Hari keenam sejak kejadian mengerikan di kafe itu.
Rania akhirnya menyerah pada rasa lapar yang melilit perutnya dan bau tidak sedap yang mulai menguar dari sudut-sudut kamarnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Rania memaksakan diri bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya terasa sangat berat dan gemetar saat dia berjalan menuju kamar mandi.
Saat berdiri di depan wastafel, Rania mendongak untuk menatap cermin. Dia tersentak. Sosok yang terpantul di sana nyaris tidak dia kenali. Matanya bengkak dan merah, kantung matanya menghitam tebal, rambutnya kusut masai, dan wajahnya sangat pucat bagaikan mayat hidup.
Rania menyentuh permukaan cermin yang dingin dengan ujung jarinya. "Lo menyedihkan banget, Ran," bisiknya dengan suara serak yang nyaris habis.
Air matanya kembali menetes. Tapi kali ini, ada rasa yang berbeda yang membuncah di dalam dadanya. Bukan lagi sekadar rasa takut atau malu, melainkan rasa lelah yang luar biasa. Dia lelah menangis. Dia lelah mengurung diri. Dia lelah menjadi tawanan dari pikirannya yang kacau dan obsesinya yang merusak.
Dia sadar, jika dia terus seperti ini, dia bener-bener bisa g***. Atau bahkan mati secara perlahan di dalam kamar kost ini.
Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit. "Gue butuh bantuan," gumamnya lirih. "Gue nggak bisa sembuh sendirian."
Dengan tangan yang masih gemetar, Rania berjalan kembali ke ka**r dan meraih ponselnya. Dia mematikan mode pesawat. Detik berikutnya, ponselnya bergetar tanpa henti. Ratusan notifikasi ma**k. Ada beberapa pangg***n tak terjawab dari ibunya di kampung, pesan-pesan grup kelas yang menanyakan keberadaannya karena sudah seminggu membolos kuliah, dan satu pesan terakhir dari Gisel yang dikirim lima hari lalu.
Rania memejamkan mata sesaat, menahan denyut nyeri di dadanya saat melihat nama Gisel. Dia tidak berani membuka pesan itu. Dia tahu, apa pun isinya, itu pasti akan menghancurkannya lagi.
Rania mengabaikan semua pesan itu. Dengan fokus yang tersisa, dia membuka aplikasi browser dan mengetikkan kata kunci: *Rekomendasi psikolog klinis terdekat*. Setelah membaca beberapa ulasan, dia menemukan sebuah klinik psikologi yang tidak jauh dari area kampusnya. Menggunakan sisa keberaniannya, Rania mendaftarkan diri untuk sesi konseling sore itu juga.
***
Klinik psikologi itu terasa sangat tenang. Bau aroma terapi lavender langsung menyapa indra penciuman Rania begitu dia melangkah ma**k. Desain interiornya yang minimalis dengan warna-warna pastel yang lembut perlahan-lahan membuat saraf-saraf Rania yang tegang sejak beberapa hari lalu mulai sedikit rileks.
"Mbak Rania? Silakan ma**k, Mbak. Dokter Dania sudah menunggu di dalam," panggil seorang resepsionis dengan senyum ramah.
Rania mengangguk pelan, meremas tali tas selempangnya erat-erat untuk mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang. Dia melangkah ma**k ke dalam ruangan konsultasi. Di sana, seorang wanita berusia sekitar awal tiga puluh tahunan dengan kacamata berbingkai tipis menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Halo, Rania. Silakan duduk. Cari posisi yang paling nyaman buat kamu, ya," sapa Dokter Dania ramah. Suaranya terdengar sangat menenangkan, tipe suara yang membuat orang merasa aman untuk menumpahkan segala keluh kesah.
Rania duduk di sofa empuk yang disediakan. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan.
"Bagaimana kabar kamu hari ini, Rania? Apa ada hal spesifik yang ingin kamu bagikan sama saya?" tanya Dokter Dania lembut, tidak ada nada mendesak sama sekali.
Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan itu. Rania merasa tenggorokannya tercekat. Dia bingung harus mulai dari mana. Apakah dia harus langsung jujur bahwa dia adalah cewek aneh yang terobsesi pada pacar sahabatnya sendiri? Apakah dokter ini akan menatapnya dengan pandangan jijik yang sama seperti yang ditunjukkan Arga?
"Nggak apa-apa, sant** aja. Di ruangan ini, kamu aman. Nggak akan ada yang menghakimi kamu," lanjut Dokter Dania seolah bisa membaca isi pikiran Rania.
Mendengar kalimat itu, pertahanan Rania runtuh. Air matanya kembali mengalir, kali ini tanpa isakan yang histeris, hanya lelehan air mata yang mengekspresikan rasa sakit yang teramat dalam.
