Melodi Baja di Balik Kabut

Bab 2: Bab 2: Hangat di Balik Dingin Beton

Pengaturan Membaca

Sisa badai semalam menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, menyelinap di antara celah-celah dinding seng kabin darurat yang menjadi kantor sekaligus rumah bagi Kirana selama di Flores. Di atas meja kerja kayu yang dipenuhi tumpukan cetak biru dan laporan uji tanah, jaket hijau gelap milik Aris terlipat rapi. Kirana menatap benda itu dengan perasaan campur aduk. Semalaman, aroma pinus basah dan tanah hutan yang tertinggal di serat kain jaket itu seolah menginvasi ruang pribadinya, mengusik ketenangan yang selama lima tahun ini ia jaga dengan susah payah.

Ia mendekat, jemarinya yang terbiasa menyentuh kasarnya baja kini ragu-ragu menyentuh permukaan jaket yang lembut. Seketika, kilasan masa lalu yang pahit kembali berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Suara dingin Aditya, mantan tunangannya, kembali menggema: *"Kamu itu robot, Kirana. Kamu tidak butuh laki-laki. Sifat keras kepalamu itu memuakkan."*

Kirana memejamkan mata erat-erat, mengusir bayangan itu dengan helaan napas panjang. Ia mengepalkan tangan. Tidak, ia bukan robot. Ia hanya memilih untuk tidak hancur lagi. Dan kehadiran Aris Dewangga—dengan segala perhatian kecil dan kata-kata puitisnya—adalah ancaman nyata bagi fondasi pertahanan yang telah ia bangun setinggi langit.

***

Pagi berikutnya, kabut tebal khas pegunungan Flores masih menggantung rendah, menyelimuti puncak-puncak tiang pancang jembatan gantung seperti selendang putih raksasa. Suara deru mesin berat mulai memecah kesunyian lembah. Kirana berjalan menyusuri jalur setapak berlumpur menuju sektor timur, tempat pemasangan angkur utama jembatan.

Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas kertas berisi jaket Aris yang sudah ia bersihkan dan setrika sendiri—sebuah tindakan tidak logis yang sempat ia sesali sesaat setelah melakukannya.

Dari kejauhan, ia melihat sosok Aris. Pria itu mengenakan kemeja flanel merah bata yang lengannya digulung hingga siku, sedang berjongkok di dekat akar sebuah pohon beringin tua bersama Baba To'o, salah satu tetua adat setempat. Mereka tampak berbicara serius namun hangat, diselingi tawa kecil yang terdengar tulus. Ada sesuatu dari cara Aris mendengarkan—tubuhnya yang sedikit condong ke depan, tatapan matanya yang fokus—yang menunjukkan bahwa ia benar-benar menghargai lawan bicaranya. Sesuatu yang jarang ditemukan Kirana pada kontraktor atau insinyur pria lain yang biasanya memandang remeh masyarakat lokal.

Kirana mempercepat langkahnya, mengabaikan debaran aneh di dadanya. "Selamat pagi, Baba To'o. Pak Aris," sapanya dengan nada seprofesional mungkin.

Kedua pria itu menoleh. Baba To'o tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang kemerahan akibat sirih pinang. "Selamat pagi, Ibu Kepala. Anak muda ini sedang merayu saya agar mengizinkan kalian memangkas dahan beringin ini, bukan akarnya," seloroh Baba To'o dalam bahasa I****esia berlogat daerah yang kental.

Aris bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu dari lutut celananya. Sepasang mata cokelatnya langsung mengunci pandangan Kirana, lengkap dengan senyum tipis yang semalam sempat membuat Kirana terjaga. "Saya hanya menjelaskan bahwa beringin ini adalah pasak bumi alami lembah ini, Baba. Jika kita memotong akarnya untuk jalur kabel, kita justru mengundang longsor yang akan merubuhkan jembatan Ibu Kirana yang megah ini."

Baba To'o mengangguk-angguk setuju sebelum berpamitan untuk kembali ke desa, meninggalkan Kirana dan Aris dalam keheningan yang mendadak terasa canggung.

Kirana segera menyodorkan tas kertas di tangannya. "Ini jaket Anda. Terima kasih untuk semalam. Dan tolong, jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi."

Aris menerima tas itu, namun keningnya berkerut halus. "Melakukan apa? Menyelamatkan pengawas proyek saya dari hipotermia?"

"Menunjukkan perhatian yang tidak perlu," jawab Kirana cepat, suaranya sedingin es. "Di sini saya adalah pimpinan proyek. Saya tidak butuh dikasihani, apalagi diperlakukan seolah saya ini wanita lemah yang butuh dilindungi."

Aris tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tas kertas itu di atas sebuah batu besar, lalu melangkah mendekati Kirana. Langkahnya lambat, namun pasti, membuat Kirana reflex mundur satu langkah hingga punggungnya membentur pagar pengaman besi.

"Siapa yang bilang Anda lemah, Kirana?" suara Aris terdengar begitu lembut, bergetar rendah di antara desau angin lembah. "Saya justru melihat wanita paling tangguh yang pernah saya temui. Tapi tangguh bukan berarti Anda harus menolak menjadi manusia. Menolak rasa hangat saat dingin, atau menolak bantuan saat beban di pundak Anda sudah terlalu berat."

"Anda tidak tahu apa-apa tentang saya, Pak Aris," desis Kirana, giginya rapat menahan emosi yang tiba-tiba bergejolak. Sisi feminis yang selama ini ia kubur seolah berteriak ingin keluar, namun ego dan ketakutannya menahan dengan rant** yang lebih kuat.

"Saya mungkin belum tahu banyak," Aris menatap mata Kirana yang berkaca-kaca namun tetap menyorotkan kemarahan. "Tapi saya tahu mata yang lelah saat melihatnya. Anda menanggung beban jembatan ini seolah-olah jika jembatan ini retak, hidup Anda juga akan ikut runtuh. Kenapa Anda begitu keras pada diri sendiri?"

Pertanyaan itu menghantam Kirana tepat di ulu hati. Air mata yang sejak semalam ia bendung nyaris tumpah. Untuk mengalihkan rasa sesak itu, Kirana membuang muka, menatap bentangan jurang di bawah mereka di mana aliran Sungai Wae Moy mengalir deras bagai naga putih.

"Karena dunia tidak memberi ruang bagi kegagalan seorang wanita di tempat ini, Aris," bisik Kirana akhirnya, tanpa sadar menghilangkan embel-embel formal pada nama pria itu. Suaranya terdengar sangat rapuh, sebuah retakan pertama yang nyata pada dinding bajanya.

Aris terdiam. Ia tidak mencoba menyentuh Kirana, tahu bahwa tindakan itu justru akan membuat sang Wanita Baja kembali menarik diri. Ia hanya berdiri di sampingnya, ikut menatap kabut yang perlahan mulai terangkat oleh sinar matahari pagi.

"Kalau begitu," kata Aris perlahan, "biarkan saya membantu Anda menjaga agar jembatan ini tidak runtuh. Bukan sebagai musuh yang mengacaukan rencana Anda, tapi sebagai seseorang yang ingin memastikan Anda tetap berdiri tegak saat jembatan ini akhirnya selesai."

Kirana tidak menjawab, namun ia tidak lagi melangkah menjauh. Di bawah langit Flores yang perlahan membiru, di antara dinginnya besi dan beton proyek, Kirana merasakan kehangatan yang berbeda—bukan dari jaket tebal, melainkan dari sebuah pemahaman sunyi yang perlahan mulai merayapi hatinya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca