Membayangkan Pacar Orang Setiap Malam

Bab 4: Takdir dalam Satu Proyek

Pengaturan Membaca

Riam suara pendingin ruangan di kelas Teori Komunikasi terasa kontras dengan atmosfer tegang yang mendadak menyelimuti seisi ruangan. Sore itu, Pak Gunawan berdiri di depan podium dengan wajah serius, sementara layar proyektor di belakangnya menampilkan sebuah slide PowerPoint dengan judul besar: **PROYEK MAGANG KOLABORATIF (2 BULAN)**.

Bagi mahasiswa semester lima, proyek ini adalah momok sekaligus peluang emas. Nilainya mencakup empat puluh persen dari nilai akhir, dan yang paling penting, proyek ini langsung bermitra dengan beberapa agensi kreatif ternama di Jakarta. Masalahnya hanya satu: pembagian kelompok ditentukan sepenuhnya oleh dosen.

Rania duduk di baris ketiga, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan gelisah. Di sebelahnya, Gisel sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Gisel tidak memperhatikan Pak Gunawan sama sekali. Jari-jarinya bergerak super cepat di atas layar ponsel, membalas puluhan chat dari panitia Festival Seni Kampus.

"Sel, dengerin dulu gih. Pak Gunawan mau bacain pembagian kelompoknya," bisik Rania sambil menyenggol pelan lengan sahabatnya itu.

Gisel mendesah frustrasi tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Duh, Ran, bentar banget. Ini sponsor utama festival mendadak minta revisi MoU sore ini juga. Kalau gak kelar sekarang, bisa batal cair dana kita. Gue pusing banget."

Rania hanya bisa menghela napas. Sejak Gisel terpilih jadi Ketua Pelaksana Festival, fokus cewek itu memang terbagi habis. Bahkan hubungannya dengan Arga pun kabarnya mulai mendingin. Rania tahu itu karena dia selalu memperhatikan. Diam-diam, Rania selalu tahu perkembangan hubungan mereka.

"Oke, semuanya harap tenang," suara tegas Pak Gunawan menggema lewat pelantang suara. "Kelompok sudah saya bagi secara acak berdasarkan penilaian akademis semester lalu. Saya tidak menerima protes, tidak ada tukar-menukar anggota dengan alasan apa pun. Proyek ini butuh kerja sama tim profesional."

Pak Gunawan menekan tombol *next* pada *remote* presentasinya. Daftar nama pun muncul di layar putih besar.

Seisi kelas langsung riuh. Ada yang mendesah kecewa karena tidak sekelompok dengan gengnya, ada juga yang bersorak senang. Rania dengan cepat memindai daftar nama tersebut dari atas ke bawah.

*Kelompok 1... Kelompok 3... Kelompok 5: Giselda Amara & Dimas Aditya.*

"Yah, gue sama Dimas," gumam Gisel, akhirnya mendongak sebentar ke arah layar. "Tapi gak apa-apa deh, Dimas kan rajin. Jadi gue gak perlu terlalu pusing mikirin tugas ini. Bisa gue lepas dikit ke dia."

Rania terus menggulirkan pandangannya ke bawah. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat saat matanya menangkap baris kedelapan.

*Kelompok 8: Rania Syasya & Arga Mahendra.*

Napas Rania tercekat. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, meyakinkan diri bahwa dia tidak salah baca. *Rania dan Arga.*

Dua nama itu bersanding di layar. Arga, cowok yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dalam lamunan malamnya sebelum tidur. Cowok yang statusnya adalah pacar dari sahabatnya sendiri. Dan sekarang, takdir si**** macam apa yang membuat mereka harus dipasangkan dalam proyek intensif selama dua bulan penuh?

"Eh, Ran! Lo sekelompok sama Arga!" Gisel berseru setengah berbisik, matanya melebar saat menyadari nama pacarnya bersanding dengan nama Rania.

Rania berusaha sekuat tenaga mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terlalu terkejutβ€”atau yang lebih parah, terlalu senang. "Eh? Iya ya? Kok bisa sih..."

"Ih, tapi ini pas banget tahu gak!" Gisel malah tersenyum lebar, tampak sangat lega. Dia menggenggam tangan Rania dengan erat. "Ran, gue titip Arga ya. Lo tahu sendiri kan dia tuh kadang suka males kalau disuruh bikin laporan atau analisis. Sementara gue bener-bener gak bakal sempat kalau harus bantuin dia atau sekelompok sama dia. Untung lo yang sekelompok sama dia, jadi gue gak perlu khawatir dia bakal terlantar atau dapet partner yang aneh-aneh."

Kata-kata Gisel seperti jarum yang menusuk tepat di dada Rania. *Gue titip Arga.*

Gisel begitu memercayainya. Gisel sama sekali tidak tahu bahwa di balik sikap manis Rania sebagai sahabat, ada perasaan terlarang yang tumbuh subur setiap harinya. Rasa bersalah langsung menjalar di sekujur tubuh Rania, namun di saat yang sama, ada letupan kegembiraan kecil yang egois di sudut hatinya.

"I-iya, Sel. Sant** aja, nanti gue coba koordinasi sama Arga," jawab Rania pelan, berusaha tersenyum senormal mungkin.

Begitu kelas dibubarkan, mahasiswa mulai berhamburan mendekati pasangan kelompok masing-masing untuk berdiskusi singkat. Rania masih terduduk di kursinya, merapikan buku-buku ke dalam tas dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Dia sangat gugup.

"Hai, Ran."

Suara berat yang sangat familier itu terdengar dari arah samping. Rania mendongak dan menemukan Arga sudah berdiri di dekat mejanya. Cowok itu mengenakan kaos hitam polos yang dilapisi kemeja flanel merah yang tidak dikancingkan, dipadu dengan celana jins gelap. Wangi maskulin campuran mint dan kayu manis langsung menguar dari tubuhnya, membuat konsentrasi Rania buyar seketika.

"Eh, hai, Ga," sapa Rania, berusaha terdengar sant**.

Arga menarik kursi kosong di depan meja Rania, lalu duduk berhadapan dengannya. Dia tersenyum tipis, jenis senyuman yang selalu sukses membuat jantung Rania berantakan. "Gak nyangka ya kita bisa sekelompok."

"Iya, kaget juga gue. Random banget Pak Gunawan ngebaginya," sahut Rania sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

Gisel yang masih sibuk mengetik di ponselnya tiba-tiba menyela tanpa menatap mereka. "Sayang, kamu nurut ya sama Rania. Jangan males-malesan. Rania ini otaknya encer banget, beruntung kamu dapet dia."

Arga menatap Gisel selama beberapa detik. Tatapannya tampak datar, ada sorot lelah yang tersembunyi di sana. "Iya, Sel."

Ponsel Gisel tiba-tiba berdering nyaring. Cewek itu mendesah keras begitu melihat nama yang tertera di layar. "Aduh, ini anak divisi acara nelpon lagi. Guys, gue harus ke sekretariat sekarang ya. Ran, Ga, gue duluan ya! Semangat kalian bahas proyeknya!"

Tanpa menunggu jawaban, Gisel langsung menyambar tasnya dan berlari terburu-buru keluar dari ruang kelas, meninggalkan Rania dan Arga dalam keheningan yang mendadak terasa canggung.

Rania berdeham kecil untuk mencairkan suasana. "So... proyek ini mulainya minggu depan. Tapi kita udah harus submit draf proposal hari Kamis besok."

"Berarti kita harus sering ketemu di luar kelas dong ya?" tanya Arga, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Rania. Tatapan itu terasa begitu intens, membuat Rania buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya sendiri.

"I-iya. Kan emang harus survei lapangan juga nanti. Lo... keberatan gak kalau sering-sering ketemu buat ngerjain ini?" Rania memberanikan diri bertanya.

Arga terkekeh pelan. "Keberatan kenapa? Malah gue senang sekelompok sama lo, Ran. Lo kan asyik diajak ngobrol. Lagian, kalau sama lo, gue gak perlu ngerasa gak enak kalau mau nanya-nanya."

*Gue senang sekelompok sama lo.* Kalimat sederhana itu bergema berulang-ulang di kepala Rania, menciptakan sensasi hangat yang menyenangkan sekaligus menakutkan.

"Ya udah, sore ini lo ada acara gak?" tanya Arga kemudian.

Rania mengerutkan kening. "Sore ini? Gak ada sih. Emang kenapa?"

"Mau langsung mulai *b**instorming*? Di kafe deket sini aja. Biar drafnya cepet kelar dan kita gak perlu begadang pas malam Kamis," tawar Arga. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, menunggu jawaban dengan ekspresi penuh harap.

Rania sempat ragu sejenak. Pikiran rasionalnya memperingatkan bahwa menghabiskan waktu berdua saja dengan Arga adalah ide yang buruk untuk kesehatan mental dan hatinya. Namun, sisi egoisnya langsung menang telak.

"Boleh deh. Di mana?"

"Kopi Nako yang di dekat taman kota aja gimana? Di sana tempatnya outdoor, gak terlalu bising kalau mau diskusi," usul Arga.

"Oke, deal. Ketemu di sana ya," jawab Rania dengan senyum manis yang tidak bisa dia tahan lagi.

***

Satu jam kemudian, Rania sudah duduk di salah satu sudut Kopi Nako. Angin sore berembus perlahan, menggoyahkan dedaunan pohon pelindung di sekitar area kafe luar ruangan tersebut.

Rania baru saja selesai memesan minumannya ketika Arga datang membawa dua gelas minuman di nampan kecil. Dia meletakkan satu gelas di depan Rania.

"Iced Matcha Latte buat lo," kata Arga sambil tersenyum lalu duduk di kursi seberang Rania.

Rania tertegun menatap gelas plastik di depannya, lalu menatap Arga dengan bingung. "Kok lo tahu gue suka matcha?"

Arga menyesap kopi hitamnya sebelum menjawab. "Pas kita *double date* di Jaksel dua minggu lalu, gue perhatiin lo pesen itu. Dan lo kelihatan suka banget sampai tetes terakhir. Bener, kan?"

Jantung Rania rasanya mau copot. Arga memperhatikannya. Di saat malam itu fokus semua orang seharusnya tertuju pada pasangan masing-masing, Arga ternyata menyadari det**l kecil tentang dirinya. Det**l yang bahkan Gisel sendiri kadang sering lupa karena terlalu sibuk.

"Oh... iya, bener. Makasih ya, Ga," ujar Rania, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya dengan buru-buru menyedot matcha latte-nya. Rasa manis dan sedikit pahit dari matcha itu terasa sangat pas di lidahnya, persis seperti perasaannya saat ini.

Mereka mulai membuka laptop masing-masing dan fokus pada draf proposal. Di luar dugaan Rania, Arga sangat kooperatif. Cowok itu tidak sepasif yang Gisel ceritakan. Arga justru memberikan banyak ide segar untuk konsep kampanye kreatif yang akan mereka ajukan ke perusahaan mitra.

"Gue rasa kita bisa pakai pendekatan emosional buat target audiens mereka yang gen Z, Ran. Mereka kan lebih suka konten yang kerasa *relatable* daripada yang terlalu jualan banget," ujar Arga sambil menunjukkan beberapa referensi video di ponselnya kepada Rania.

Rania mendekat untuk melihat layar ponsel Arga. Jarak mereka yang mendadak sangat dekat membuat Rania bisa mencium aroma parfum Arga dengan lebih jelas. Kulit lengan mereka sempat bersentuhan tanpa sengaja, mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat Rania refleks menahan napas.

"I-iya, setuju banget. Ide lo bagus, Ga," kata Rania agak terbata-bata, buru-buru menarik sedikit tubuhnya mundur agar tidak terlalu kentara sedang salah tingkah.

Arga menyadari reaksi Rania, namun dia hanya tersenyum tipis. Pembicaraan tentang proyek perlahan-lahan mengalir menjadi obrolan yang lebih sant** seiring berjalannya waktu. Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga keunguan di langit Jakarta yang bising. Lampu-lampu kafe yang berwarna kuning hangat mulai menyala, menciptakan suasana yang terasa lebih intim.

"Gisel sesibuk itu ya akhir-akhir ini?" tanya Rania hati-hati, memancing topik yang sebenarnya c**up berisiko.

Arga menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi. Pandangannya menerawang ke arah jalanan yang mulai macet. "Iya. Banget. Kadang gue ngerasa dia pacaran sama festivalnya, bukan sama gue."

Ada nada getir yang sangat jelas dalam suara Arga. Rasa kesepian yang sempat dia rasakan di koridor kampus tadi siang tampaknya kembali membayang.

"Dia cuma lagi dapet tanggung jawab besar aja, Ga. Kan lo tahu sendiri Gisel emang se-ambisius itu kalau udah megang acara," kata Rania, mencoba bersikap netral sebagai sahabat Gisel, meskipun di dalam hatinya ada bagian diri yang egois yang berbisik: *Kalau gue jadi pacar lo, gue gak akan pernah bikin lo ngerasa kesepian kayak gini.*

"Gue tahu," sahut Arga lirih. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Rania. Kali ini, tatapannya terasa sangat lelah dan rapuh. "Tapi kadang, gue juga pengen diprioritasin, Ran. Gue pengen ditanya gimana hari gue, atau sekadar ditemenin makan ramen tanpa dia sibuk balesin chat panitianya tiap lima detik."

Rania tertegun. Dia bisa melihat dengan jelas luka kecil di mata Arga. Cowok yang biasanya terlihat tangguh dan keren di atas motor gedenya itu, ternyata menyimpan kerapuhan yang begitu besar di dalam hatinya.

Tanpa sadar, Rania mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh pelan punggung tangan Arga sebagai bentuk simpati. "Lo boleh cerita apa aja ke gue, Ga. Kalau lo lagi ngerasa capek atau butuh temen ngobrol, gue selalu ada di sini."

Arga menatap tangan Rania yang menyentuhnya, lalu perlahan membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam lembut jemari Rania. Genggaman tangan itu hangat, sangat hangat hingga membuat seluruh pertahanan Rania runtuh seketika.

"Makasih ya, Ran. Gue beruntung banget sekelompok sama lo," bisik Arga dengan tulus.

Rania hanya bisa mengangguk pelan, sementara di dalam dadanya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia takut Arga bisa mendengarnya. Dia tahu ini salah. Dia tahu dia sedang bermain dengan api yang bisa membakar dirinya sendiri dan persahabatannya dengan Gisel. Namun, berada di dekat Arga seperti ini, memegang tangannya, dan menjadi tempatnya bersandar, adalah semua hal yang selama ini hanya bisa dia bayangkan setiap malam sebelum menutup mata.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, bayangan itu terasa begitu nyata.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca