Satu tetes air mata yang keras kepala itu akhirnya jatuh, meluncur lambat di atas pipi Kirana yang dingin, sebelum akhirnya mendarat di atas punggung tangan Aris yang masih menggenggamnya hangat. Kirana segera memalingkan wajah, merasa te******* dan lemahβdua hal yang paling dihindarinya selama tiga tahun terakhir. Namun, ia tidak menarik tangannya. Kehangatan dari telapak tangan Aris seperti seutas tali penyelamat yang menahannya agar tidak tenggelam dalam pusaran memori kelam.
Di luar, hujan masih menghantam atap seng dengan gencar, menciptakan simfoni bising yang justru terasa seperti perisai, melindungi mereka dari dunia luar. Di dalam pos pantau yang sempit itu, waktu seolah berjalan melambat.
"Maaf," bisik Kirana lirih, suaranya parau dan bergetar. Ia mencoba berdeham, berusaha mengembalikan wibawa sang kepala pengawas yang biasanya tak tergoyahkan. "Saya tidak seharusnya... emosional seperti ini di depan Anda. Ini tidak profesional."
Aris tersenyum lembut, sebuah senyuman tanpa penghakiman yang membuat dinding pertahanan Kirana semakin terkikis. Pria itu menggeser duduknya sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga batas kesopanan agar Kirana tidak merasa terdesak. "Kirana, profesionalisme tidak menuntutmu untuk menjadi robot. Kamu manusia. Kamu memimpin proyek jembatan raksasa yang menantang maut setiap hari, memikul tanggung jawab atas ratusan nyawa pekerja. Jika kamu tidak memiliki katup pelepas tekanan, kamu akan hancur. Bahkan baja terbaik pun punya batas elastisitas."
Kirana menatap cangkir enamelnya yang kini hanya menyisakan ampas kopi Flores yang hitam pekat. Kata-kata Aris menghantam ulu hatinya dengan ketepatan yang menyakitkan. "Batas elastisitas," gumam Kirana, mengulangi istilah teknik yang sangat akrab di telinganya, namun kini terdengar begitu personal. "Di dunia saya, batas itu adalah kepastian angka. Tapi dalam hidup... semuanya abu-abu."
"Kamu tahu tentang celah dilatasi pada jembatan, kan?" tanya Aris tiba-tiba, matanya berbinar lembut menatap Kirana.
Kirana mengangguk pelan. "Tentu saja. Siar muai. Celah sengaja dibuat di antara bentang jembatan untuk memberi ruang bagi beton dan baja memuai dan menyusut akibat perubahan suhu. Tanpa celah itu, jembatan akan melengkung dan runtuh oleh kekuatannya sendiri."
"Nah," Aris mengetuk perlahan punggung tangan Kirana yang masih dibalut saputangan. "Anggap momen ini, tangisanmu tadi, dan kehadiran saya di sini sebagai celah dilatasimu. Kamu tidak sedang melemah, Kirana. Kamu hanya sedang memberi ruang bagi jiwamu untuk bernapas, agar kamu tidak runtuh oleh beban yang kamu pikul sendirian."
Penjelasan itu membuat dada Kirana bergemuruh. Bagaimana mungkin seorang arsitek lanskap yang awalnya ia anggap sebagai pengganggu idealis, kini bisa merumuskan isi hatinya dengan begitu indah menggunakan bahasa yang ia pahami? Air mata kedua dan ketiga mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. Kali ini, Kirana tidak mencoba menyembunyikannya. Ia membiarkan bahunya berguncang pelan, melepaskan sebagian beban berat yang selama ini menyumbat dadanya.
Aris tidak memeluknya, menyadari bahwa pelukan yang terlalu tiba-tiba mungkin akan membuat Kirana kembali menarik diri ke dalam cangkang bajanya. Sebagai gantinya, ia tetap memegang tangan Kirana, meremasnya lembut, menyalurkan kekuatan tanpa kata-kata. Kehadiran Aris di sisinya terasa begitu kokoh, sekokoh tiang pancang jembatan yang sedang mereka bangun di lembah luar.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang intens, hanya diiringi isak tangis Kirana yang perlahan mereda dan suara hujan yang mulai mengecil menjadi rintik-rintik tipis. Kabut tebal Flores mulai bergerak turun, membungkus pos pantau dalam selimut putih yang sunyi.
Kirana menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kopi dan tanah basah yang menenangkan. Ia menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap sisa air mata di pipinya. Saat ia menatap Aris kembali, ada kilau yang berbeda di matanyaβbukan lagi tatapan tajam yang penuh kecurigaan, melainkan tatapan yang lebih lembut, lebih hidup.
"Terima kasih, Aris," ucap Kirana, kali ini dengan nada suara yang tulus dan tenang. "Dan... maaf karena selama ini saya sering bersikap ketus pada Anda."
Aris terkekeh pelan, melepaskan genggaman tangannya dengan enggan namun lembut, memberikan Kirana ruang pribadinya kembali. "Sama-sama, Kepala Pengawas. Dan jangan khawatir, saya sudah terbiasa menghadapi medan yang keras. Sikap ketusmu itu tidak ada apa-apanya dibanding badai Flores."
Candaan ringan Aris berhasil memancing tawa kecil dari bibir Kiranaβsebuah pemandangan langka yang membuat jantung Aris berdesir aneh. Tawa itu terdengar begitu merdu di tengah kesunyian pos pantau.
Aris berdiri, merapikan cangkir-cangkir kosong dan mematikan kompor portabel. "Hujannya sudah reda menjadi gerimis. Kita sebaiknya kembali ke kamp sebelum kabut semakin pekat dan menutup jalur setapak."
Kirana ikut berdiri, merapikan jaket keselamatannya yang kini terasa lebih ringan, seolah beban emosional yang menempel di sana telah luruh bersama air hujan. "Ya, Anda benar. Tim malam akan mulai bersiap, dan saya harus memastikan laporan fondasi pilar ketiga sudah selesai."
Saat Aris membuka pintu kayu pos, embusan angin gunung yang dingin dan basah langsung menerpa wajah mereka. Namun, dinginnya cuaca Flores sore itu tidak lagi terasa menusuk bagi Kirana. Ada kehangatan baru yang menjalar di dalam dadanya, sebuah perasaan asing yang selama tiga tahun ini ia kunci rapat.
Mereka berjalan berdampingan menuruni lereng yang licin. Ketika Kirana hampir terpeleset di atas tanah merah yang basah, dengan cekatan Aris menangkap lengannya, menstabilkan posisinya. Kali ini, Kirana tidak langsung melepaskan diri. Ia membiarkan tangan Aris memandu langkahnya melintasi jalur berkabut.
Di balik kabut tebal yang menyelimuti lembah Flores, jembatan baja itu masih berdiri kokoh, menantang alam. Dan di antara dua jiwa yang sebelumnya terpisah oleh jurang trauma dan ego, sebuah jembatan tak kasatmata kini mulai terbentang, perlahan namun pasti.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!