Pak. Tapi... asisten pribadi? Latar belakang saya adalah marketing dan kreatif. Saya gak punya pengalaman sama sekali di bidang administrasi atau menjadi asisten."
"Saya tidak butuh pengalaman kamu di bidang itu. Saya hanya butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk mengurus semua keperluan pribadi dan jadwal saya selama di kantor," jawab Adrian enteng, seolah-olah dia baru saja memutuskan menu makan siang.
"Tapi, Pak, asisten Bapak yang lamaβ"
"Mengundurkan diri tadi pagi. Dan saya rasa, kamu adalah kandidat yang paling cocok untuk menggantikannya," Adrian menyela dengan nada dingin yang mutlak, tidak menerima bantahan. "Kenapa? Kamu keberatan?"
"Tentu saja saya keberatan, Pak!" ucap gue, kali ini berusaha mempertahankan posisi gue. "Ini sepihak namanya. Saya nyaman di divisi marketing. Teman-teman tim saya juga sudah solid. Kenapa harus saya?"
Adrian terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat menyebalkan di telinga gue. Dia menyandarkan tubuhnya kembali, menatap gue dengan tatapan meremehkan yang membuat ego gue tercubit.
"Aruna, Aruna... kamu masih saja keras kepala," gumamnya pelan, untuk pertama kalinya menghilangkan embel-embel formalitas di antara kami. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali datar. "Perlu saya ingatkan, di dalam kontrak kerja yang kamu tanda tangani, tertulis jelas bahwa perusahaan berhak memindahkan karyawan ke divisi mana pun sesuai dengan kebutuhan operasional. Menolak perintah atasan bisa dianggap sebagai tindakan indisipliner. Kamu tahu kan sanksinya apa?"
Gue mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku-kuku gue memutih.
Ini adalah awal dari balas dendamnya. Gue bisa merasakan aura permusuhan yang pekat dari cara dia menatap gue. Dia ingin menyiksa gue, ingin melihat gue menderita di bawah kuasanya, sebagai pembalasan atas apa yang gue lakukan padanya di masa lalu.
"Bapak sengaja melakukan ini untuk mempersulit saya, kan?" desis gue, akhirnya membuang semua topeng formalitas karena sudah terlanjur kesal.
Adrian menaikkan satu alisnya, pura-pura terkejut. "Mempersulit? Di mana letak mempersulitnya? Gaji asisten pribadi CEO itu jauh lebih tinggi daripada staf marketing biasa. Saya justru sedang membantu menaikkan taraf hidup kamu, Aruna."
Dia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum miring. "Atau... kamu takut? Takut karena harus berhadapan dengan saya setiap hari? Takut kalau memori lama kita bakal mengganggu kinerja kamu?"
"Saya gak takut!" sahut gue cepat, menantang tatapannya.
"Bagus kalau begitu. Jadi, keputusan ini mutlak. Mulai besok pagi, meja kerja kamu dipindahkan ke depan ruangan saya. Semua instruksi pekerjaan akan saya kirim lewat email malam ini."
Gue ingin sekali berdiri, menggeb**k meja ini, dan meneriakkan kata *'Gue resign!'* tepat di depan wajah tampannya yang menyebalkan itu. Gue ingin pergi dari sini dengan kepala tegak, menunjukkan bahwa gue punya harga diri yang gak bisa dibeli dengan uangnya.
Namun, tepat di saat ego gue berada di puncak, ponsel di dalam saku celana gue bergetar.
Gue tahu persis apa arti getaran itu. Ini tanggal dua puluh lima. Hari di mana notifikasi tagihan KPR rumah ibu gue di Depok ma**k ke ponsel. Cicilan bulanan yang nominalnya hampir memakan tiga perempat dari gaji bulanan gue saat ini. Ibu gak punya siapa-siapa lagi selain gue sejak ayah meninggal. Kalau gue resign sekarang tanpa ada pekerjaan pengganti, dari mana gue bisa bayar cicilan itu? Dari mana kami bisa makan bulan depan?
Gue memejamkan mata, menelan semua harga diri dan amarah yang bergejolak di dada gue bulat-bulat. Rasanya sangat pahit, sampai-sampai tenggorokan gue terasa sakit.
Ketika gue membuka mata kembali, Adrian masih menatap gue, menunggu reaksi gue dengan senyum kemenangan yang tercetak jelas di wajahnya. Dia tahu dia menang. Dia tahu dia memegang kendali penuh atas hidup gue saat ini.
"Baik, Pak Adrian," kata gue akhirnya, suara gue terdengar sangat pelan dan pasrah. "Saya menerima pemindahan tugas ini."
Senyum di wajah Adrian melebar, tampak sangat puas melihat kekalahan gue. Dia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di samping kursi gue. Dia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga gue hingga gue bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang mahalβsangat berbeda dengan aroma parfum minimarket yang dulu sering dia pakai.
"Pilihan yang sangat cerdas, Aruna," bisik Adrian dengan nada sarkastis yang kental. "Selamat bergabung di tim saya. Dan... selamat datang di neraka, Mantan."
Gue hanya bisa terdiam membeku, menyadari bahwa hidup tenang gue di kantor ini baru saja berakhir. Mulai besok, hari-hari gue akan dipenuhi oleh siksaan dari seorang Adrian yang kini berkuasa penuh atas nasib gue.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!