"G***, Arga tuh manis banget tahu nggak, Ran? Masa tadi pagi dia bela-belain nganterin bubur ayam ke kosan gue cuma karena semalam gue bilang lagi mager dan kelaparan?"
Gisel tersenyum lebar, matanya berbinar-binar menatap layar ponselnya yang menampilkan ruang obrolannya dengan sang pacar. Di seberang meja café yang bernuansa estetik minimalis itu, Rania hanya bisa tersenyum tipis. Tangannya bergerak pelan, mengaduk *iced americano* miliknya yang mulai mencair dan terasa hambar.
"Ya bagus dong, Sel. Berarti dia emang perhatian dan sayang banget sama lo," sahut Rania dengan nada seceria mungkin. Dia harus terdengar tulus. Selalu harus tulus. Di mata dunia, dia adalah sahabat terbaik Gisel sejak semester pertama kuliah. Sahabat yang selalu ada, yang selalu mendengarkan, dan yang selalu mendukung hubungan romantis Gisel.
"Emang! Makanya gue bersyukur banget dapet dia. Lo kapan nih nyusul? Masa jomblo mulu sih, Ran? Cantik-cantik gini kok betah banget sendiri. Entar karatan lho!" canda Gisel sambil menyenggol pelan lengan Rania dengan sikunya.
Rania tertawa kecil, menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba menyodok dadanya. "Gampang lah itu. Kuliah gue lagi ribet-ribetnya, tugas numpuk. Males gue mikirin cowok dulu, bikin pusing."
"Ah, lo mah alasan klasik!" Gisel mencibir manja, lalu kembali sibuk mengetik balasan untuk Arga.
Pintu café berdenting lembut, menandakan seseorang baru saja ma**k. Sosok jangkung dengan jaket denim hitam dan celana jins gelap melangkah mendekat ke meja mereka. Arga. Rambutnya agak berantakan karena angin jalanan, namun justru hal itu yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih maskulin dan tampan.
"Hei," sapa Arga. Suaranya yang berat dan tenang langsung mengalihkan perhatian kedua gadis itu. Tanpa canggung, Arga mengacak rambut Gisel dengan gemas sebelum mengambil tempat duduk kosong di samping kekasihnya.
"Lama banget sih, Yang? Katanya jalan dari setengah jam yang lalu," rengek Gisel, langsung bergelayut manja di lengan Arga.
"Macet banget di dekat perempatan kampus, Sayang. Maaf ya," ucap Arga lembut. Senyumnya terukir hangat, seolah seluruh lelahnya menguap begitu melihat Gisel. Matanya kemudian beralih ke Rania yang duduk di depannya. Arga mengangguk sopan. "Eh, ada Rania juga. Sori ya, Ran, malah jadi ganggu waktu nongkrong kalian."
Jantung Rania berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Tatapan mata Arga—meski hanya tatapan ramah biasa kepada teman pacarnya—selalu sukses membuat dadanya berdesir hangat. "Sant** aja, Ga. Lagian kita juga udah selesai ngobrolin tugas kok."
Selama sisa sore itu, Rania memosisikan dirinya sebagai 'penonton' yang baik. Dia tertawa pada lelucon-lelucon kecil yang dilemparkan Arga, mendengarkan keluhan Gisel tentang dosen killer, dan sesekali menimpali dengan obrolan ringan seputar kampus. Dari luar, Rania tampak begitu menikmati suasana. Dia adalah definisi sahabat yang sempurna.
Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik senyum ramahnya, mata Rania diam-diam merekam setiap det**l tentang Arga. Bagaimana jemari panjang dan kokoh cowok itu sesekali mengusap punggung tangan Gisel, bagaimana jakunnya bergerak naik-turun saat dia berbicara, dan bagaimana aroma parfum *wood-scent* maskulin milik Arga diam-diam tercium hingga ke tempat duduk Rania.
Rania menginginkan itu. Dia menginginkan sentuhan itu, perhatian itu, dan kehangatan yang dipancarkan oleh Arga. Sesuatu yang terasa sangat asing di sepanjang hidup Rania.
