Membayangkan Pacar Orang Setiap Malam

Bab 3: Retakan yang Mulai Terlihat

Pengaturan Membaca

Dua minggu setelah malam *double date* di Jakarta Selatan yang berakhir canggung itu, segalanya berubah dengan cepat. Hubungan Gisel dan Arga yang biasanya menjadi *relationship goals* di kalangan anak-anak kampus, perlahan-lahan mulai kehilangan hangatnya.

Penyebabnya klasik: kesibukan.

Gisel baru saja terpilih sebagai Ketua Pelaksana Festival Seni Kampus tahunan. Sebuah tanggung jawab besar yang membuatnya harus rela membagi waktu, pikiran, dan tenaganya habis-habisan. Masalahnya, porsi terbesar dari pembagian itu jatuh ke organisasinya, menyisakan hanya remah-remah waktu untuk Arga.

Sore itu, koridor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tampak ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas terakhir. Di salah satu bangku taman dekat lobi, Arga duduk sendirian. Helm hitamnya diletakkan di samping paha, sementara tangannya sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel.

**Arga:** *Yang, aku udah di depan FISIP ya. Kamu masih lama rapatnya? Kita jadi makan ramen yang kemarin kamu pengen kan?*

Arga menghela napas. Dia menatap gelembung pesannya yang hanya menunjukkan centang dua abu-abu. Gisel belum membaca pesannya sejak satu jam yang lalu.

Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sandaran besi bangku taman, menatap langit sore Jakarta yang mulai berwarna jingga kemerahan. Ada rasa lelah yang menggelayut di pundaknya. Bukan lelah fisik karena tugas kuliah teknik sipilnya yang menumpuk, melainkan lelah hati karena merasa diabaikan.

Sepuluh menit kemudian, ponsel di genggamannya bergetar. Arga dengan cepat membuka kunci layar, berharap ada balasan manis dari pacarnya.

**Gisel:** *Aduh Ga, sori bangettt! 😭 Gue tiba-tiba harus nemuin pihak sponsor bareng anak-anak divisi humas. Ini darurat banget, mereka baru bisa ketemu jam segini. Kamu pulang duluan aja ya? Sori banget, janji nanti aku ganti harinya.*

Arga menatap pesan itu dengan tatapan kosong. *Gue-kamu*. Gisel bahkan sudah mulai jarang menggunakan pangg***n 'aku-kamu' atau 'yang' jika sedang panik atau sibuk dengan urusan organisasinya. Pangg***n manis itu menguap begitu saja, digantikan oleh keprofesionalan yang dingin.

Ini adalah pembatalan janji yang keempat kalinya dalam minggu ini.

Arga mengetik balasan dengan jari-jari yang terasa berat.

**Arga:** *Oh gitu. Ya udah, gak apa-apa. Semangat rapatnya ya.*

**Gisel:** *Makasih sayang! Kamu emang paling pengertian deh. Love you! 😘*

Arga tidak membalas lagi. Dia mema**kkan ponselnya ke dalam saku celana jins, lalu memakai helmnya dengan gerakan kasar. Dia merasa kesepian. Sangat kesepian di tengah keramaian kampus yang bising ini.

Saat dia menghidupkan mesin motornya, sebuah dorongan aneh muncul di kepalanya. Arga mematikan mesinnya kembali, merogoh ponselnya, lalu membuka aplikasi WhatsApp. Jarinya menggulir layar, melewati ruang obrolannya dengan Gisel, lalu berhenti pada sebuah nama.

**Rania.**

Arga ragu sejenak. Ibu jarinya melayang di atas layar. Kenapa dia harus menghubungi Rania? Rania adalah sahabat Gisel. Tapi, entah kenapa, di saat seperti ini, hanya nama Rania yang terlintas di kepalanya sebagai orang yang paling mungkin memahami situasinya.

**Arga:** *Ran, lo lagi di kampus?*

***

Di perpustakaan pusat yang ber-AC dingin, Rania sedang membereskan buku-buku referensi tugas sosiologinya ke dalam tas. Saat dia menarik ritsleting tas ranselnya, ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar pendek.

Rania melirik layar. Begitu melihat nama pengirimnya, jantung Rania langsung melonjak, berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

*Arga.*

Rania buru-buru mengambil ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran dadanya yang konyol sebelum membuka pesan tersebut.

