Bab 5: Batas yang Perlahan Mengabur
Suara gemercik air hujan yang menghantam kaca jendela kafe berbaur dengan alunan musik indie pop bertempo lambat. Di sudut ruangan, dekat tanaman monstera yang estetik, Rania duduk dengan mata yang mulai terasa berat. Di depannya, layar laptop menampilkan dokumen Google Docs berisi draf proposal proyek magang yang belum selesai setengahnya.
Sudah tiga jam mereka di sini. Hanya berdua.
"Ran, bagian target audiens ini kayaknya mending kita fokusin ke gen Z yang rentang usianya delapan belas sampai dua puluh lima tahun deh. Biar sejalan sama konsep agensinya."
Suara bariton itu memecah keheningan di antara mereka. Rania tersentak kecil, lalu buru-buru mengangguk. Matanya beralih dari layar laptop ke cowok yang duduk di hadapannya.
Arga Mahendra.
Sore ini, Arga memakai hoodie abu-abu berukuran longgar dengan lengan yang digulung sampai ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang entah kenapa selalu sukses membuat Rania salah fokus. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnyaβtampilan yang jarang Arga tunjukkan di kampus.
"Rania? Lo denger gue, kan?" Arga melambaikan tangannya di depan wajah Rania sambil tersenyum tipis.
"Eh? Ah, iya! Denger kok," Rania tergagap, merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi ketahuan melamun. "Iya, setuju banget. Gen Z emang lebih ma**k buat kampanye digital yang mau kita bikin."
Arga terkekeh pelan. "Muka lo kelihatan capek banget. Kita istirahat dulu aja kali ya? Lagian drafnya tinggal dikit lagi selesai."
"Nggak apa-apa, Ga. Tanggung, bentar lagi kelar kok," ujar Rania, mencoba terdengar profesional padahal jantungnya sudah berdegup tidak karuan sejak tadi.
Arga tidak menjawab. Cowok itu tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Gue ke toilet bentar ya."
"Oh, oke."
Rania menghela napas panjang begitu Arga menjauh. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kafe, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening. Bekerja satu kelompok dengan Arga ternyata jauh lebih menguras energi mental daripada yang dia bayangkan. Bukan karena Arga menyebalkan, justru sebaliknya. Arga terlalu baik, terlalu peka, dan terlalu dekat.
Setiap kali Arga mendekatkan kepalanya untuk melihat layar laptop Rania, aroma parfum *cedarwood* bercampur mint khas cowok itu langsung menginvasi indra penciuman Rania. Dan setiap kali itu pula, memori Rania terbang ke fantasi-fantasi malamnya.
Di kamarnya yang sunyi, saat malam beranjak larut, Rania sering membayangkan momen-momen seperti ini. Dia membayangkan bagaimana rasanya menjadi cewek yang berhak membelai rambut Arga, cewek yang tangannya digenggam erat oleh Arga saat menyeberang jalan, cewek yang dicemaskan oleh Arga saat pulang larut malam.
Tapi kenyataannya, cewek itu adalah Gisel. Sahabatnya sendiri.
Sepuluh menit berlalu, Arga kembali ke meja mereka. Namun, dia tidak langsung duduk. Di tangan kanannya, ada sebuah cup plastik dengan cairan berwarna cokelat muda dengan bintik-bintik putih di atasnya.
Arga meletakkan cup itu tepat di depan Rania.
"Ice Salted Caramel Latte. Kurang manis, espresso-nya satu *shot* aja," kata Arga sant** sambil menduduki kembali kursinya.
Rania terbelalak. Dia menatap cup kopi itu, lalu menatap Arga dengan pandangan tidak percaya. "Loh? Kok..."
"Gisel pernah bilang ke gue pas kita awal pacaran," sela Arga, senyumnya terkembang tipis. "Dia bilang, sahabatnya yang namanya Rania itu kalau lagi stres tugas nggak bisa minum kopi item. Sukanya kopi manis yang ada gurih-gurihnya, tapi lambungnya nggak kuat kopi strong. Makanya gue pesenin itu."
Jantung Rania rasanya seperti berhenti berdetak sesaat, sebelum akhirnya berpacu liar bagai kereta cepat. Dada Rania mendadak sesak oleh rasa manis yang bercampur bersalah yang teramat sangat.
*Dia ingat. Arga mengingat det**l kecil tentang dirinya, bahkan meski itu bersumber dari cerita lama Gisel.*
"Makasih ya, Ga. Repot-repot banget," bisik Rania, mencoba menyembunyikan getar di suaranya. Dia menyesap kopi itu. Rasanya dingin, manis, dan gurih. Sempurna. Tapi yang membuat dadanya hangat bukanlah rasa kopi itu, melainkan perhatian kecil dari cowok di depannya.
