BAB 3: Kerja Lembur Bagai Kuda
"Ma**k."
Suara berat Adrian dari dalam ruangan langsung membuat bulu kuduk gue merinding seketika. Dengan tangan yang agak gemetaran, gue memutar knop pintu kayu m***ni tebal itu dan melangkah ma**k.
Begitu gue melangkah ma**k, aroma lilin aromaterapi mahal beraroma kayu cendana langsung menyapa indra penciuman gue. Ruangan ini sangat luas, dingin karena AC yang disetel ke suhu maksimal, dan didominasi warna abu-abu gelap yang maskulin. Di balik meja kerja kaca yang besar, Adrian sedang duduk sant** sambil menatap tabletnya. Dia kelihatan sangat berkuasa, sangat berbeda dari Adrian tiga tahun lalu yang sering gue bonceng pakai motor matic bututnya.
Gue berdiri kaku di depan mejanya, meremas jemari gue sendiri untuk mengurangi rasa gugup. "B-bapak memanggil saya?"
Adrian tidak langsung menjawab. Dia perlahan meletakkan tabletnya di meja, lalu mendongak. Sepasang mata hitamnya yang tajam menatap gue lurus-lurus, tanpa ada kehangatan sama sekali di sana. Tatapan itu terasa begitu mengintimidasi sampai-sampai gue refleks menahan napas.
"Lama banget, Aruna. Kamu merayap dari lant** bawah?" tanyanya dingin, tanpa basa-basi.
"Maaf, Pak Bambang tadi baru selesai menyampaikan pesan dari Bapak, jadi saya langsung ke sini," jawab gue seprofesional mungkin, meski dalam hati gue sudah ingin berteriak histeris.
Adrian mendengus pelan, lalu mengambil sebuah map plastik biru tebal dari laci mejanya dan menjatuhkannya ke atas meja kaca dengan bunyi *plak* yang c**up keras.
"Ini apa ya, Pak?" tanya gue dengan kening berkerut.
"Itu berkas rekapitulasi data kampanye marketing tiga tahun terakhir. Ditambah analisis komparatif dari lima kompetitor utama kita. Saya mau kamu bikin ringkasannya dalam bentuk PowerPoint, maksimal dua puluh slide, lengkap dengan analisis SWOT masing-masing kompetitor."
Gue melotot lebar. *Tiga tahun terakhir?! Lima kompetitor?!*
"Tapi Pak," sela gue cepat, "itu datanya ribuan halaman. Dan analisis kompetitor itu biasanya tugas tim riset pasar yang isinya minimal lima orang. Saya kan staf marketing biasa, Pak. Bukanβ"
"Saya tidak butuh alasan kamu, Aruna," potong Adrian dengan nada suara yang tenang tapi sangat mutlak. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulitnya yang super empuk, lalu melipat tangan di dada. "Saya maunya kamu yang bikin. Kenapa? Gak sanggup? Kalau gak sanggup, pintu keluar ada di sebelah sana. Surat resign bisa kamu taruh di meja saya besok pagi."
Gue menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokan gue mendadak terasa sangat kering. Dia benar-benar memanfaatkan posisinya untuk menyiksa gue. Ini adalah aksi balas dendam yang dikemas dengan sangat rapi dalam bungkus profesionalisme kerja.
"S-sanggup, Pak. Kapan tenggat waktunya?" tanya gue pasrah.
"Besok jam delapan pagi, slide itu harus sudah ada di email saya. Dan versi cetaknya harus sudah rapi di atas meja ini sebelum saya datang." Adrian melirik jam tangan Rolex-nya yang mengkilap. "Kamu punya waktu sekitar... empat belas jam dari sekarang."
Gue memejamkan mata sesaat, menahan napas agar tidak kelepasan mengumpat di depan wajah tampannya yang menyebalkan itu. "Baik, Pak. Ada lagi?"
"Satu lagi," panggil Adrian tepat sebelum tangan gue menyentuh gagang pintu untuk keluar.
Gue berbalik, memasang senyum paling palsu yang pernah gue buat seumur hidup. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak Adrian?"
"Belikan saya kopi."
"Kopi hitam biasa, Pak?"
