...mema**kkan charger ke dalam tas. "Gue bisa pesen ojol kok. Lagian rumah kita kan beda arah, Ga. Nanti lo malah muter-muter kemaleman."
Arga menghentikan gerakannya yang sedang memakai jaket. Cowok itu menatap Rania dengan helaan napas pelan, lalu menggeleng tegas. "Nggak ada penolakan, Rania. Di luar itu mendung tebel, anginnya kenceng. Kalau lo maksa naik ojol terus besoknya sakit, Gisel bisa ngomelin gue seminggu suntuk karena ngebiarin sahabatnya pulang sendirian."
Lagi-lagi nama Gisel. Rania tersenyum kecut, untungnya tertutup oleh rambut panjangnya yang sengaja dia urai. Selalu ada tameng bernama 'Gisel' di setiap perhatian yang Arga berikan.
"Lagian," Arga melanjutkan sambil menepuk perutnya sendiri, "cacing di perut gue udah demo dari tadi. Kita cari makan dulu, yuk? Di seberang jalan ada kedai kopi semi-outdoor yang buka 24 jam. Makanannya lumayan enak, tempatnya juga anget. Temenin gue bentar, abis itu baru gue anter lo pulang. *Deal?*"
Menatap sepasang mata cokelat di balik kacamata Arga yang selalu terlihat teduh itu, pertahanan Rania runtuh seketika. Dia tidak pernah bisa menolak Arga. Tidak akan pernah bisa.
"Yaudah, iya. Tapi gue bayar makanan gue sendiri, ya," sahut Rania akhirnya, pasrah kalah dalam perdebatan kecil ini.
Arga tertawa pelan, tipe tawa renyah yang selalu berhasil membuat perut Rania serasa dipenuhi ratusan kupu-kupu. "Iya, Rania. Terserah lo aja."
***
Kedai kopi yang dimaksud Arga ternyata bernama *Kopi Latar*. Tempatnya bergaya industrial minimalis dengan pencahayaan kuning temaram yang memberi kesan hangat dan intim. Di sudut ruangan, ada alunan musik indie akustik yang berputar sant**, berpadu dengan suara rintik gerimis yang mulai membasahi jalanan aspal di luar.
Mereka memilih meja di sudut paling pojok, dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke jalan raya. Arga memesan segelas kopi hitam panas dan seporsi mi instan rebus pakai telur dan kejuβmenu standar mahasiswa yang sedang kelaparan di malam hari. Sementara Rania hanya memesan secangkir cokelat panas untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai diserang hawa dingin.
"G***, aromanya juara sih," ujar Arga saat pesanan mereka datang. Cowok itu langsung menyantap mi rebusnya dengan lahap, membuat Rania tidak bisa menahan senyum tipis saat melihat pipi Arga menggembung karena penuh makanan.
"Pelan-pelan, Ga. Nggak bakal ada yang minta juga," komentar Rania sambil mengaduk cokelat panasnya dengan sendok kecil.
Arga menelan makanannya, lalu nyengir tanpa dosa. "Sumpah, dari siang gue cuma sempat makan roti sebiji. Tugas dari dosen pembimbing magang bener-bener menguras energi."
Percakapan mengalir sant** setelah itu. Mereka membahas tentang revisi proposal yang baru saja mereka kirimkan, hingga dosen-dosen killer di jurusan mereka yang suka mempersulit nilai. Rania menikmati setiap detiknya. Bagi Rania, momen-momen sederhana seperti ini adalah harta karun yang akan dia simpan rapat-rapat di kepalanya untuk dibayangkan kembali saat dia sendirian di kamar tidurnya nanti.
Namun, suasana sant** itu perlahan berubah ketika Arga selesai menghabiskan makanannya. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, lalu menghela napas panjang. Matanya menatap kosong ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar ponsel itu gelap, tidak ada satu pun notifikasi yang ma**k.
Rania menyadari perubahan aura di sekitar Arga. Wajah cowok itu mendadak terlihat lelah, bukan lelah fisik karena tugas, melainkan jenis kelelahan emosional yang sudah dipendam c**up lama.
"Lo... kenapa, Ga? Kok tiba-tiba lesu gitu?" tanya Rania hati-hati.
Arga mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Rania. Dia menatap Rania c**up lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah dia pantas membagikan bebannya pada gadis di depannya ini.
"Ran..." Arga menjeda kalimatnya, tangannya bergerak memainkan pinggiran gelas kopi hitamnya yang sudah dingin. "Gue boleh curhat nggak? Tapi... janji ya, jangan bilang-bilang ke Gisel."
Jantung Rania mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Rasa bersalah langsung menyergap dadanya. Mendengar nama sahabatnya disebut dalam konteks "rahasia" seperti ini membuat Rania merasa seperti seorang pengkhianat. Namun, rasa penasaran dan ego di dalam dirinya jauh lebih kuat.
"Curhat aja, Ga. Rahasia aman sama gue," jawab Rania, berusaha menstabilkan suaranya agar terdengar seperti seorang sahabat yang suportif.
Arga tersenyum tipis, tapi senyum itu terlihat sangat pahit. "Gue ngerasa... hubungan gue sama Gisel lagi nggak baik-baik aja. Atau mungkin, cuma gue doang yang ngerasa kayak gini."
"Maksud lo?"
"Gisel berubah, Ran. Lo ngerasa juga nggak sih?" Arga menatap Rania dengan mata yang memancarkan kerapuhan. "Dia sibuk banget akhir-akhir ini. Gue tahu dia lagi aktif di kepanitiaan BEM, gue juga tahu dia punya banyak temen baru. Tapi... masa iya, buat bales chat gue sehari sekali aja susah banget? Kadang chat gue cuma dibaca doang, atau dibales singkat-singkat kayak orang asing."
Rania tertegun. Dia tahu betul bagaimana kesibukan Gisel akhir-akhir ini, karena Gisel memang sering bercerita tentang cowok-cowok baru di kepanitiaannya yang menurut Gisel "seru dan asyik". Rania tahu Gisel mulai bosan dengan Arga yang menurut Gisel terlalu flat dan terlalu fokus pada dunia akademis. Tapi Rania tidak pernah menyangka kalau sikap acuh Gisel akan sejelas ini dirasakan oleh Arga.
"Mungkin Gisel emang lagi *burnout*, Ga. Tugas BEM kan emang lagi numpuk-numpuknya menjelang acara puncak," Rania mencoba membela Gisel, meskipun di dalam hatinya, ada suara egois yang berbisik: *Lihat, kan? Gisel nggak menghargai lo. Harusnya lo sama gue aja.*
"Gue juga mikirnya gitu awalnya," gumam Arga, suaranya terdengar serak. "Gue coba buat maklum. Gue nggak mau jadi pacar yang posesif atau ngebatasin ruang gerak dia. Tapi kemarin... pas gue ajak dia jalan karena itu hari anniversary kita yang ke-tiga belas bulan, dia nolak. Alasannya rapat. Tapi malemnya, gue liat di Insta Story temennya, dia lagi nongkrong di bar bareng anak-anak BEM."
Arga menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Gue ngerasa kayak... pacar cadangan, Ran. Gue dicari pas dia lagi gabut atau lagi butuh bantuan tugas doang. Di luar itu, eksistensi gue kayak nggak ada artinya buat dia."
Melihat cowok setegar Arga terlihat serapuh ini membuat dada Rania terasa sesak luar biasa. Rasa sakit di hati Arga seolah menular langsung ke dalam dadanya. Mengapa Gisel bisa begitu bodoh menyia-nyiakan cowok sesempurna Arga? Mengapa Gisel tidak bisa melihat betapa tulusnya Arga menyayanginya?
"Ga..." Rania ingin menenangkan Arga, tapi dia bingung harus berkata apa. Lidahnya mendadak kelu.
Tanpa sadar, karena terlalu cemas dan gugup melihat kesedihan Arga, tangan Rania mulai bergetar di atas meja. Dia mulai memainkan ujung sedotan minumannya dengan gelisah. Dia ingin memeluk Arga, ingin menghapus kesedihan di mata cowok itu, tapi dia tahu batasannya. Dia hanyalah sahabat pacarnya. Tidak lebih.
Melihat Rania yang tampak sangat gelisah dan gemetar, Arga mendongakkan kepalanya. Fokusnya langsung beralih pada tangan Rania yang gemetaran di atas meja kayu itu.
"Eh, Ran, lo nggak apa-apa? Tangan lo gemeteran gitu," ujar Arga dengan nada khawatir.
"Hah? Nggak... gue nggak apa-apa kok," jawab Rania gugup, mencoba menarik tangannya kembali ke pangkuannya.
Namun, sebelum Rania sempat menarik tangannya, Arga lebih dulu bergerak maju. Cowok itu mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan lembut menggenggam telapak tangan Rania yang dingin dan gemetaran di atas meja.
*Zzzzt!*
Detik itu juga, Rania merasa seolah-olah ada sengatan listrik bertegangan tinggi yang merambat dari telapak tangan Arga, naik ke lengannya, dan langsung menghantam jantungnya. Seluruh tubuh Rania menegang seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Sentuhan tangan Arga begitu hangat, sangat kontras dengan udara dingin malam itu. Kulit tangan Arga yang sedikit kasar karena sering memegang stang motor terasa begitu nyata di kulit tangannya yang sensitif. Genggaman Arga tidak terlalu erat, namun c**up kokoh untuk membuat Rania tidak bisa bergerak ke mana-mana.
