BAB 4: Sinyal Cemburu Sang Bos
Setelah malam jahanam di mana gue harus begadang sampai subuh demi menyelesaikan slide presentasi g*** dari Adrian, hidup gue di kantor rasanya kayak *roller coaster* tanpa rem. Setiap hari ada saja kelakuan bos baru gue—yang sayangnya adalah mantan pacar gue sendiri—untuk bikin gue senewen. Dia seolah punya misi pribadi buat bikin hidup gue gak tenang.
Untungnya, di tengah badai cobaan ini, Tuhan masih baik dengan mengirimkan seorang malaikat penyelamat. Namanya Devan.
Devan adalah cowok dari divisi kreatif yang mejanya cuma berjarak beberapa sekat dari kubikel gue. Orangnya tinggi, punya senyum manis dengan lesung pipit di pipi kiri, dan selalu pakai baju sant** khas anak kreatif—biasanya kaus polos dibalut kemeja flanel longgar yang lengannya digulung sampai siku. Kontras banget sama Adrian yang selalu rapi, kaku, dan wangi parfum mahal yang mengintimidasi.
"Pagi, Na. Kok muka lo layu banget kayak kangkung kemarin sore? Nih, a**pan kafein biar lo gak tumbang."
Gue mendongak dari layar monitor dan mendapati Devan sudah berdiri di samping kubikel gue sambil menyodorkan segelas *iced caramel macchiato* dari kafe hits di bawah kantor.
"Ya ampun, Dev! Lo tahu aja gue lagi butuh ini banget," seru gue dengan mata berbinar. Gue langsung menyeruput kopi dingin itu layaknya orang yang baru menemukan mata air di tengah gurun pasir. "Sumpah, makasih banyak ya. Berapa harganya? Biar gue transfer."
Devan tertawa pelan, tangannya bergerak mengacak rambutnya sendiri dengan gestur ka**al yang jujur, ganteng banget. "Sant** aja kali, Na. Kayak sama siapa aja. Anggap aja ini traktiran perkenalan karena kita baru beberapa minggu se-divisi lant**."
Sejak hari itu, Devan jadi makin sering mampir ke kubikel gue. Dia tipe cowok yang ramah, humoris, dan gak jaim sama sekali. Ngobrol sama Devan selalu berhasil bikin beban kerjaan gue yang menumpuk gara-gara Adrian jadi terasa sedikit lebih ringan.
Bahkan, perhatian Devan gak berhenti di kopi pagi saja. Dua hari kemudian, pas jam makan siang, dia tiba-tiba datang membawa sebuah kotak bekal berwarna biru pastel.
"Nyokap gue masak nasi goreng g*** kebanyakan tadi pagi. Pas gue mau makan siang, gue langsung kepikiran lo. Lo kan sering mager keluar kantor kalau siang. Nih, buat lo," ujar Devan sambil meletakkan kotak bekal itu di atas meja gue.
Gue tertegun. "Serius, Dev? Duh, gue jadi gak enak. Masa gue makan jatah lo?"
"Bukan jatah gue, Na. Ini emang sengaja dibungkusin ekstra buat lo. Cobain deh, nyokap gue kalau masak gak pernah gagal." Devan tersenyum lebar, menatap gue dengan pandangan hangat yang bikin jantung gue sedikit berdesir sehat. Ya ampun, setelah sekian lama cuma dapet tatapan maut dari Adrian, dapet tatapan selembut ini dari Devan rasanya kayak dapet kompresan air hangat.
"Makasih banyak ya, Dev. Lo baik banget, asli," kata gue tulus.
"Sama-sama, Na. Oh ya, nanti sore lo pulang jam berapa? Bareng gue yuk, kebetulan arah rumah kita searah kan? Daripada lo naik ojek *online* pas jam pulang kantor yang macetnya kayak pembagian sembako."
Gue baru mau menjawab tawaran Devan saat tiba-tiba...
*B**KK!*
Suara pintu kaca ruangan Adrian yang dibuka dengan kasar mengejutkan kami berdua.
Gue dan Devan refleks menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Adrian berdiri tegak. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sangat rapi, tapi ekspresi wajahnya benar-benar kontras—gelap, dingin, dan matanya menatap tajam lurus ke arah kubikel gue. Lebih tepatnya, ke arah Devan yang sedang berdiri sangat dekat dengan gue.
Adrian melangkah keluar dari ruangannya dengan tempo yang lambat tapi terasa sangat mengancam. Setiap ketukan sepatunya di lant** marmer terdengar seperti lonceng kematian buat gue.
"Aruna," panggil Adrian. Suaranya berat, dingin, dan tidak ramah sama sekali.
