Melodi Baja di Balik Kabut

Bab 5: Bab 5: Retakan Pertama pada Dinding Baja

Pengaturan Membaca

Rintik gerimis yang semula turun malu-malu dalam sekejap berubah menjadi tirai hujan yang rapat, mengaburkan pandangan ke arah lembah Flores yang hijau berlumur kabut. Suara gemuruh air yang menghantam dedaunan hutan lindung terdengar seperti kepakan sayap ribuan burung yang panik, bersahut-sahutan dengan deru angin pegunungan yang membawa hawa sedingin es.

"Ayo, kita harus berteduh!" seru Aris setengah berteriak, mencoba mengalahkan deru angin yang mulai kencang.

Tanpa menunggu jawaban atau bantahan yang biasa terlontar dari bibir Kirana, tangan Aris yang hangat kembali bergerak cepat. Kali ini, ia dengan lembut menggenggam pergelangan tangan kanan Kirana—menghindari bagian kiri yang memar—dan menuntunnya menaiki lereng tanah yang mulai licin menuju pos pantau semi-permanen di ujung Sektor Barat.

Pos itu hanyalah sebuah bangunan kayu sederhana beratap seng dengan dinding tripleks tebal, tempat para pengawas biasanya meletakkan cetak biru dan berteduh dari cuaca buruk. Begitu mereka melangkah ma**k dan Aris merapatkan pintu kayu berderit itu, aroma kayu basah, semen kering, dan sisa bubuk kopi langsung menyambut indra penciuman. Di luar, hujan deras mengguyur atap seng dengan suara bising yang m****akkan telinga, menciptakan ilusi magis seolah-olah mereka berdua tengah terisolasi dari seluruh dunia, terjebak dalam sebuah ruang kedap waktu yang sunyi.

Kirana segera menarik tangannya dari genggaman Aris begitu mereka aman di bawah naungan atap. Ia berdiri membelakangi Aris, berpura-pura sibuk merapikan ritsleting jaket keselamatannya yang basah, padahal ia hanya mencoba mengatur napasnya yang memburu dan menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar. Di telapak tangan kanannya, lilitan kain robekan saputangan Aris terasa begitu hangat, berdenyut seirama dengan ketegangan yang mendadak merayap di antara mereka.

"Duduklah, Kirana. Kakimu pasti lelah setelah seharian berdiri mengawasi lereng," ujar Aris lembut. Pria itu berjalan menuju sudut ruangan, menyalakan kompor gas portabel kecil yang biasa digunakan para pekerja untuk menyeduh mie instan. Ia meletakkan teko aluminium kecil di atasnya.

Kirana menoleh lambat, lalu perlahan duduk di atas bangku kayu panjang yang agak berdebu. "Saya biasa berdiri berjam-jam di lapangan, Aris. Ini bukan apa-apa bagi saya."

Aris hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman maklum yang entah mengapa selalu berhasil membuat Kirana merasa te******* secara emosional, seolah pria itu mampu membaca setiap lembar rahasia yang ia sembunyikan. Aris merogoh ransel kanvasnya, mengeluarkan dua buah cangkir enamel berkarat dan sebungkus kopi bubuk lokal.

"Kopi Flores hitam tanpa gula. Tebakan saya, Anda bukan tipe orang yang menyukai pemanis buatan dalam hidup Anda," kata Aris, mencoba mencairkan kekakuan.

Kirana mendengus pelan, namun ada seulas senyum tipis—hampir tak kentara—di sudut bibirnya yang pucat karena dingin. "Saya tidak butuh pemanis untuk menyembunyikan rasa pahit. Pahit itu jujur. Ia memberi tahu kita apa adanya tanpa ilusi."

"Tapi pahit yang berlebihan tanpa jeda bisa merusak lambung, Kirana. Sama seperti jiwa yang terus-menerus menelan kegetiran tanpa pernah mengizinkan rasa hangat ma**k," sahut Aris tenang. Ia menuangkan air mendidih ke dalam cangkir, menerbitkan aroma magis kopi hitam yang langsung memenuhi ruangan sempit itu.

Aris berjalan mendekat, menyerahkan satu cangkir hangat ke tangan Kirana. Sentuhan singkat kulit mereka kembali mengirimkan sengatan halus yang membuat Kirana menahan napas sejenak. Aris kemudian duduk di ujung bangku yang sama, menyisakan jarak yang c**up agar Kirana tidak merasa terintimidasi, namun c**up dekat untuk menyalurkan kehangatan tubuhnya di tengah kepungan udara dingin.

Mereka terdiam untuk beberapa saat, hanya ditemani oleh suara hantaman hujan di atas atap seng dan kepulan uap kopi yang naik perlahan ke udara.

