"Nih, buat lo. Biar otak lo nggak ngebul."
Arga meletakkan cup plastik itu tepat di hadapan Rania. Di permukaan minuman dingin berwarna cokelat muda itu, tampak taburan remah biskuit karamel dan lelehan sirup cokelat yang manis.
Rania mengerjapkan mata, menatap cup itu lalu beralih ke wajah Arga yang kini sedang menggeser kursinya untuk duduk kembali. "Ini... iced hazelnut latte pakai extra caramel sauce?"
"Yup. Plus serpihan Lotus Biscoff di atasnya," ujar Arga sambil tersenyum tipis. Cowok itu melepas kacamatanya, lalu mengusap lensa kacamata tersebut dengan ujung hoodie abu-abunya sebelum memakainya kembali. "Gue inget Gisel pernah bilang, kalau lo lagi stres ngerjain tugas, obat paling ampuh buat lo tuh minuman manis yang ada karamelnya. Bener, kan?"
Mendengar nama Gisel disebut, jantung Rania yang tadinya berdegup kencang karena perhatian Arga langsung terasa seperti dihantam batu besar. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyumbat tenggorokannya.
"Gisel... cerita itu ke lo?" tanya Rania dengan suara yang diusahakan tetap terdengar biasa saja.
"Iya. Dia kan sering banget cerita tentang lo. Katanya, lo itu sahabat terbaiknya yang paling nggak bisa hidup tanpa yang manis-manis kalau lagi banyak pikiran," jawab Arga sant**. Dia kemudian membuka laptopnya kembali. "Yuk, lanjutin dikit lagi. Biar kita bisa buru-buru pulang sebelum hujannya makin deras."
Rania memaksakan sebuah senyum tipis. "Ah... iya. Gisel emang paling tahu tentang gue."
Rania menggenggam cup plastik dingin itu. Rasa dinginnya menjalar ke telapak tangannya, tapi di dalam dadanya, ada api yang membakar. Rasa bersalah dan rasa cemburu bercampur aduk menjadi satu rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan. Arga begitu perhatian, tapi semua perhatian itu berakar dari informasi yang diberikan oleh Gisel. Arga melakukan ini karena dia adalah pacar Gisel, dan Rania adalah sahabat pacarnya.
Selama sisa waktu pengerjaan tugas, Rania tidak bisa fokus sepenuhnya. Setiap gerakan Argaβcara cowok itu mengetik dengan jemari panjangnya yang kokoh, cara dia sesekali menggigit bibir bawahnya saat berpikir, hingga wangi parfum *cedarwood* bercampur mint yang menguar setiap kali Arga bergerakβsemuanya terasa seperti siksaan yang manis bagi Rania.
Sekitar pukul tujuh malam, draf proposal mereka akhirnya selesai dan sudah dikirim ke email dosen pembimbing magang.
"Kelar juga akhirnya," Arga meregangkan tubuhnya, membuat otot-otot lengannya yang tergulung di balik hoodie abu-abu itu terlihat jelas. Rania cepat-cepat memalingkan wajah sebelum Arga menyadari arah pandangannya. "Gue anter balik ya, Ran? Di luar masih gerimis, ngeri lo ma**k angin kalau naik ojol."
Jantung Rania berdesir. Tawaran itu sangat menggoda. Membayangkan duduk di kursi penumpang mobil Arga yang hangat, hanya berdua, sambil mendengarkan lagu-lagu indie yang biasa diputar cowok itu. Tapi, akal sehat Rania langsung berteriak menolak.
"Nggak usah, Ga. Makasih banget," tolak Rania sehalus mungkin sambil merapikan laptop dan buku-bukunya ke dalam tas. "Gue... mau mampir ke minimarket depan dulu, ada yang mau dibeli buat stok di kostan. Lagian deket kok dari sini."
Arga menatap Rania selama beberapa detik, seolah menilai apakah cewek di depannya ini sedang berbohong atau tidak. Akhirnya, dia mengangguk. "Ya udah kalau gitu. Hati-hati ya. Kabarin Gisel kalau udah sampai kostan, dia tadi nyariin lo katanya."
"Iya, Ga. Pasti."
***
Gerimis tipis menerpa wajah Rania saat dia berjalan setengah berlari menuju kamar kostnya. Udara malam yang dingin sama sekali tidak bisa mendinginkan kepalanya yang terasa panas.