"Saya... saya sakit, Dok," bisik Rania dengan suara bergetar. "Saya melakukan sesuatu yang menjijikkan. Saya terobsesi sama pacar sahabat saya sendiri."
Dokter Dania tidak terkejut. Beliau hanya mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama.
Rania pun mulai bercerita. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Tentang bagaimana dia selalu merasa kesepian sejak kecil, tentang orang tuanya yang selalu menuntutnya menjadi sempurna tanpa pernah memberikan kasih sayang yang tulus, dan tentang bagaimana dia pertama kali bertemu Arga.
"Arga itu... dia baik banget sama saya, Dok. Dia satu-satunya cowok yang memperlakukan saya dengan lembut, meskipun dia ngelakuin itu cuma karena saya sahabat pacarnya," tutur Rania, suaranya parau. "Tapi otak saya mulai melenceng. Saya kesepian, Dok. Saya pengen ngerasain dicint** kayak cara Arga mencint** Gisel. Akhirnya, saya mulai berfantasi. Setiap malam, sebelum tidur, saya bayangin Arga ada di samping saya. Saya nulis semua fantasi itu di blog pribadi saya. Sampai akhirnya... semuanya ketahuan."
Rania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Arga jijik sama saya. Gisel benci sama saya. Sekarang saya nggak punya siapa-siapa lagi. Saya bener-bener ngerasa kotor dan nggak layak buat hidup."
Dokter Dania menggeser kotak tisu ke dekat Rania. Beliau menunggu sampai tangisan Rania sedikit mereda sebelum akhirnya mulai berbicara.
"Rania, pertama-tama, saya mau berterima kasih karena kamu sudah sangat jujur dan berani menceritakan hal ini. Itu adalah langkah awal yang sangat luar biasa untuk sembuh," kata Dokter Dania dengan tulus. "Dari cerita kamu, saya bisa melihat bahwa apa yang kamu lakukan pada Arga sebenarnya adalah sebuah *coping mechanism* atau cara pelarian dari rasa kesepian dan trauma masa lalu kamu yang tidak terselesaikan."
Rania mendongak, menatap Dokter Dania dengan mata sembapnya. "Pelarian?"
"Ya. Kamu tumbuh di lingkungan yang minim apresiasi dan kasih sayang. Ketika kamu melihat figur Arga yang begitu hangat dan penuh perhatian, bawah sadar kamu mendambakan sosok seperti itu. Karena kamu tahu Arga adalah milik sahabat kamu dan tidak mungkin kamu miliki di dunia nyata, kamu menciptakan dunia fantasi kamu sendiri sebagai tempat aman di mana kamu bisa merasa dicint**," jelas Dokter Dania dengan bahasa yang mudah dipahami.
Beliau menjeda sejenak, memberikan waktu bagi Rania untuk mencerna kata-katanya.
"Fantasi itu seperti candu, Rania. Semakin kamu merasa kesepian di dunia nyata, semakin kamu ingin melarikan diri ke dunia fantasi itu. Tapi sekarang, realitas sudah mendob**k ma**k. Dan cara terbaik untuk sembuh adalah dengan menerima kenyataan itu, melepaskan fantasi tersebut, dan mulai menyembuhkan luka batin yang ada di dalam diri kamu sendiri."
Rania tertegun. Penjelasan Dokter Dania membuat sesuatu yang kusut di kepalanya perlahan mulai terurai. Selama ini dia mengira dia hanya seorang psikopat murahan yang gatal ingin merebut pacar orang. Tapi ternyata, di balik itu semua, ada seorang anak kecil di dalam dirinya yang sedang menangis, kelaparan akan kasih sayang dan rasa aman.
"Lalu... saya harus mulai dari mana, Dok?" tanya Rania, ada binar harapan kecil di matanya yang redup.
Dokter Dania tersenyum hangat. "Kita mulai dari hal-hal kecil. Pertama, terima bahwa apa yang terjadi sudah berlalu. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kamu punya kontrol penuh atas masa depan kamu. Kedua, putus semua akses yang bisa memicu kamu untuk kembali ke fantasi itu. Dan yang ketiga, kita akan rutin melakukan terapi untuk menyembuhkan trauma masa kecil kamu. Kamu siap?"
Rania menghapus sisa air mata di pipinya. Dia mengangguk dengan mantap. "Saya siap, Dok. Saya pengen sembuh."
***
Sore harinya, Rania kembali ke kamar kostnya. Kamar itu masih berantakan, tapi atmosfernya tidak lagi terasa sepekat sebelumnya. Rania berjalan menuju meja belajarnya, meraih ponselnya yang diletakkan di sana.
Dia duduk di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya. Ini adalah saatnya untuk mengambil langkah nyata yang disarankan oleh Dokter Dania.
Rania membuka browser di ponselnya, ma**k ke dasbor blog pribadinya yang selama ini menjadi tempatnya menumpahkan segala fantasi liarnya tentang Arga. Ada puluhan draf dan postingan di sana. Tulisan-tulisan yang menceritakan bagaimana Arga memeluknya, bagaimana Arga menciumnya, dan bagaimana Arga berbisik bahwa dia hanya mencint** Rania.
Dulu, tulisan-tulisan ini adalah obat penenang baginya. Tapi sekarang, melihatnya saja membuat dada Rania terasa sesak dan nyeri. Dia tahu semua ini palsu. Ini adalah racun yang perlahan-lahan membunuh jiwanya.
Rania menarik napas dalam-dalam. "C**up, Ran. Ini bukan hidup lo yang sebenernya."
Dengan jari yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, Rania menekan tombol *Select All* pada seluruh postingan blognya. Layar ponselnya menampilkan konfirmasi: *Apakah Anda yakin ingin menghapus semua kiriman ini secara permanen?*
Rania tidak ragu lagi. Dia menekan tombol *Ya, Hapus*.
Dalam hitungan detik, seluruh tulisan fantasi yang dia rakit selama hampir setahun itu lenyap tanpa sisa. Blog itu kini kosong melompong. Bersamaan dengan hilangnya tulisan-tulisan itu, Rania merasakan ada beban berat yang mendadak terangkat dari pundaknya. Dadanya terasa jauh lebih lapang.
Namun, tugasnya belum selesai.
Rania keluar dari browser dan membuka aplikasi WhatsApp. Dia mencari nama kontak yang selama ini selalu dia pandangi setiap malam: *Arga*.
Dia menatap foto profil Arga yang sedang tersenyum lebar merangkul Gisel. Dulu, foto itu selalu memicu rasa cemburu yang membakar di dadanya. Tapi sekarang, yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan kesadaran bahwa dia harus membiarkan cowok itu pergi dari hidupnya demi kebaikan mereka semua.
Rania menekan ikon tiga titik di pojok kanan atas obrolan mereka. Jari telunjuknya menggantung di atas pilihan *Blokir*.
"Maaf ya, Ga. Maaf karena gue udah se-creepy ini sama lo. Mulai hari ini, gue janji nggak akan pernah mengganggu hidup lo dan Gisel lagi," bisik Rania tulus.
Rania menekan tombol *Blokir*.
Layar ponselnya berkedip sejenak, menampilkan tulisan kecil di bagian bawah: *Anda telah memblokir kontak ini*.
Rania mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan lari maraton yang sangat melelahkan. Tubuhnya lemas, tapi hatinya merasa sangat damai. Ini adalah keputusan tersulit sekaligus terbaik yang pernah dia ambil dalam hidupnya.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Dia tidak lagi peduli dengan notifikasi yang ma**k. Fokusnya sekarang bukan lagi tentang bagaimana cara mendapatkan perhatian Arga atau bagaimana cara meminta maaf pada Gisel. Fokusnya sekarang adalah dirinya sendiri.
Rania bangkit dari ka**r. Dia berjalan menuju jendela kamarnya yang selama hampir seminggu ini tertutup rapat oleh gorden tebal berwarna abu-abu.
Dengan satu gerakan mantap, Rania menyibak gorden tersebut lebar-lebar dan membuka jendelanya.
Cahaya matahari sore yang hangat langsung menerobos ma**k, menerangi setiap sudut kamarnya yang remang-remang. Angin sore yang sejuk bertiup perlahan, menerpa wajah Rania dan menerbangkan beberapa helai rambutnya yang kusut. Rania memejamkan mata, membiarkan kehangatan sinar matahari itu menyentuh kulit wajahnya yang pucat.
Rania tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyuman itu terasa tulus dan nyata.
Dia berbalik melihat kamarnya yang masih berantakan. "Oke, sekarang mari kita bersihkan tempat ini."
Rania mengambil sapu, membuang semua mangkuk mi instan bekas ke tempat sampah besar, mengganti sprei ka**rnya yang kotor dengan yang baru yang beraroma wangi sabun cuci, dan merapikan tumpukan baju kotornya. Dia bergerak dengan lincah, menyalurkan energi positif yang baru saja dia dapatkan dari klinik tadi.
Perjalanan untuk sembuh total memang masih sangat panjang dan pastinya tidak akan mudah. Akan ada hari-hari di mana dia mungkin akan kembali merasa kesepian atau tergoda untuk melarikan diri ke dalam fantasinya lagi. Tapi hari ini, di sore yang hangat ini, Rania tahu dia sudah berhasil mengambil langkah pertamanya yang paling krusial.
Dia sudah memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!