BAB 5: Hujan, Listrik Padam, dan Sisa Kenangan
Syuuuut... JDUARRR!
Suara petir yang menggelegar sukses bikin gue hampir melompat dari kursi kerja. Gue refleks memejamkan mata rapat-rapat sambil memeluk draf laporan keuangan di dada. Di luar sana, langit Jakarta kayak lagi tumpah. Air hujan menghantam kaca jendela lant** 21 kantor ini dengan brutal, menyisakan pemandangan kota yang buram ketutup kabut air.
Gue melirik jam di sudut kanan bawah layar monitor. Pukul 20.15 WIB.
Gue menghela napas berat, merutuki nasib gue malam ini. Tawaran pulang bareng Devan sore tadi terpaksa menguap begitu saja. Penyebabnya? Siapa lagi kalau bukan mantan pacar tersayang yang sekarang merangkap jadi bos diktator gue: Adrian.
Tepat jam lima sore, pas gue udah siap-siap mau *shut down* laptop dan menyambut ajakan Devan dengan suka cita, Adrian tiba-tiba keluar dari kubikel kaca besarnya. Dengan wajah lempeng tanpa berdosa, dia menaruh satu bundel tebal map kuning di meja gue.
*"Revisi laporan ini sekarang, Aruna. Saya butuh datanya rapi sebelum rapat pemegang saham besok pagi jam delapan. Jangan pulang sebelum selesai."*
Kata-katanya yang dingin dan mutlak itu sukses mengunci gue di kubikel ini sendirian. Devan sempat menawarkan buat menemani, tapi gue tolak karena gak enak. Akhirnya, di lant** ini cuma tersisa gue di kubikel luar, dan Adrian di dalam ruangannya.
"Diktator g*** kerja. Gak punya hati. Mentang-mentang jomlo, orang lain dikira gak punya kehidupan apa ya," gerutu gue pelan, melampiaskan kekesalan pada baris-baris angka di layar Excel yang mulai bikin mata gue juling.
Tiba-tiba, petir menyambar lagi. Kali ini suaranya jauh lebih dahsyat, sampai-sampai gue bisa merasakan getaran halus di lant** bawah kaki gue.
*Pet!*
Seketika itu juga, layar monitor gue mati. Lampu neon di langit-langit kantor padam seketika. AC yang tadinya mendengung halus langsung senyap.
Gue membeku. Gelap gulita langsung menelan seluruh ruangan lant** 21.
Jantung gue langsung berdegup dua kali lipat lebih cepat. Keringat dingin mulai keluar di telapak tangan gue. Dari semua ketakutan konyol di dunia ini, ketakutan terbesar gue adalah kegelapan. *Nyctophobia* gue bukan fiksi. Di dalam gelap, otak gue selalu memutar skenario-skenario paling mengerikan, mulai dari hantu sampai sesak napas karena panik.
"N-Na? Aruna?"
Samup-sayup gue mendengar suara bariton Adrian memanggil dari arah ruangannya. Tapi kepanikan udah terlanjur menguasai akal sehat gue. Napas gue mulai memburu, pendek-pendek dan terasa mencekik.
Gue mencoba berdiri, berniat mencari ponsel di dalam tas. Tapi karena panik, lutut gue malah menab**k pinggiran laci meja kerja.
"Aduh!" pekik gue kesakitan. Gue kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur ke lant** yang dingin.
Namun, sebelum tubuh gue menyentuh karpet, sepasang lengan yang kokoh dan hangat lebih dulu menangkap pinggang gue. Dalam kegelapan yang pekat, hidung gue langsung mengenali aroma ini. Wangi maskulin campuran *sandalwood* dan vanila yang mahal. Wangi yang sangat familiar. Wangi Adrian.
*JDUARRR!*
Petir menyambar lagi, menerangi ruangan selama sepersekian detik sebelum kembali gelap gulita. Ketakutan gue mencapai puncaknya. Tanpa pikir panjang, tanpa memedulikan gengsi atau status hubungan kami sekarang, gue langsung melingkarkan kedua lengan gue ke leher Adrian. Gue memeluknya erat-erat, menenggelamkan wajah gue di dada bidangnya yang dilapisi kemeja katun mahal. Tubuh gue gemetaran parah.
Adrian sempat menegang. Gue bisa merasakan dadanya naik turun dengan cepat, seolah dia juga kaget dengan serangan pelukan mendadak ini. Tapi anehnya, dia gak mendorong gue.
