Melodi Baja di Balik Kabut

Bab 4: Bab 4: Serat Akar di Balik Selubung Kabut

Pengaturan Membaca

Pagi berikutnya, kabut Flores turun lebih tebal dari biasanya, serupa selimut abu-abu yang enggan beranjak dari punggung bukit. Suhu udara anjlok drastis, menusuk hingga ke tulang dan memaksa para pekerja mengenakan jaket pelindung ekstra di balik rompi keselamatan berwarna jingga menyala. Di tepi Sektor Barat, Kirana berdiri mematung. Matanya menatap lurus ke arah lereng yang kemarin nyaris menguburnya hidup-hidup.

Sisa-sisa tanah longsoran kemarin telah dirapikan, namun bau tanah basah yang pekat masih tertinggal di udara, berbaur dengan aroma belerang tipis yang entah datang dari mana. Di pergelangan tangan kirinya, ada rasa ngilu yang samar. Saat Kirana menyingsingkan sedikit lengan jaketnya, ia mendapati memar keunguanβ€”bekas cengkeraman kuat Aris saat pria itu menyentak tubuhnya menjauh dari maut kemarin sore. Kirana menyentuh memar itu dengan jemarinya, merasakan debar aneh yang kembali merayapi dadanya. Sentuhan kemarin begitu nyata, begitu mendesak, hingga mampu meruntuhkan nalar logisnya dalam sekejap.

"Pagi, Ibu Kepala. Anda selalu menjadi yang pertama tiba di medan tempur,"

Suara bariton yang familier itu membuyarkan lamunan Kirana. Ia buru-buru menurunkan kembali lengan jaketnya, berusaha memulihkan air mukanya yang sempat melunak. Aris berjalan mendekat dari arah barak penyimpanan material. Pria itu mengenakan jaket denim tebal yang berlumur noda tanah di bagian sikunya, sisa perjuangan kemarin. Di pundaknya, ia memikul seikat tanaman rumput berakar panjangβ€”vetiverβ€”yang tampak segar.

"Saya harus memastikan persiapannya matang, Pak Aris," jawab Kirana, sengaja mengembalikan pangg***n formal yang kemarin sempat runtuh di bawah guyuran kepanikan. "Danu sudah mengoordinasikan tim untuk memotong bambu-bambu penyangga. Kita tidak punya banyak waktu sebelum hujan berikutnya turun."

Aris meletakkan ikatan vetiver itu dengan hati-hati di atas tanah, seolah tanaman itu adalah barang pecah belah yang berharga. Ia menegakkan tubuh, menatap Kirana dengan sepasang mata cokelatnya yang selalu tampak hangat, bahkan di tengah kepungan kabut sedingin ini.

"Saya menghargai profesionalisme Anda, Kirana. Tapi, apakah Anda benar-benar baik-baik saja?" tanya Aris lembut, mengabaikan jarak profesional yang coba dibangun kembali oleh wanita itu. "Kemarin... itu adalah guncangan yang hebat bagi siapa pun."

Kirana mengalihkan pandangannya ke arah lembah yang tertutup kabut tebal. "Saya sudah terbiasa dengan bahaya di lapangan, Aris. Ini hanya satu dari sekian banyak insiden kecil yang harus saya selesaikan. Tidak ada waktu untuk menjadi rapuh."

"Menjadi rapuh bukan berarti Anda lemah, Kirana," sahut Aris pelan, langkahnya bergeser satu langkah lebih dekat. "Baja yang paling keras sekalipun membutuhkan ruang untuk memuai dan menyusut. Jika ia terlalu kaku menghadapi perubahan suhu, ia akan retak dari dalam tanpa pernah bersuara."

Kalimat itu menghantam dada Kirana dengan telak. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku jaket. Kata-kata Aris selalu memiliki cara tersendiri untuk menyusup ke sela-sela pertahanannya, persis seperti air yang mencari celah di sela-sela batu betonnya. Kirana tahu, apa yang dikatakan Aris adalah kebenaran yang selama ini mati-matian ia sangkal. Sejak pengkhianatan rekan kerja dan kegagalan proyek masa lalunya di Jakarta yang menyisakan luka mendalam, Kirana telah bersumpah untuk mengunci rapat-rapat segala bentuk emosi. Baginya, menunjukkan kelemahan di hadapan pria, terutama di lingkungan kerja yang keras ini, sama saja dengan menyerahkan diri untuk dihancurkan.

"Kita di sini untuk membangun jembatan, Aris, bukan untuk membahas psikologi saya," potong Kirana, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha keras membuatnya terdengar dingin.

