Rania benar-benar tidak tahu bagaimana dia bisa berakhir di tempat ini.
Sebuah restoran semi-outdoor bergaya industrial di daerah Jakarta Selatan. Lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat bergelantungan di atas mereka, menciptakan atmosfer romantis yang didukung oleh alunan musik jaz instrumental ber-volume rendah. Di depannya, duduk seorang cowok dengan kemeja flanel rapi dan senyum ramah yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Reza namanya. Teman satu tongkrongan Arga di jurusan Teknik Sipil kampus sebelah.
"Jadi, Ran, lo lebih suka nonton konser *live* atau dengerin musik di kamar aja pakai *headphone*?" Reza bertanya, mencoba mencairkan suasana. Matanya menatap Rania penuh minat.
Rania memaksakan sebuah senyum tipis. Tangannya memainkan sedotan di dalam gelas *lychee tea*-nya yang tinggal setengah. "Gue... tergantung mood sih. Tapi belakangan ini lebih suka di kamar aja. Lebih tenang."
"Oh ya? Sama dong! Gue juga kalau lagi pusing sama tugas studio, mending nge-game di kamar sambil dengerin lofi hip-hop. Rasanya kayak dunia luar nggak penting lagi," sahut Reza antusias. Dia tampak senang karena merasa menemukan kesamaan.
"Iya, bener," jawab Rania singkat.
Rania tahu dia bersikap tidak adil. Reza adalah cowok yang baik. Dia ganteng, tinggi, pembawaannya sopan, dan sejak awal pertemuan tadi, dia sangat berusaha untuk membuat Rania merasa nyaman. Di mata orang lain—terutama Gisel—Reza adalah sosok yang sempurna untuk mengakhiri masa jomblo Rania.
Namun, fokus Rania sama sekali tidak ada pada Reza.
"Yang, mau coba pasta gue nggak? Enak banget, sumpah. Saus *creamy*-nya nggak bikin enek," suara manja Gisel terdengar dari sebelah kiri Rania.
Rania refleks melirik ke arah meja sebelah. Di sana, Gisel sedang menyodorkan garpu berisi lilitan pasta ke depan mulut Arga.
Arga tertawa kecil, suara beratnya terdengar begitu s**** di telinga Rania. Tanpa ragu, Arga memajukan wajahnya dan menerima suapan dari Gisel. Dia mengunyah perlahan sebelum mengangguk setuju. "Iya, enak. Tapi kayaknya masih enakan pasta buatan kamu deh."
"Ih, bohong banget! Tapi makasih lho pujiannya, jadi makin sayang," balas Gisel sambil mencubit pipi Arga gemas.
Arga hanya tersenyum hangat, membiarkan pipinya dicubit. Tangan kirinya bergerak mengacak rambut Gisel dengan gerakan yang sangat familiar di mata Rania. Gerakan lembut, penuh kasih sayang, yang selalu sukses membuat dada Rania berdenyut nyeri setiap kali melihatnya.
"Ran? Lo oke?"
Suara Reza memecah lamunan Rania. Rania tersentak, lalu cepat-cepat menatap Reza kembali dengan senyum canggung.
"Eh? Iya, oke kok. Sori, tadi agak melamun dikit," dusta Rania, merapikan anak rambutnya ke belakang telinga untuk menyembunyikan kegugupan.
"Makanannya nggak cocok ya? Mau pesen yang lain?" tanya Reza, terdengar sangat perhatian. Dia menunjuk piring *spaghetti bolognese* milik Rania yang baru tersentuh beberapa suap.
"Nggak kok, enak banget malah. Gue cuma... agak kenyang aja karena tadi siang makan telat," jawab Rania, lagi-lagi berbohong. Selera makannya mendadak hilang sejak mereka duduk di meja ini.
Gisel yang mendengar percakapan mereka langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Rania. "Yah, Rania mah emang gitu, Rez! Porsi makannya kayak burung pipit, dikit banget. Makanya dia kurus terus. Lo musti paksa dia makan yang banyak."
"Oh, gitu ya?" Reza terkekeh, menatap Rania dengan pandangan jenaka. "Berarti nanti kalau jalan lagi, gue harus pastiin lo habisin makanan lo ya, Ran."
*Jalan lagi?* Rania tersenyum kaku, tidak tahu harus merespons apa.
"Tuh, dengerin, Ran! Reza perhatian banget lho," goda Gisel sambil mengedipkan matanya ke arah Rania. "Arga aja kalah perhatiannya, ya nggak, Ga?"
Arga yang sedang meminum es kopinya hampir tersedak. Dia meletakkan gelasnya lalu mendengus geli. "Kok jadi bawa-bawa gue sih? Tapi bener kata Gisel, Rez. Rania tuh kalau udah sibuk kuliah sering lupa makan. Sebagai cowok, lo harus bisa jagain dia."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arga. Terdengar seperti nasihat biasa dari seorang teman. Namun bagi Rania, kata-kata itu terasa seperti belati yang menusuk tepat di jantungnya.
*Jagain dia.*
Rania tidak butuh dijaga oleh Reza. Dia ingin dijaga oleh cowok yang ada di depan Gisel saat ini. Dia ingin Arga yang mengkhawatirkan porsi makannya. Dia ingin Arga yang menatapnya dengan binar mata sehangat itu.
Rasa cemburu yang teramat sangat tiba-tiba membumbung tinggi di dada Rania, bercampur dengan rasa iri yang membuat tenggorokannya terasa tercekat. Dia melihat bagaimana Arga dengan telaten memotongkan potongan daging steak milik Gisel agar cewek itu bisa memakannya dengan mudah. Dia melihat bagaimana Arga secara alami meletakkan telapak tangannya di atas paha Gisel di bawah meja—sebuah gestur kepemilikan yang begitu intim dan manis.
Rania merasa seperti penonton bayaran di dalam bioskop yang dipaksa menonton film romantis paling menyakitkan sepanjang hidupnya. Dia harus tersenyum, harus tertawa saat Reza melempar lelucon, dan harus berpura-pura bahagia melihat kemesraan sahabatnya sendiri.
"Gue ke toilet sebentar ya," pamit Rania tiba-tiba. Dia tidak tahan lagi. Oksigen di sekitar meja itu rasanya mulai menipis.
"Mau gue temenin, Ran?" tawar Gisel cepat.
"Nggak usah, Sel. Cuma bentar kok," tolak Rania sehalus mungkin. Dia segera berdiri dan melangkah cepat menuju toilet di bagian dalam restoran.
Begitu pintu toilet tertutup, Rania langsung bersandar pada wastafel porselen putih. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya. Wajahnya tampak sedikit pucat. Rania menyalakan keran, memba**h tangannya dengan air dingin, lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan.
"Sadar, Rania. Sadar," bisiknya pada diri sendiri. "Gisel itu sahabat lo. Arga pacar sahabat lo. Jangan g***."
Dia memejamkan mata erat-erat. Bayangan Arga yang tersenyum padanya sore tadi, bayangan suara berat Arga yang memanggil namanya, terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Rasa bersalah mulai merayap naik, menghimpit dadanya hingga dia merasa sulit bernapas. Dia merasa seperti seorang pengkhianat. Seorang monster yang ingin merebut kebahagiaan sahabatnya sendiri.
Setelah mengambil napas dalam-dalam beberapa kali dan merapikan riasannya yang sedikit memudar, Rania memutuskan untuk kembali ke meja. Dia harus menyelesaikan malam ini dengan sempurna. Sempurna sebagai sahabat yang suportif. Sempurna sebagai teman kencan yang menyenangkan untuk Reza.
Sisa malam itu dilewati Rania dengan topeng terbaiknya. Dia memaksakan diri untuk mengobrol lebih banyak dengan Reza, mendengarkan cerita cowok itu tentang hobinya memotret, dan bahkan bertukar kontak LINE di akhir acara. Di mata Gisel dan Arga, double date malam itu adalah sebuah kesuksesan besar.