"Tangan lo dingin banget, Ran," ucap Arga lirih. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Rania, memancarkan ketulusan dan rasa bersalah yang mendalam. "Maaf ya... gara-gara gue ajak ke sini, lo jadi kedinginan. Mana gue malah egois curhat masalah gue sendiri ke lo."
Rania tidak bisa mendengar suara bising di sekitar mereka lagi. Suara rintik hujan, denting sendok, dan musik akustik di kedai kopi itu mendadak senyap. Fokusnya hanya tertuju pada satu hal: wajah Arga yang berada hanya beberapa puluh sentimeter di hadapannya, dan kehangatan tangan cowok itu yang kini mengunci tangannya.
Jantung Rania berdegup sangat kencang, hingga dia takut Arga bisa mendengar suaranya. Di bawah meja, kakinya terasa lemas seperti jeli. Sentuhan sesederhana ini sudah c**up untuk meruntuhkan seluruh akal sehat yang selama ini dia bangun dengan susah payah.
*Kenapa harus Gisel, Ga?* bisik batin Rania dengan sangat perih. *Kenapa lo harus sesakit ini demi cewek yang nggak peduli sama lo, sedangkan di sini... ada gue yang selalu mikirin lo setiap malam? Ada gue yang bakal selalu prioritasin lo di atas segalanya...*
Perasaan yang selama ini dia pendam rapi di sudut tergelap hatinya mendadak meluap-luap, mendesak ingin dikeluarkan. Pertahanan diri Rania benar-benar berada di ambang kehancuran. Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata, membuat pandangannya terhadap Arga menjadi sedikit buram.
"Ga..." suara Rania bergetar hebat. Dia menatap Arga dengan tatapan yang sangat intens, tatapan yang sarat akan luka, kerinduan, dan cinta yang terlarang.
"Kenapa, Ran?" tanya Arga lembut. Dia sedikit memiringkan kepalanya, merasa ada yang aneh dengan ekspresi wajah Rania saat ini. Ibu jari Arga tanpa sadar mengusap punggung tangan Rania dengan gerakan perlahan, mencoba memberikan ketenanganβtanpa tahu kalau tindakan itu justru semakin menghancurkan kewarasan Rania.
"Gue..." Rania menarik napas dalam-dalam. Kata-kata itu sudah berada di ujung lidahnya. Dia ingin mengatakannya sekarang juga. Pers**** dengan Gisel, pers**** dengan status sahabat mereka, dia hanya ingin Arga tahu bahwa dia mencint** cowok itu setengah mati.
"Sebenarnya gue..."
*Bzzz... Bzzz... Bzzz...*
Tiba-tiba, ponsel Arga yang tergeletak di atas meja bergetar hebat, memecah keheningan magis yang baru saja tercipta di antara mereka. Layar ponsel yang tadinya gelap kini menyala terang, menampilkan sebuah nama dengan emot***n hati berwarna merah di sampingnya.
*Gisel Calling...*
Bagaikan disiram air es di tengah malam yang dingin, Rania langsung tersadar sepenuhnya. Kenyataan pahit kembali menghantamnya tanpa ampun.
Dengan gerakan cepat dan panik, Rania menarik tangannya dari genggaman Arga. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela, mencoba menyembunyikan air matanya yang hampir saja jatuh, sekaligus berusaha menormalkan detak jantungnya yang berantakan.
Arga sempat terlihat terkejut dengan penolakan tiba-tiba dari Rania, namun perhatiannya langsung teralihkan ke arah ponselnya yang masih terus bergetar.
"Gisel telepon," gumam Arga, ada nada lega sekaligus gugup dalam suaranya saat melihat nama pemanggil tersebut. Dia menatap Rania seolah meminta izin. "Gue... angkat bentar ya, Ran?"
Rania hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani menatap wajah Arga. "Iya, angkat aja, Ga."
Saat Arga menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan mulai berbicara dengan suara yang melembut penuh harap, Rania mengepalkan tangannya erat-erat di bawah meja. Sisa kehangatan tangan Arga masih terasa di kulitnya, namun di dalam dadanya, rasa sakit yang teramat sangat kembali berkuasa.
Rania memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi kebodohannya yang hampir saja menghancurkan segalanya. Dia sadar, sejauh apa pun Arga mencari kenyamanan padanya, pada akhirnya, nama Gisellah yang akan selalu tertulis di layar ponsel cowok itu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!