"Sama-sama. Diminum biar lo nggak ngantuk lagi. Gue nggak mau dituduh Gisel menyiksa sahabatnya demi tugas kuliah," canda Arga, mengedipkan sebelah matanya.
Rania tertawa kecil, walau hatinya agak mencelos saat nama Gisel kembali disebut. Nama itu seperti alarm yang mendadak berdering nyaring, mengingatkannya akan batas yang tidak boleh dia lewati. Gisel adalah sahabatnya. Arga adalah pacar sahabatnya. Itu aturan mutlak.
Namun, sore itu, langit tampaknya punya rencana lain untuk menguji pertahanan Rania.
Hujan yang tadinya hanya gerimis kecil mendadak berubah menjadi badai. Angin kencang menerpa kaca kafe, dan suara petir sesekali menggelegar, membuat beberapa pengunjung kafe terlonjak kaget.
Rania memeriksa ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Di luar, suasana sudah gelap gulita karena tertutup mendung tebal.
"Duh, deras banget ya," gumam Rania cemas. Dia membuka aplikasi ojek online di ponselnya. Layar menampilkan indikator merah di seluruh wilayah. *High fare* dan tidak ada driver yang tersedia.
"Kenapa, Ran?" tanya Arga sambil merapikan kabel chargernya ke dalam tas.
"Ini, nyari ojek online susah banget. Pada nggak mau ngambil gara-gara hujan deras," jawab Rania dengan nada frustrasi.
Arga melihat ke luar jendela, lalu beralih menatap Rania. Tanpa ragu, dia menyampirkan tas ranselnya ke bahu. "Gue anter balik."
"Eh? Gak usah, Ga! Rumah lo kan beda arah sama kosan gue. Jauh banget muternya," tolak Rania cepat. Dia tidak berbohong. Kosannya ada di daerah barat, sementara rumah Arga ada di daerah selatan kampus.
"Terus lo mau nunggu di sini sampai subuh? Ini badai, Ran. Ba**** di mana-mana nanti," kata Arga, nadanya terdengar tegas dan tidak menerima bantahan. "Lagian, gue bawa mobil hari ini. Aman dari hujan."
"Tapi, Gisel..." kata-kata Rania menggantung di udara.
Arga tersenyum menenangkan. "Gisel tahu kok kita lagi kerja kelompok. Tadi gue udah chat dia, bilang kalau kita kelar sore ini. Dia juga lagi sibuk rapat panitia festival sampai malam banget di kampus. Tenang aja."
Rania menelan ludah. Ada pergulatan batin yang hebat di dalam dadanya. Sebagian dirinya tahu bahwa ma**k ke dalam mobil Arga, berdua saja di tengah hujan badai, adalah ide yang sangat buruk untuk kesehatan mentalnya. Hal itu hanya akan menyuburkan fantasi-fantasi g*** di kepalanya. Tapi sebagian dirinya yang lainβbagian yang egois dan haus akan kehadiran Argaβmenjerit senang.
"Yaudah... kalau nggak ngerepotin," ucap Rania akhirnya, menyerah pada egoisnya sendiri.
"Nggak repot sama sekali, Rania. Yuk," ajak Arga.
Perjalanan menuju tempat parkir yang berjarak sekitar sepuluh meter dari pintu kafe menjadi tantangan tersendiri. Angin bertiup kencang, membawa tampias air hujan yang dingin.
"Ran, bentar," tahan Arga saat mereka baru saja hendak melangkah keluar.
Sebelum Rania sempat bertanya, Arga sudah melepaskan jaket hoodie abu-abunya, menyisakan kaus hitam polos di tubuhnya. Dengan gerakan cepat namun lembut, Arga menyampirkan hoodie tebal beraroma *cedarwood* itu ke atas kepala dan bahu Rania, melindunginya dari terpaan air hujan.
"Pakai ini biar lo gak basah kuyup. Ayo lari!" seru Arga.
Arga menggenggam pergelangan tangan Rania, menarik cewek itu menerobos hujan deras menuju mobil Honda Civic hitam miliknya yang terparkir di pojok.
Detik itu, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Rania. Sentuhan tangan Arga di pergelangan tangannya terasa hangat, kontras dengan tetesan air hujan yang dingin yang mengenai pipinya. Di bawah tudung hoodie milik Arga yang terlalu besar untuk kepalanya, Rania bisa mencium aroma tubuh Arga dengan sangat jelas. Aroma yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dalam mimpi, kini benar-benar mendekapnya erat.