"Iced Oat Latte. Double shot, half-decaf, light ice, hand-shaken, pakai satu setengah pump sugar-free hazelnut syrup. Temperaturnya gak boleh terlalu dingin, dan jangan sampai encer karena esnya mencair. Antar ke meja saya dalam sepuluh menit."
Gue cengo di tempat. *Hah? Satu setengah pump sugar-free hazelnut syrup?!*
Dulu, waktu kami masih pacaran dan uang sakunya pas-pasan, cowok ini cuma minum kopi saset instan rasa karamel seharga tiga ribu rupiah yang diseduh pakai air dispenser kosan gue tanpa pernah protes sedikit pun. Dan sekarang, dia punya pesanan kopi yang lebih rumit daripada rumus fisika kuantum?!
"Ada yang kurang jelas, Aruna?" tanya Adrian, menaikkan satu alisnya seolah sedang menantang gue.
"Jelas, Pak. Sangat jelas," jawab gue dengan gigi gemertak, lalu segera keluar dari ruangannya sebelum gue benar-benar melempar map biru tebal ini ke kepalanya.
***
Satu jam kemudian, kaki gue rasanya mau copot.
Gue harus berlari ke Starbucks di lobi bawah yang antreannya sepanjang ular naga demi memesan kopi custom pesanan sang CEO tercinta. Belum lagi saat gue membawanya ke atas, Adrian dengan sant**nya menyesap kopi itu sekali, mengerutkan kening, lalu meletakkannya begitu saja di meja.
"Kurang manis. Tapi ya sudahlah, silakan keluar," katanya tanpa dosa.
Rasanya gue ingin sekali menyiramkan kopi itu ke atas kepalanya yang klimis.
Gue kembali ke kubikel gue dengan langkah gont**. Begitu gue duduk, Rian langsung memutar kursinya mendekat ke arah gue dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Run, g*** ya. Lo baru aja keluar dari ruangan CEO baru, mukanya udah kayak abis dikejar drakula," bisik Rian sambil menyodorkan sebungkus siomay yang baru dia beli. "Nih, makan dulu. Muka lo pucat banget."
"Lebih parah dari drakula, Yan. Ini mah i**** berkedok CEO," bisik gue frustrasi, langsung menyuap satu siomay dengan brutal untuk melampiaskan kekesalan.
"Emang lo dikasih kerjaan apa aja? Kok kelihatannya berat banget?"
"Rekap data tiga tahun terakhir, analisis kompetitor, bikin slide presentasi, plus jadi kurir kopi custom yang ribetnya minta ampun. Semua harus kelar besok jam delapan pagi!" cerocos gue dengan suara tertahan.
Rian melotot, hampir tersedak ludahnya sendiri. "Serius?! Itu kan kerjaan satu divisi, Run! Kok didelegasiin ke lo doang? Lo punya dendam kesumat apa sih sama Pak Adrian? Atau jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?" tanya gue was-was. Jangan sampai Rian tahu kalau bos baru kita ini adalah mantan pacar yang dulu gue putusin dengan kejam demi cowok tajir yang ternyata penipu ulung.
"Jangan-jangan gaya kerja lo selama ini emang dipantau sama HRD, terus dilaporkan ke Pak Adrian? Makanya lo langsung digembleng habis-habisan biar gak males," tebak Rian dengan polosnya.
Gue cuma bisa menghela napas pasrah. "Mungkin..."
Saat gue hendak melanjutkan pekerjaan, samar-samar gue mendengar bisik-bisik dari staf marketing lain yang sedang berdiri di dekat mesin fotokopi, tidak jauh dari kubikel gue.
"Eh, lihat deh si Aruna. Baru hari pertama Pak Adrian ma**k langsung kena semprot ya?" bisik salah satu staf perempuan dengan nada mencibir.
"Iya, denger-denger dia dikasih tugas numpuk gara-gara kinerjanya belakangan ini dinilai buruk banget sama pusat. Syukur deh, biar tahu rasa. Selama ini kan kerjanya sant**-sant** aja," timpal yang lain sambil tertawa kecil.
