Arga tersentak. Dia langsung menepuk dahinya keras-keras, membuat bunyi plok yang c**up nyaring di sudut kedai kopi yang tenang itu.
"Mampus! Gue beneran lupa, Sel!" Arga buru-buru merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang ternyata dalam mode getar. Layarnya langsung menyala, menampilkan lima pangg***n tak terjawab dari sang ayah dan sebuah pesan singkat dengan huruf kapital semua: *KAMU DI MANA? PAPA SUDAH DI RESTORAN.*
"Tuh, kan. Kamu sih, kalau udah asyik ngobrol suka lupa waktu," sahut Gisel. Nada suaranya terdengar biasa saja, sangat tenang, bahkan ada senyum tipis di bibirnya. Namun, bagi Rania yang sudah mengenal Gisel selama tiga tahun, ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata sahabatnya itu. Ada kilatan dingin yang asing, yang belum pernah Rania lihat sebelumnya.
Arga langsung panik. Dia merapikan barang-barangnya dengan tergesa-gesa—mema**kkan kunci motor, dompet, dan ponsel ke dalam saku jaketnya. "Gue anter kalian balik sekarang, ya? Ini masih gerimis, tapi gue usahain cepet."
"Nggak usah, Ga," potong Gisel cepat. Tangannya bergerak menahan lengan Arga yang hendak berdiri. "Kamu langsung jalan aja ke restoran tempat bokap kamu nunggu. Deket kan dari sini? Biar aku sama Rania naik Grab car aja. Kasihan bokap kamu kalau harus nunggu lebih lama lagi. Kamu tahu sendiri kan Papa paling nggak suka orang yang nggak disiplin?"
Arga tampak menimbang-nimbang. Dia menatap Gisel, lalu beralih menatap Rania yang sejak tadi hanya diam membeku di tempat duduknya.
"Beneran nggak apa-apa? Gerimis lho ini," tanya Arga memastikan.
"Nggak apa-apa, Arga sayang. Udah, buruan gih jalan," ujar Gisel sambil menepuk-nepuk bahu Arga dengan lembut.
Rania memaksakan sebuah anggukan, mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya yang terasa sangat kaku. "Iya, Ga. Langsung jalan aja. Gue aman kok bareng Gisel."
"Ya udah, gue duluan ya. Sel, nanti kalau udah dapet *driver*-nya, langsung *share link* perjalanannya ke gue, oke? Ran, gue duluan!" Arga mengacak rambut Gisel sekilas—sebuah gestur manis yang biasa dia lakukan—lalu memberikan lambaian singkat pada Rania sebelum melangkah lebar-lebar meninggalkan kedai kopi.
Begitu pintu kedai berdenting menutup di belakang punggung Arga, kehangatan yang tadi sempat tersisa di meja mereka mendadak menguap tanpa bekas. Keheningan yang canggung langsung turun, menyelimuti Rania dan Gisel.
Gisel tidak langsung memesan taksi *online*. Dia hanya diam, menatap layar ponselnya yang gelap, lalu beralih menatap cangkir cokelat panas Rania yang sudah mendingin.
"Mau langsung balik, Ran?" tanya Gisel. Suaranya datar. Tidak ada lagi nada ceria bernada tinggi yang biasanya selalu mendominasi obrolan mereka.
"Eh... iya, boleh. Gue ngikut lo aja, Sel," jawab Rania gugup. Jantungnya mulai berdegup tidak karuan. Rasa bersalah yang tadi sempat mereda kini kembali menyeruak, menyumbat tenggorokannya hingga dia kesulitan bernapas.
Gisel memesan taksi lewat aplikasinya tanpa bersuara lagi. Selama menunggu mobil jemputan datang, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Gisel sibuk dengan ponselnya, sementara Rania berpura-pura menatap ke luar jendela, memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan aspal, sambil meremas jemarinya sendiri di bawah meja untuk meredakan tremor.
Saat mobil jemputan akhirnya tiba, mereka ma**k dan duduk di kursi belakang. Jarak di antara mereka berdua yang biasanya selalu diisi dengan tawa, saling pamer foto estetik di Instagram, atau sekadar berbagi *earphone* untuk mendengarkan lagu baru, kini terasa seperti jurang pemisah yang sangat lebar.
Gisel menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, menatap kosong ke arah jalanan yang temaram oleh lampu kota.
Rania melirik sahabatnya itu dari sudut mata. Dada Rania berdenyut nyeri. Dia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meskipun Gisel belum mengucapkan sepatah kata pun yang menuduhnya. Namun, keheningan Gisel malam ini jauh lebih menyiksa daripada rentetan pertanyaan penuh amarah.
*Apakah Gisel tahu?*
*Apakah Gisel sadar kalau selama ini gue selalu membayangkan pacarnya sebelum tidur?*
*Apakah rahasia busuk gue udah terbongkar?*
Pikiran-pikiran itu berputar-putar di kepala Rania bak badai, membuatnya merasa mual karena kecemasan yang luar biasa.
***
Sebenarnya, dugaan Rania tidak sepenuhnya salah. Naluri seorang perempuan—terutama seorang kekasih—jarang sekali meleset.
Gisel bukanlah gadis bodoh yang mudah dikelabui. Belakangan ini, dia merasakan ada perubahan yang sangat halus, namun signifikan, dari sikap Arga. Perubahan itu tidak terlihat dari bagaimana Arga memperlakukannya, karena Arga masih tetap menjadi pacar yang manis, protektif, dan penuh perhatian.
Perubahan itu ada pada cara Arga menyebut nama Rania.
Dalam beberapa minggu terakhir, nama Rania seolah menjadi kata wajib yang selalu terselip dalam setiap obrolan mereka.
Saat mereka sedang makan siang bersama, Arga tiba-tiba akan berkata, *"Eh, Sel, kemarin Rania bilang pengen nyobain ramen yang baru buka di mal sebelah. Kapan-kapan kita ajak dia ke sana, yuk?"*
Saat mereka sedang berada di toko buku, Arga akan mengambil sebuah novel dan berujar, *"Rania pasti suka buku ini. Dia kan suka genre misteri kayak gini. Gue beliin buat dia, ya?"*
Bahkan saat Arga terlambat menjemput Gisel di kampus, alasannya hampir selalu berkaitan dengan Rania. *"Maaf ya, Sel, tadi nemenin Rania bentar nyari bahan referensi tugas akhir di perpustakaan pusat. Kasihan dia kalau harus bawa buku tebel-tebel sendirian."*
Awalnya, Gisel mencoba berpikir positif. Rania adalah sahabatnya sejak semester pertama kuliah, dan Arga adalah pacarnya yang memang berhati hangat dan penolong. Wajar jika mereka dekat. Namun, lama-kelamaan, frekuensi nama Rania yang diucapkan Arga terasa terlalu sering. Seolah-olah, di dalam kepala Arga, tidak hanya ada Gisel sendirian, melainkan ada Rania yang juga ikut mengambil ruang di sana.
Dan puncaknya adalah malam ini.
Gisel melihat bagaimana Arga menatap Rania sebelum dia datang tadi. Melalui kaca jendela kedai kopi yang basah oleh hujan, Gisel sempat berdiri selama beberapa detik di luar, memperhatikan interaksi kedua orang itu. Dia melihat bagaimana Arga tertawa lepas mendengar ucapan Rania, bagaimana cara Arga menatap gadis itu dengan binar mata yang terlalu hangat untuk ukuran seorang "sahabat pacar".
Dan yang paling menyakitkan adalah ekspresi Rania sendiri. Gisel melihat dengan jelas ada ketakutan, rasa bersalah, sekaligus binar kerinduan yang mendalam di mata Rania setiap kali Arga berada terlalu dekat dengannya.
