Enam bulan.
Bagi sebagian orang, setengah tahun mungkin berlalu begitu cepat tanpa banyak perubahan berarti. Namun, bagi Rania, enam bulan terakhir adalah sebuah perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus menyelamatkan hidupnya. Sesi demi sesi konseling bersama Dokter Dania di klinik beraroma terapi lavender itu perlahan-lahan mengupas lapisan luka, rasa bersalah, dan obsesi gelap yang selama ini menggerogoti jiwanya.
Hari ini, udara kampus terasa jauh lebih bersahabat. Matahari pagi bersinar hangat, menembus celah-celah daun pohon beringin di dekat gedung fakultas.
Rania berjalan menyusuri koridor dengan langkah kaki yang terasa begitu ringan. Tidak ada lagi kepala yang tertunduk lesu, tidak ada lagi jemari yang gemetar karena kecemasan, dan tidak ada lagi mata sembap yang disembunyikan di balik poni tebalnya. Rambutnya kini dipotong sebahu, terlihat segar dan sehat. Dia mengenakan kardigan rajut berwarna krem dipadukan dengan celana jins sant**. Di wajahnya, hanya ada sapuan lip tint tipis dan bedak tabur. Sederhana, tapi dia terlihat sangat hidup.
Beberapa mahasiswa yang lewat menyapanya, dan Rania membalas mereka dengan senyuman tulus. Senyum yang benar-benar sampai ke matanya.
"Rania!"
Rania menoleh dan mendapati Sasa, teman satu jurusannya, melambaikan tangan dengan heboh dari arah kantin *outdoor*. Di meja Sasa sudah tersedia dua gelas es kopi susu dan beberapa lembar modul kuliah.
"Heii," sapa Rania ramah sambil mendudukkan diri di kursi plastik di hadapan Sasa.
"Sumpah ya, lo sekarang kalau jalan auranya beda banget, Ran," ujar Sasa langsung, menatap Rania dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata berbinar. "Kayak... seger aja gitu. Kayak nggak punya beban hidup. Rahasianya apa sih? Bagi-bagi dong!"
Rania terkekeh pelan. Dia menyeruput es kopi susunya sebelum menjawab. "Nggak ada rahasia apa-apa, Sa. Cuma mulai rajin tidur cepat dan nggak skip s****an aja."
Sasa mencibir jenaka. "Halah, pelit banget. Tapi serius, gue seneng banget liat lo yang sekarang. Jauh lebih *happy*."
Rania tersenyum tipis. Dalam hati, dia mengamini ucapan Sasa. Dia memang jauh lebih bahagia sekarang, karena dia telah melepaskan rant** tak terlihat yang selama ini mengikat dirinya pada kehidupan orang lain.
"Eh, omong-omong..." Sasa tiba-tiba memajukan badannya, menurunkan volume suaranya menjadi setengah berbisik. Wajahnya berubah menjadi mode bergosip yang sangat familier. "Lo... udah denger kabar terbaru belum?"
Rania menaikkan satu alisnya. "Kabar apa?"
"Arga sama Gisel. Mereka beneran putus. Minggu lalu."
Mendengar nama-nama itu, jantung Rania biasanya akan langsung berdegup kencang, disusul oleh rasa sesak yang menghimpit dada atau kepuasan aneh yang beracun. Namun kali ini, Rania terkejut menyadari bahwa reaksi tubuhnya sangat biasa saja. Jantungnya berdetak dengan ritme yang tenang. Nama-nama itu kini terdengar seperti nama karakter dari buku lama yang sudah selesai dia baca.
"Oh ya?" tanya Rania, nada suaranya datar, tanpa ada nada sinis atau antusiasme yang berlebihan.
"Iya! Sumpah, kali ini beneran putus, bukan yang berantem-berantem lucu terus balikan lagi," kata Sasa bersemangat. "Katanya sih karena masalah komunikasi mereka yang emang udah hancur banget sejak... ya lo tahu lah, insiden heboh enam bulan lalu itu. Gisel kabarnya jadi sering curigaan dan posesif parah, sementara Arganya juga capek karena harus defensif terus. Hubungan mereka jadi *toxic* banget. Akhirnya mereka sepakat buat udahan secara baik-baik."
Sasa menatap Rania dengan hati-hati, mencoba membaca ekspresi wajah temannya itu. "Lo... nggak papa kan, Ran? Gue nggak bermaksud buat ngingetin lo sama masa lalu, cuma..."
"Gue nggak papa, Sa. Sant** aja," potong Rania lembut. Dia menggenggam tangan Sasa yang ada di atas meja untuk menenangkannya. "Gue malah... ngerasa sedih buat mereka. Membina hubungan itu emang nggak mudah. Semoga mereka bisa nemuin kebahagiaan masing-masing setelah ini."
Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya, tampak sangat terkejut dengan kedewasaan jawaban Rania. "G*** sih. Lo bener-bener udah berubah total ya, Ran. Kalau Rania yang dulu, mungkin sekarang lo udah langsung tancap gas buat ngedeketin Arga lagi."
