**Bab 13: Titik Terendah**
Sudah hari kelima Rania tidak keluar dari kamar kostnya.
Kamar berukuran tiga kali empat meter itu kini tampak seperti kapal pecah. Pakaian kotor menumpuk di pojok ruangan, beberapa mangkuk bekas mi instan yang sudah mengering dibiarkan tergeletak begitu saja di lant**, dan gorden jendela sengaja ditutup rapat-rapat. Rania tidak butuh sinar matahari. Dia tidak butuh dunia luar. Dunia luar terlalu menakutkan untuk dia hadapi sekarang.
Rania meringkuk di atas ka**rnya yang tanpa sprei, memeluk lututnya erat-erat. Tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya pening luar biasa akibat terlalu banyak menangis dan kurang tidur. Setiap kali dia mencoba memejamkan mata, memori mengerikan di kafe lima hari yang lalu kembali berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang memutar adegan mimpi buruk secara berulang-ulang.
Dia masih ingat dengan sangat jelas bagaimana tatapan Arga berubah seketika hari itu.
Saat itu, setelah Gisel menyodorkan ponselnya, Arga membaca baris demi baris tulisan di blog pribadi Rania. Rania ingat bagaimana senyum ramah di wajah cowok itu perlahan memudar, digantikan oleh kerutan dahi, lalu rasa bingung, hingga akhirnya berakhir pada satu ekspresi yang paling Rania takuti di dunia ini: rasa jijik yang luar biasa.
*"Ini... lo yang nulis, Ran?"* suara Arga saat itu terdengar sangat asing. Tidak ada lagi nada hangat atau candaan sant** yang biasanya selalu dia lontarkan. *"Lo... lo ngebayangin gue kayak gini setiap malam? Di tempat tidur lo?"*
Rania hanya bisa menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan karena teramat malu. *"Arga, maaf... gue... gue nggak bermaksud..."*
*"Lo sakit, Ran,"* potong Arga, suaranya dingin, menusuk langsung ke ulu hati Rania. Cowok itu bangkit berdiri, menatap Rania seolah-olah Rania adalah seonggok sampah yang tidak sengaja dia injak di pinggir jalan. *"Gue pikir lo sahabat cowok gue yang paling tulus. Gue selalu anggap lo kayak adek gue sendiri karena lo temen deket Gisel. Tapi ternyata... lo se-creepy ini? Lo terobsesi sama gue sampai nulis hal-hal kotor kayak gini?"*
*"Arga, please..."*
*"Jangan sebut nama gue lagi,"* desis Arga tajam. *"Dan jangan pernah muncul di depan gue atau Gisel lagi. Lo bener-bener bikin gue mual."*
Setelah itu, Arga merangkul pundak Gisel yang sudah menangis sesenggukan, lalu menuntunnya keluar dari kafe, meninggalkan Rania sendirian di tengah tatapan penuh tanya dari pengunjung kafe lainnya.
Dan sejak detik itu, hidup Rania hancur lebur.
***
Rania meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Layarnya mati. Sudah tiga hari dia sengaja mengaktifkan mode pesawat. Dia terlalu takut untuk melihat notifikasi. Dia takut melihat pesan kemarahan dari Gisel, atau mungkin pesan dingin dari Arga yang memperingatkannya untuk menjauh.
Lebih dari itu, dia takut menghadapi kenyataan bahwa dia sudah kehilangan segalanya.
Gisel adalah satu-satunya sahabat sejati yang dia miliki sejak ma**k kuliah. Gisel yang selalu membagikan bekal makan siangnya, Gisel yang selalu meminjamkan catatan kuliah saat Rania sakit, dan Gisel yang selalu ada saat Rania merasa dunia sedang tidak berpihak padanya.
Sekarang, Gisel membencinya. Sangat membencinya. Dan Gisel punya semua alasan di dunia untuk melakukan itu.
Rania bangkit dari ka**r dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Langkah kakinya gont** saat berjalan menuju kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin di atas wastafel.