***
Pukul sembilan malam.
Rania mengunci pintu kamar kosnya rapat-rapat. Kamar berukuran tiga kali empat meter itu langsung diselimuti kegelapan begitu dia mematikan lampu utama. Rania sengaja membiarkan kamarnya gelap, hanya menyisakan berkas cahaya rembulan yang samar-samar menembus celah gorden abu-abu yang tertiup angin malam dari jendela yang sedikit terbuka.
Di kamar kos yang dingin inilah, topeng Rania sebagai mahasiswi ceria dan sahabat yang suportif runtuh seketika.
Dia melemparkan tas ranselnya ke lant** dengan sembarang, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas ka**r *single bed*. Sunyi langsung menyergap. Sunyi yang begitu pekat hingga membuat dadanya terasa kosong dan hampa.
Rania meraih ponselnya yang bergetar. Dia berharap ada pesan ma**k dari keluarganya di rumah. Namun, saat layar menyala, yang ada hanyalah notifikasi grup WhatsApp angkatan yang tidak penting. Tidak ada pesan dari ibunya, ayahnya, atau bahkan kakak-kakaknya.
Kemarin, Rania sempat mengirim pesan di grup keluarga, mengabarkan bahwa dia baru saja memenangkan lomba esai tingkat regional. Namun, pesan itu hanya dibaca. Tidak ada satu pun ucapan selamat. Kakaknya justru mengalihkan obrolan dengan mengirimkan foto-foto liburan keluarga mereka ke Bali—liburan yang tidak melibatkan Rania dengan alasan "biayanya terlalu mahal kalau semua ikut".
Rania selalu diabaikan. Sejak kecil, dia adalah anak yang tidak pernah dianggap penting. Keberadaannya di rumah seperti embun di pagi hari; ada, tapi tak pernah benar-benar dipedulikan sampai akhirnya menguap begitu saja. Rasa diabaikan itu telah tumbuh menjadi luka basah di dalam dadanya, menciptakan trauma mendalam yang membuatnya selalu merasa kesepian dan tidak berharga.
Setitik air mata lolos dari sudut mata Rania, membasahi bantalnya yang dingin. Rasa hampa itu mulai mencekik lehernya, membuatnya sesak napas. Dia butuh pelarian. Dia butuh sesuatu untuk menenangkan jiwanya yang terluka. Sebuah candu instan yang bisa membuatnya merasa diinginkan, meskipun itu hanya fana.
Tangan Rania yang gemetar membuka aplikasi Instagram. Dia mengetikkan nama pengguna yang sudah sangat diahafal di luar kepala pada kolom pencarian: **Arga_Aditya**.
Rania menggunakan *second account* tanpa foto profil untuk mengintip akun Arga yang tidak dikunci. Dia menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan kamar. Di sana ada foto terbaru yang diunggah Arga beberapa hari lalu. Arga sedang berdiri di tepi pant**, mengenakan kemeja putih tipis yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Senyumnya begitu menawan, menatap langsung ke arah kamera.
Rania menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perut bagian bawahnya mulai terasa hangat dan berdenyut aneh.
Dia mematikan layar ponselnya, membiarkan kamarnya kembali gelap gulita. Rania memejamkan mata, memeluk ponselnya di dada, dan membiarkan imajinasinya mulai liar bekerja.
*Di dalam kegelapan ini, Arga ada di sini.*
Rania membayangkan pintu kamarnya terbuka lembut. Sosok tinggi Arga melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya. Arga tidak pergi ke tempat Gisel; dia datang ke sini, khusus untuk menemuinya.
Dalam fantasi Rania, tatapan mata Arga begitu dalam dan penuh kerinduan saat menatapnya. Cowok itu berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ka**r Rania yang sempit.
"Ran..." bisik suara berat Arga dalam benak Rania. Suara itu terasa sangat nyata, berbisik tepat di samping telinganya hingga membuat bulu kuduk Rania meremang indah. "Jangan nangis lagi. Gue di sini. Gue ada buat lo."
