BAB 9: Surat Resign dan Kebenaran yang Terungkap
Suara dengung mesin printer di pojok ruangan terasa seperti ketukan palu hakim yang sedang mengadili sisa-sisa harga diri gue. Lembaran kertas putih berukuran A4 perlahan keluar dari mesin, menyajikan deretan kalimat formal yang sudah gue susun dengan tangan gemetar.
*Surat Pengunduran Diri.*
Dua kata di bagian atas kertas itu terlihat begitu nyata, sekaligus begitu menakutkan. Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-paru gue yang terasa menyempit sejak pagi tadi. Bayangan bisik-bisik di pantry, tatapan sinis orang lobi, dan senyum meremehkan dari rekan-rekan kerja terus berputar di kepala gue seperti kaset rusak.
Gue gak kuat lagi. Berada di dekat Adrian setiap hari sudah c**up menyiksa batin gue. Ditambah lagi dengan gosip murahan yang menuduh gue sebagai perempuan gatal penggoda bos, itu benar-benar batas akhir pertahanan gue.
Gue melipat kertas itu dengan rapi, mema**kkannya ke dalam amplop putih bersih, lalu menyegelnya. Sambil menggenggam amplop itu erat-erat hingga kertasnya sedikit kusut di bagian ujung, gue berdiri dari kubikel kerja gue. Langkah kaki gue terasa sangat berat, seperti ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kaki gue saat berjalan menuju ruangan berpintu kaca buram di ujung koridor.
Ruangan bertuliskan *Chief Executive Officer*. Ruangan Adrian.
Gue mengetuk pintu kayu jati itu tiga kali.
"Ma**k," terdengar suara berat dan dingin dari dalam.
Gue memutar kenop pintu, melangkah ma**k, dan langsung disambut oleh aroma parfum maskulin khas Adrian yang selalu sukses membuat jantung gue berdebar tidak karuan. Adrian sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas, fokus menatap layar laptop dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dia kelihatan sangat sibuk, tapi begitu menyadari kehadiran gue, dia langsung mendongak.
Adrian melepas kacamatanya, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, lalu menatap gue datar. "Ada apa, Aruna? Jadwal meeting siang ini sudah kamu siapβ"
Ucapan Adrian terhenti ketika gue melangkah maju dan meletakkan amplop putih itu tepat di tengah-tengah mejanya, menutupi tumpukan dokumen yang sedang dia periksa.
Adrian melirik amplop itu, lalu menatap gue dengan dahi berkerut. "Apa ini?"
"Surat pengunduran diri saya, Pak," jawab gue seformal mungkin, mencoba menekan getaran di suara gue sendiri.
Hening sesaat. Udara di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa membeku.
Adrian tidak langsung menyentuh amplop itu. Dia hanya menatapnya seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. Perlahan, dia mengambil amplop itu, merobek bagian atasnya dengan kasar, dan mengeluarkan kertas di dalamnya. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris tulisan di sana.
*B**k!*
Adrian menggeb**k meja dengan sangat keras hingga pulpen di dalam wadahnya bergemerincing. Gue tersentak mundur satu langkah, refleks memeluk siku gue sendiri.
"Apa-apaan ini, Aruna?!" suara Adrian meninggi, bergema di setiap sudut ruangan yang kedap suara itu. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh amarah yang tertahan. "Resign? Lo pikir perusahaan ini tempat main-main? Lo baru kerja di sini beberapa minggu, dan sekarang lo mau cabut gitu aja?!"
"Saya rasa keputusan ini adalah yang terbaik untuk semua pihak, Pak," kata gue, masih berusaha menjaga nada bicara gue tetap datar, walau dada gue rasanya mau meledak.
Adrian tertawa sumbang, sebuah tawa sinis yang membuat hati gue perih. Dia berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja kerja besar itu, dan berhenti tepat di depan gue. Jarak kami begitu dekat hingga gue bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang diselimuti kemarahan.
"Terbaik untuk semua pihak? Atau terbaik buat lo doang?" tanya Adrian dengan nada meremehkan. "Lo selalu kayak gini, ya? Setiap ada masalah, lo lari. Setiap keadaan gak sesuai sama kemauan lo, lo langsung menghilang."
Gue mengepalkan tangan erat-eratan di samping tubuh. "Ini gak ada hubungannya dengan itu, Pak Adrian yang terhormat. Ini murni karena alasan profesional."
"Profesional pantatmu!" Adrian membentak, membuat gue kembali terperanjat. "Jangan pakai tameng profesionalitas di depan gue, Aruna! Lo mau resign karena gosip sampah di luar sana, kan? Lo takut? Lo gak berani menghadapi omongan orang-orang?"
Adrian mendekatkan wajahnya, menatap gue langsung ke dalam manik mata dengan tatapan yang penuh luka sekaligus kemarahan yang mendalam. "Lo itu pengecut, Na. Sama seperti lima tahun yang lalu. Lo selalu lari dari masalah. Lo mutusin gue lewat chat satu baris, ng***ng kayak ditelan bumi, dan sekarang lo mau ngulangin hal yang sama lagi? Lo bener-bener gak punya tanggung jawab!"
Kata *pengecut* dan tuduhan *tidak bertanggung jawab* itu menghantam dada gue dengan sangat telak.
Sesuatu di dalam diri gue rasanya patah. Retakan yang selama lima tahun ini gue tambal dengan susah payah, hari ini hancur berkeping-keping tanpa sisa. Semua rasa sakit, rasa bersalah, kesepian, dan penderitaan yang gue pendam sendiri selama ini mendadak meluap ke permukaan.
"C**up, Adrian!" teriak gue, memotong kalimatnya. Air mata yang sejak tadi gue tahan akhirnya luruh membasahi pipi gue. Tubuh gue gemetar hebat.