Gisel memejamkan matanya rapat-rapat di dalam taksi yang melaju membelah malam. Dadanya terasa sesak oleh rasa kecewa yang luar biasa. Dia menyayangi Rania. Sangat menyayanginya. Rania adalah tempatnya bercerita tentang segala hal, orang pertama yang dia peluk saat dia merasa sedih, dan sahabat yang selalu mendukung hubungannya dengan Arga sejak awal.
Namun kini, melihat kenyataan bahwa sahabat terbaiknya mungkin memiliki perasaan terlarang pada kekasihnya sendiri, membuat pertahanan diri Gisel mulai runtuh.
***
Dua hari setelah malam di kedai kopi itu, ketegangan dingin di antara mereka semakin menjadi-jadi.
Rania duduk di salah satu meja kayu di area *gazebo* kampus, mencoba fokus pada laptopnya. Namun, pikirannya melayang ke mana-mana. Sejak malam itu, Gisel benar-benar menjaga jarak. Pesan-pesan WhatsApp dari Rania hanya dibalas dengan jawaban singkat, dingin, dan tanpa emot***n sama sekali.
*“Sel, lo kelas jam berapa hari ini?”*
*“Jam 1.”*
*“Mau makan siang bareng gak? Gue yang traktir deh.”*
*“Gak usah. Gue udah makan.”*
Sikap defensif Gisel membuat Rania didera kecemasan yang luar biasa setiap detiknya. Dia merasa seperti berjalan di atas lapisan es tipis yang bisa retak dan menenggelamkannya kapan saja.
"Hei."
Sebuah suara familier memecah lamunan Rania. Dia mendongak dan mendapati Arga berdiri di depannya dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Laki-laki itu tersenyum lebar, langsung mengambil tempat duduk di kursi kosong di seberang Rania.
"Gue cariin di kantin gak ada, ternyata malah mojok di sini," ujar Arga sant**. Dia meletakkan segelas es kopi susu yang baru dibelinya di atas meja. "Gisel mana? Biasanya jam segini kalian berdua kayak anak kembar, nempel mulu."
Jantung Rania langsung mencelos mendengar nama Gisel disebut. Dia buru-buru merapikan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak longgar. "Gisel... kayaknya lagi ada urusan sama anak-anak himpunan deh, Ga."
"Oh, pantesan. Tadi gue chat juga cuma dibalas singkat banget. Lagi pusing kali ya dia sama acara kampus," gumam Arga, lalu menyeruput es kopinya. Dia menatap Rania dengan saksama. "Lo sendiri kenapa pucet banget, Ran? Belum makan siang ya?"
"Udah kok. Cuma... agak kurang tidur aja karena tugas," bohong Rania. Faktanya, dia tidak bisa tidur selama dua malam terakhir karena terus-menerus memikirkan sikap dingin Gisel.
Tanpa diduga, Arga mengulurkan tangannya dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Rania. Gerakan yang begitu tiba-tiba, begitu natural, namun langsung membuat seluruh tubuh Rania menegang kaku. Sentuhan kulit Arga terasa hangat, mengirimkan sengatan listrik yang sudah sangat akrab sekaligus sangat dia takuti ke seluruh aliran darahnya.
"Gak panas sih, tapi lo kelihatan lemes banget," kata Arga, menarik kembali tangannya dengan wajah khawatir yang tulus. "Jangan dipaksain, Ran. Kalau capek, istirahat. Nanti kalau lo sakit, siapa yang repot? Gue juga yang pusing."
"Arga, gue gak apa-apa—"
"Gak apa-apa gimana? Muka lo kayak tripleks gitu putihnya." Arga terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.
Tepat pada detik itu, sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arah *gazebo*. Rania dan Arga serempak menoleh ke arah sumber suara.
Gisel berdiri di sana, beberapa langkah dari anak tangga *gazebo*. Dia mengenakan kemeja flanel longgar dengan rambut yang dikuncir kuda. Di tangannya, dia memegang map plastik berisi berkas-berkas kuliah.
Wajah Gisel datar, tanpa ekspresi. Namun, matanya tertuju lurus pada Arga, lalu beralih perlahan menatap Rania. Ada keheningan yang mencekam selama beberapa detik di antara mereka bertiga.
Rania merasa dadanya seperti dihantam batu besar. Dia langsung menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Arga, seolah-olah jarak beberapa sentimeter itu bisa menghapus kenyataan bahwa Arga baru saja menyentuh dahinya dengan begitu intim beberapa detik yang lalu.
"Eh, Sel! Baru kelar urusan himpunan?" tanya Arga, langsung berdiri dari duduknya dengan senyum lebar, sama sekali tidak menyadari ketegangan luar biasa yang sedang terjadi di antara dua gadis di depannya.
Gisel tidak membalas senyuman Arga. Dia hanya mengangguk pelan. "Iya, baru kelar."
"Sini duduk, Sel. Ini Rania juga lagi nugas di sini," ajak Arga hangat, sambil menggeser duduknya agar Gisel bisa ikut bergabung.
Gisel menatap kursi kosong di sebelah Arga, lalu menatap Rania yang kini sedang meremas pulpen di tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Nggak usah, Ga," jawab Gisel. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada ketegasan dingin yang tidak bisa dibantah di dalamnya. "Gue ke sini cuma mau ngambil buku referensi yang kemarin dipinjem Rania. Gue butuh bukunya sekarang buat bimbingan dosen."
Rania tersentak. Dia langsung membuka tasnya dengan gerakan panik, mencari buku tebal bersampul biru yang dimaksud Gisel. "Eh... iya, Sel. Ini... ini bukunya. Udah selesai gue baca kok. Makasih banyak ya, maaf kalau lama balikinnya." Rania menyodorkan buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Gisel menerima buku itu. Kulit jari mereka sempat bersentuhan selama satu detik, dan Rania bisa merasakan betapa dinginnya tangan Gisel. Gisel bahkan tidak menatap mata Rania saat menerima buku itu. Tatapannya tertuju pada hal lain, seolah Rania hanyalah angin lalu yang tidak penting.
"Makasih," kata Gisel singkat. Dia langsung berbalik, bersiap untuk pergi.
"Lho, Sel? Kok buru-buru banget?" tanya Arga heran, memegang pergelangan tangan Gisel untuk menahannya. "Kita gak makan siang bareng? Gue senggang nih sampai sore."
Gisel melepaskan cekalan tangan Arga dengan perlahan namun pasti. Dia menatap Arga dengan senyum tipis—senyum yang terasa sangat asing di mata Arga.
"Nggak bisa, Ga. Gue sibuk hari ini. Lagian, lo kan bisa makan bareng Rania. Kasihan dia, dari tadi belum makan katanya," ujar Gisel.
Meskipun kalimat itu terdengar seperti perhatian biasa, Rania tahu persis makna terselubung di baliknya. Itu adalah sindiran yang sangat tajam, sebuah tamparan tanpa suara yang langsung mengenai telak di wajah Rania.
Sebelum Arga sempat membalas, Gisel sudah melangkah pergi meninggalkan *gazebo* dengan langkah-langkah lebar yang tegas, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Arga menatap kepergian pacarnya dengan dahi berkerut, tampak kebingungan dengan sikap Gisel yang tidak biasa. "Gisel kenapa sih? Gak biasanya dia se-sensitif itu kalau lagi sibuk."
Sementara itu, di seberang meja, Rania hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata yang sejak tadi dia tahan mati-matian kini mulai menggenang di pelupuk matanya. Dadanya terasa begitu sesak hingga dia harus mencengkeram pinggiran meja kayu untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.
Naluri seorang sahabat tidak pernah salah. Dan malam ini, Rania tahu, dia baru saja kehilangan sahabat terbaiknya demi sebuah perasaan sepihak yang bahkan tidak seharusnya pernah ada.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!