Rania tersenyum tipis, matanya menerawang menatap es di dalam gelasnya yang mulai mencair.
Sasa benar. Rania yang dulu pasti akan menganggap ini sebagai kesempatan emas. Dia pasti akan langsung menyusun strategi untuk ma**k ke dalam celah kesedihan Arga, menjadi sandaran cowok itu, dan akhirnya memiliki apa yang selama ini dia dambakan dari balik bayang-bayang.
Tapi tidak untuk Rania yang sekarang.
Tiga bulan lalu, saat hubungan Arga dan Gisel sedang berada di ambang kehancuran untuk kesekian kalinya, Arga sebenarnya pernah mengirimkan pesan singkat kepadanya di tengah malam. Pesan yang berbunyi: *Ran, lo sibuk nggak? Gue boleh telepon?*
Saat itu, Rania menatap layar ponselnya c**up lama. Ada desakan kecil di dadanya, sisa-sisa dari obsesi lamanya yang mencoba berontak. Namun, Rania segera teringat pada semua air mata yang dia tumpahkan di ruang terapi. Dia teringat betapa hinanya dia saat harus mengemis perhatian dari cowok yang menjadi milik orang lain. Dia teringat betapa dia ingin dihargai sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai pelarian atau obat penenang sementara.
Malam itu, dengan tangan yang stabil dan hati yang mantap, Rania menghapus pesan Arga dan memblokir nomor cowok itu secara permanen. Dia memilih untuk tidak pernah ma**k kembali ke dalam lingkaran rumit kehidupan mereka. Dia memilih untuk berjalan pergi.
"Ran? Kok malah melamun?" teguran Sasa membuyarkan lamunan Rania.
"Ah, nggak apa-apa," jawab Rania cepat, kembali tersenyum. "Gue cuma lagi mikir, hidup ini emang adil ya. Segala sesuatu yang dipaksain itu emang nggak akan pernah berakhir baik."
Sasa mengangguk setuju. "Bener banget. Oh iya, habis kelas ini lo mau langsung balik?"
"Gue mau ke perpustakaan dulu sebentar, mau nyari referensi buat tugas sosiologi. Kenapa?"
"Yah, tadinya mau gue ajak ke mal baru di deket stasiun. Tapi ya udah deh, tugas negara lebih penting." Sasa cengengesan.
***
Setelah menyelesaikan kelas paginya, Rania berjalan menuju gedung perpustakaan pusat yang berada di tengah-tengah kampus. Jalur menuju perpustakaan melewati taman yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berkumpul.
Saat melintasi area itu, langkah Rania sempat melambat. Di salah satu bangku taman, dia melihat sosok Gisel sedang duduk bersama dua orang temannya. Gisel terlihat sedikit lebih kurus dari terakhir kali Rania melihatnya, tapi cewek itu tetap terlihat cantik dengan riasan wajah yang rapi. Gisel sedang mendengarkan temannya berbicara sambil sesekali tersenyum tipis.
Seolah merasakan ada yang sedang memperhatikan, Gisel tiba-tiba mendongak dan menatap ke arah Rania.
Seketika itu juga, waktu seolah berjalan lambat. Rania sempat berpikir untuk membuang muka dan pura-pura tidak melihat. Namun, dia tahu dia tidak bisa terus-menerus lari dari masa lalunya. Berdamai berarti berani menghadapi.
Maka, bukannya memalingkan wajah, Rania justru menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap langsung ke mata Gisel, lalu memberikan sebuah anggukan sopan disert** senyuman tipis yang tulus. Tidak ada dendam, tidak ada rasa bersalah yang berlebihan, dan tidak ada lagi rasa iri yang membakar dada. Hanya sebuah sapaan tanpa kata dari seseorang yang telah merelakan segalanya.
Gisel tampak tertegun selama beberapa detik. Matanya membelalak kecil, tidak menyangka akan reaksi dari Rania. Namun kemudian, perlahan-lahan ketegangan di wajah Gisel mencair. Dia membalas anggukan Rania dengan sopan, dan seulas senyum tipisβhampir tak kentaraβmuncul di bibirnya.
Itu adalah sebuah kesepakatan sunyi di antara mereka. Sebuah tanda bahwa perang dingin yang tak kasat mata itu telah resmi berakhir. Mereka berdua telah terluka, tapi mereka berdua juga sedang berusaha untuk sembuh di jalan masing-masing.
Rania melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang jauh lebih lega. Rasanya seperti ada sebongkah batu besar yang baru saja diangkat dari dadanya. Dia benar-benar bebas sekarang.
***
Suasana di dalam perpustakaan pusat sangat tenang dan sejuk berkat pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Aroma buku-buku tua bercampur wangi kayu dari rak-rak besar selalu berhasil membuat Rania merasa nyaman.