Aris tidak tersinggung. Sebaliknya, senyum maklum kembali terukir di wajahnya. "Baiklah. Mari kita bahas jembatan ini. Lihat ini," Aris berlutut dan mengambil seikat rumput akar wangi yang dibawanya. Ia menunjukkan bagian akarnya yang lebat, berserat halus namun terasa sangat kuat saat ditarik.

"Akar vetiver ini mampu menembus tanah hingga kedalaman lima meter. Mereka tidak bekerja dengan cara menahan tanah secara paksa seperti dinding beton. Mereka mengikatnya, menjalin kekuatan bersama butiran tanah terkecil, menciptakan jaringan pengaman alami yang elastis. Terkadang, kekuatan sejati tidak datang dari sesuatu yang keras dan kaku, melainkan dari sesuatu yang lentur dan mampu beradaptasi."

Kirana memperhatikan jemari Aris yang dengan lembut membersihkan sisa tanah di akar tersebut. Ada ketulusan yang murni dari cara pria itu memperlakukan alam, sesuatu yang sangat kontras dengan dunia Kirana yang dipenuhi oleh kalkulasi matematis, raungan mesin, dan kekerasan besi baja. Untuk sesaat, Kirana merasakan dorongan kuat untuk mempercayai filosofi pria itu.

"Mbak Kirana! Pak Aris! Tim bambu sudah siap di sektor pilar tiga!" teriakan Danu dari kejauhan memecah keheningan di antara mereka.

Kirana menarik napas panjang, membiarkan udara dingin Flores mengisi paru-parunya dan menenangkan debar jantungnya. "Ayo kita mulai," ujarnya pada Aris.

Sepanjang pagi hingga siang hari, atmosfer di Sektor Barat dipenuhi oleh kesibukan yang berbeda dari biasanya. Tidak ada raungan ekskavator yang m****akkan telinga. Sebagai gantinya, terdengar bunyi ketukan palu kayu yang menancapkan pasak-pasak bambu ke lereng bukit. Kirana mengawasi jalannya pengerjaan dari dekat. Sesekali, ia turun langsung ke lereng yang curam, membantu mengarahkan sudut kemiringan pemasangan *soil nailing* bersama Danu.

Saat Kirana mencoba mengencangkan ikatan kawat pada salah satu pasak bambu yang licin karena embun, jemarinya tergelincir. Ujung kawat yang tajam menggores telapak tangannya, menembus sarung tangan kain yang ia kenakan.

"Aw!" rintih Kirana pelan.

Dalam sekejap, Aris yang sedang menanam vetiver beberapa meter di bawahnya langsung tanggap. Ia memanjat lereng dengan gesit dan berada di samping Kirana sebelum wanita itu sempat menyembunyikan tangannya.

"Buka sarung tanganmu," perintah Aris. Suaranya tidak lagi sant**, melainkan dipenuhi oleh otoritas yang sarat akan kekhawatiran.

"Ini hanya goresan kecil, Aris. Saya bisaβ€”"

"Buka, Kirana," potong Aris lembut namun tegas.

Dengan enggan, Kirana melepaskan sarung tangannya. Setitik darah segar merembes dari telapak tangannya yang putih. Tanpa banyak bicara, Aris merobek selembar kain bersih dari saputangan yang selalu ia bawa di sakunya. Ia meraih tangan Kirana, memegang pergelangan tangannya dengan sangat hati-hati, lalu mulai membalut luka tersebut.

Sentuhan tangan Aris terasa begitu hangat di kulit Kirana yang dingin karena cuaca pegunungan. Kirana terpaku. Ia menatap wajah Aris yang begitu dekat, memperhatikan kerutan konsentrasi di dahinya, dan helai-helai rambutnya yang sedikit basah oleh embun. Di bawah langit Flores yang perlahan mulai meneteskan gerimis tipis, dinding pertahanan yang dibangun Kirana selama bertahun-tahun terasa bergoyang hebat, bukan karena hantaman badai, melainkan karena kelembutan yang tak mampu ia tolaki.

"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Kirana," bisik Aris tanpa mengalihkan pandangannya dari luka yang selesai ia balut. Ia mendongak, mengunci tatapan mata Kirana dengan kehangatan yang membuat pertahanan wanita itu luluh sepenuhnya. "Biarkan sesekali orang lain menjagamu."

Untuk pertama kalinya, Kirana tidak membantah. Ia hanya terdiam di bawah rintik gerimis, merasakan hangat yang perlahan mengalir di balik selubung kabut yang kian pekat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca