Bab 11: Ponsel yang Tertinggal
Hari ini kafe di sudut Senopati itu lumayan ramai. Musik *lo-fi* yang diputar lewat speaker gantung di sudut ruangan berpadu dengan suara denting cangkir dan obrolan sayup-sayup dari pengunjung lain. Gisel duduk di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Di depannya, secangkir *iced americano* yang sudah mencair setengahnya dibiarkan begitu saja, mengembun hingga membasahi meja kayu di bawahnya.
Gisel terus memperhatikan pintu ma**k kafe dengan perasaan campur aduk. Ada rasa cemas, curiga, dan amarah yang berusaha keras dia tekan dalam-dalam. Kejadian kemarin—saat dia harus pergi ke Bandung dan meninggalkan Arga berdua saja dengan Rania untuk mengerjakan tugas kuliah—bener-bener mengusik pikirannya.
Bukan karena Gisel nggak percaya sama Arga. Dia sayang banget sama cowoknya itu. Tapi, insting seorang pacar emang jarang meleset. Gisel menangkap ada yang aneh dari sikap Rania belakangan ini. Setiap kali mereka bertiga jalan bareng, tatapan mata Rania ke Arga itu beda. Ada binar yang terlalu intens, yang nggak seharusnya ditunjukkan oleh seorang sahabat kepada pacar temannya sendiri.
"Sori, Sel! Macet banget tadi di jalan layang."
Suara napas yang agak terengah-engah memecah lamunan Gisel. Rania baru saja tiba, langsung menarik kursi di depan Gisel dan meletakkan tas selempang kulitnya di atas meja. Gadis itu tersenyum lebar, tampak tanpa dosa dengan kaus rajut putih dan celana kulot ka**al. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah manisnya.
"Nggak apa-apa, Ran. Sant** aja. Gue juga belum lama kok sampainya," jawab Gisel, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tampak sealami mungkin.
Rania langsung memanggil pelayan dan memesan *iced matcha latte* kesukaannya. Setelah pelayan pergi, keheningan sempat singgah di antara mereka berdua selama beberapa detik. Atmosfer di meja itu mendadak terasa sedikit canggung, meskipun mereka sudah bersahabat sejak semester awal kuliah.
"Oh ya, gimana kemarin?" Gisel membuka obrolan, nadanya sengaja dibuat ka**al, seolah-olah dia cuma menanyakan hal biasa. "Tugas kelompok kalian aman, kan? Sori banget ya kemarin gue nggak bisa ikut bantu. Acara keluarga di Bandung bener-bener padat dan nggak bisa ditinggal."
Rania agak tersentak, tapi dia dengan cepat menguasai dirinya. Dia tersenyum, meski matanya sempat beralih ke arah lain selama sedetik sebelum kembali menatap Gisel. "Aman kok, Sel. Parah, untung aja selesai tepat waktu. Kemarin hujan badai kan di luar, jadi kita bener-bener fokus ngerjain biar cepat kelar."
"Arga bilang kemarin kalian ngerjainnya di kamar lo?" tanya Gisel lagi. Kali ini, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Rania, mencari celah kebohongan.
Rania menelan ludah pelan. "Ah, iya... soalnya di bawah berisik banget, nyokap lagi ada arisan keluarga juga di ruang tamu. Jadi daripada nggak fokus, Arga gue ajak ke kamar aja. Tapi tenang, pintu kamar gue buka lebar-lebar kok. Lagian kita beneran cuma ngerjain laporan, nggak macem-macem."
"Gue percaya kok sama lo, Ran. Lo kan sahabat gue," kata Gisel pelan. Kalimat itu terdengar seperti sebuah penegasan, atau mungkin sebuah peringatan terselubung yang dikemas dalam bentuk kepercayaan.
Rania hanya tertawa kecil, meskipun tawa itu terdengar sedikit dipaksakan di telinga Gisel. "Ya iyalah, Sel. Masa lo nggak percaya sama gue? Arga itu cowok lo, gue nggak bakal mungkin lah ada pikiran aneh-aneh."
Pesanan matcha latte Rania datang. Percakapan mereka pun berlanjut ke topik-topik ringan seputar kampus, dosen yang menyebalkan, hingga rencana liburan semester depan. Namun, di tengah obrolan itu, Gisel bisa merasakan kalau Rania tidak sepenuhnya fokus. Rania beberapa kali memeriksa ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu meletakkannya kembali di meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.
