Suara gemuruh petir yang bersahut-sahutan di luar sana seolah sengaja menenggelamkan bisingnya kota Jakarta sore itu. Hujan turun sangat deras, seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Airnya menghantam kaca jendela kamar Rania dengan keras, menciptakan efek buram yang membuat dunia luar terasa begitu jauh.
Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, suasananya berbanding terbalik. Sepi, sunyi, dan dingin. Hanya ada suara ketikan keyboard laptop dan embusan napas dari dua orang yang duduk bersebelahan di atas karpet bulu abu-abu.
"Ran, ini bagian bab tiga yang lo edit kemarin, kok datanya ada yang kurang, ya?"
Suara berat Arga memecah keheningan. Cowok itu mencondongkan badannya ke arah Rania, membuat aroma parfum maskulin bercampur wangi hujan samar-samar langsung menyerbu indra penciuman Rania. Dekat sekali. Terlalu dekat, bahkan untuk ukuran dua orang teman yang sedang mengerjakan tugas kelompok.
Rania sedikit bergeser, mencoba menjaga jarak aman agar jantungnya yang mulai berdegup tidak karuan tidak terdengar oleh cowok di sebelahnya. "Masa sih? Perasaan kemarin udah gue lengkapin deh, Ga. Sini coba gue lihat."
Arga menggeser laptopnya ke tengah-tengah mereka. Saat Rania hendak meraih *mouse*, jemari mereka tidak sengaja bersentuhan. Hanya sekilas, tidak sampai satu detik, tapi rasanya seperti ada sengatan listrik kecil yang menjalar langsung ke dada Rania. Rania buru-buru menarik tangannya, berpura-pura merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.
"Eh, sori," gumam Arga pelan. Dia mengusap tengkuknya, tampak agak canggung.
"Nggak apa-apa," jawab Rania cepat, berusaha bersuara senormal mungkin. Dia menatap layar laptop, mencoba fokus pada deretan angka dan grafik, meskipun pikirannya sudah melayang entah ke mana.
Mereka berdua terjebak. Tugas analisis laporan proyek mata kuliah kewirausahaan ini harus dikumpulkan besok pagi pukul delapan. Karena Gisel—pacar Arga sekaligus sahabat Rania—hari ini harus pergi ke acara keluarga besar di Bandung, jadilah Rania dan Arga terpaksa menyelesaikan bagian akhir ini berdua saja di rumah Rania. Awalnya mereka berencana mengerjakannya di kafe biasa, tapi hujan badai yang tiba-tiba turun sejak siang tadi memaksa mereka untuk mengevakuasi diri ke kamar Rania yang berada di lant** dua.
"Dingin banget ya, Ran," ujar Arga sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia hanya memakai kaus oblong hitam polos dan celana jins.
Rania menoleh, memperhatikan wajah Arga dari samping. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan beberapa tetes air hujan yang masih tersisa di ujung rambutnya yang agak basah. Sempurna. Sifat hangat dan perhatian cowok ini selalu sukses membuat Rania jatuh cinta setengah mati. Tapi, kenyataan pahit langsung menamparnya seketika: Arga adalah milik Gisel. Sahabatnya sendiri.
"Mau gue kecilin AC-nya?" tawar Rania.
"Boleh deh. Kayaknya remote-nya di atas nakas lo itu," tunjuk Arga.
Rania berbalik untuk mengambil *remote* AC, namun karena tergesa-gesa, kakinya malah tersangkut ujung karpet. Tubuhnya oleng.
"Eh—"
Sebelum Rania sempat mendarat di lant**, sebuah tangan yang kokoh dengan cekatan menangkap pinggangnya. Arga menarik tubuh Rania ke dalam dekapannya untuk menahan keseimbangan. Detik berikutnya, mereka berdua jatuh terduduk di atas karpet dengan posisi yang sangat intim. Rania berada tepat di pelukan Arga, dengan kedua tangan Arga yang masih melingkar erat di pinggangnya.
Waktu seolah berhenti berputar. Hanya terdengar suara rintik hujan yang semakin mengg*** di luar, kontras dengan kesunyian yang mendadak mengunci mereka berdua di dalam kamar.
Napas Rania memburu. Dia bisa merasakan dadanya naik turun dengan cepat, bersentuhan dengan dada bidang Arga yang juga berdegup kencang. Jantung Arga berdetak sangat cepat, seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Rania mendongak, dan pada saat yang sama, Arga menundukkan wajahnya.
Mata mereka bertemu. Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu meja berwarna kuning temaram itu, tatapan Arga terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi tatapan ramah seorang teman, atau tatapan sant** yang biasa dia tunjukkan sehari-hari. Mata cokelat gelap milik Arga kini menatapnya dengan intensitas yang begitu pekat, seolah sedang mencari sesuatu di dalam diri Rania yang selama ini tersembunyi.
"Ran..." bisik Arga. Suaranya terdengar serak, menyapu permukaan kulit wajah Rania dan mengirimkan sensasi merinding ke seluruh tubuh gadis itu.
Rania terpaku. Dia tidak bisa bergerak, bahkan tidak ingin bergerak. Ini adalah momen yang selalu dia bayangkan setiap malam sebelum tidur. Berada sedekat ini dengan Arga, merasakan kehangatan tubuh cowok itu, dan menjadi satu-satunya orang yang berada di dalam jangkauan pandangannya. Di bawah guyuran hujan yang membuat dunia luar terasa mati, hanya ada mereka berdua di sini.