Tangan imajiner Arga yang besar dan hangat perlahan menyentuh pipi Rania, menghapus air mata yang sempat menetes tadi. Sentuhan itu terasa begitu nyata dalam kepala Rania, begitu lembut dan menenangkan.
Sambil terus memejamkan mata erat-erat, tangan kanan Rania mulai bergerak turun secara perlahan. Dia menyusupkan jemarinya di balik kaos kebesaran yang dipakainya, menyentuh kulit perutnya sendiri yang mulus. Namun, di dalam kepalanya, itu bukan tangannya. Itu adalah tangan Arga.
"Arga..." desah Rania lirih ke tengah keheningan malam yang sepi.
Dia membayangkan Arga menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang rahang dan lehernya. Setiap sentuhan imajiner itu membuat tubuh Rania merinding hebat. Napasnya mulai memburu, tidak beraturan.
Jemari Rania bergerak semakin turun, menyentuh area paling sensitif di balik pakaian dalamnya. Dia mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang perlahan namun pasti. Setiap gesekan dan tekanan yang dia lakukan disalurkan dalam otaknya sebagai sentuhan intim dari Arga.
Rania membayangkan Arga sedang mendekapnya erat dari belakang, menyatukan tubuh mereka dalam kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia membayangkan bagaimana Arga mencium bibirnya dengan posesif, seolah-olah Rania adalah satu-satunya wanita yang paling dia inginkan di dunia ini. Di dalam fantasi terlarang ini, Rania bukanlah bayang-bayang yang diabaikan. Dia adalah pusat semesta Arga.
"Lo cantik banget, Rania. Cuma lo yang ada di pikiran gue sekarang," bisik suara Arga dalam fantasinya, memicu gelombang gairah yang semakin memuncak di dalam diri Rania.
Napas Rania semakin terengah-engah. Gerakan jemarinya di bawah sana menjadi semakin cepat dan menuntut. Rasa hampa, sepi, dan rasa sakit hati karena diabaikan oleh keluarganya seolah meleleh, digantikan oleh sensasi panas yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Ini adalah obat penenang terbaiknya. Candu instan yang selalu berhasil menyelamatkannya dari jurang depresi setiap malam.
Tubuh Rania menegang hebat saat kepuasan itu mulai mendekati puncaknya. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meredam suara desahan nikmat yang hampir saja lolos dari tenggorokannya agar tidak terdengar hingga ke kamar kos sebelah.
Beberapa detik kemudian, tubuh Rania perlahan-lahan mengendur. Dia melepaskan gigitannya pada bibirnya, membiarkan napasnya yang memburu berangsur-angsur kembali normal di atas bantal yang kini terasa hangat oleh keringat tipis di pelipisnya.
Perlahan, Rania membuka matanya.
Kegelapan kamar kosnya kembali menyambutnya dengan dingin. Sosok Arga yang hangat, sentuhan lembut yang mendebarkan, dan bisikan-bisikan manis yang memujanya langsung menguap seperti asap, menyisakan dirinya yang kembali sendirian di atas ka**r *single bed*-nya yang sepi.
Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dada Rania dengan telak, lebih menyakitkan daripada rasa sepi sebelumnya.
Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap dengan tatapan kosong. Air mata kembali mengalir di pipinya, kali ini bukan karena kesepian karena diabaikan keluarganya, melainkan karena rasa jijik pada dirinya sendiri. Dia baru saja memuaskan hasratnya dengan membayangkan pacar dari sahabat terbaiknya sendiri. Sahabat yang begitu tulus menyayanginya dan selalu membagikan kebahagiaannya bersama Rania.
Rania meringkuk, memeluk kedua lututnya erat-erat ke dada. Dia merasa seperti monster yang sangat kotor dan jahat. Namun, di balik rasa bersalah yang menyiksanya itu, Rania juga tahu sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa dia pungkiri: besok malam, ketika rasa hampa itu kembali datang merayap, dia akan mengunci pintunya lagi, mematikan lampu kamarnya, dan kembali membayangkan Arga di dalam kegelapan.
Karena hanya dalam fantasi terlarang itulah, Rania merasa benar-benar hidup dan diinginkan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!