"Beneran cuma ngerjain tugas, Ran? Atau lo sibuk ngebayangin cowok gue di ka**r lo?"
Pertanyaan Gisel barusan meluncur begitu saja, dingin dan menusuk. Senyum di wajah Rania langsung membeku. Gelas *iced matcha latte* yang baru saja ditaruh oleh pelayan di atas meja bahkan belum sempat disentuhnya, tapi atmosfer di sekitar mereka sudah mendadak turun drastis hingga ke titik beku.
"Sel... lo ngomong apa sih? Kok pembicaraannya jadi ngaco gini?" Rania tertawa hambar, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak mencekik lehernya. Matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan tajam Gisel. "Gue sama Arga beneran cuma ngerjain tugas kelompok, sumpah. Nggak ada apa-apa."
Gisel tidak membalas ucapan Rania. Dia hanya menatap sahabatnya sejak semester satu itu dengan tatapan kosong, sekaligus penuh luka. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis, Gisel merogoh tasnya. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri, lalu meletakkannya di atas meja kayu, tepat di depan Rania.
Layar ponsel Gisel menyala, menampilkan sederet tangkapan layar dari sebuah aplikasi *private blog*—sebuah diary digital yang selama ini dikunci rapat-rapat oleh pemiliknya.
Rania melirik layar itu, dan sedetik kemudian, seluruh warna di wajahnya langsung menguap. Dia menjadi sangat pucat, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya baru saja disedot habis. Tangannya mulai gemetar.
"Ini... lo dapet dari mana?" bisik Rania, suaranya mendadak serak dan kehilangan kekuatannya.
"Lo lupa, Ran?" Gisel bersuara, nadanya bergetar menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. "Dua hari lalu ponsel lo tertinggal di mobil gue. Dan lo lupa mengunci tab aplikasi yang masih terbuka. Gue awalnya cuma mau menutup aplikasi itu biar baterai lo nggak habis, tapi... tebak apa yang gue lihat?"
Tepat pada detik itu, sebuah suara familier memecah ketegangan di antara mereka.
"Sori, sori! Nyari parkiran susah banget di depan."
Arga muncul dari balik partisi kayu kafe. Cowok itu tersenyum lebar, mengenakan jaket denim favoritnya yang membuat penampilannya selalu terlihat segar. Arga langsung menarik kursi di sebelah Gisel, mengacak rambut pacarnya itu dengan gemas tanpa menyadari ketegangan yang sedang terjadi.
"Hai, Ran. Udah lama?" sapa Arga ramah kepada Rania.
Namun, tidak ada jawaban dari Rania. Rania hanya menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca, penuh ketakutan.
Arga yang merasakan ada yang aneh langsung mengerutkan kening. Dia menatap Gisel, lalu beralih ke ponsel Gisel yang tergeletak di atas meja. "Eh... ada apa nih? Kok suasananya kayak lagi di ruang sidang gini?" tanya Arga, mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.
"Arga, pas banget lo udah dateng," kata Gisel. Suaranya bener-bener datar, tapi justru itu yang membuatnya terdengar sangat mengerikan. "Gue mau nunjukin sesuatu ke lo. Sesuatu yang sangat menarik."
"Gisel, please... jangan," potong Rania dengan suara memelas. Dia mencoba meraih tangan Gisel di atas meja, tapi Gisel dengan cepat menarik tangannya menjauh, seolah-olah kulit Rania adalah racun yang menjijikkan.
"Kenapa, Ran? Lo malu?" tanya Gisel, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya, namun sorot matanya tetap tajam menembus Rania. "Lo berani nulis ini setiap malam, tapi kenapa sekarang lo ketakutan setengah mati pas tulisan lo dibaca sama orangnya langsung?"
Arga semakin bingung sekaligus penasaran. "Nulis apaan sih? Gue nggak ngerti deh."
Gisel mengambil ponselnya, lalu menatap layar itu. Dengan suara yang lantang dan jelas, di tengah-tengah musik *lo-fi* kafe yang masih mengalun sant**, Gisel mulai membaca tulisan di layar tersebut.
"12 September. *Gue benci banget lihat Gisel gandengan sama Arga hari ini. Harusnya gue yang ada di posisi itu. Malam ini, pas gue merem, gue ngebayangin Arga lagi meluk gue erat banget. Wangi parfum maskulinnya seolah nyata di kamar gue. Arga, kapan lo sadar kalau gue jauh lebih butuh lo dibanding Gisel yang manja itu?*"
Arga tertegun. Matanya membelalak lebar. "Hah? Ini... ini apaan?"
"Belum selesai, Ga. Ini ada lagi yang lebih baru. Tanggal 28 Oktober, pas gue lagi di Bandung," lanjut Gisel, air matanya kini mengalir deras, tapi dia menolak untuk berhenti membaca. "28 Oktober. *Akhirnya gue bisa berdua aja sama Arga di kamar gue. Pas dia lagi fokus ngetik di laptop, gue sengaja duduk deket banget sampai bahu kita bersentuhan. Rasanya mau g***. Pas dia pulang, gue langsung meluk bantal yang sempat dia dudukin, sambil ngebayangin dia lagi tidur di samping gue, meluk gue sampai pagi. Gue bener-bener membayangkan pacar orang setiap malam, dan gue nggak peduli kalau itu pacar sahabat gue sendiri.*"
"Gisel, stop! Gue mohon, c**up!" Rania histeris. Dia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, air matanya tumpah ruah merusak riasan wajahnya. Beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka mulai menoleh, terganggu sekaligus penasaran dengan keributan tersebut.