Satu detik... dua detik...
Perlahan, tangan hangat Adrian naik ke punggung gue. Dia menepuk-nepuk punggung gue dengan gerakan pelan dan konstan yang luar biasa menenangkan.
"Ssst... tenang, Na. Ada gue di sini. Napas pelan-pelan," bisik Adrian. Suaranya rendah, lembut, dan sama sekali gak ada nada dingin atau sinis seperti yang biasa dia pakai kalau menegur gue di kantor.
Gue mencoba mengatur napas, menghirup aroma tubuhnya yang entah kenapa selalu berhasil jadi obat penenang paling ampuh buat gue sejak dulu. Kami berdiri dalam posisi seintim itu selama beberapa menit di tengah kegelapan, hanya ditemani suara deru hujan di luar.
Setelah detak jantung gue agak normal, akal sehat gue perlahan kembali. Kesadaran bahwa gue sedang memeluk erat bos/mantan pacar gue langsung menghantam kepala gue kayak gada besi.
Gue buru-buru melepaskan pelukan gue dan melangkah mundur satu pijakan, membuat jarak di antara kami. Suasana mendadak jadi super canggung.
"S-sorry, Pak. Saya refleks. Saya beneran panik tadi," cicit gue, mendadak merasa sangat bodoh dan malu setengah mati. Untung gelap, jadi Adrian gak bisa melihat muka gue yang pasti udah merah padam kayak kepiting rebus.
Gue mendengar helaan napas halus dari Adrian. "Nggak apa-apa. Gue tahu lo fobia gelap dari dulu."
*Klik.*
Adrian menyalakan senter dari ponselnya. Cahaya putih yang c**up terang langsung membelah kegelapan di antara kami. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah, sehingga cahayanya memantul ke langit-langit dan menciptakan pendaran cahaya yang temaram namun c**up untuk membuat kami saling melihat wajah masing-masing.
"Duduk dulu, Na. Muka lo pucat banget," kata Adrian. Dia menuntun gue dengan lembut untuk duduk di sofa ruang tunggu tamu yang terletak gak jauh dari meja kerja gue.
Gue menurut tanpa protes. Energi gue rasanya habis terkuras karena serangan panik tadi. Adrian kemudian berjalan ke mejanya dan kembali membawa sebotol air mineral yang baru dibuka segelnya.
"Nih, minum dulu."
"Makasih, Pak," kata gue lirih sambil menerima botol itu.
"Na, di luar jam kantor dan kalau lagi berdua gini, bisa gak stop panggil gue 'Pak'? Berasa tua banget gue," keluh Adrian sambil ikut duduk di sofa yang sama. Jarak kami gak sampai setengah meter. Gue bahkan bisa merasakan hawa hangat tubuhnya.
Gue meneguk air putih itu sedikit, mencoba menenangkan kerongkongan gue yang kering. "Ya terus panggil apa? Mas? Lebih aneh lagi."
Adrian terkekeh pelan. Mendengar tawa itu, jantung gue mendadak melakukan lompatan kecil yang tidak sehat. Udah lama banget gue gak mendengar dia tertawa lepas kayak gitu. Biasanya yang gue dengar cuma dehaman dingin atau teguran tajam.
"Panggil nama aja kayak dulu. Kita kan seumuran, Na," sahut Adrian lirih. Matanya yang tajam kini menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan. Hangat, tapi ada setitik kerinduan di sana yang coba dia sembunyikan.
Gue memalingkan wajah, gak kuat menatap matanya terlalu lama. Takut pertahanan ego gue runtuh. "Gak profesional, Ian. Nanti kalau ada yang dengar gimana?"
"Sekarang kan gak ada siapa-siapa. Cuma ada gue, lo, sama badai di luar," balasnya tenang.
Suasana kembali hening. Hanya ada suara rintik hujan yang beradu dengan kaca jendela. Di bawah temaram cahaya senter ponsel, wajah Adrian kelihatan jauh lebih rileks. Rambutnya yang biasa ditata rapi pakai *pomade* kini agak berantakan, jatuh sedikit menutupi dahinya. Kancing teratas kemejanya sudah dibuka, dan lengan kemejanya digulung sampai siku. Sial, kenapa mantan gue malah kelihatan makin ganteng saat berantakan begini?
"Gimana kabar Ibu, Na?" tanya Adrian tiba-tiba, memecah keheningan.