"Filosofi vetivermu tadi..." Kirana akhirnya membuka suara, memecah keheningan dengan pandangan yang lurus menatap cairan hitam di cangkirnya. "Kedengarannya indah di atas kertas. Tapi di dunia nyata, Aris, kelenturan sering kali disalahartikan sebagai kelemahan. Jika Anda lentur, orang-orang di industri ini akan menginjak Anda. Mereka akan menekan Anda sampai Anda melengkung, lalu mematahkan Anda tanpa penyesalan."

Aris menatap profil samping wajah Kirana yang tegas. Garis rahangnya mengeras, memperlihatkan keras kepala yang luar biasa, namun sepasang matanya yang indah justru memancarkan kelelahan yang teramat sangat. "Siapa yang pernah mematahkanmu seperti itu, Kirana?" tanya Aris, suaranya sangat lembut, sehalus embun pagi Flores.

Pertanyaan itu membuat Kirana terpaku. Biasanya, ia akan langsung menyabet pertanyaan pribadi seperti itu dengan ketegasan yang dingin dan kembali memasang tameng profesionalnya. Namun hari ini, di bawah kepungan hujan dan di hadapan ketulusan mata cokelat Aris, dinding pertahanannya terasa goyah.

"Proyek sodetan sungai di Jakarta, tiga tahun lalu," ucap Kirana lirih, matanya menatap kosong ke luar jendela kaca yang buram oleh uap air. "Saya adalah asisten kepala teknis. Saya terlalu percaya pada kepala proyek yang juga rekan dekat saya. Saya... membiarkan diri saya menjadi 'lentur', mempercayai kalkulasinya tanpa memeriksa ulang secara obsesif seperti yang biasa saya lakukan. Ketika dinding penahan tanah runtuh dan menewaskan dua pekerja harian, dia melemparkan seluruh kesalahan pada pundak saya. Dia memanipulasi dokumen lapangan, membuat saya terlihat sebagai satu-satunya orang yang lalai."

Kirana menarik napas dalam-dalam, bahunya sedikit bergetar menahan gejolak emosi yang kembali mencuat ke permukaan. "Saya menghadapi sidang kode etik, caci maki dari keluarga korban, dan hampir kehilangan lisensi profesional saya. Sementara dia? Dia melenggang pergi dengan portofolio bersih dan mendapatkan promosi di tempat lain. Sejac hari itu, saya bersumpah. Tidak ada kelenturan. Tidak ada kompromi. Saya harus menjadi baja yang kaku. Lebih baik saya patah karena tekanan eksternal yang jelas, daripada saya hancur dari dalam karena mempercayai orang lain."

Aris mendengarkan tanpa memotong satu kata pun. Matanya merefleksikan rasa empati yang begitu pekat, seolah ia bisa merasakan setiap inci luka, kemarahan, dan rasa sepi yang dipikul Kirana sendirian selama tiga tahun terakhir.

Aris meletakkan cangkirnya di lant** kayu. Ia memutar tubuhnya menghadap Kirana sepenuhnya. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian, ia mengulurkan tangannya, lalu meletakkannya di atas punggung tangan Kirana yang terbalut kain perban.

Kirana tersentak kecil, tubuhnya menegang, namun ia tidak menarik tangannya.

"Saya minta maaf atas apa yang terjadi padamu, Kirana," kata Aris tulus, suaranya sarat akan emosi yang mendalam. "Itu adalah pengkhianatan yang sangat kejam. Tapi menutup diri sepenuhnya dari dunia tidak akan pernah menghukum orang yang menyakitimu. Itu hanya menghukum dirimu sendiri. Kamu membangun jembatan raksasa ini untuk menghubungkan dua tebing yang terpisah, tapi kamu justru memutus semua jembatan yang menuju ke hatimu."

Sebuah air mata yang selama bertahun-tahun berhasil ditahan Kirana kini menggenang di pelupuk matanya, berkilau di bawah temaram cahaya pos pantau. Ia menolak untuk membiarkannya jatuh, namun pertahanan bajanya kini benar-benar telah retak. Retakan itu kecil, namun c**up dalam untuk membiarkan kelembutan Aris menyusup ma**k, menghangatkan ruang gelap yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

"Aris, saya..." kalimat Kirana menggantung di udara, suaranya tercekat oleh sesak yang membuncah di dadanya.

"Sshh, tidak apa-apa," bisik Aris, jemarinya dengan lembut mengusap punggung tangan Kirana, memberikan kekuatan tanpa menuntut kata-kata. "Kamu aman di sini. Kamu tidak perlu menjadi kepala pengawas yang tangguh untuk beberapa saat saja. Biarkan hujan yang menyelesaikan tugasnya di luar, dan biarkan dirimu beristirahat."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca