Gemuruh guntur menyapa lembah sedalam dua ratus meter itu, menyatu dengan deru angin kencang yang mengoyak kabut tipis di lereng bukit. Di ujung tebing yang curam, Kirana Larasati berdiri tegak bagaikan sebuah patung lilin yang enggan mencair. Helm keselamatan kuningnya basah kuyup tertimpa rintik hujan yang mulai turun satu-satu. Di jemarinya yang terbalut sarung tangan kulit kasar, selembar cetak biru proyek jembatan gantung bergetar hebat ditiup angin barat, namun cengkeramannya tak sedikit pun mengendur. Bagi Kirana, menyerah pada alam sama saja dengan menyerahkan harga dirinya.
"Kencangkan sling baja di sektor barat! Sekarang, sebelum debit air sungai di bawah naik!" suara Kirana melengking tegas melalui radio genggam, membelah kebisingan mesin ekskavator yang menderu di kejauhan.
Di bawah sana, puluhan pekerja pria bergerak cepat mengikuti komandonya tanpa ragu. Mereka menjulukinya 'Wanita Baja'—sebuah pangg***n yang disematkan dengan rasa hormat sekaligus ketakutan. Kirana menerima julukan itu sebagai lencana kehormatan. Sejak pengkhianatan terbesar dalam hidupnya lima tahun lalu, ia telah bersumpah untuk tidak pernah membiarkan air mata jatuh di depan orang lain. Baginya, kelembutan adalah celah fatal yang bisa menghancurkan segalanya.
Namun sore itu, takdir mengirimkan sesuatu yang tidak ada dalam rencana anggarannya.
Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat di atas papan titian darurat yang licin. Kirana menoleh cepat, siap menyemburkan teguran keras pada siapa saja yang berani melanggar protokol keselamatan di areanya. Namun, kata-kata kemarahan itu mendadak tersangkut di tenggorokannya.
Seorang pria berdiri di sana. Jaket gunungnya yang berwarna hijau gelap basah oleh gerimis, dan beberapa helai rambut hitamnya menempel di dahi. Ia tidak mengenakan helm dengan benar, melainkan menjinjingnya dengan sant**. Yang membuat Kirana terpaku adalah sepasang mata cokelat hangat milik pria itu. Tatapan yang begitu teduh, kontras dengan badai yang sedang mengamuk di sekeliling mereka.
"Anda melanggar batas aman, Pak Aris," ujar Kirana dingin, berusaha keras mengembalikan nada suaranya yang berwibawa.
Aris Dewangga, sang arsitek lanskap yang baru tiba dari Jakarta dua hari lalu, tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa begitu asing sekaligus menenangkan di tengah kekacauan proyek. "Saya tahu, Ibu Pengawas yang Terhormat. Namun, jika Anda terus menarik kabel sling barat sekencang itu dalam kondisi tanah jenuh air seperti sekarang, tebing penyangga di bawah kita akan mengalami penurunan mikro. Dan saya tidak ingin melihat mahakarya Anda runtuh sebelum dinikmati."
Kirana mengernyitkan dahi, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpisah satu meter. Bau tanah basah dan aroma pinus yang menguar dari tubuh Aris mendadak mengacaukan konsentrasinya. "Saya sudah memperhitungkan beban strukturalnya, Pak Aris. Saya tidak butuh kuliah ekologi di tengah badai."
"Ini bukan sekadar kalkulasi angka di atas kertas, Kirana," suara Aris melembut, melangkah satu tapak lebih dekat hingga Kirana dapat melihat pantulan dirinya di manik mata pria itu. "Ini tentang mendengarkan bumi. Kadang, untuk mempertahankan sesuatu agar tetap tegak, kita tidak perlu menariknya terlalu keras. Kita hanya perlu memberinya ruang untuk bernapas. Sama seperti manusia."
Kata-kata itu menghantam dada Kirana dengan telak, lebih keras daripada hantaman palu pemancang pasak bumi. Ada sesuatu dalam nada bicara Aris yang terasa begitu personal, seolah pria itu sedang membicarakan luka yang selama ini Kirana sembunyikan rapat-rapat di balik seragam proyeknya yang kotor.
Kirana memalingkan wajah, memandang ke arah jurang yang gelap di bawah mereka. Detak jantungnya bertalu tidak keruan, bukan karena takut pada ketinggian, melainkan karena kehadiran Aris yang tiba-tiba terasa begitu mengintimidasi pertahanan batinnya. "Saya tidak punya waktu untuk metafora sentimental Anda," bisik Kirana, suaranya sedikit bergetar, menyatu dengan desau angin malam.
Hujan kini turun sepenuhnya, menderas membasahi bumi. Di tengah dingin yang menusuk tulang, Kirana merasakan sebuah kehangatan lembut menyelimuti bahunya. Ia terkesiap saat menyadari Aris telah melepaskan jaket luarnya yang kering dan menyampirkannya ke tubuh Kirana.
"Ketangguhan tidak berarti Anda harus kedinginan sendirian, Kirana," bisik Aris tepat di samping telinganya, sebelum berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan area proyek.
Kirana berdiri mematung di bawah guyuran hujan, memegangi ujung jaket hangat yang kini melindunginya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang wanita perkasa itu merasakan dinding batu di hatinya retak, menyisakan getaran asing yang disebut kerinduan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!