BAB 7: Malam Pesta yang Kacau
Malam ini adalah malam yang paling ingin gue hindari sepanjang sejarah hidup gue bekerja di perusahaan ini.
Gala dinner tahunan Megah Pratama Group. Sebuah acara super mewah yang diadakan di grand ballroom hotel bintang lima di kawasan SCBD. Semua jajaran direksi, pemegang saham, investor kelas kakap, sampai selebriti papan atas ibukota diundang ke sini. Dan gue? Gue terpaksa hadir bukan sebagai tamu yang bisa dandan cantik dan menikmati hidangan mahal, melainkan sebagai asisten pribadi Adrian yang punya tugas mulia: mencatat poin-poin penting kerja sama dengan calon investor asal Jepang yang kabarnya bakal tanda tangan kontrak malam ini.
Gue menatap pantulan diri gue di cermin toilet ballroom. Gaun satin warna krem pucat yang gue sewa seharga tiga ratus ribu dari rental *online* terpasang pas di tubuh gue. Modelnya simpel banget, cuma gaun *sabrina-cut* polos dengan potongan lurus sampai ke mata kaki. Gak ada payet berkilau, gak ada jahitan desainer terkenal. Tapi buat ukuran kantong asisten pribadi pas-pasan kayak gue, ini sudah usaha maksimal biar gak kelihatan jomplang banget di antara orang-orang kaya itu.
"Aduh, Na. Semoga lo gak merusak pemandangan di dalem," gumam gue pada diri sendiri, sambil merapikan sisa-sisa bedak dan memoleskan lipstik nude andalan gue sekali lagi.
Begitu melangkahkan kaki keluar dari toilet dan ma**k ke area utama ballroom, gue langsung disambut oleh kemegahan yang bikin mata silau. Lampu gantung kristal berukuran raksasa menggantung megah di langit-langit, memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Alunan musik orkestra terdengar lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan tawa berkelas dari para tamu undangan yang lalu lalang dengan pakaian super glamor.
Gue mengedarkan pandangan, mencari keberadaan bos gueβyang sayangnya juga berstatus mantan pacar gue.
Gak butuh waktu lama untuk menemukan Adrian. Cowok itu berdiri di dekat panggung utama, dikelilingi oleh beberapa pria paruh baya berjas mahal. Malam ini, Adrian kelihatan... sangat tampan sampai-sampai rasanya ilegal. Dia memakai setelan tuksedo hitam dengan potongan pas badan yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh di dahinya. Aura kepemimpinannya menguar kuat, bikin semua orang segan sekaligus terpesona.
Tapi pandangan gue gak bertahan lama di wajah Adrian, karena tepat di sebelahnya, berdiri sosok yang paling gue hindari sejak siang tadi.
Clarissa Adhitama.
Perempuan itu memakai gaun malam berwarna merah menyala dengan potongan *backless* yang memamerkan punggung mulusnya. Rambut panjangnya ditata *wavy* elegan, dan satu set perhiasan berlian berkilau di leher dan telinganya. Dia kelihatan sangat serasi berdiri di samping Adrian, seolah mereka berdua memang diciptakan untuk berada di dunia yang sama. Di dekat mereka, ada seorang wanita paruh baya bersanggul tinggi dengan tatapan angkuh yang langsung gue kenali sebagai Bu Diana, mamanya Adrian.
Gue menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan rasa perih yang tiba-tiba menyelinap di dada gue. Gue di sini untuk bekerja. Cuma bekerja.
"Aruna."
Gue tersentak saat mendengar suara bariton yang sangat gue kenal itu. Adrian tahu-tahu sudah berdiri beberapa langkah di depan gue, meninggalkan obrolannya sejenak.
"I-iya, Pak?" jawab gue agak gagup. Jantung gue mendadak melakukan maraton tanpa izin. Kenapa sih efek cowok ini masih sekuat ini meskipun kita sudah putus bertahun-tahun lalu?
Adrian menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapannya sempat tertahan selama beberapa detik di pundak gue yang terekspos karena model gaun sabrina ini, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke mata gue dengan ekspresi datar andalannya.
"Tablet dan buku catatan kamu sudah siap?" tanyanya formal.