Mereka berdua ma**k ke dalam mobil dengan napas yang agak terengah-engah. Arga segera menyalakan mesin dan pengatur suhu ruangan.
"Lo nggak apa-apa? Nggak basah banget, kan?" tanya Arga dengan nada cemas yang sangat tulus. Dia menoleh ke arah Rania, matanya memindai tubuh Rania dari atas ke bawah untuk memastikan cewek itu baik-baik saja.
Rania menggeleng pelan. "Gue aman. Tapi lo... baju lo basah, Ga."
Bagian bahu dan dada kaus hitam Arga memang tampak basah terkena air hujan saat dia melindungi Rania tadi. Kulitnya yang kecokelatan samar-samar terlihat di balik kain kaus yang basah dan menempel pada tubuhnya.
"Gampang, cowok mah kuat," sahut Arga sant** sambil menyeka sisa air hujan di wajahnya dengan punggung tangan. Dia kemudian mengemudikan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai macet dan tergenang air.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat intim. Suara rintik hujan yang menghantam atap mobil menciptakan sekat yang memisahkan mereka dari dunia luar yang bising. Lagu bernuansa lo-fi mengalun lembut dari pemutar musik mobil, menambah kesan magis yang berbahaya bagi Rania.
Rania memeluk tasnya erat-erat, masih dengan hoodie Arga yang melekat di tubuhnya. Dia menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang tampak buram karena air hujan.
*Gue harusnya nggak di sini,* batin Rania menjerit. *Gue harusnya merasa bersalah.*
Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya. Rasa hangat yang menjalar di dadanya begitu menyenangkan. Dia merasa begitu dilindungi. Dia merasa seolah-olah dia adalah cewek yang paling beruntung malam ini.
"Ran?" pangg***n Arga memecah lamunannya.
Rania menoleh. "Ya?"
"Lo kok diam aja dari tadi? Capek banget ya gara-gara tugas tadi? Maaf ya, gue agak maksain lo buat nyelesaiin drafnya hari ini," ucap Arga dengan nada penuh penyesalan.
"Eh, nggak! Bukan karena itu kok," jawab Rania cepat, takut Arga salah paham. "Gue cuma... lagi mikirin hal lain aja."
"Mikirin apa? Kalau ada masalah, cerita aja. Gue siap dengerin kok. Sebagai temen sekelompok... atau sebagai temen biasa juga boleh," kata Arga, melirik Rania sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan yang padat merayap.
Kata "temen" itu seperti hantaman keras yang menyadarkan Rania dari tidurnya. Tapi pandangan mata Arga, cara cowok itu berbicara dengan nada yang begitu lembut, membuat batas di kepala Rania semakin mengabur.
Di dalam fantasinya, saat mereka berdua terjebak di dalam mobil seperti ini, Arga akan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Cowok itu akan menatap matanya dalam-dalam, mengusap pipinya, lalu membisikkan kata-kata manis yang selama ini ingin Rania dengar.
"Arga..." panggil Rania tanpa sadar. Suaranya sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan.
"Kenapa, Ran?" Arga menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Rania.
Rania menatap mata cokelat gelap milik Arga. Di bawah temaram lampu jalanan yang menembus kaca mobil, wajah Arga terlihat begitu menawan. Ada jeda beberapa detik di mana mereka hanya saling bertatapan dalam diam. Jantung Rania berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar.
Secara tidak sadar, Rania memajukan tubuhnya sedikit. Dia ingin merengkuh jarak yang ada di antara mereka. Dia ingin khayalan malamnya menjadi nyata, walau hanya untuk satu detik saja.
Arga tampak menyadari perubahan atmosfer di antara mereka. Tatapan matanya melembut, dan perlahan, tangannya bergerak naik. Jemari hangat Arga menyentuh pipi Rania, menyingkirkan seunt** rambut basah yang menempel di dahi cewek itu dengan sangat perlahan.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Rania. Napas Rania tercekat.
"Rambut lo basah, nanti bisa pusing," bisik Arga, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Pandangan matanya turun ke bibir Rania selama beberapa detik, sebelum kembali menatap mata Rania yang melebar.
Rania merasa dunianya runtuh saat itu juga. Batas antara kenyataan yang kejam dan fantasi yang indah yang selama ini dia jaga ketat di dalam kepalanya, kini telah benar-benar lebur tanpa sisa. Di dalam mobil yang hangat ini, di bawah tatapan intens Arga, Rania tidak tahu lagi apakah dia sedang bermimpi di atas tempat tidurnya, atau sedang melakukan pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!