**Rania:** *Iya Ga, baru selesai dari perpus. Kenapa?*

**Arga:** *Gak apa-apa sih. Cuma mau nanya, lo tahu gak Gisel hari ini rapatnya sampai jam berapa? Tadi dia bilang mau ketemu sponsor.*

Rania menatap layar ponselnya lama. Ada rasa kecewa yang halus, namun tajam, menusuk dadanya. Tentu saja. Arga menghubunginya hanya untuk menanyakan Gisel. Memangnya apa lagi yang dia harapkan?

Rania menggigit bibir bawahnya, mengetik balasan.

**Rania:** *Oh, tadi sih Gisel sempat bilang ke gue kalau urusan sponsor ini emang agak ribet. Mungkin bisa sampai malam, Ga. Kenapa? Kalian gak jadi jalan?*

**Arga:** *Gak jadi. Di-cancel lagi haha.*

Kata "haha" di akhir kalimat Arga tidak terdengar lucu sama sekali di mata Rania. Rania bisa merasakan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam dari balik ketikan singkat cowok itu.

**Arga:** *Lo mau balik ke kosan? Gue anterin mau gak? Kebetulan gue lagi di depan FISIP.*

Mata Rania membelalak. Dadanya bergemuruh hebat. Otaknya langsung berteriak *jangan*, mengingatkannya pada batasan tak kasat mata yang seharusnya tidak dia langgar. Gisel adalah sahabatnya sejak semester satu. Arga adalah pacar Gisel. Menerima tumpangan dari pacar sahabat sendiri saat sahabatnya sedang sibuk adalah ide yang sangat buruk.

Namun, hatinya egois. Ego yang selama ini dia tekan rapat-rapat di sudut tergelap jiwanya mendadak memberontak.

**Rania:** *Boleh deh, Ga. Kebetulan gue juga males mesen ojol sore-sore gini susah dapetnya.*

**Arga:** *Oke, gue tunggu di depan halte FISIP ya.*

Rania mengunci layar ponselnya. Dia memeluk tas ranselnya erat-erat, mencoba meredakan gemetar di tubuhnya. Ada rasa bersalah yang luar biasa besar yang mendadak menghimpit dadanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak. Rania tahu ini salah. Dia tahu dia sedang bermain dengan api.

Namun, rasa bersalah itu kalah telak oleh rasa senang yang membuncah karena tahu dia akan menghabiskan waktu beberapa menit ke depan di atas motor yang sama dengan Arga.

***

Perjalanan sore itu terasa lebih lambat dari biasanya. Angin sore menerpa wajah mereka saat motor Arga membelah jalanan Jakarta yang mulai padat merayap. Rania duduk di jok belakang, menjaga jarak aman agar tubuhnya tidak terlalu menempel pada punggung Arga. Namun, aroma parfum maskulin Arga yang segar bercampur aroma maskulin khas cowok itu tetap berhasil menyusup ke indra penciumannya, membuat Rania mabuk dalam diam.

Mereka tidak banyak mengobrol di jalan karena bisingnya kendaraan. Baru setelah motor Arga berhenti di depan gerbang kosan Rania yang bercat abu-abu, keheningan itu pecah.

Rania turun dari motor, lalu melepaskan helm cadangan yang dipinjamkan Arga. "Makasih ya, Ga. Sori nih jadi ngerepotin lo."

Arga membuka kaca helmnya, menatap Rania dengan senyum tipis yang tampak lelah. "Sant** aja, Ran. Lagian gue juga gabut kalau langsung balik ke kontrakan. Gak ada kerjaan."

Rania memperhatikan lingkaran hitam di bawah mata Arga. "Lo... oke, Ga? Kelihatan capek banget."

Arga tertawa hambar, lalu mematikan mesin motornya. Dia menyandarkan lengannya di atas s****g motor. "Capek fisik sih biasa, Ran. Tapi capek pikiran yang susah." Dia menjeda kalimatnya, menatap Rania dengan pandangan yang sulit diartikan. "Gisel... belakangan ini sibuk banget ya di organisasi?"

Rania meremas tali tas ranselnya. "Iya, Ga. Fesma itu kan acara terbesar di fakultas kita tahun ini. Gisel emang ambis banget di situ karena dia pengen portofolionya bagus buat magang nanti." Rania mencoba bersikap objektif, membela sahabatnya sendiri meskipun hatinya terasa perih.

"Gue tahu," sahut Arga pelan. Suaranya terdengar pasrah. "Gue dukung dia, beneran. Tapi kadang... gue merasa kayak pacaran sama dinding. Chat gak dibalas seharian, telepon gak pernah diangkat kalau gak mendesak. Sekalinya ketemu, dia sibuk sama HP-nya ngurusin grup panitia."

Arga mengembuskan napas berat. "Gue cuma pengen dihargai sedikit aja, Ran. Dianggap ada. Apa gue egois?"

Rania menatap cowok di depannya. Ada rasa ingin yang luar biasa besar untuk mengulurkan tangan, mengusap bahu lebar Arga, dan mengatakan bahwa dia tidak egois sama sekali. Rania ingin berteriak bahwa jika dia yang menjadi pacar Arga, dia tidak akan pernah membiarkan cowok sesempurna Arga merasa kesepian seperti ini.

Namun, semua kata-kata itu tertahan di tenggorokan Rania. Dia hanya bisa tersenyum menenangkan.

"Lo gak egois, Ga. Wajar kok kalau lo ngerasa kayak gitu. Tapi coba deh omongin baik-baik sama Gisel. Dia pasti ngerti kalau lo ngomong langsung pas dia lagi gak terlalu sibuk."

Arga menatap Rania c**up lama, membuat jantung Rania kembali berdegup kencang. "Makasih ya, Ran. Lo emang pendengar yang baik. Gisel beruntung punya sahabat kayak lo. Dan gue... juga beruntung karena lo mau dengerin keluhan gak jelas gue ini."

*Gisel beruntung punya sahabat kayak lo.*

Kata-kata itu bagaikan tamparan keras yang mendarat di pipi Rania. Rasa bersalah kembali menghantamnya tanpa ampun. Di sini dia, diam-diam menikmati setiap detik kedekatannya dengan pacar sahabatnya sendiri, sementara sahabatnya sedang berjuang di luar sana.

"Gue ma**k dulu ya, Ga. Udah mau magrib," kata Rania buru-buru, tidak sanggup lagi menatap mata teduh Arga yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

"Oh, iya. Sori malah nahan lo di sini," ujar Arga bersalah. "Ya udah, gue balik ya. Makasih sekali lagi, Ran."

"Iya, hati-hati di jalan, Ga."

Rania berdiri di depan gerbang kosannya, memperhatikan punggung Arga yang perlahan menghilang di ujung jalan bersama motornya.

***

Malam harinya, Rania tidak bisa berkonsentrasi belajar sama sekali. Dia berbaring di atas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar kosnya yang sepi. Pikirannya melayang-layang, berputar pada sosok Arga.

Ponselnya di atas nakas tiba-tiba bergetar. Rania langsung menyambarnya dengan cepat.

Ada pesan ma**k dari Gisel di grup sosiologi, menanyakan tugas kelompok mereka untuk minggu depan. Namun, perhatian Rania teralih pada pesan pribadi dari Arga yang ma**k hampir bersamaan.

**Arga:** *Ran, sori ganggu lagi. Lo udah makan malam belum? Gue tadi beli martabak manis kebanyakan nih. Mau gue anterin ke kosan lo setengah gak?*

Rania menatap pesan itu dengan napas tertahan. Jarinya gemetar di atas papan ketik ponselnya. Ini sudah pukul sembilan malam. Gisel pasti masih sibuk dengan urusan rapatnya, atau mungkin sudah tidur karena kelelahan. Sementara Arga, cowok itu malah menawarkan martabak manis untuknya.

*Tolak, Ran. Lo harus tolak,* akal sehatnya memperingatkan dengan keras.

Namun, jemari Rania seolah memiliki pikirannya sendiri. Keinginan egois untuk kembali melihat wajah Arga malam ini memenangkan pertempuran di dalam kepalanya.

**Rania:** *Boleh deh, Ga. Kebetulan gue lagi laper juga hehe.*

**Arga:** *Oke, sepuluh menit lagi gue sampai depan gerbang ya.*

Rania bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju cermin besar yang menempel di lemari pakaiannya. Dia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu memakai sedikit lipbalm agar bibirnya tidak terlihat pucat.

Saat melihat bayangannya sendiri di cermin, Rania merasakan ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Dia tahu dia sedang melangkah ke wilayah berbahaya. Hubungan Gisel dan Arga yang mulai merenggang karena kesibukan adalah sebuah celahβ€”sebuah retakan yang mulai terlihat jelas.

Dan dengan sadar, Rania memilih untuk berdiri di dalam retakan itu, diam-diam menikmati setiap detik kebersamaan dengan cowok yang seharusnya tidak boleh dia miliki.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca