Namun, kehangatan yang Rania rasakan di sudut *Kopi Latar* malam itu tidak bertahan lama.
Suara gemerincing bel di atas pintu ma**k kedai kopi tiba-tiba berdenting, memecah kesunyian di antara suara rintik hujan. Rania refleks menoleh ke arah pintu. Detik itu juga, senyum tipis di wajahnya langsung surut.
Sesosok gadis dengan jaket denim *oversized* dan rambut panjang yang sedikit basah karena gerimis melangkah ma**k. Wajahnya yang cantik alami tampak segar, langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kedai sebelum akhirnya matanya berbinar begitu menemukan meja di pojok ruangan.
"Gisel?" gumam Rania lirih. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena senang, melainkan karena rasa bersalah yang langsung menghantam dadanya seperti palu godam.
Arga yang juga menyadari kedatangan Gisel langsung melambaikan tangan. "Sini, Sel!" serunya c**up keras agar terdengar di antara alunan musik akustik kedai.
Gisel setengah berlari menghampiri meja mereka. Gadis itu langsung duduk di sebelah Arga, membuat Arga spontan menggeser tubuhnya agar kekasihnya itu mendapat ruang yang lebih nyaman. Gisel langsung merengkuh lengan Arga erat-erat, lalu menatap Rania dengan senyum lebar tanpa dosaβsenyum tulus yang selalu sukses membuat Rania merasa seperti penjahat paling keji di dunia.
"G***, di luar dingin banget!" seru Gisel sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. "Untung gue langsung dapet tebengan temen sekelas tadi pas kelar urusan himpunan. Pas Arga nge-share lokasi kalian di sini, gue langsung minta turun di depan gang."
Rania memaksakan sebuah senyum. "Lo... kok nggak bilang mau ke sini, Sel? Tau gitu kan tadi bareng aja."
"Sengaja mau ngasih *surprise*!" Gisel tertawa renyah, lalu beralih menatap Arga yang kini sedang mengeringkan sisa air hujan di puncak kepala Gisel menggunakan tisu. "Kamu kok nggak bilang-bilang kalau ngajak Rania makan mi rebus? Curang banget, baunya enak banget lagi."
"Tadi dadakan, Sel. Rania mau pulang naik ojol pas hujan, ya jelas gue larang lah," jawab Arga lembut. Tangannya beralih merapikan anak rambut Gisel yang menempel di pipi dengan gerakan yang sangat natural, sangat intim. Sebuah pemandangan yang membuat cokelat panas di dalam perut Rania mendadak terasa hambar dan membeku.
Rania hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mengaduk sisa cokelat panasnya yang mulai mendingin. Di depannya, sepasang kekasih itu saling melempar tawa dan obrolan kecil. Arga menyuapi Gisel sisa mi rebusnya, dan Gisel menerimanya dengan senang hati.
Di mata semua orang, mereka adalah pasangan ideal. Arga yang protektif dan hangat, bersanding dengan Gisel yang ceria dan penyayang. Dan Rania? Rania hanyalah bayangan di antara mereka. Sahabat dekat yang selalu ada, namun harus mengubur perasaannya dalam-dalam di dasar bumi paling gelap.
"Eh, Ga," Gisel tiba-tiba menepuk lengan Arga. "Bukannya kamu ada janji sama bokap kamu jam sembilan malam ini? Ini udah lewat seperempat jam, lho."
Arga tersentak. Dia langsung melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya. "Astaga, gue lupa! Bokap minta ditemenin ke bengkel langganannya buat ambil mobil yang beres diservis." Cowok itu buru-buru menegak habis kopi hitamnya yang sudah dingin, lalu menatap Gisel dan Rania dengan wajah penuh penyesalan.
"Aduh, maaf banget. Gue bener-bener lupa," ujar Arga panik sambil memakai jaketnya kembali. "Gisel, Rania, gue harus cabut duluan. Nggak apa-apa, kan? Kalian pulangnya gimana?"
"Nggak apa-apa, Ga. Sant** aja," sahut Gisel menenangkan. "Gue bisa pesen taksi online kok nanti bareng Rania. Kan rumah kita searah, nanti gue anter Rania dulu baru gue pulang."
Arga mengembuskan napas lega. Dia mengusap kepala Gisel lembut. "Yaudah, kalian hati-hati ya. Kalau udah sampai rumah, langsung kabarin gue." Sebelum melangkah pergi, Arga menoleh ke arah Rania dan tersenyum hangat. "Ran, titip Gisel ya. Jangan biarkan dia main hujan."
Rania mengangguk kaku. "Iya, Ga. Hati-hati di jalan."
Setelah Arga melangkah keluar dari kedai kopi dan menghilang di balik kegelapan malam, suasana di meja mereka mendadak berubah. Hanya tersisa Rania dan Gisel. Hujan di luar justru semakin deras, menciptakan tirai air yang memisahkan mereka dari dunia luar.
"Huft, akhirnya bisa selonjoran," ujar Gisel sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. Dia merogoh tas selempangnya, berniat mengambil ponsel. Namun, dahinya langsung berkerut saat menekan tombol *power* berkali-kali. Layar ponselnya tetap gelap gulita.
"Yah... mati total," keluh Gisel sambil mendesah frustrasi. "Baterai gue habis, Ran. Mana powerbank gue ketinggalan di kosan lagi."
Rania mendongak. "Mati? Terus pesen taksi onlinenya gimana?"
Gisel menatap Rania dengan mata memohon yang menggemaskan. "Ran, pinjem hp lo dong? Gue mau pesen taksi online pake akun gue. Tinggal log in aja, atau kalau nggak, lo yang pesenin juga nggak apa-apa nanti gue ganti cash uangnya. Hp lo masih ada baterai, kan?"
Rania tidak berpikir panjang. Bagaimanapun, Gisel adalah sahabatnya. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponselnya yang bermerek iPhone putih, lalu membukanya menggunakan *Face ID* miliknya sebelum menyerahkannya pada Gisel.
"Nih, baterainya masih aman kok, masih sekitar empat puluh persen," kata Rania tulus.
"Makasih banyak, Rania sayang! Lo emang penyelamat gue," ujar Gisel girang seraya menerima ponsel Rania.
Gisel mulai mengetuk layar, mencari aplikasi ojek online yang biasa mereka gunakan. Rania kembali menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela kaca yang berembun, mengamati butiran air hujan yang berkejaran jatuh ke bawah. Pikirannya melayang kembali pada Arga, pada bagaimana rasanya jika tangan hangat cowok itu tadi merapikan rambutnya, bukan rambut Gisel.
*Gue jahat banget,* batin Rania perih. *Gisel itu baik banget sama gue. Tapi kenapa tiap malam gue nggak bisa berhenti bayangin pacarnya?*
Tiba-tiba, keheningan di antara mereka dipecahkan oleh suara getaran pendek dari ponsel yang sedang dipegang Gisel.
*Ting.*
Sebuah notifikasi pop-up berwarna ungu pastel muncul di bagian atas layar ponsel Rania. Itu adalah notifikasi dari aplikasi *Secret Diary*βsebuah aplikasi buku harian digital yang dikunci dengan password, tempat di mana Rania menumpahkan seluruh obsesi, kesedihan, dan fantasi liarnya tentang Arga yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun di dunia ini.
Biasanya, aplikasi itu mengirimkan pengingat harian otomatis pada jam sembilan malam untuk menulis jurnal. Sialnya, aplikasi itu juga menampilkan potongan kalimat terakhir yang ditulis oleh penggunanya sebagai bentuk 'kilas balik'.
Gisel yang sedang mencari aplikasi ojek online di folder sosial media mendadak menghentikan gerakan jemarinya. Matanya tidak sengaja membaca deretan kalimat yang muncul di baris notifikasi tersebut.
Di layar itu, tertulis dengan jelas:
**[Secret Diary] Kilas Balik 1 Hari Lalu:**
*"...rasanya makin g*** mendem rasa ini sendirian. Kenapa lo harus punya Gisel, Ga? Tiap malam gue cuma bisa bayangin lo ada di samping gue, meluk gue, dan..."*
Darah Rania rasanya berhenti mengalir seketika.
Mata Rania yang tadinya menatap keluar jendela langsung beralih ke arah ponselnya. Saat dia melihat warna ungu khas dari ikon aplikasi diary-nya di layar, dan melihat bagaimana mata Gisel membelalak lebar membaca tulisan itu, dunia Rania serasa runtuh.
Satu detik.
Hanya butuh waktu satu detik untuk menghancurkan segalanya.
Saraf-saraf di tubuh Rania mendadak menegang. Adrenalinnya melonjak drastis. Tanpa bisa dicegah oleh akal sehatnya, Rania langsung melompat dari kursinya. Dengan gerakan yang sangat kasar dan tergesa-gesa, dia merenggut ponsel itu dari cengkeraman Gisel.
*SREK!*
Ponsel itu berpindah tangan dengan cepat. Karena gerakan Rania yang terlalu tiba-tiba dan bertenaga, kuku jarinya sempat menggores punggung tangan Gisel, meninggalkan bekas merah yang c**up kontras di kulit putih sahabatnya.
Suasana di meja pojok itu mendadak sunyi senyap. Musik akustik yang mengalun dari speaker kedai kopi seolah-olah lenyap, digantikan oleh suara detak jantung Rania yang berdegup kencang bak genderang perang.
Gisel terpaku. Tangannya masih melayang di udara, kosong. Wajahnya yang semula ceria kini berubah drastis menjadi tegang. Matanya yang bulat menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara terkejut, kesakitan karena goresan kuku Rania, dan kebingungan yang sangat mendalam.
"Ran...?" suara Gisel terdengar sangat pelan, hampir berupa bisikan. "Lo... kenapa?"
Rania berdiri mematung di samping meja, menggenggam ponselnya erat-erat di balik punggungnya seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Napasnya memburu. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya meskipun udara di dalam kedai sangat dingin.
"Gue... gue..." Rania terbata-bata. Otaknya mendadak kosong. Dia mencoba mencari alasan, kebohongan apa saja yang ma**k akal untuk menyelamatkan dirinya. "Gue... s-sorry, Sel. Gue nggak bermaksud kasar."
Gisel perlahan menurunkan tangannya. Dia mengusap punggung tangannya yang digores Rania tadi, lalu menatap Rania lekat-lekat. Matanya yang tajam seolah sedang menguliti Rania hidup-hidup.
"Kenapa lo harus sekasar itu cuma buat ambil hp lo?" tanya Gisel, nadanya tidak lagi sehangat biasanya. Ada nada dingin yang asing di sana. "Gue cuma mau pesen taksi, Ran. Gue nggak berniat buat kepoin privasi lo."
"Bukan gitu, Sel! Bukan!" Rania mencoba membela diri, suaranya sedikit meninggi karena panik, membuat beberapa pengunjung di dekat mereka sempat menoleh sekilas. Rania buru-buru menurunkan volume suaranya. "Ada... ada chat sensitif dari kakak gue soal masalah keluarga. Gue... gue refleks. Maaf banget, Sel. Gue bener-bener nggak bermaksud kasar sama lo."
Gisel tidak langsung menjawab. Dia hanya diam, namun sorot matanya menunjukkan bahwa dia tidak mempercayai satu kata pun yang keluar dari mulut Rania.
Gisel bukan cewek bodoh. Dia sempat membaca potongan kalimat di notifikasi itu sebelum Rania merebut ponselnya secara brutal. Otaknya yang cerdas langsung merangkai kata demi kata yang sempat tertangkap oleh matanya.
*...rasanya makin g*** mendem rasa ini...*
*...Kenapa lo harus punya Gisel, Ga?...*
*...Tiap malam gue cuma bisa bayangin lo...*
Nama 'Gisel'. Nama 'Ga'βyang hampir pasti adalah singkatan dari Arga. Dan kata-kata 'membayangkan lo'.
Gisel merasakan ada sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya. Kecurigaan yang selama ini tidak pernah dia hiraukan, yang selalu dia tepis karena dia sangat mempercayai Rania sebagai sahabat terbaiknya, kini mendadak muncul ke permukaan dengan sangat nyata.
"Ran," panggil Gisel pelan, namun kali ini suaranya terdengar sangat serius. Dia menegakkan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam manik mata Rania yang bergetar ketakutan. "Tadi... itu notifikasi apa?"
Rania menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering seperti berpasir. "Itu... cuma aplikasi *quote* harian, Sel. Biasa lah, aplikasi galau-galauan yang sering lewat di TikTok."
"Aplikasi *quote* harian?" Gisel mengulang ucapan Rania dengan nada sinis yang sangat tipis, hampir tak terdengar. "Aplikasi *quote* harian tapi ada nama gue dan Arga di dalamnya? Sejak kapan pembuat aplikasi tahu nama pacar gue?"
Pertanyaan telak itu membuat Rania bungkam seribu bahasa. Wajahnya kini benar-benar pucat pasi, kehilangan seluruh rona alaminya. Rania merasa seolah-olah lant** di bawah kakinya runtuh, mengirimnya jatuh bebas ke dalam jurang kehancuran yang selama ini paling dia takuti.
Rahasia yang dia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan, obsesi gelap yang dia lakukan setiap malam di dalam kamarnya yang sunyi, kini berada di ambang batas untuk terbongkar di depan orang yang paling tidak seharusnya tahu.
Satu detik menuju hancur, dan Rania tahu, dia tidak bisa lari lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!