"I-iya, Pak?" jawab gue, langsung berdiri dari kursi kerja gue karena refleks ketakutan.
Adrian berhenti tepat di depan kubikel gue. Dia sama sekali tidak melirik gue. Pandangan matanya yang tajam bak elang justru tertuju lurus pada Devan. Suasana di sekitar kami mendadak berubah menjadi sangat canggung dan dingin. Gue bahkan bisa merasakan aura permusuhan yang pekat menguar dari tubuh Adrian.
"Kamu dari divisi mana?" tanya Adrian pada Devan. Nadanya datar, tapi sarat akan intimidasi.
Devan yang dasarnya ramah langsung tersenyum sopan, meskipun gue bisa melihat tubuhnya sedikit menegang. "Saya Devan dari divisi kreatif, Pak."
"Divisi kreatif," ulang Adrian lambat-lambat, seolah sedang mengeja kata yang sangat mengganggu telinganya. "Setahu saya, jam istirahat baru akan dimulai sepuluh menit lagi. Dan saya tidak ingat membuat kebijakan baru yang memperbolehkan staf kreatif berkeliaran di area divisi marketing untuk... pacaran?"
Mata gue membelalak. *Pacaran?!* Hebat banget tuduhannya!
"Maaf, Pak Adrian," Devan mencoba menjelaskan dengan nada sesopan mungkin. "Saya cuma mengantarkan makanan untuk Aruna. Tidak ada maksud untuk mengganggu jam kerja."
Adrian mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir di sudut bibirnya. Dia melirik kotak bekal biru di atas meja gue dengan tatapan jijik, seolah barang itu adalah tumpukan sampah.
"Kantor ini membayar kamu untuk bekerja, Devan, bukan untuk jadi kurir makanan pribadi staf saya," kata Adrian kejam. "Dan kamu, Aruna."
Kini, sepasang mata hitam pekat milik Adrian beralih menatap gue. Tatapan itu terasa begitu menusuk, membuat gue merinding.
"Iya, Pak?"
"Saya butuh analisis laporan penjualan triwulan kedua sekarang juga. Data mentahnya ada di folder bersama. Saya mau laporannya sudah ada di meja saya dalam waktu tiga puluh menit."
Gue terperangah. "Tapi Pak, sepuluh menit lagi kan jam istirahat? Dan membuat analisis itu setidaknya butuh waktu dua jam karena datanya sangat banyak—"
"Saya tidak menerima alasan," potong Adrian cepat, tanpa perasaan. "Kalau kamu lebih memilih untuk menikmati 'nasi goreng g***' itu dibanding menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan kamu, silakan. Tapi pastikan surat pengunduran diri kamu sudah selesai sebelum jam pulang kantor hari ini."
Setelah mengucapkan kalimat kejam itu, Adrian membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali menuju ruangannya. Namun, sebelum dia menutup pintu, dia sempat menoleh sekali lagi dan memberikan tatapan permusuhan yang sangat kentara pada Devan yang masih berdiri di samping gue.
*BAM!*
Pintu ruangan Adrian tertutup rapat.
Gue mengembuskan napas panjang yang sejak tadi gue tahan. Bahu gue merosot lemas. G***. Adrian benar-benar keterlaluan.
"Na... lo gak apa-apa?" tanya Devan dengan nada khawatir yang sangat tulus. "Bos lo kok... sensitif banget ya? Masa masalah makanan aja sampai segitunya?"
Gue tersenyum kecut sambil mengusap wajah gue kasar. "Gak apa-apa, Dev. Dia emang lagi PMS kayaknya tiap hari. Sori ya, lo jadi kena semprot juga."
"Gak masalah buat gue, Na. Gue cuma gak enak sama lo. Makan siang lo jadi keganggu begini," kata Devan sambil menatap kotak bekalnya dengan sedih. "Ya udah, lo kerjain dulu aja tugas dari dia. Nanti bekalnya lo makan pas udah senggang ya. Gue balik ke meja gue dulu."
"Iya, Dev. Makasih banyak ya, dan sekali lagi sori banget," ucap gue penuh penyesalan.
Devan tersenyum hangat, menepuk bahu gue pelan untuk memberikan semangat, lalu berjalan kembali ke divisinya.
Begitu Devan pergi, gue langsung mengarahkan pandangan ke arah ruangan kaca Adrian. Dari balik kaca yang agak gelap itu, gue bisa melihat siluet Adrian yang sedang berdiri tegak, menghadap ke arah kubikel gue. Dia sedang mengawasi gue.
Gue mendengus kesal. *Kenapa sih dia?*
***
Kejadian itu ternyata bukan yang terakhir. Selama beberapa hari berikutnya, sikap Adrian makin tidak ma**k akal setiap kali Devan berada di dekat gue.
Hari Kamis sore, hujan deras mengguyur Jakarta. Jam kantor sudah selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Sebagian besar karyawan sudah pulang, dan gue baru saja selesai merapikan meja kerja gue.
Devan berjalan menghampiri kubikel gue sambil membawa payung besar berwarna hitam.
"Na, di luar hujan deras banget. Ojek *online* pasti susah didapat, harganya juga pasti lagi selangit. Pulang bareng gue yuk? Mobil gue parkir di basement kok, lo gak bakal kehujanan," tawar Devan dengan senyum manisnya yang khas.
Gue menimbang-nimbang sebentar. Di luar memang terdengar suara gemuruh guntur dan hujan badai yang sangat lebat. Menolak tawaran Devan rasanya adalah tindakan yang sangat bodoh.
"Boleh deh, Dev. Kebetulan aplikasi ojol gue dari tadi cuma muter-muter nyari *driver* gak dapet-dapet. Makasih banyak ya, lo penyelamat gue banget hari ini."
Baru saja gue hendak menyampirkan tas kerja gue ke bahu, tiba-tiba telepon di meja kerja gue berdering dengan nyaring. Layar telepon itu menunjukkan pangg***n dari: *EXT 101 - CEO ROOM*.
Jantung gue mencelos. Perasaan gue langsung gak enak.
Dengan ragu, gue mengangkat gagang telepon itu. "Halo, selamat sore, dengan Aruna..."
"Ke ruangan saya sekarang. Bawa dokumen proyek Green Kampus." Suara Adrian terdengar sangat dingin dan penuh penekanan di seberang sana, lalu sambungan telepon langsung diputus secara sepihak.
Gue memandang gagang telepon di tangan gue dengan perasaan campur aduk antara kesal, marah, dan ingin menangis. *Green Kampus?!* Proyek itu bahkan baru akan dibahas minggu depan! Kenapa dia harus meminta dokumennya sekarang, tepat di saat gue mau pulang bareng Devan?!
"Kenapa, Na?" tanya Devan yang melihat perubahan drastis di wajah gue.
"Dev... kayaknya lo duluan aja deh," kata gue dengan nada sangat lemas. "Si Bos mendadak manggil gue ke ruangannya. Ada dokumen proyek yang harus gue serahkan sekarang."
Kening Devan berkerut. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. "Sore-sore begini? Di luar hujan badai, Na. Apa gak bisa besok pagi aja? Kerjaan lo kan udah selesai semua untuk hari ini."
"Gue juga pengennya gitu, Dev. Tapi lo tahu sendiri kan gimana diktatornya dia? Kalau gue nolak, besok pagi meja gue bisa-bisa udah bersih dipindahin ke gudang," keluh gue frustrasi.
Devan menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan rasa kasihan yang mendalam pada gue. "Ya udah, gue tungguin aja gimana? Gue tunggu di lobi bawah ya. Sant** aja, gue gak buru-buru kok."
"Eh, gak usah, Dev! Jangan—"
Sebelum gue sempat menyelesaikan kalimat gue, pintu ruangan Adrian terbuka lagi. Kali ini, Adrian sendiri yang berjalan keluar. Dia tidak mengenakan jasnya, hanya kemeja putih yang lengannya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewahnya yang berkilau. Langkah kakinya terdengar tegas saat mendekati kami.
"Belum ke ruangan saya, Aruna?" tanya Adrian dingin. Tatapan matanya langsung beralih pada Devan, lalu beralih pada tangan Devan yang sedang memegang payung.
"Maaf, Pak Adrian," sela Devan sebelum gue sempat menjawab. "Saya cuma menawarkan tumpangan pulang untuk Aruna karena di luar hujan deras sekali. Tapi karena Aruna ada pekerjaan tambahan dari Bapak, apa boleh saya menunggu dia di lobi?"
Mendengar ucapan Devan, rahang Adrian tampak mengeras. Gue bisa melihat urat-urat di sekitar lehernya menegang. Tatapan mata Adrian yang tertuju pada Devan mendadak menjadi sangat dingin dan penuh permusuhan, sampai-sampai gue merasa suhu di ruangan itu turun drastis.
"Menunggu?" Adrian mendengus, mengeluarkan tawa sinis yang sangat tidak bersahabat. "Kamu pikir staf marketing saya punya waktu untuk bersenang-senang dengan kamu setelah ini, Devan?"
"Saya tidak bermaksud mengajak bersenang-senang, Pak. Saya cuma berniat baik agar Aruna tidak kehujanan—"
"Niat baik kamu tidak diperlukan di sini," potong Adrian dengan nada suara yang meninggi, membuat gue tersentak kaget. Adrian melangkah satu babak lebih dekat ke arah Devan, memperpendek jarak di antara mereka seolah sedang menantang cowok itu. "Aruna punya banyak pekerjaan malam ini. Dia akan lembur dengan saya untuk mempersiapkan presentasi proyek Green Kampus sampai larut malam. Jadi, sebaiknya kamu pulang sekarang. Sendiri."
Gue melotot kaget. *Lembur sampai larut malam?!* Sejak kapan?!
Devan menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya, namun dia tetap berusaha menjaga kesopanannya. "Baik, Pak. Kalau memang begitu keadaannya, saya permisi pulang duluan." Devan lalu menatap gue dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Duluan ya, Na. Semangat kerjanya."
"Iya, Dev... hati-hati di jalan ya," jawab gue pelan, merasa sangat bersalah.
Setelah Devan berbalik dan berjalan menuju lift, Adrian langsung mengalihkan pandangannya ke arah gue. Tatapannya sangat intens, penuh kemarahan yang tidak bisa disembunyikan. Napasnya terdengar agak memburu, seolah-olah dia baru saja menahan emosi yang sangat besar.
"Ma**k ke ruangan saya. Sekarang," perintah Adrian dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman.
Gue hanya bisa mengangguk pasrah dan berjalan mengekor di belakang punggung tegapnya yang terlihat sangat tegang.
Begitu pintu ruangan Adrian tertutup rapat, gue langsung meletakkan map dokumen Green Kampus ke atas mejanya dengan sedikit menghentakkannya. Rasa kesal yang sudah gue bendung sejak beberapa hari lalu akhirnya tumpah juga.
"Pak Adrian, saya mau tanya," kata gue dengan nada menantang, melupakan sejenak batasan antara bos dan karyawan. "Sebenarnya salah saya apa ya? Kenapa setiap kali Devan ada di dekat saya, Bapak selalu mendadak kasih tugas tambahan yang gak ma**k akal? Hari ini bahkan proyek minggu depan pun Bapak minta sekarang!"
Adrian yang baru saja duduk di kursi kerjanya langsung tertegun. Dia menatap gue dengan mata menyipit. "Kamu sedang menuduh saya tidak profesional, Aruna?"
"Iya! Karena memang kenyataannya begitu!" seru gue frustrasi. "Bapak sengaja kan? Bapak sengaja mau menyiksa saya! Dan kenapa Bapak harus bersikap sangat kasar sama Devan? Dia gak salah apa-apa, dia cuma mau temenan sama saya!"
Mendengar nama Devan disebut, Adrian tiba-tiba berdiri dari kursinya. Dia berjalan memutari meja kerjanya yang besar, lalu berhenti tepat di hadapan gue. Jarak di antara kami sangat dekat, hingga gue bisa mencium aroma maskulin parfumnya yang sangat gue hafal sejak tiga tahun lalu—aroma yang dulu selalu berhasil menenangkan gue, tapi sekarang justru membuat jantung gue berdegup kencang karena ketakutan dan hal lain yang tidak bisa gue jelaskan.
Adrian menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata gue. Tatapan matanya yang tadi penuh kemarahan, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat kompleks. Ada rasa frustrasi, kepemilikan, dan... cemburu?
"Temenan, kamu bilang?" bisik Adrian, suaranya terdengar serak dan berbahaya.
"I-iya, cuma temenan..." jawab gue, mendadak kehilangan keberanian saat melihat matanya yang begitu dekat.
"Saya tidak suka melihat kamu dekat-dekat dengan dia, Aruna," kata Adrian lambat-lambat, setiap katanya terdengar sangat posesif.
Gue mengerutkan kening, mencoba mencerna ucapannya. "Kenapa? Apa peduli Bapak? Bapak kan cuma bos saya di kantor ini!"
Adrian tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat berbahaya sekaligus menawan. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi, hingga gue bisa merasakan embusan napas hangatnya di dahi gue.
"Memang. Di kantor ini, saya bos kamu," bisik Adrian tepat di depan wajah gue, membuat bulu kuduk gue merinding seketika. "Tapi kamu lupa satu hal, Aruna. Di luar kantor ini, kamu adalah perempuan yang pernah menjadi milik saya. Dan saya sangat tidak suka jika ada pria lain yang mencoba menyentuh apa yang pernah menjadi milik saya."
Gue mematung seketika. Jantung gue serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan blak-blakan dari bibirnya.
Sinyal cemburu itu... akhirnya teredam dengan sangat jelas dan tidak bisa dibantah lagi. Adrian, bos diktator gue sekaligus mantan pacar yang dulu mencampakkan gue, ternyata sedang cemburu setengah mati.
Lanjutkan Membaca Bab 4 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!