BAB 6: Datangnya Si Sempurna
Sisa kehangatan dari dekapan Adrian semalam masih terasa membekas di pinggang gue.
Gue menghela napas panjang, menatap layar monitor komputer yang menampilkan barisan angka yang mulai buram di mata gue. Kejadian semalam—saat listrik padam, kepanikan gue yang konyol, dan bagaimana Adrian menangkap tubuh gue di dalam kegelapan—sukses bikin gue gak bisa tidur semalaman. Aromanya, detak jantungnya yang terasa dekat di dada gue, semuanya terasa begitu nyata sampai membuat gue *overthinking* sampai subuh.
Tapi pagi ini, begitu menapakkan kaki di kantor, semuanya kembali seperti biasa. Adrian kembali menjadi bos yang dingin, kaku, dan seolah-olah kejadian romantis di dalam kegelapan itu gak pernah terjadi. Dia bahkan cuma melewati meja kerja gue dengan gumaman datar sebagai sapaan pagi.
"Na! Aruna! Lo udah denger gosip hari ini belum?"
Suara cempreng Sasa, rekan kerja gue dari divisi kreatif, tiba-tiba memecah lamunan gue. Sasa langsung duduk di tepi meja kerja gue dengan wajah super heboh, lengkap dengan ponsel yang digenggam erat di dadanya.
"Gosip apa lambe turah kantor? Pagi-pagi udah bikin rumpi aja," sahut gue, mencoba mengalihkan rasa lelah dan kantuk yang menggelayuti kepala gue.
"Ini bukan sembarang gosip, Na! Hari ini kantor kita mau kedatangan tamu VIP. Penting banget!" bisik Sasa dengan mata melebar dramatis. "Anak dari rekan bisnis terbesarnya papanya Pak Adrian. Namanya Clarissa Adhitama. Sumpah ya, dia itu *the real* barbie hidup! Cantik, tajir melintir dari lahir, lulusan London, dan yang paling penting... dia itu calon menantu idaman ibunya Pak Adrian!"
Jantung gue mendadak kayak berhenti berdetak sesaat. "Calon menantu?" tanya gue, berusaha menjaga nada suara gue agar terdengar biasa saja, padahal ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyelinap di sudut hati.
"Iya! Gosipnya sih, nyokapnya Pak Adrian ngebet banget pengen jodohin mereka berdua. Clarissa itu levelnya beda banget sama kita-kita yang cuma remahan rengginang ini. Dia itu *high society* sejati. Makanya, satu kantor sekarang lagi heboh dandan rapi biar gak malu-maluin pas dia dateng." Sasa menepuk bahu gue. "Gue balik ke kubikel dulu ya, mau *touch up* bedak dulu. Dadah Aruna!"
Gue cuma bisa tersenyum hambar menatap kepergian Sasa. Calon menantu idaman.
Gue menunduk, menatap kemeja kerja gue yang gue beli dari promo *flash sale* e-commerce lokal, dipadu dengan celana bahan hitam standar dan flat shoes yang solnya sudah mulai menipis. Gue refleks meraba rambut gue yang cuma dijepit badai seadanya.
Tiba-tiba, rasa *insecure* yang luar biasa datang menghantam pertahanan diri gue tanpa ampun.
*Ting!*
Suara pintu lift yang terbuka di lant** 21 menarik perhatian semua orang di ruangan. Atmosfer kantor yang tadinya bising langsung sunyi senyap seketika.
Seorang perempuan melangkah keluar dari lift. Dan dalam sekali lihat, gue langsung tahu kalau dialah orangnya. Clarissa Adhitama.
Dia benar-benar definisi dari kata sempurna. Rambut cokelat gelapnya ditata *blow-out* sempurna yang berkilau setiap kali dia bergerak. Dia mengenakan *tweed blazer* berwarna pastel yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana kulot putih berpotongan elegan. Di lengannya, melingkar tas tangan Hermès berwarna senada yang harganya mungkin setara dengan gaji gue selama setahun penuh. Langkah kakinya yang anggun di atas *high heels* mahal itu menimbulkan bunyi *klak-klak* yang berwibawa di atas lant** marmer.
Aroma parfum mewah yang manis, mahal, dan memabukkan langsung menguar, memenuhi seluruh koridor lant** 21. Semua mata staf laki-laki di kantor langsung membelalak tanpa berkedip, sementara para staf perempuan menatap dengan pandangan iri sekaligus kagum.
Clarissa berjalan dengan dagu terangkat, memberikan senyum tipis yang sangat sopan namun sekaligus menegaskan batasan sosial yang jelas antara dirinya dan orang-orang di sekitar.
Langkahnya terhenti tepat di depan meja kerja gue—yang memang posisinya paling dekat dengan pintu ma**k ruang kerja Adrian.
"Permisi," suara Clarissa terdengar sangat lembut, namun ada nada memerintah yang tersirat di sana. "Adrian ada di dalam?"
Sebelum gue sempat menjawab, pintu ruangan kaca di belakang gue terbuka. Adrian melangkah keluar. Begitu matanya menangkap sosok Clarissa, ekspresi dingin yang biasanya dia tunjukkan langsung mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat jarang dia perlihatkan pada stafnya.
"Clarissa? Kamu ngapain ke sini?" tanya Adrian, suaranya terdengar jauh lebih hangat dari biasanya.
"Adri!" Clarissa langsung berseru manja. Tanpa ragu, dia melangkah mendekati Adrian dan langsung menggelayutkan tangannya di lengan Adrian dengan sangat akrab.