Adrian tertegun, sepertinya tidak menyangka gue akan membalas bentakannya dengan histeris.
"Lo bilang gue pengecut?!" suara gue melengking, bergetar karena tangis yang mulai pecah. Gue memukul dada gue sendiri dengan tangan gemetar. "Lo bilang gue lari dari masalah?! Lo gak tahu apa-apa, Adrian! Lo gak tahu apa-apa tentang hidup gue!"
"Na..." Adrian mencoba menyela, nadanya sedikit melunak melihat air mata gue yang mengalir deras, tapi emosi gue sudah terlanjur membakar habis akal sehat gue.
"Lo selalu memandang gue sebagai penjahat di sini! Lo pikir gue egois? Lo pikir gue seneng ninggalin lo lima tahun lalu?!" tangis gue pecah, air mata mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi. Dada gue naik turun, sesak luar biasa sampai rasanya gue kesulitan bernapas. "Gue gak punya pilihan, Adrian! Gue gak punya pilihan!"
"Maksud lo apa?" tanya Adrian, matanya melebar, kebingungan mulai menggantikan kemarahannya.
"Lima tahun lalu..." Gue terbata-bata di sela sesenggukan gue, mencoba menyusun kata-kata dari rahasia paling kelam yang selama ini gue simpan rapat di dasar hati. "Lima tahun lalu, nyokap lo nemuin gue di kosan."
Adrian membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku mendengar kalimat pertama gue.
"Beliau datang bawa cek, bawa semua kenyataan pahit yang harus gue telan bulat-bulat," lanjut gue dengan suara serak, air mata terus berjatuhan. "Nyokap lo bilang gue gak pantes buat lo. Gue cuma cewek miskin yang bakal jadi beban buat masa depan lo yang cerah. Beliau minta gue pergi, jauh-jauh dari hidup lo."
"Gak... gak mungkin..." gumam Adrian, wajahnya mendadak pucat pasi. "Nyokap gue gak mungkin melakukan itu."
"Lo mau tahu kenapa gue akhirnya setuju dan pergi?" Gue menatap Adrian dengan pandangan yang mengabur karena air mata. "Karena di saat yang bersamaan, bokap gue sekarat di rumah sakit, Adrian! Beliau kena kanker otak stadium lanjut dan harus segera dioperasi hari itu juga. Biayanya ratusan juta, dan gue gak punya uang sepeser pun! Gue udah keliling cari pinjaman ke sana-kemari tapi gak ada yang mau bantu."
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan isak tangis gue yang semakin menjadi-jadi.
"Nyokap lo tahu tentang kondisi bokap gue. Beliau nawarin uang pinjaman yang sangat besar untuk biaya operasi bokap gue, tapi dengan satu syarat mutlak..." Gue memejamkan mata, mengingat kembali momen paling menghancurkan dalam hidup gue itu. "Gue harus putusin lo, hilang dari hidup lo, dan jangan pernah muncul lagi di depan lo."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya ada suara tangis sesenggukan gue yang memecah keheningan.
Adrian menatap gue dengan tatapan tidak percaya. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Matanya bergetar hebat, memancarkan keterkejutan yang luar biasa.
"Gue harus milih, Adrian," bisik gue dengan suara yang nyaris habis. "Gue harus milih antara ego gue untuk tetep pacaran sama lo, atau nyawa bokap gue yang di ujung tanduk. Menurut lo, sebagai anak, apa yang harus gue pilih?! Apa gue harus biarin bokap gue meninggal demi cinta kita yang bahkan saat itu belum tentu punya masa depan?!"
Gue menghapus air mata di pipi gue dengan kasar, meskipun air mata baru langsung kembali mengalir.
"Gue jual harga diri gue ke nyokap lo. Gue terima uang itu demi bokap gue. Tapi takdir emang sebercanda itu, Adrian..." Gue tertawa miris di sela tangis. "Dua bulan setelah operasi, bokap gue tetep meninggal. Gue kehilangan bokap gue, gue kehilangan lo, dan gue harus hidup dalam rasa bersalah serta utang ratusan juta yang harus gue cicil ke keluarga lo selama bertahun-tahun ini."
Gue menatap Adrian yang kini berdiri mematung seperti patung lilin. Matanya mulai berkaca-kaca, merah menahan emosi yang bercampur aduk. Tangannya yang tergantung di sisi tubuhnya tampak gemetar.
"Jadi sekarang, silakan sebut gue pengecut sepuas lo," kata gue dengan nada yang melemah, sisa-sisa tenaga gue rasanya sudah habis terkuras. "Gue resign bukan karena gue takut sama gosip kantor. Gue resign karena gue udah gak sanggup lagi pura-pura kuat di depan lo. Setiap kali gue lihat wajah lo, gue selalu diingatkan sama hari di mana gue harus menukar cinta kita dengan uang perawatan bokap gue."
Gue melangkah mundur, menjauh dari Adrian yang masih terdiam seribu bahasa, shock dengan seluruh kebenaran yang baru saja menghantamnya seperti palu godam.
"Gue gak butuh tanda tangan lo lagi di surat itu," ucap gue sambil berbalik menuju pintu. "Tolak aja sesuka lo. Tapi mulai besok, gue gak akan pernah menginjakkan kaki di kantor ini lagi."
Dengan sisa tenaga yang gue miliki, gue membuka pintu ruangan Adrian, mengabaikan tatapan beberapa karyawan yang sempat mencuri pandang ke arah dalam, lalu berjalan cepat meninggalkan area kantor tanpa menoleh ke belakang lagi. Di belakang gue, di dalam ruangan itu, gue tahu gue telah meninggalkan Adrian bersama dengan kebenaran yang hancur dan membakar habis semua kesalahpahaman di antara kami selama lima tahun ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!