Dia berjalan menyusuri lorong rak buku berkode 300 untuk mencari buku sosiologi keluarga. Jemarinya menelusuri punggung-punggung buku yang berjajar rapi, mencari judul yang dia butuhkan.
"Butuh bantuan buat nyari bukunya?"
Sebuah suara berat yang terdengar ramah tiba-tiba menginterupsi kesunyian di sampingnya.
Rania menoleh dan mendapati seorang cowok jangkung berambut sedikit berantakan sedang berdiri di sana. Cowok itu mengenakan kaos hitam polos yang dilapisi kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Di tangannya ada sebuah buku tebal tentang metodologi penelitian. Namanya Dito, teman sekelas Rania di mata kuliah Sosiologi Kontemporer yang belakangan ini sering sekali berada di sekitarnya.
"Eh, Dito," sapa Rania, tersenyum cerah. "Iya nih, gue lagi nyari buku karangan Profesor Subiakto yang edisi terbaru. Kok nggak ada di rak ini ya?"
Dito tersenyum, lesung pipit di pipi kanannya terlihat jelas. "Oh, buku itu dipindahin ke rak cadangan yang ada di ujung sebelah sana, Ran. Soalnya banyak banget kelas sebelah yang lagi nyari juga. Sini, gue tunjukin."
Dito berjalan mendahului Rania dengan langkah sant**, sementara Rania mengekor di belakangnya.
"Lo rajin banget sih, Ran. Tugasnya kan masih dikumpulin minggu depan," ujar Dito sambil melirik Rania dari balik bahunya.
"Gue cuma nggak suka numpuk kerjaan aja, Dit. Lagian, kalau dikerjain sekarang kan nanti *weekend* gue bisa sant**," jawab Rania beralasan.
"Hmm, bener juga sih." Dito berhenti di depan sebuah rak kayu yang berada di sudut ruangan yang agak sepi. Dia mencari sesaat sebelum mengambil sebuah buku bersampul biru tua dan menyerahkannya kepada Rania. "Nih. Untung masih sisa satu."
"Wah, makasih banyak ya, Dit! Penyelamat banget deh lo," ucap Rania dengan mata yang berbinar senang saat menerima buku tersebut.
"Sama-sama. Tapi nggak gratis ya," gurau Dito dengan kedipan mata yang jenaka.
Rania tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. "Yee, pamrih banget jadi orang. Terus bayarannya apa dong?"
Dito pura-pura berpikir sejenak, mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu. "Gimana kalau... nemenin gue makan bakso di depan gerbang kampus habis ini? Gue laper banget, tapi males kalau makan sendirian kayak jomblo ngenes."
Rania menatap wajah Dito yang terlihat tulus, tanpa ada maksud tersembunyi yang manipulatif. Selama beberapa minggu terakhir mengenal Dito, Rania tahu bahwa cowok ini adalah sosok yang menyenangkan, humoris, dan sangat menghargai batasan. Hubungan pertemanan mereka mengalir begitu saja, tanpa ada kepura-puraan, tanpa ada rasa cemburu, dan yang paling pentingβtanpa ada bayang-bayang orang lain di antara mereka. Dito menyukai Rania apa adanya, dan Rania merasa sangat aman berada di dekat cowok itu.
Ini adalah jenis hubungan yang nyata. Hubungan yang sehat, yang dimulai dari lembaran yang bersih.
"Boleh," jawab Rania akhirnya, senyum manis menghiasi wajahnya. "Tapi lo yang traktir ya?"
"Siap, bos! Jangankan bakso, sama gerobak-gerobaknya juga gue beliin kalau perlu," sahut Dito asal, membuat Rania kembali tertawa dan memukul pelan lengan cowok itu dengan buku sosiologi di tangannya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja sirkulasi untuk meminjam buku. Cahaya matahari sore yang mulai menguning menerobos ma**k melalui jendela-jendela kaca besar perpustakaan, menerangi langkah mereka.
Rania melirik Dito yang sedang sibuk merapikan letak kacamatanya sambil mengomel pelan tentang betapa beratnya tugas kuliah semester ini. Rania tersenyum dalam hati.
Dulu, dia selalu menghabiskan malam-malamnya dalam kegelapan, memejamkan mata hanya untuk membayangkan pacar orang lain, memproyeksikan kebahagiaan semu yang dibangun di atas fondasi kehancuran orang lain. Dia dulu begitu bodoh, berpikir bahwa cinta adalah tentang merebut dan memiliki dengan cara apa pun.
Kini, dia sadar. Cinta yang nyata tidak pernah menuntutnya untuk menjadi pencuri di kegelapan malam. Cinta yang nyata akan datang sendiri ke dalam hidupnya, membawa terang, dan menghargainya sebagai karakter utama dalam ceritanya sendiri.
Rania telah keluar dari bayang-bayang itu. Dia siap menuliskan babak barunya, babak yang sepenuhnya milik Rania.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!