"Bener banget. Pak Adrian emang tegas banget, suka deh sama tipe bos yang gak pandang bulu kayak gitu. Biar parasit di kantor ini pada kapok."
Gue meremas kertas draf laporan di tangan gue sampai kusut. Dada gue terasa sesak. Air mata rasanya sudah menggenang di pelupuk mata, siap tumpah kapan saja. *Gue? Parasit?* Gue kerja lembur bagai kuda hampir tiap minggu demi target divisi mereka juga! Tapi sekarang, hanya karena ulah Adrian yang sengaja menyiksa gue, semua orang di kantor malah mengira gue adalah karyawan tidak becus yang sedang dihukum karena kinerja buruk.
***
Waktu terus berjalan, dan siksaan Adrian tidak berhenti sampai di situ.
Sepanjang sore, jadwal rapat Adrian sangat padat, dan entah kenapa gue selalu ditarik untuk ikut serta dalam setiap rapat tersebut dengan alasan "sebagai notulen pengganti karena sekretarisnya sedang sibuk mempersiapkan dokumen penting lain".
Gue harus mencatat setiap det**l pembicaraan dengan cepat di laptop gue. Setiap kali gue terlambat mengetik atau terlihat lelah sedikit saja, Adrian akan langsung menegur gue di depan semua peserta rapat.
"Aruna, tolong fokus. Notulen rapat ini penting untuk langkah kita selanjutnya. Jangan sampai ada poin yang terlewat hanya karena kamu melamun," ucap Adrian dengan suara dinginnya di tengah-tengah rapat bersama para kepala divisi.
Semua mata di ruangan rapat seketika tertuju pada gue. Gue bisa merasakan wajah gue memanas karena malu yang luar biasa. Kepala divisi marketing, Pak Bambang, bahkan menatap gue dengan pandangan kecewa. Gue hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
"Baik, Pak. Maaf," cicit gue pelan.
Ketika rapat terakhir selesai, jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh karyawan satu per satu mulai meninggalkan kantor, menyisakan keheningan yang mencekam di lant** divisi marketing.
Hanya ada gue di sini. Di bawah temaram lampu kubikel, dikelilingi oleh tumpukan berkas yang rasanya tidak habis-habis.
Mata gue terasa sangat perih dan kering karena terlalu lama menatap layar monitor. Jari-jari tangan gue juga sudah kaku karena terus mengetik analisis SWOT yang melelahkan ini. Ditambah lagi, perut gue mulai berbunyi karena sejak siang tadi gue belum sempat makan makanan berat.
"Gue benci lo, Adrian. Gue benci banget sama lo," bisik gue lirih pada diri sendiri.
Satu tetes air mata akhirnya jatuh ke atas keyboard, disusul tetesan-tetesan berikutnya yang tidak bisa lagi gue bendung. Gue menangis tanpa suara di tengah keheningan kantor yang sepi. Tubuh gue lelah, hati gue sakit, dan harga diri gue benar-benar hancur lebur di bawah kaki mantan pacar gue sendiri.
Kenapa dia harus sekejam ini? Kalau dia mau membalas dendam karena gue memutuskan hubungannya dulu, kenapa dia tidak langsung memecat gue saja? Kenapa dia harus menyiksa gue perlahan-lahan dengan cara menguras fisik dan mental gue seperti ini?
*Tap. Tap. Tap.*
Suara langkah sepatu pantofel yang tegas memecah keheningan koridor kantor, perlahan-lahan mendekat ke arah kubikel gue.
Gue tersentak kaget. Dengan panik, gue segera menghapus air mata di pipi gue menggunakan punggung tangan, lalu buru-buru menatap layar komputer, berpura-pura sangat sibuk mengetik agar tidak kelihatan habis menangis.
Sosok tinggi tegap itu berhenti tepat di samping meja gue. Adrian berdiri di sana. Dia sudah melepas jas mahalnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat kemerahan di lengannya yang kokoh. Si****, dia masih kelihatan sangat segar dan tampan bahkan setelah seharian bekerja keras. Sementara gue? Mungkin penampilan gue saat ini sudah seperti gembel lampu merah dengan mata sembap dan rambut kusut masai.