Tangan Arga perlahan bergerak naik dari pinggang Rania, jemarinya yang hangat menyentuh pipi Rania dengan sangat lembut. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Rania perlahan. Sentuhan itu begitu memabukkan, membuat pertahanan Rania yang selama ini dia bangun dengan susah payah perlahan runtuh.
Arga mulai mendekatkan wajahnya. Rania bisa merasakan embusan napas Arga yang hangat menyentuh bibirnya. Jarak di antara mereka terkikis dengan sangat lambat, menyiksa namun di saat yang sama terasa sangat mendebarkan. Rania memejamkan matanya perlahan, menyerah pada perasaan terlarang yang selama ini dia pendam di sudut paling gelap di hatinya. Dia menginginkan ini. Dia sangat menginginkan Arga.
*Gue pengen lo, Ga. Cuma malam ini aja...* batin Rania menjerit egois.
Namun, tepat ketika jarak di antara bibir mereka hanya tersisa beberapa milimeter, sebuah kilatan petir yang sangat terang menyambar di luar jendela, menerangi seluruh sudut kamar selama satu detik sebelum diikuti oleh suara guntur yang menggelegar dahsyat.
Kilatan cahaya itu seolah menjadi alarm yang membangunkan kesadaran Rania secara paksa. Bersamaan dengan cahaya terang itu, bayangan wajah Gisel tiba-tiba muncul di benak Rania. Wajah Gisel yang sedang tersenyum ceria, wajah Gisel yang menangis saat bertengkar dengan Arga, dan yang paling mengerikan—tatapan mata Gisel yang dingin dan asing di kedai kopi kemarin lusa.
*“Nggak apa-apa, Arga sayang. Udah, buruan gih jalan...”*
*“Mau langsung balik, Ran?”*
Suara Gisel terngiang-ngiang di telinga Rania seperti bisikan hantu yang menakutkan. Rasa bersalah yang teramat sangat langsung menghantam dada Rania dengan telak, membuatnya merasa seperti seorang pengkhianat paling kotor di dunia ini. Gisel adalah sahabatnya. Gisel yang selalu ada untuknya. Bagaimana bisa dia tega mengkhianati Gisel dengan membiarkan pacar sahabatnya sendiri menciumnya di kamarnya sendiri?
Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang dia miliki, Rania meletakkan kedua telapak tangannya di dada Arga lalu mendorong cowok itu menjauh dengan c**up kuat.
*Deg!*
Arga tersentak ke belakang, napasnya memburu. Dia menatap Rania dengan tatapan bingung campur terkejut, seolah baru saja tersadar dari sebuah mantra sihir yang kuat. Tangannya yang tadi memegang pipi Rania kini menggantung kaku di udara sebelum akhirnya jatuh ke sisinya.
"Ran... gue..." Arga terbata-bata. Matanya melebar saat menyadari apa yang baru saja hampir dia lakukan. Ada penyesalan dan kepanikan yang sangat jelas terpancar dari wajahnya yang kini sedikit pucat.
Rania segera memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap mata Arga. Dia merapatkan lututnya ke dada, memeluk dirinya sendiri yang tiba-tiba merasa sangat dingin dan gemetar. "Ga, jangan. Ini salah."
Suasana kamar langsung berubah menjadi sangat mencekam. Kehangatan yang tadi sempat melingkupi mereka menguap begitu saja, digantikan oleh kecanggungan yang luar biasa pekat. Hanya suara hujan di luar yang masih setia mengisi keheningan di antara mereka.
"Sori, Ran. Gue beneran minta maaf. Gue nggak bermaksud..." Arga menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. Suaranya terdengar sangat bersalah. "Gue bener-bener khilaf. Sumpah, gue nggak ada maksud buat kurang ajar sama lo."
Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Dadanya terasa sangat sesak. Di satu sisi, dia merasa sangat bodoh karena hampir saja merusak persahabatannya demi ego sesaat. Di sisi lain, fakta bahwa dia begitu menginginkan sentuhan Arga membuatnya merasa sangat jijik pada dirinya sendiri.
"Nggak apa-apa, Ga. Anggap aja tadi nggak pernah terjadi," ujar Rania dengan suara bergetar, masih menolak untuk menatap Arga. "Kita... kita lanjutin tugasnya aja. Biar cepet kelar."
Arga diam untuk beberapa saat. Rania bisa merasakan tatapan bersalah cowok itu masih tertuju padanya, namun Arga akhirnya memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
"Iya, Ran. Maaf ya," gumam Arga pelan.
Dia kembali menggeser laptopnya, namun kali ini dia duduk dengan jarak sejauh mungkin yang bisa dicapai di atas karpet itu. Jarak yang kini terasa seperti jurang pemisah yang sangat lebar di antara mereka berdua.
Rania menatap kosong ke arah layar laptop yang menampilkan deretan angka yang kini tampak buram di matanya. Di luar, hujan masih turun dengan sangat deras, seolah sengaja ingin menahan mereka berdua di dalam satu kamar ini lebih lama lagi, menyiksa Rania dengan rasa bersalah yang terus menggerogoti hatinya secara perlahan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!