***
Pukul sebelas malam. Rania akhirnya sampai di kamar kosnya yang sunyi.
Begitu pintu kamar terkunci, topeng yang dipakainya seharian itu runtuh seketika. Rania melempar tasnya ke atas meja belajar dengan asal, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ka**r tanpa sempat mengganti pakaiannya.
Kamar kosnya terasa sangat dingin. Sunyi yang mencekam langsung menyergap, membuat kepalanya terasa semakin pening. Rania menatap langit-langit kamar yang gelap, hanya diterangi oleh sedikit cahaya lampu jalan yang menerobos ma**k dari celah gorden jendela.
Rasa bersalah yang tadi sempat diredamnya di restoran kini kembali datang dengan kekuatan berkali-kali lipat. Dia teringat bagaimana Gisel memeluknya erat sebelum mereka berpisah tadi.
*"Makasih ya, Ran, udah mau ikut. Gue seneng banget akhirnya lo bisa buka hati buat cowok lain. Semoga lo dan Reza bisa lanjut ya!"* kata Gisel dengan mata yang berbinar tulus.
Gisel begitu menyayanginya. Gisel begitu memercayainya. Dan di sini dia, di atas ka**r ini, menaruh hati pada cowok yang setiap malam memeluk Gisel dalam tidurnya.
"Gue jahat banget..." gumam Rania, air matanya perlahan menetes melewati pelipisnya dan membasahi seprai. Dia benci dirinya sendiri. Dia benci kenyataan bahwa dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Rania membalikkan tubuhnya, meringkuk dan memeluk guling erat-erat. Dadanya terasa kosong, hampa, dan sangat dingin. Tubuhnya gemetar karena perpaduan rasa bersalah, lelah, dan kerinduan yang tidak ma**k akal.
Dia butuh penenang. Dia butuh sesuatu untuk menghentikan rasa sakit ini, meskipun itu hanya sementara. Dan hanya ada satu cara yang dia tahu.
Rania menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, menciptakan sebuah ruang gelap yang hangat di bawah sana. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Dia mulai menarik napas perlahan, membiarkan imajinasinya mengambil alih kesadarannya yang mulai lelah.
Di bawah selimut itu, dinginnya kamar kosnya perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan imajiner yang sangat dia kenali.
Rania membayangkan dirinya tidak sedang memeluk guling dingin, melainkan sedang memeluk tubuh jangkung Arga. Dia membayangkan aroma parfum Arga—perpaduan antara wangi kayu cedar yang maskulin dan sedikit aroma kopi hangat—menguar di sekelilingnya, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
*“Ran...”*
Dalam bayangannya, suara berat Arga berbisik lembut tepat di telinganya. Bukan memanggil Gisel, melainkan memanggil namanya. Rania membayangkan tangan besar Arga yang hangat perlahan mengusap kepalanya, menyisir jari-jarinya ke sela-sela rambut Rania dengan kelembutan yang memabukkan.
*“Kamu tidur ya. Aku di sini,”* suara fiktif Arga kembali berbisik di dalam benaknya.
Rania semakin mengeratkan pelukannya pada guling, menenggelamkan wajahnya di sana seolah itu adalah dada bidang Arga. Di bawah selimut yang gelap ini, tidak ada Gisel. Tidak ada Reza. Tidak ada penilaian dari orang lain. Hanya ada dia dan Arga.
Perasaan bersalah yang tadinya menghimpit dada Rania perlahan-lahan memudar, terkalahkan oleh candu yang ditawarkan oleh fantasinya sendiri. Detak jantungnya yang tadinya memburu kini mulai melambat, menjadi lebih tenang dan teratur.
Di dalam dunianya yang sempit dan tersembunyi di bawah selimut, Rania tersenyum tipis dalam tidurnya yang mulai menjelang. Biarlah di dunia nyata dia menjadi sahabat yang sempurna dan menekan semua perasaannya. Karena di dalam kepalanya, di setiap malam yang sunyi, Arga sepenuhnya adalah miliknya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!