Adrian menatap tumpukan berkas di meja gue, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah gue. Ada jeda beberapa detik sebelum dia akhirnya bersuara.
"Belum selesai?" tanyanya datar, tanpa ada sedikit pun nada empati di dalamnya.
"Sedikit lagi, Pak. Tinggal mema**kkan data dari kompetitor terakhir ke dalam slide," jawab gue dengan suara yang agak serak. Gue berusaha sekeras mungkin agar suara gue tidak bergetar dan terdengar lemah di depannya.
Adrian maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke arah meja gue. Aroma parfum maskulinnya yang mahalβcampuran aroma jeruk purut dan kayu manisβlangsung menyeruak ma**k ke indra penciuman gue, membuat jantung gue berdegup kencang karena rasa panik yang tiba-tiba menyerang.
"Baru segini saja kamu sudah mau menangis, Aruna?" bisiknya dengan nada suara yang sangat pelan, tapi terasa sangat tajam menusuk langsung ke ulu hati gue. "Dulu, waktu kamu memutuskan saya demi laki-laki lain yang menurut kamu lebih punya masa depan, kamu kelihatan sangat kuat, dingin, dan tidak punya hati. Mana Aruna yang dulu itu?"
Gue tersentak. Jadi ini benar-benar tentang masa lalu. Dia akhirnya mengakui motif di balik semua siksaan ini secara tidak langsung.
Gue mendongak, memberanikan diri menatap langsung ke dalam matanya yang dingin dan gelap. "Ini lingkungan profesional, Pak Adrian. Saya rasa tidak etis jika Bapak membawa-bawa masalah pribadi masa lalu ke dalam urusan pekerjaan kantor."
Adrian terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk gue merinding. "Profesional? Menarik sekali mendengar kata itu keluar dari mulut kamu. Baiklah, kalau kamu memang mau bersikap profesional, pastikan laporan ini tidak ada c**** sedikit pun besok pagi pukul delapan. Dan oh, saya hampir lupa..." Adrian menjeda kalimatnya, menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "...besok jam tujuh pagi saya ada rapat s****an dengan klien penting dari Singapura. Kamu harus ikut mendampingi saya."
"Tapi Pak! Jam kerja kantor kita baru dimulai jam delapan pagiβ"
"Saya tidak menerima alasan atau keluhan apa pun, Aruna. Kecuali..." Adrian menegakkan kembali tubuhnya, melipat tangan di dada dengan gaya angkuh yang sangat menyebalkan. "...kamu mau menyerah, mengakui kalau kamu tidak kompeten, lalu mengajukan surat pengunduran diri kamu malam ini juga. Pilihan ada di tangan kamu."
Setelah mengatakan kalimat kejam itu, Adrian berbalik dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan kubikel gue, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Gue menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu lift dengan rasa sesak yang luar biasa di dada. Air mata gue kembali mengalir deras tanpa bisa dicegah.
Lembur bagai kuda ini baru permulaan dari neraka dunia yang diciptakan Adrian khusus untuk gue. Dia tidak hanya ingin menyiksa fisik gue dengan beban kerja yang tidak manusiawi, tapi dia juga ingin menghancurkan mental gue perlahan-lahan sampai gue berlutut memohon ampun, atau pergi dari kantor ini dengan kepala tertunduk sebagai pecundang.
Tapi gue mengepalkan tangan gue erat-erat di atas meja. *Gak. Gue gak boleh kalah.*
Gue butuh pekerjaan ini untuk membayar cicilan apartemen, biaya hidup di Jakarta yang semakin g***, dan juga untuk membuktikan pada diri gue sendiri kalau gue bisa bertahan. Gue tidak akan membiarkan mantan pacar gue yang sekarang jadi bos psikopat itu menang dengan mudah.
Gue menarik napas dalam-dalam, mengusap air mata di wajah gue dengan kasar, lalu kembali memfokuskan pandangan gue ke layar komputer. Jari-jari gue kembali menari di atas keyboard, melanjutkan slide presentasi yang harus sempurna besok pagi.
*Oke, Adrian. Mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa menyiksa saya, dan seberapa kuat saya bisa bertahan dari permainan g*** kamu ini.*
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!