Begitu tiba di dalam kamarnya yang berukuran 3x4 meter, Rania langsung mengunci pintu rapat-rapat. Dia melempar tas ranselnya ke lant**, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ka**r busa tipis miliknya. Kamar itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya lampu jalanan yang menembus celah ventilasi.
Rania menatap langit-langit kamar. Sunyi. Namun di dalam kepalanya, suasana begitu bising.
Bayangan Arga di kafe tadi terus berputar-putar seperti kaset rusak. Senyum tipisnya, tatapan matanya di balik kacamata, cara dia menyebut nama Rania dengan suara baritonnya yang berat. Semuanya terasa begitu nyata, begitu dekat, tapi sekaligus sangat mustahil untuk digapai.
"Kenapa harus lo, Ga?" bisik Rania pada kesunyian kamar. Air matanya perlahan menetes di sudut mata, membasahi bantal. "Kenapa harus lo yang bikin gue kayak gini?"
Rasa bersalah kepada Gisel terus menghantuinya. Gisel adalah orang baik. Gisel tidak pantas dikhianati. Tapi di sisi lain, obsesi Rania terhadap Arga sudah melangkah terlalu jauh. Ego batinnya memberontak. Dia lelah harus selalu menahan diri, lelah harus selalu berpura-pura menjadi sahabat yang suportif saat melihat Gisel dan Arga bermesraan di depannya.
Rania butuh pelampiasan. Dia butuh tempat untuk mengeluarkan semua fantasi kotor dan liarnya tentang Arga sebelum dia benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rania meraba ka**r, mencari ponselnya. Setelah menemukannya, dia menyalakan layar. Cahaya terang dari ponsel langsung menerangi wajahnya yang sembap.
Dia membuka menu aplikasi dan mencari aplikasi *Notes* bawaan ponselnya. Aplikasi sederhana yang biasanya hanya dia gunakan untuk mencatat daftar belanjaan atau tenggat waktu tugas kuliah. Tapi malam ini, aplikasi itu akan menjadi saksi dari sisi tergelap seorang Rania.
Rania membuat sebuah catatan baru. Dia tidak menuliskan judul apa pun, hanya membiarkan baris pertama kosong. Namun, sebelum mulai mengetik, dia mengaktifkan fitur kunci pribadi menggunakan sidik jari. Hanya dia yang bisa membuka catatan ini. Bahkan jika Gisel meminjam ponselnya untuk berswafoto, rahasia ini akan tetap aman terkunci.
Setelah memastikan semuanya aman, Rania menarik napas dalam-dalam. Jemarinya mulai menari di atas keyboard virtual. Dia tidak lagi menahan diri. Dia menumpahkan seluruh isi kepalanya, seluruh fantasi seksualnya tentang Arga secara mendet**l.
*Malam ini dingin banget, tapi bayangan tentang lo bikin gue ngerasa kebakar.*
*Gue bayangin lo ada di sini, Ga. Di kamar kost gue yang sempit ini. Lo datang dalam keadaan basah karena kehujanan di luar. Hoodie abu-abu yang lo pakai tadi siang basah kuyup, nempel ketat di badan lo, memperlihatkan bentuk dada lo yang bidang.*
*Gue bakal jalan deketin lo, lepasin kacamata lo, terus taruh di meja belajar. Lo cuma bakal natap gue dengan mata sayu lo yang kelihatan begitu haus. Nggak ada kata-kata. Lo langsung narik pinggang gue, bikin tubuh kita nggak ada jarak lagi.*
*Gue bisa ngerasa hangat tubuh lo di balik baju yang basah itu. Bau parfum cedarwood lo yang khas bercampur sama aroma air hujan, bikin gue pusing karena terlalu memabukkan. Tangan kasar lo bakal menangkup pipi gue, jari-jari lo yang panjang bakal nyelip di sela-sela rambut gue, sebelum akhirnya lo nunduk dan nyium gue.*
Rania berhenti mengetik sejenak. Napasnya mulai memburu hanya dengan membaca apa yang baru saja dia tulis. Dadanya naik turun dengan cepat, dan dia bisa merasakan detak jantungnya berdentum keras di rongga dadanya. Area sensitifnya mulai terasa hangat, sebuah reaksi fisik yang tidak bisa dia bohongi dari fantasi liar yang dia ciptakan sendiri.
Namun, alih-alih berhenti, Rania justru merasa bebas. Ini adalah candu baru untuknya. Dia melanjutkan ketikannya dengan lebih berani.
*Ciuman lo terasa kasar tapi penuh tuntutan, seolah lo udah nahan ini sama lamanya kayak gue. Lo bakal nuntun gue mundur sampai bagian belakang lutut gue nab**k pinggiran ka**r. Kita bakal jatuh bareng ke atas ka**r tipis ini.*
*Di bawah remang-remang lampu kamar, gue bakal ngelihat lo ngelepas hoodie basah lo, menyisakan kaus dalam hitam yang memperlihatkan lekuk tubuh lo yang sempurna. Lo bakal merangkak di atas gue, ngurung tubuh gue yang lebih kecil di bawah kungkungan lo. Sentuhan tangan lo di paha gue bikin gue merinding, dan saat lo berbisik di telinga gue dengan suara serak lo yang s****, gue tahu... malam ini lo cuma milik gue. Cuma Rania yang lo mau, bukan Gisel.*
Air mata Rania kembali menetes, kali ini jatuh tepat di atas layar ponselnya yang menyala. Dia mengetik paragraf demi paragraf dengan air mata yang terus mengalir. Ini adalah bentuk frustrasi terdalamnya. Di dunia nyata, dia harus menelan pahitnya kenyataan bahwa Arga adalah milik sahabatnya. Tapi di dalam catatan rahasia ini, dia adalah ratunya, dan Arga adalah tawanan yang dengan senang hati menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk Rania.
Dia menjabarkan setiap sentuhan fiktif itu dengan sangat det**l. Bagaimana rasanya jika bibir Arga menyusuri lehernya, bagaimana suara napas Arga yang memburu di dekat telinganya, hingga bagaimana rasanya bersatu secara fisik dengan cowok yang selalu dia impikan setiap malam. Semua kata-kata vulgar dan erotis yang tidak pernah berani dia ucapkan, kini tertulis dengan rapi di sana.
Setelah hampir satu jam terjebak dalam fantasinya sendiri, Rania akhirnya berhenti mengetik. Jarinya terasa pegal, dan dadanya terasa sesak oleh emosi yang membuncah.
Dia membaca ulang tulisan panjang itu dari atas ke bawah. Sensasi panas dan bersalah kembali menyerangnya, tapi kali ini bercampur dengan rasa puas yang luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. Catatan ini telah menjadi katarsis bagi obsesinya yang sakit.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi WhatsApp muncul di bagian atas layar ponselnya, memotong aplikasi *Notes* yang masih terbuka.
**Gisel:**
*Ran! Lo udah balik kostan belum? Arga bilang lo tadi ke minimarket dulu. Kabarin ya kalau udah sampai, gue cemas nih gerimisnya makin awet di luar.*
Membaca pesan dari Gisel, Rania langsung merasa seperti disiram air es. Realitas menghantamnya kembali dengan kejam. Dia baru saja menuliskan fantasi liar tentang pacar dari cewek yang sekarang sedang mencemaskannya.
Rania buru-buru keluar dari aplikasi *Notes*. Catatan berjudul *A* itu otomatis terkunci dan menghilang dari daftar catatan biasa, tersembunyi di balik folder aman yang memerlukan pemindaian sidik jari untuk membukanya.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Rania membuka ruang obrolannya dengan Gisel. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya sebelum mengetik balasan.
**Rania:**
*Udah kok, Sel. Ini baru aja rebahan di ka**r. Sorry ya baru ngabarin. Arga juga udah pulang, kan?*
**Gisel:**
*Syukurlah! Iya, Arga baru aja nelepon gue katanya udah di jalan arah pulang ke rumahnya. Makasih ya Ran udah mau dibantuin Arga ngerjain tugas magangnya. Gue beruntung banget punya sahabat kayak lo dan pacar kayak Arga.*
Rania menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Kata "beruntung" yang ditulis Gisel terasa seperti belati yang menusuk langsung ke jantungnya.
*Gue beruntung banget punya sahabat kayak lo...*
Rania mematikan ponselnya, lalu melempar benda pipih itu ke samping tubuhnya. Dia meringkuk, memeluk lututnya erat-erat di atas ka**r yang dingin. Rasa bersalah itu kembali datang, lebih besar dan lebih menyesakkan dari sebelumnya.
Namun, di sudut hatinya yang paling gelap, Rania tahu satu hal. Dia tidak akan pernah menghapus catatan rahasia di ponselnya. Justru, catatan itu akan menjadi awal dari lembaran-lembaran fantasi lain yang akan terus dia tulis setiap malam, setiap kali dia membayangkan pacar orang di dalam kesunyian kamarnya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!