Perempuan di dalam cermin itu terlihat mengenaskan. Matanya bengkak dan merah, kantung matanya menghitam tebal, rambutnya yang biasanya rapi kini kusut masai, dan kulitnya tampak pucat pasi seolah tidak ada darah yang mengalir di sana.
"Lo menjijikkan, Rania," bisik Rania pada pantulan dirinya sendiri. Suaranya serak, nyaris habis. "Lo bener-bener cewek menjijikkan."
Air mata kembali menetes, membasahi pipinya yang terasa perih. Rania mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sesak di dadanya kembali datang, membuatnya kesulitan bernapas. Dia mengalami *panic attack* lagi untuk yang kesekian kalinya minggu ini.
Selama ini, dia selalu mengira bahwa fantasi-fantasinya tentang Arga hanyalah hal biasa. Dia pikir itu cuma pelarian fiksi yang tidak merugikan siapa pun. Dia pikir, selama dia tidak merebut Arga secara fisik di dunia nyata, membayangkan cowok itu di dalam pikirannya sebelum tidur adalah hal yang sah-sah saja.
Namun sekarang, setelah semuanya terbongkar, Rania terpaksa menatap cermin kenyataan yang sangat pahit.
Obsesi kotornya itu bukanlah hal yang normal. Itu bukan sekadar kekaguman biasa pada pacar sahabatnya. Itu adalah penyakit. Sebuah pelarian menyimpang dari luka masa kecilnya yang tidak pernah sembuh.
Rania terduduk di lant** kamar mandi yang dingin, memeluk lututnya, dan membiarkan air matanya mengalir deras.
Memorinya melayang kembali ke masa lalunya. Masa kecil yang tidak pernah ingin dia ingat kembali.
Rania tumbuh di dalam keluarga yang hancur. Ayah dan ibunya selalu bertengkar setiap hari, saling berteriak dan melempar barang, tanpa peduli ada seorang anak kecil yang gemetar ketakutan di pojok kamar. Bagi orang tuanya, Rania hanyalah beban. Dia masih ingat betul kata-kata ibunya saat mereka akhirnya bercerai: *"Kalau bukan karena hamil kamu, mama nggak bakal mau nikah sama papa kamu yang br****** itu!"*
Kata-kata itu tertanam dalam di kepala Rania, tumbuh menjadi sebuah keyakinan yang mengerikan: *Aku tidak berharga. Aku tidak pantas dicint**. Aku adalah pembawa sial.*
Setelah perceraian itu, ayahnya pergi entah ke mana dan membangun keluarga baru, sama sekali melupakan keberadaan Rania. Ibunya sibuk bekerja dan sering bergonta-ganti pasangan, mengabaikan Rania seolah-olah anak perempuannya itu tidak kasatmata. Rania tumbuh dalam kesepian yang teramat sangat. Dia selalu merasa kosong, tidak diinginkan, dan tidak dicint**.
Sampai akhirnya dia bertemu Gisel di bangku kuliah. Gisel yang ceria, hangat, dan berasal dari keluarga yang utuh dan harmonis. Rania sangat menyayangi Gisel, tapi di saat yang sama, ada rasa iri yang mendalam di lubuk hatinya. Gisel memiliki semua hal yang tidak pernah Rania miliki: kasih sayang yang melimpah, perhatian, dan rasa aman.
Dan rasa iri itu memuncak ketika Arga ma**k ke dalam hidup Gisel.
Arga adalah sosok cowok idaman. Dia memperlakukan Gisel seperti seorang putri. Dia selalu ada untuk Gisel, menatap Gisel dengan tatapan penuh cinta, dan memberikan rasa aman yang selama ini selalu Rania dambakan dari sosok seorang laki-laki—sosok yang tidak pernah dia dapatkan dari ayahnya.
Setiap kali melihat Arga memperlakukan Gisel dengan begitu manis, hati Rania menjerit. Dia menginginkan kasih sayang seperti itu. Dia ingin ada seseorang yang menatapnya seperti cara Arga menatap Gisel. Dia ingin merasa diinginkan.