Gue yang berdiri tepat di samping mereka hanya bisa mematung. Dada gue mendadak terasa sesak, seperti ada batu besar yang menghimpit pernapasan gue. *Adri.* Pangg***n itu... dulu hanya gue yang boleh menggunakannya. Sekarang, nama pangg***n kesayangan itu diucapkan oleh bibir perempuan lain dengan begitu manis di depan mata kepala gue sendiri.
"Aku kan udah bilang semalam mau mampir. Tante Siska yang nyuruh, tahu," ujar Clarissa sambil mengerucutkan bibirnya dengan gaya manja yang terlihat sangat alami dan menggemaskan. "Kata Mama kamu, kamu belakangan ini sibuk banget sampai sering lupa makan siang. Makanya aku bawain kamu makan siang ini. Kita makan bareng di dalam, ya?"
Adrian melirik lengannya yang digelayuti Clarissa, namun dia sama sekali tidak melepaskannya. Dia hanya tersenyum maklum. "Kamu repot-repot banget. Ya sudah, ayo ma**k ke ruangan aku."
Sebelum mereka melangkah ma**k, Clarissa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya yang tajam dan dinilai sangat merendahkan itu jatuh ke arah gue. Dia menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang membuat gue merasa sangat kecil dan tidak berharga.
"Oh, Adri, ini staf baru kamu?" tanya Clarissa, nadanya berubah menjadi sangat datar saat berbicara tentang gue.
"Ini Aruna, asisten pribadi saya yang baru," jawab Adrian singkat. Ada jeda sesaat saat Adrian melirik ke arah gue, namun matanya sama sekali tidak menyiratkan emosi apa pun. Dingin. Seperti orang asing.
Clarissa tersenyum tipis, jenis senyuman formal yang tidak sampai ke mata. "Oh, asisten. Kebetulan banget. Tenggorokan aku agak kering setelah di jalan tadi." Clarissa membuka tas Hermès-nya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah berwarna merah baru, lalu dengan sant** meletakkannya di atas meja kerja gue, tepat di atas tumpukan dokumen yang sedang gue kerjakan.
"Bisa tolong belikan aku *Iced Matcha Latte* pakai *oatmilk*? Tolong belinya di kafe yang ada di seberang gedung ini, ya. Aku gak suka rasa matcha dari kafe bawah yang murah itu. Oh, dan tolong *less sugar*, es batu-nya dikit aja. Bisa, kan?" tanya Clarissa dengan nada yang terkesan ramah namun sebenarnya sangat meremehkan. Dia memperlakukan gue seolah-olah gue adalah pelayan pribadinya yang bisa disuruh-suruh sesuka hati.
Gue menatap uang seratus ribu di atas meja gue, lalu beralih menatap Adrian. Dada gue terasa nyeri luar biasa. Gue berharap Adrian akan bersuara. Gue berharap dia akan berkata, *"Aruna itu asisten saya untuk urusan pekerjaan kantor, bukan pelayan untuk membelikan minuman kamu."* Gue berharap ada sisa-sisa rasa peduli dari masa lalu kami yang membuat dia tidak tega melihat gue direndahkan seperti ini.
Namun, harapan gue pupus seketika.
Adrian hanya menatap gue datar. "Tolong belikan saja, Aruna. Sekalian belikan saya kopi hitam seperti biasa," ucapnya tenang tanpa beban.
Suaranya yang dingin itu bagaikan belati yang menusuk tepat di jantung gue.
Gue menelan ludah dengan susah payah, mencoba menahan rasa panas yang mulai menjalar di sekitar mata gue. Air mata ini gak boleh jatuh di sini. Gak boleh di depan perempuan sesempurna Clarissa. Gak boleh di depan Adrian yang sudah melupakan masa lalu kami.
"Baik, Pak. Permisi," jawab gue dengan suara yang sebisa mungkin gue buat tetap stabil dan profesional.
Gue mengambil uang seratus ribu itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu segera melangkah pergi dari hadapan mereka tanpa menoleh lagi. Di belakang gue, samar-samar gue mendengar suara tawa manja Clarissa yang sedang menggoda Adrian saat mereka melangkah ma**k ke dalam ruangan kerja yang mewah itu.
Gue berjalan menuju lift dengan langkah cepat, hampir setengah berlari. Begitu pintu lift tertutup dan gue benar-benar sendirian di dalam kotak besi itu, napas gue langsung memburu kencang. Gue menyandarkan punggung gue ke dinding lift, membiarkan satu tetes air mata yang sedari tadi gue tahan akhirnya lolos membasahi pipi.
Sakit banget.
Rasa sakitnya bahkan jauh lebih menyiksa daripada saat kami putus beberapa tahun lalu. Dulu, kami putus karena ego masa muda. Tapi sekarang, gue dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih brutal.
Sambil melangkah membelah teriknya jalanan Jakarta menuju kafe seberang gedung, gue tersenyum pahit pada diri gue sendiri. Betapa bodohnya gue yang sempat terbawa perasaan hanya karena dekapan Adrian semalam dalam kegelapan. Kejadian semalam itu gak berarti apa-apa bagi Adrian. Itu cuma refleks kemanusiaan biasa.
Di dunia nyata yang terang benderang seperti sekarang, perbedaannya terlihat sangat jelas. Clarissa adalah langit, sementara gue hanyalah bumi yang becek terkena air hujan. Clarissa adalah perempuan berkelas yang sangat serasi bersanding dengan Adrian sang CEO muda sukses. Sementara gue? Gue cuma masa lalu yang miskin, yang sekarang terjebak menjadi bawahan yang bahkan dengan mudah diperintah untuk membelikan minuman oleh calon tunangannya.
Jurang pemisah di antara gue dan Adrian sekarang sudah terlalu lebar. Begitu lebar hingga rasanya, bahkan untuk sekadar menatap punggungnya saja, gue sudah tidak pantas lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!