BAB 8: Pecahnya Pertahanan
Kepala gue rasanya mau pecah waktu alarm ponsel berbunyi nyaring jam enam pagi. Setelah kejadian kacau di gala dinner semalam, gue cuma bisa tidur kurang dari tiga jam. Mata gue bengkak, badan gue pegal-pegal karena semalaman tegang, dan yang paling parah, hati gue rasanya bener-bener gak tenang. Ada firasat buruk yang terus-menerus menggelitik dada gue sejak gue melangkah keluar dari gerbang kosan.
Dan benar saja, firasat gue gak pernah salah.
Begitu gue menapakkan kaki di lobi kantor Megah Pratama Group, atmosfer di sekitar gue mendadak berubah. Beberapa staf resepsionis yang biasanya menyapa gue dengan senyuman ramah, pagi ini langsung memalingkan muka sambil berbisik-bisik.
Gue mencoba berpikir positif. Mungkin mereka cuma lagi bahas drakor terbaru atau gosip selebriti. Tapi begitu gue ma**k ke dalam lift, kecurigaan gue makin terbukti. Dua orang staf dari divisi marketing yang berdiri di belakang gue langsung bungkam begitu melihat kehadiran gue. Melalui pantulan dinding lift yang meng***p, gue bisa melihat mereka saling melempar lirikan sinis dan senyum meremehkan.
"Pagi, Na," sapa salah satu dari mereka, nadanya terdengar sangat dibuat-buat.
"Pagi," jawab gue sesingkat mungkin, mencoba tetap sopan sambil menatap lurus ke pintu lift yang rasanya lambat banget bergerak naik.
Begitu pintu lift terbuka di lant** divisi gue, gue langsung berjalan cepat menuju pantry untuk membuat kopi hangat. Gue butuh kafein dosis tinggi buat menghadapi hari yang kayaknya bakal luar biasa berat ini. Namun, langkah gue terhenti tepat di depan pintu pantry yang sedikit terbuka.
Suara tawa centil dan obrolan berbisik terdengar jelas dari dalam.
"Sumpah, lo harus lihat foto yang beredar di grup sebelah. Si Aruna semalam dandanannya maksa banget! Pakai gaun murah sewaan yang warnanya dekil gitu, terus mepet-mepet ke Pak Adrian sepanjang acara."
"Ih, serius? Gak tahu diri banget ya. Padahal semalam itu ada Bu Clarissa, calon tunangannya Pak Adrian. Mana ibunya Pak Adrian juga hadir lagi."
"Namanya juga usaha, Say. Mumpung dapet posisi jadi asisten pribadi, ya dimanfaatinlah buat tebar pesona. Siapa tahu kan bisa naik kasta dari staf biasa jadi nyonya muda. Modal tampang melas doang mah gampang."
"Gatel banget sih g***. Gak tahu malu apa ya, levelnya tuh beda jauh!"
Gelas mug yang gue pegang rasanya hampir lepas dari genggaman. Jantung gue berdegup kencang, rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Dada gue sesak luar biasa. Ingin rasanya gue mendob**k pintu itu dan meneriaki mereka, menjelaskan bahwa gue di sana murni karena tuntutan pekerjaan, bukan karena gue gatel atau pengin menggoda Adrian!
Tapi gue menahan diri. Gue menarik napas dalam-dalam, meremas jemari gue sendiri sampai memutih, lalu berbalik arah tanpa jadi membuat kopi. Gue gak boleh kelihatan lemah di depan mereka. Gue harus profesional.
Gue kembali ke kubikel kerja gue dengan kepala tertunduk. Gue menyalakan laptop dan mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan laporan jadwal kerja Adrian yang harus gue rapihin hari ini. Gue pakai *earphone* dan menyalakan musik dengan volume keras, berusaha menyumbat semua kebisingan dan tatapan-tatapan menghakimi dari rekan kerja di sekitar kubikel gue.
Dua jam berlalu dengan ketegangan yang makin memuncak. Sampai akhirnya, sekitar jam sebelas siang, keheningan yang aneh tiba-tiba melanda area lant** kantor gue.
Gue yang sedang fokus mengetik mendadak merasa atmosfer di sekitar gue membeku. Musik di *earphone* gue masih menyala, tapi gue bisa merasakan keheningan yang mencekam itu. Gue melepaskan sebelah *earphone* gue dan mendongak.
Semua orang di ruangan itu sedang berdiri, menatap ke arah satu titik dengan wajah tegang bercampur penasaran.
Gue mengikuti arah pandang mereka, dan seketika itu juga, darah gue rasanya berhenti mengalir.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster brokat desainer super mewah berwarna navy, kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya, dan tas Hermes merah menyala di lengannya sedang berjalan anggun membelah koridor kantor. Langkah kakinya yang diiringi bunyi ketukan sepatu hak tinggi terdengar sangat mengintimidasi.
Bu Diana. Mamanya Adrian.
Dia tidak berjalan menuju ruangan CEO tempat anaknya berada. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh ruangan, sampai akhirnya mata itu terkunci tepat pada diri gue yang duduk di kubikel pojok.
Bu Diana berjalan lurus ke arah kubikel gue. Setiap langkahnya membuat jantung gue serasa mau copot. Rekan-rekan kerja di sekitar gue langsung pura-pura sibuk, tapi gue tahu semua telinga dan mata mereka sekarang tertuju penuh ke arah kami.
Gue langsung berdiri dari kursi, mencoba mengulas senyum paling sopan yang gue punya meski seluruh tubuh gue sudah gemetaran parah.
"Selamat siang, Ibu Diana. Ada yang bisa saya bantu? Jika Ibu ingin menemui Pak Adrian, ruangan beliau ada di—"
"Saya ke sini bukan untuk menemui anak saya," potong Bu Diana dengan suara yang sengaja dikeraskan, c**up untuk membuat semua orang di lant** itu mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya yang terpoles lipstik merah tua. "Saya ke sini khusus untuk menemui kamu. Perempuan tidak tahu diri."
Kata-kata itu bagaikan tamparan keras di wajah gue. Wajah gue langsung terasa panas, dan gue bisa merasakan puluhan pasang mata kini menatap gue dengan berbagai ekspresi—sebagian besar puas melihat gue dipermalukan.
"Maaf, Ibu... maksudnya bagaimana ya?" tanya gue, berusaha menjaga suara gue agar tidak bergetar, meskipun pertahanan gue sudah mulai retak.
Bu Diana mendengus remeh. Dia melangkah selangkah lebih dekat, menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan penuh jijik, seolah-olah gue adalah seonggok sampah yang mengotori lant** marmernya yang bersih.
"Jangan pura-pura bodoh, Aruna," desis Bu Diana tajam. "Saya sudah tahu semuanya. Saya sudah dengar apa saja yang kamu lakukan di belakang saya. Kamu pikir setelah kamu membuat anak saya menderita dulu, sekarang kamu bisa dengan mudah ma**k lagi ke kehidupannya? Menjabat sebagai asisten pribadinya agar bisa tebar pesona setiap hari?"
"Ibu, demi Allah, saya bekerja di sini secara profesional—"
"Profesional?" Bu Diana tertawa sinis, suara tawanya terdengar sangat meremehkan. "Profesional macam apa yang datang ke pesta formal dengan gaun sewaan murahan seharga beberapa ratus ribu, lalu mencoba menarik perhatian anak saya di depan calon tunangannya? Kamu itu tidak lebih dari parasit yang sedang mencoba peruntungan untuk naik kelas sosial!"
Air mata gue mulai menggenang di pelupuk mata. Gue mencengkeram pinggiran meja kerja gue erat-erat demi menjaga tubuh gue agar tidak ambruk. "Ibu boleh menilai pekerjaan saya, tapi tolong jangan rendahkan harga diri saya seperti itu."
"Harga diri?" Bu Diana menaikkan nada suaranya, matanya melebar penuh kemarahan. "Kamu punya harga diri? Perempuan dari keluarga miskin seperti kamu mana punya hal semacam itu! Saya sudah selidiki latar belakang kamu. Ibu kamu cuma penjual kue basah keliling, kan? Dan ayah kamu cuma pensiunan PNS rendahan yang uang pensiunnya bahkan gak c**up buat bayar cicilan rumah? Pantesan kelakuan anaknya murah begini. Gak tahu sopan santun, gak tahu batas diri!"
*JEDARRR!*
Rasanya ada petir yang menyambar tepat di dada gue. Dada gue sesak luar biasa sampai-sampai rasanya gue lupa cara bernapas. Ibu Diana boleh menghina gue sekasar apa pun, tapi membawa-bawa orang tua gue... menghina perjuangan ibu gue yang banting tulang jualan kue, dan ayah gue yang seumur hidupnya jujur bekerja untuk negara... itu sudah keterlaluan.
"C**up, Bu..." bisik gue dengan suara serak. Air mata pertama gue akhirnya lolos membasahi pipi. "Tolong... jangan bawa-bawa orang tua saya."
"Kenapa? Kamu malu karena kenyataannya memang begitu?" Bu Diana tersenyum puas melihat air mata gue. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue, berbisik dengan nada yang penuh ancaman mematikan. "Dengar baik-baik, Aruna. Adrian itu milik Clarissa. Mereka setara. Sedangkan kamu? Kamu itu cuma kerikil kotor yang gak sengaja nempel di sepatu anak saya. Kalau dalam minggu ini kamu gak mengundurkan diri dari kantor ini, saya sendiri yang akan memastikan hidup kamu dan keluarga miskin kamu itu hancur seancur-ancurnya di kota ini. Mengerti?!"
Setelah mengucapkan kalimat kejam itu, Bu Diana berbalik arah dan melangkah pergi dengan anggun, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas mulia menyelamatkan dunia dari hama.
Suasana kantor hening seketika. Tidak ada satu pun orang yang bersuara. Mereka semua menatap gue yang kini berdiri gemetaran dengan air mata yang mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. Tatapan mereka yang penuh kepuasan, kasihan, dan cemoohan membuat dunia di sekitar gue serasa berputar hebat.
Gue gak sanggup lagi. Pertahanan yang selama ini gue bangun kokoh-kokoh—sikap tegar gue, senyum profesional gue, kekuatan gue untuk bertahan dari dinginnya sikap Adrian—semuanya runtuh tak bersisa dalam satu detik.
Gue langsung menyambar ponsel gue dari atas meja, lalu berlari sekencang-kencangnya membelah koridor kantor. Gue gak memedulikan tatapan orang-orang. Gue bahkan gak peduli kalau gue menab**k beberapa orang di jalan. Yang ada di otak gue cuma satu: gue harus pergi dari sini. Gue harus sembunyi.
Gue melewati lift karena gue gak mau terjebak di ruang sempit bersama orang lain yang akan menatap gue dengan iba. Gue langsung mendorong pintu darurat yang berat dan ma**k ke dalam tangga darurat yang sepi dan dingin.
Begitu pintu besi itu tertutup rapat di belakang gue, lutut gue langsung lemas. Gue merosot jatuh ke lant** semen yang dingin, menenggelamkan wajah gue di antara kedua lutut, dan tangisan gue pecah seketika.
"Hiks... hiks... ya Allah..."
Gue menangis histeris. Bahu gue terguncang hebat seiring dengan isakan-isakan pilu yang menggema di lorong tangga darurat yang sunyi. Dada gue rasanya sesak luar biasa, seperti ada batu besar yang menghimpit paru-paru gue hingga gue kesulitan untuk sekadar mengambil napas.
Gue memukul-mukul dada gue sendiri, mencoba mengurangi rasa sakit yang teramat sangat di dalam sana, tapi gak berhasil. Rasa sakitnya terlalu dalam. Hinaan Bu Diana tentang orang tua gue terus berputar-putar di kepala gue bagaikan kaset rusak.
Gue teringat wajah lelah ibu gue yang setiap subuh sudah harus bangun untuk membuat adonan kue. Gue teringat wajah ayah gue yang rambutnya sudah memutih, yang selalu tersenyum bangga setiap kali gue bilang gue bekerja di perusahaan besar. Mereka mendidik gue dengan penuh kasih sayang, mengajarkan gue untuk selalu jujur dan bekerja keras. Mereka tidak pernah mendidik gue untuk jadi penggoda atau perusak hubungan orang.
"Gue salah apa...?" bisik gue di sela isak tangis yang semakin menjadi-jadi. "Kenapa takdir jahat banget sama gue...?"
Gue cuma pengin kerja tenang. Gue cuma pengin dapet uang halal buat bantu bayar utang keluarga dan bantu pengobatan ayah gue. Kenapa gue harus diperlakukan serendah ini? Kenapa masa lalu gue dengan Adrian harus terus-menerus mengejar dan menyiksa gue seperti ini?
Gue merasa perjuangan gue selama ini bener-bener sia-sia. Semua kekuatan yang gue banggakan, semua motivasi gue untuk tetap bertahan di kantor ini meski setiap hari harus berhadapan dengan mantan pacar yang sekarang jadi bos gue yang dingin... semuanya menguap. Hari ini, di tangga darurat yang dingin ini, pertahanan gue bener-bener pecah. Gue merasa sudah mencapai batas maksimal gue sebagai manusia.
Gue gak kuat lagi. Gue bener-bener gak kuat lagi berada di sini.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!