"Aduh, Sel, bentar ya. Perut gue mendadak mules banget nih, kayaknya efek belum s****an tadi pagi langsung minum matcha dingin," ujar Rania tiba-tiba sambil memegangi perutnya. Wajahnya meringis menahan sakit.
"Oh ya? Ya udah, buruan ke toilet sana. Kamar mandinya di lorong sebelah kanan dekat kasir," kata Gisel.
"Gue ke toilet bentar ya, jangan ditinggal!" Rania buru-buru berdiri, menyampirkan tasnya di sandaran kursi, tapi dia melupakan satu hal penting.
Ponselnya tertinggal di atas meja.
Gisel menatap kepergian Rania sampai bayangan sahabatnya itu menghilang di balik belokan lorong toilet. Begitu Rania benar-benar tidak terlihat, pandangan Gisel langsung beralih ke ponsel pintar milik Rania yang tergeletak pasrah di atas meja kayu.
Layar ponsel itu tiba-tiba menyala, menampilkan notifikasi pesan ma**k dari grup kelas mereka. Dan yang membuat jantung Gisel berdegup kencang adalah: ponsel itu tidak terkunci. Rania tampaknya lupa menekan tombol *power* untuk mengunci layarnya setelah membalas pesan terakhir tadi. Layarnya masih menampilkan halaman utama dengan berbagai ikon aplikasi.
Rasa penasaran yang selama ini tertahan di dada Gisel mendadak membuncah. Itu seperti dorongan magnetis yang sangat kuat. Logikanya berteriak bahwa membuka ponsel orang lain adalah hal yang salah, melanggar privasi, apalagi ponsel sahabat sendiri. Tapi instingnya—insting yang dipicu oleh rasa curiga yang teramat sangat—mengalahkan segalanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Gisel mengulurkan tangan. Dia mengambil ponsel Rania dengan gerakan pelan, seolah-olah takut ponsel itu akan meledak jika disentuh terlalu kasar. Dia melirik sekilas ke arah lorong toilet untuk memastikan Rania belum kembali. Aman.
Gisel mulai menggeser layar ponsel Rania. Dia tidak membuka WhatsApp atau Instagram. Entah kenapa, matanya langsung tertuju pada sebuah aplikasi *notes* bawaan ponsel yang diberi nama folder "Personal".
Di dalam folder itu, hanya ada satu catatan yang paling atas, yang baru saja diedit beberapa jam yang lalu. Judul catatan itu sangat singkat, namun sukses membuat darah Gisel mendadak berdesir dingin: **"A"**.
Gisel mengetuk catatan itu.
Begitu baris-baris kalimat di dalamnya terbuka, napas Gisel seolah tercekat di tenggorokan. Matanya melebar, dan seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti es.
Itu bukan sekadar catatan harian biasa. Itu adalah sebuah diary digital. Dan isinya... benar-benar di luar batas kewajaran.
Gisel membaca baris demi baris tulisan Rania dengan tangan yang semakin gemetar hebat.
*“14 November. Kemarin hujan deras banget di luar, tapi di dalam kamar gue, suasananya jauh lebih panas. Arga duduk deket banget sama gue. Wangi parfumnya bener-bener bikin gue g***. Pas tangan kita nggak sengaja sentuhan, gue bisa ngerasain sengatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh gue. Gue pengen banget waktu itu langsung meluk dia dari belakang. Gue bayangin gimana rasanya kalau Arga meluk gue erat di atas ka**r ini, nyium leher gue pelan sambil bisikin nama gue, bukan nama Gisel.”*
Gisel membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri. Air matanya hampir saja menetes karena rasa syok yang teramat sangat. Tapi itu belum seberapa. Gisel terus menggulirkan layar ke bawah, membaca entri-entri diary dari tanggal-tanggal sebelumnya.