Karena tahu dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan cowok seperti Arga di dunia nyata—karena dia merasa dirinya terlalu rusak dan tidak berharga—Rania mulai menciptakan dunianya sendiri. Di dalam pikirannya. Di dalam tulisan-tulisan rahasianya.
Di dunia fantasi itu, Arga adalah miliknya. Arga mencint**nya, memeluknya saat dia rapuh, dan membisikkan kata-kata penenang yang selalu ingin dia dengar. Fantasi itu menjadi candu. Menjadi obat penenang instan yang dia konsumsi setiap malam sebelum tidur untuk melupakan kenyataan bahwa hidupnya sangat sepi dan menyedihkan.
Rania tertawa hambar di sela-sela tangisnya. Suara tawanya terdengar begitu pilu dan menyedihkan di dalam kamar mandi yang sunyi.
"Gue emang sakit..." gumamnya lirih. "Gue egois. Gue jahat."
Dia telah mengkhianati Gisel, satu-satunya orang yang tulus berteman dengannya. Dia telah melecehkan Arga secara mental melalui tulisan-tulisan fantasinya yang liar dan kotor. Dia menggunakan kebaikan dan kehangatan hubungan mereka sebagai bahan bakar untuk memuaskan hasrat emosionalnya yang haus akan kasih sayang.
Kini, fantasi itu telah runtuh, menyisakan puing-puing kenyataan yang menghancurkan dirinya sendiri.
Rania merangkak keluar dari kamar mandi, kembali ke ka**rnya. Dia meraih ponselnya lagi, lalu menyalakannya. Setelah menunggu beberapa saat hingga sinyalnya stabil, puluhan notifikasi langsung ma**k secara beruntun.
Ada beberapa pangg***n tak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal, pesan dari teman-teman kelasnya, dan yang paling membuat jantungnya berhenti berdetak adalah grup obrolan angkatan kuliah mereka yang sangat ramai.
Dengan tangan gemetar, Rania membuka grup chat tersebut.
Matanya membelalak kencang. Di sana, sebuah tangkapan layar dari blog pribadinya telah tersebar luas. Seseorang—entah siapa, tapi dia yakin itu adalah salah satu teman dekat Gisel yang tahu masalah ini—telah menyebarkan tulisan-tulisannya ke grup angkatan.
*“G***, ini beneran tulisan Rania? Creepy banget sumpah.”*
*“Nggak nyangka ya, tampangnya aja yang polos dan pendiam, tapi ternyata otaknya mesum dan obsesif banget sama pacar sahabatnya sendiri.”*
*“Pantas aja dia sering ngintilin Gisel sama Arga pacaran. Ternyata dia lagi nge-fantasiiin Arga. Najis banget, kasihan Gisel.”*
*“Ini mah udah ma**k pelecehan nggak sih? Kasihan Arga pasti merinding banget.”*
Rania melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak seribu. Dia menutup telinganya rapat-rapat, meskipun tidak ada suara apa pun di kamarnya. Kalimat-kalimat hujatan itu seolah bergaung kencang di dalam kepalanya, menertawakannya, menghakiminya, dan menelanjanginya tanpa ampun.
Semua orang sudah tahu.
Rahasia tergelapnya, aib paling memalukan yang dia sembunyikan rapat-rapat, kini telah terekspos ke seluruh penjuru kampus. Besok, lusa, dan seterusnya, dia tidak akan pernah bisa menunjukkan wajahnya lagi di kampus. Dia akan selalu diingat sebagai cewek aneh, cewek obsesif, cewek "sakit" yang memimpikan pacar sahabatnya sendiri setiap malam.
Rania menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Dia meringkuk sekecil mungkin di bawah sana, membiarkan kegelapan menyelimutinya.
Dia merasa telah jatuh ke dasar jurang yang paling dalam dan gelap, di mana tidak ada satu pun tangan yang akan terulur untuk menyelamatkannya. Dia benar-benar sendirian, hancur berkeping-keping oleh kesalahannya sendiri, dan terpaksa menanggung seluruh konsekuensi dari pelarian bodohnya yang kini menjadi titik terendah dalam hidupnya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!