"Sudah, Pak. Semua draf kerja sama dan poin-poin yang perlu dibahas dengan perwakilan dari Tokyo Corp sudah saya simpan di tablet. Saya juga bawa buku catatan manual buat cadangan," jawab gue seprofesional mungkin.
"Bagus. Standby di dekat saya setelah acara sambutan selesai. Pak Takahashi bakal langsung menuju meja VIP kita," instruksinya singkat.
Sebelum gue sempat mengangguk, sebuah tangan dengan kuku-kuku cantik ber-manicure merah langsung bergelayut manja di lengan Adrian. Clarissa muncul dengan senyum manis yang dipaksakan di bibirnya.
"Adrian, sayang... kok kamu malah di sini sih? Tante Diana nyariin kamu tuh di dekat meja depan. Katanya mau dikenalin sama kolega dari Singapura," ucap Clarissa dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan. Matanya lalu melirik gue dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Oh, ini asisten pribadi kamu yang baru itu ya? Siapa namanya? Arina?"
"Aruna, Mbak," koreksi gue ramah, mencoba menjaga sopan santun demi profesionalitas kerja.
"Ah, iya, Aruna. Lain kali kalau ke acara resmi perusahaan besar kayak gini, usahain pakai gaun yang agak pantas ya. Kasihan Adrian, nanti dikira gak nggaji asisten pribadinya dengan layak sampai harus pakai baju murah begitu," kata Clarissa dengan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.
Dada gue langsung terasa sesak. Kata-kata Clarissa langsung menancap tepat di rasa *insecure* gue yang paling dalam. Gue refleks memeluk tablet kerja gue erat-erat ke dada, mencoba menutupi gaun sewaan gue yang mendadak terasa seperti kain lusuh di mata semua orang.
Adrian mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Clarissa. Aruna berpakaian sangat sopan dan profesional. Dan dia di sini untuk bekerja, bukan untuk menghadiri peragaan busana."
Mendengar pembelaan Adrian yang bernada dingin itu, senyum di wajah Clarissa langsung lenyap sesaat sebelum dia merengut manja. "Ih, Adrian... aku kan cuma kasih saran. Kok kamu malah bela dia sih?"
"Saya tidak membela siapa pun. Saya hanya bicara fakta," sahut Adrian datar. "Mari ke meja depan."
Adrian berjalan mendahului, diikuti Clarissa yang sempat melemparkan tatapan tajam dan penuh permusuhan ke arah gue sebelum dia menyusul langkah Adrian. Gue cuma bisa menghela napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai mendesak di sudut mata gue. *Sabar, Aruna. Demi gaji, demi cicilan,* bisik gue dalam hati.
Waktu terus berjalan. Acara gala dinner berlangsung dengan sangat meriah. Gue sibuk berdiri beberapa meter di belakang Adrian, dengan sigap mencatat setiap poin pembicaraan bisnis antara Adrian, mamanya, dan beberapa investor penting. Clarissa gak pernah lepas dari sisi Adrian, terus-terusan bergelayut di lengannya dan sesekali melemparkan pandangan kemenangan ke arah gue seolah ingin menegaskan kalau Adrian adalah miliknya.
Hingga akhirnya, bencana itu terjadi di pertengahan acara.
Saat suasana ballroom mulai agak sant** karena sesi ramah tamah, gue memutuskan untuk bergeser sedikit ke sudut ruangan dekat meja buffet, berniat mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokan gue yang mulai kering. Kaki gue juga sudah mulai terasa kebas karena memakai sepatu hak tinggi murah yang solnya keras.
Tiba-tiba, gue merasakan kehadiran seseorang di dekat gue. Begitu gue menoleh, Clarissa sudah berdiri sangat dekat dengan segelas anggur merah (*red wine*) di tangannya. Senyum licik terukir jelas di bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyala.
Gue langsung dilingkupi firasat buruk. Gue berniat melangkah mundur untuk menghindar, tapi sebelum gue sempat menggerakkan kaki gue, Clarissa sengaja mempercepat langkahnya tepat saat seorang pelayan pembawa nampan minuman lewat di antara kami.
*B**k!*
"Ups!" pekik Clarissa dengan nada dramatis yang sengaja dikeraskan.
Tubuh Clarissa sengaja menyenggol bahu pelayan itu dengan keras. Pelayan yang terkejut itu kehilangan keseimbangan, membuat nampan yang dibawanya miring seketika. Dua gelas penuh berisi cairan anggur merah pekat melayang di udara dan...
*BYUR!*
Cairan merah pekat, lengket, dan dingin itu sukses mendarat tepat di bagian depan gaun krem pucat yang gue pakai. Dari bagian dada hingga menjalar ke bagian bawah gaun gue, semuanya langsung berubah warna menjadi merah keunguan yang kotor, basah, dan sangat berantakan.
Suasana di sekitar meja buffet langsung hening seketika. Beberapa tamu yang berada di dekat kami langsung menghentikan obrolan mereka dan menoleh ke arah gue.
"Oh my god! Maaf banget, ya! Aku gak sengaja!" seru Clarissa dengan wajah panik yang dibuat-buat, meskipun matanya berkilat puas penuh kemenangan. "Pelayan ini jalannya gak hati-hati banget sih! Duh, lihat deh, gaun kamu jadi kotor dan menjijikkan begitu, Aruna."
"Maaf, Mbak... maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Tadi ada yang menyenggol saya," pelayan pria itu gemetaran setengah mati, wajahnya pucat karena takut dipecat.
"Gak... gak apa-apa, Mas. Bukan salah kamu," bisik gue lirih. Dada gue rasanya sesak luar biasa, seperti dihantam batu besar.
Semua mata di dalam ballroom sekarang tertuju ke arah gue. Bisikan-bisikan mulai terdengar di mana-mana. Tatapan kasihan yang merendahkan dari para tamu undangan membuat gue merasa sangat kecil. Beberapa teman sosialita Clarissa yang berdiri gak jauh dari situ bahkan terang-terangan menertawakan gue sambil berbisik di balik kipas mereka.
Gue berdiri kaku di tengah ruangan, dengan gaun sewaan yang basah kuyup oleh alkohol merah, menetes ke lant** marmer yang bersih. Air mata gue yang sejak tadi gue tahan akhirnya luruh juga, mengalir membasahi pipi gue. Gue merasa kayak badut yang sengaja dipajang untuk ditertawakan semua orang kaya di sini. Gue pengen menghilang saat itu juga. Gaun ini... gaun sewaan yang harus gue ganti rugi dengan uang yang bahkan gak gue punya saat ini. Dan sekarang, harga diri gue juga ikut hancur total di lant** ini.
"Ada keributan apa ini?"
Sebuah suara dingin, berat, dan penuh penekanan memecah kerumunan orang yang sedang menonton gue.
Adrian melangkah ma**k ke tengah lingkaran. Di belakangnya, Bu Diana mengekor dengan ekspresi wajah yang sangat kesal karena merasa acaranya diganggu oleh keributan konyol.
"Ini lho, Adrian... pelayannya ceroboh banget. Kasihan asisten kamu, bajunya jadi sekotor itu," kata Clarissa dengan nada manja tanpa dosa, langsung mendekat ke arah Adrian seolah dia adalah korban di sini. "Kayaknya dia harus segera disuruh pulang deh. Bikin risih yang lihat, mengotori pemandangan di acara sekelas ini."
Bu Diana ikut menimpali dengan nada dingin tanpa simpati sedikit pun, "Adrian, suruh asisten kamu itu keluar lewat pintu belakang sekarang juga. Malu-maluin kalau dilihat kolega penting kita yang lain. Berantakan begitu."
Gue menunduk sedalam-dalamnya, menyembunyikan wajah gue yang sudah basah oleh air mata di balik rambut gue yang terurai. Gue memeluk tablet kerja gue erat-erat, bersiap untuk berbalik dan lari sekencang mungkin dari tempat laknat ini. Gue gak tahan lagi. Gue mau pulang.
Tapi, tepat sebelum gue sempat melangkah pergi, sebuah kehangatan yang sangat akrab tiba-tiba menyelimuti bahu gue.
Aroma parfum maskulin yang sangat gue kenalβcampuran kayu cendana dan mint yang segarβlangsung menyeruak ma**k ke indra penciuman gue. Kehangatan itu menjalar dengan cepat, menghalau rasa dingin dari cairan anggur merah yang meresap ke kulit gue.
Gue mendongak dengan mata basah yang kabur oleh air mata.
Adrian sudah berdiri tepat di depan gue. Dia baru saja melepas jas tuksedo hitamnya yang berharga puluhan juta, dan sekarang, jas hangat itu sudah tersampir rapi di bahu gue, menutupi seluruh noda merah besar yang mengotori dada dan gaun gue. Adrian kini hanya mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung kasar sampai ke siku.
Semua orang di ballroom itu tersentak kaget. Suara bisikan instan lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Clarissa membelalakkan matanya lebar-lebar dengan mulut sedikit terbuka karena syok, sementara Bu Diana langsung memegang dadanya, wajahnya memerah menahan amarah yang luar biasa.
"Adrian! Apa-apaan kamu?!" seru Bu Diana dengan nada berbisik namun tajam. "Kenapa kamu malah memakaikan jas kamu ke asisten itu?! Kamu mempermalukan keluarga kita di depan semua orang!"
Adrian sama sekali gak memedulikan ucapan mamanya. Dia bahkan gak melirik Clarissa yang berdiri kaku di sampingnya dengan wajah yang mulai pucat karena malu. Pandangan Adrian sepenuhnya terkunci pada gue. Tatapannya yang biasanya dingin dan kaku, kini melembut dengan binar kemarahan yang tertahanβkemarahan yang gue tahu bukan ditujukan untuk gue.
"Kamu gak apa-apa, Na?" tanyanya lembut. Sangat lembut, sampai-sampai tangis gue hampir pecah lagi karena gak kuat menahan debaran aneh di dada gue. Dia memanggil gue dengan nama kecil gue, pangg***n kesayangan saat kami masih pacaran dulu.
Gue cuma bisa menggeleng lemah dengan bibir bergetar, gak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun karena tenggorokan gue terasa tersumbat oleh tangisan.
Tanpa ragu sedikit pun di hadapan ratusan pasang mata yang menonton, Adrian meraih tangan gue. Genggamannya erat, hangat, dan sangat protektif. Dia menarik gue dengan lembut untuk berdiri di sampingnya.
"Adrian! Kita ada pertemuan penting dengan Pak Takahashi lima menit lagi! Kamu mau ke mana?!" teriak Bu Diana, akhirnya kehilangan kesabarannya dan melangkah maju untuk menahan anaknya.
Adrian menghentikan langkahnya sejenak. Dia berbalik, menatap mamanya dan Clarissa dengan tatapan mata yang sangat dingin, sedingin es kutub utara.
"Batalkan semua pertemuan malam ini, Ma. Saya harus mengantar asisten pribadi saya pulang," ucap Adrian dengan suara lantang dan tegas, bergema di seluruh sudut ruangan yang sunyi itu. "Bagi saya, kenyamanan dan keselamatan tim kerja saya jauh lebih penting daripada sekadar basa-basi bisnis yang bisa ditunda besok pagi."
Setelah mengatakan kalimat sarkas dan telak itu, tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari siapa pun, Adrian langsung menarik tangan gue, membawa gue berjalan keluar dari ballroom.
Gue melangkah di sampingnya, dengan jas hitam mahalnya yang membungkus erat tubuh gue, menembus kerumunan tamu VIP yang menatap kami dengan berbagai ekspresi syok. Di belakang kami, Clarissa berdiri mematung dengan wajah merah padam karena malu dan cemburu setengah mati, sementara Bu Diana cuma bisa memanggil nama anaknya dengan sia-sia di tengah kepungan rasa malu.
Gue menunduk, membiarkan Adrian menuntun langkah gue membelah lorong hotel yang mewah menuju area parkir. Genggaman tangannya yang hangat di jemari gue terasa begitu nyata, membuat seluruh rasa malu, takut, dan terhina yang gue rasakan beberapa menit lalu perlahan-lahan menguap tanpa sisa.
Di bawah lampu-lampu kristal yang megah, di hadapan semua orang penting yang menganggap gue gak layak berada di sana, mantan pacar yang sekarang jadi bos baru gue itu baru saja mempertaruhkan reputasinya demi menyelamatkan gue. Dan detik itu juga, gue tahu, pertahanan hati yang selama ini susah payah gue bangun untuk melupakan dia, telah runtuh sepenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!