*“Gue selalu ngebayangin pacar orang tiap malam sebelum tidur. Iya, Arga. Cowoknya Gisel. Gisel emang beruntung, tapi dia nggak pernah tahu seberapa besar gairah yang Arga punya. Di dalam kepala gue, Arga itu milik gue sepenuhnya. Gue sering bayangin Arga datang ke kamar gue tengah malam, basah kuyup karena hujan, lalu kita berakhir di ranjang tanpa sehelai benang pun. Sentuhan tangannya yang kasar tapi lembut di pinggang gue, napasnya yang memburu di telinga gue... Semua det**l itu terasa nyata banget di fantasi gue. Gue pengen banget ngerasain bibir tebalnya itu melumat bibir gue sampai kita berdua kehabisan napas. Gisel nggak akan pernah bisa muasin Arga kayak gimana yang gue bayangin tiap malam.”*
*“Kadang gue merasa bersalah sama Gisel, tapi pers**** dengan rasa bersalah itu. Cinta dan gairah nggak bisa milih. Dan tiap kali gue lihat Arga senyum ke gue, gue tahu, di dalam kepalanya, mungkin dia juga punya fantasi yang sama kotornya tentang gue. Kita berdua cuma tinggal nunggu waktu aja buat mewujudkan semua fantasi seksual ini jadi nyata.”*
Gisel merasa dunianya runtuh seketika. Kepalanya berputar hebat, dan rasa mual yang luar biasa mendadak menyerang perutnya. Kalimat-kalimat di dalam diary itu terasa begitu menjijikkan, kotor, dan sangat vulgar.
Rania, sahabat yang selama ini dia anggap seperti saudara sendiri, ternyata menyimpan obsesi seksual yang begitu gelap dan menjijikkan terhadap pacarnya. Setiap malam, di saat Gisel tertidur lelap dengan memercayai sahabatnya, Rania justru sibuk menelanjangi Arga di dalam fantasi liarnya. Menuliskan setiap det**l menjijikkan itu ke dalam catatan telepon genggamnya.
"G***... Lo bener-bener g***, Ran..." bisik Gisel dengan suara yang parau dan gemetar.
Kemarahan yang teramat sangat membakar dada Gisel. Dia ingin berteriak, ingin melempar ponsel itu ke wajah Rania saat itu juga, dan menanyakan apa maksud dari semua tulisan sampah ini. Rasanya sakit sekali dikhianati oleh orang yang paling dia percaya. Pengkhianatan ini jauh lebih menyakitkan karena dilakukan secara diam-diam, merayap di balik topeng kepolosan seorang sahabat sejati.
Dari kejauhan, Gisel mendengar langkah kaki yang mendekat dari arah lorong toilet.
Dengan gerakan cepat dan panik, Gisel segera menekan tombol *back*, menutup aplikasi *notes* tersebut, lalu meletakkan kembali ponsel Rania ke posisi semula di atas meja, persis seperti saat Rania meninggalkannya tadi. Dia buru-buru menyeka sudut matanya yang sempat basah, mencoba mengatur napasnya yang memburu, dan memasang wajah se-normal mungkin, meskipun detak jantungnya masih berpacu liar seperti genderang perang.
Rania berjalan kembali ke meja mereka sambil mengusap perutnya, tampak sudah jauh lebih lega. Dia tersenyum manis, lalu duduk kembali di kursinya tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Aduh, sori ya lama. G***, lega banget rasanya sekarang," ujar Rania sambil tertawa kecil, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dia langsung mema**kkan ponsel itu ke dalam tasnya.
Gisel menatap Rania. Kali ini, tatapan mata Gisel tidak lagi sama. Tidak ada lagi kehangatan persahabatan di sana. Yang ada hanyalah rasa jijik, benci, dan amarah yang siap meledak kapan saja. Gadis manis di depannya ini bukan lagi sahabatnya, melainkan seorang predator yang diam-diam mengincar kebahagiaannya setiap malam.
"Gisel? Lo nggak apa-apa? Kok muka lo mendadak pucat banget gitu?" tanya Rania dengan nada yang terdengar sangat perhatian, namun kini di telinga Gisel, suara itu terdengar sangat munafik dan palsu.
Gisel mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tersenyum dingin. "Gue nggak apa-apa, Ran. Cuma... tiba-tiba kepikiran sesuatu aja."
Permainan baru saja dimulai, dan Gisel bersumpah tidak akan membiarkan Rania merebut apa yang menjadi miliknya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!