Arga mematung di kursinya. Wajahnya yang biasanya ramah dan sant** kini berubah drastis menjadi penuh ekspresi syok, tidak percaya, dan sedetik kemudian... rasa jijik yang amat sangat terpancar dari matanya.
Dia menatap Rania seolah-olah gadis di depannya itu adalah orang asing yang sangat mengerikan.
"Ran... lo... lo beneran nulis ginian tentang gue?" tanya Arga, suaranya terdengar sangat risi. Dia bahkan refleks menggeser kursinya sedikit menjauh dari meja, seolah ingin membuat jarak sejauh mungkin dari Rania. "G*** ya... ini bener-bener *creepy* banget. Gue selama ini selalu bersikap baik sama lo karena lo sahabatnya Gisel! Gue hargai lo sebagai temen dekat pacar gue, tapi ternyata di belakang... lo se-obsesif ini sama gue?"
"Arga, nggak gitu! Sumpah, dengerin penjelasan gue dulu!" Rania memohon-mohon, tangannya mencoba menggapai lengan Arga melintasi meja, tapi Arga dengan cepat menepisnya.
"Jangan pegang-pegang gue, Ran. Sumpah, gue merinding banget," potong Arga dengan nada dingin dan penuh penolakan. "Gue nggak pernah nyangka lo punya pikiran se-kotor dan se-aneh ini tentang gue. Setiap malam lo ngebayangin gue? Lo sakit ya?"
Kata-kata Arga bagaikan belati yang menusuk langsung ke jantung Rania. Selama ini, dalam fantasi terliarnya, Rania selalu membayangkan Arga akan menatapnya dengan penuh cinta. Tapi kenyataan hari ini jauh lebih kejam. Arga menatapnya dengan tatapan paling menjijikkan yang pernah Rania lihat seumur hidupnya.
Gisel menghapus air matanya dengan kasar. Dia menatap Rania dengan pandangan yang sudah tidak ada lagi rasa sayang di dalamnya. Persahabatan mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun, yang penuh dengan tawa, rahasia, dan saling mendukung, hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.
"Lo tahu apa yang paling bikin gue sakit hati, Ran?" tanya Gisel, suaranya bergetar hebat karena menahan tangis yang mendalam. "Gue selalu cerita semua hal tentang Arga ke lo karena gue percaya sama lo. Gue anggap lo saudara gue sendiri. Tapi ternyata, setiap kali gue cerita, lo malah gunain itu buat bahan fantasi lo tiap malam. Lo tega banget, Ran. Lo jahat banget."
"Gisel, maafin gue... gue khilaf, gue bener-bener minta maaf..." Rania menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat. Dia kini menjadi pusat perhatian seluruh kafe, tapi dia tidak peduli lagi. Dunianya baru saja runtuh. "Gue nggak bermaksud ngerusak hubungan kalian, gue cuma... gue nggak bisa nahan perasaan gue..."
"Nggak bisa nahan perasaan lo?" Gisel tertawa getir di sela tangisnya. "Dengan cara ngebayangin pacar sahabat lo sendiri setiap malam? Lo itu egois, Rania. Lo bermuka dua."
Gisel berdiri dari kursinya. Dia menyampirkan tasnya ke bahu, lalu menatap Rania untuk terakhir kalinya.
"Mulai hari ini, detik ini juga, persahabatan kita selesai," ucap Gisel dengan tegas, meskipun air matanya masih terus mengalir. "Gue nggak mau kenal lo lagi. Jangan pernah hubungi gue, jangan pernah muncul di depan gue atau Arga lagi. Bagi gue, Rania yang gue kenal sebagai sahabat terbaik gue udah mati."
"Gisel, please! Jangan kayak gini! Gue minta maaf!" Rania berteriak histeris, mencoba ikut berdiri untuk menahan Gisel, tapi kakinya terlalu lemas hingga dia hampir terjatuh kembali ke kursinya.
Arga ikut berdiri di samping Gisel. Dia menggenggam erat tangan Gisel, memberikan kekuatan pada pacarnya itu, sekaligus menunjukkan secara jelas kepada Rania di mana posisinya berada.
"Ayo pergi, Sel. Nggak ada gunanya lagi kita di sini," kata Arga, suaranya dingin tanpa empati sedikit pun untuk Rania. Dia bahkan tidak sudi melirik Rania untuk terakhir kalinya saat dia menuntun Gisel berjalan keluar dari kafe.
Rania hanya bisa terduduk lemas di kursinya. Dia menatap punggung Gisel dan Arga yang berjalan menjauh, keluar dari pintu kaca kafe, dan menghilang di balik keramaian jalan raya Senopati.
Tangisan Rania pecah seada-adanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat karena tangis histeris yang tidak bisa lagi dia bendung. Topeng persahabatan yang selama ini dia jaga dengan sangat rapi telah pecah berantakan di lant** kafe itu, menyisakan dirinya yang kini benar-benar sendirian, hancur, dan kehilangan segalanya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!