Gue menoleh, agak terkejut dengan pertanyaannya. "Ibu baik. Masih suka bikin kue bolu pandan kesukaan kamu... eh, lo." Gue buru-buru meralat pangg***n 'kamu' yang hampir saja kelepasan.
Adrian tersenyum tipis. "Oh ya? Bagus deh. Ibu masih suka nanyain gue gak?"
Gue menggigit bibir bawah gue ragu. "Kadang-kadang. Ibu kan gak tahu kalau kita udah... ya gitu."
"Udah putus?" sambung Adrian, menyuarakan kalimat yang menggantung di udara dengan nada datar namun ada sedikit nada getir di dalamnya.
Gue cuma bisa mengangguk pelan sebagai jawaban.
Adrian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap langit-langit kantor yang gelap. "Gak terasa ya, udah tiga tahun berlalu. Rasanya baru kemarin kita masih jadi mahasiswa kere yang pusing mikirin revisi skripsi."
Ingatan gue langsung terlempar ke masa lalu. Masa-masa indah yang sempat sengaja gue kunci rapat-rapat di dalam laci memori terdalam gue.
"Inget gak," Adrian menoleh ke arah gue dengan binar jenaka di matanya, "pas kosan lo bocor parah pas badai kayak begini?"
Gue gak bisa menahan senyum tipis saat memori itu berputar kembali di kepala gue. "Inget bangetlah! Itu kosan paling ampas yang pernah gue sewa. Atapnya bocor di tiga titik sekaligus. Kita berdua sibuk nadahin air pakai ember sama panci."
"Terus kita berakhir mojok di sudut kamar yang gak bocor, kelaparan karena gak punya duit buat beli makanan di luar, dan cuma punya sisa satu Pop Mie cup rasa soto di lemari," lanjut Adrian sambil tertawa kecil.
"Dan parahnya, kita gak punya sendok plastik!" seru gue, mulai larut dalam nostalgia manis itu. "Akhirnya kita gantian makan pakai garpu plastik yang udah patah setengah, sambil sharing kuahnya langsung dari cup-nya. Mana kuahnya asin banget lagi karena bumbunya tumpah semua."
"Tapi rasanya enak banget kan?" Adrian menatap gue dengan tatapan yang sangat lembut. "Gue inget lo sampai nangis karena kepedesan, tapi tetep lo habisin juga kuahnya."
"Ya habisnya laper! Lagian lo juga curang, lo makan baksonya banyak banget waktu itu," tuduh gue sambil mengerucutkan bibir, refleks mengeluarkan sifat manja gue yang dulu selalu keluar kalau lagi sama dia.
"Ya maaf, kan gue cowok, butuh tenaga ekstra buat bantuin lo ngepel sisa bocoran," bela Adrian sambil tersenyum lebar.
Untuk sesaat, gue lupa kalau cowok di samping gue ini adalah bos baru gue yang super menyebalkan. Di bawah cahaya temaram ini, dia adalah Adrian yang dulu. Adrian yang hangat, yang selalu ada buat gue, yang rela basah kuyup demi membelikan obat maag buat gue, dan Adrian yang pernah gue cint** setengah mati.
"Dulu kita sesederhana itu ya, Ian," gumam gue pelan, mendadak merasa ada sesak yang merayap di dada gue. "Dulu kita gak punya uang, kosan sempit, tapi kayaknya gampang banget buat bahagia."
Adrian terdiam. Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan dalam yang seolah menguliti isi pikiran gue. Dia memajukan posisi duduknya, membuat jarak di antara kami semakin mengikis.
"Sekarang juga bisa sederhana kok, Na," bisik Adrian. Suaranya terdengar serak dan begitu dekat.
Napas gue tertahan. Gue bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menerpa pipi gue. Mata kami saling mengunci. Di dalam kegelapan yang sunyi ini, hanya ditemani gemuruh badai di luar, detak jantung gue berpacu liar. Dan kali ini, gue tahu persis, itu bukan karena gue takut gelap.
Gue menatap bibir Adrian yang perlahan bergerak mendekat ke arah gue. Pikiran gue menjerit menyuruh gue mundur, mengingatkan gue pada semua rasa sakit hati saat kami putus dulu, dan status profesional kami sekarang. Tapi tubuh gue seolah membeku, terhipnotis oleh sisa-sisa kenangan manis yang mendadak kembali terasa begitu nyata di depan mata.
Lanjutkan Membaca Bab 5 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!