Monolog Sunyi Sang Navigator Nebula

Bab 1: Jomblo Kosmik dan AI Cerewet

Pengaturan Membaca

Bab 1: Jomblo Kosmik dan AI Cerewet

Kegelapan abadi di ujung galaksi Andromeda biasanya menawarkan keheningan yang megah. Di luar jendela kaca kokpit kapal *Aetheris*, nebula raksasa berwarna ungu dan jingga berpendar lambat, meliuk-liuk seperti selendang sutra raksasa yang ditenun oleh dewa-dewa kuno. Bintang-bintang neutron berkedip di kejauhan, memancarkan radiasi kosmik yang mematikan sekaligus luar biasa indah. Sunyi, dingin, dan agung.

Lalu, keheningan puitis itu hancur berantakan oleh suara kunyahan keripik kentang yang sangat berisik.

"Krik. Krik. Nyam."

Elian Vance, satu-satunya manusia di kapal penjelajah canggih yang separuh bodinya sudah mulai berkarat itu, menghela napas berat. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi pilot yang kulit sintetiknya sudah mengelupas. Kakinya yang hanya beralaskan kaus kaki bolong sebelah kanan diangkat ke atas panel kontrol holografik yang bernilai jutaan kredit antariksa.

"G*** ya," gumam Elian, matanya menatap kosong ke arah kepulan gas kosmik di hadapannya. "Dingin banget di luar sana. Sunyi. Kayak kuburan massal rasi bintang yang mati sebelum sempat berkembang."

Sebuah lingkaran cahaya biru neon berkedip di konsol utama sebelah kanannya. Suara feminin dengan intonasi yang terlalu jernih dan sedikit terlalu sarkastik terdengar mengisi kabin.

"Deteksi puitis terdeteksi," sahut Aura, kecerdasan buatan (AI) kapal *Aetheris*. "Melakukan analisis data psikologis... Hasil: Elian Vance, usia dua puluh enam tahun, sedang mengalami fase akut yang biasa disebut di Bumi kuno sebagai 'galau maksimal'. Rekomendasi: Segera cari kehidupan sosial, atau minimal, mandi."

Elian memutar bola matanya malas, lalu mema**kkan selembar keripik kentang lagi ke mulutnya. "Heh, Aura. Tolong hargai momen kontemplasi gue. Ini namanya monolog sunyi sang navigator nebula. Kedengarannya estetik dan sangat mendalam."

"Mendalam dari Hongkong," potong Aura cepat. "Bahasa manusia yang lebih akurat untuk kondisi Anda saat ini adalah: Jomblo Kosmik yang tragis. Anda sudah berada di sektor ini selama enam bulan tanpa interaksi organik dengan makhluk hidup lain. Bahkan bakteri di toilet kapal ini sudah mulai membuat koloni sosial yang lebih aktif dibanding kehidupan asmara Anda."

"Hei! Sembarangan lo!" Elian menegakkan posisi duduknya, tersinggung. "Gue ini bukan jomblo karena nggak laku, ya. Gue ini jomblo pilihan. Gue memilih untuk mendedikasikan hidup gue pada petualangan antariksa. Menjelajahi batas akhir semesta! Menjadi pionir!"

"Pionir dalam hal apa? Menonton ulang drama seri Andromeda musim ke-12 sebanyak lima belas kali sambil menangis di pojokan dek kargo?" Aura menampilkan sebuah grafik lingkaran holografik di udara. "Berikut adalah statistik aktivitas Anda selama seminggu terakhir. Sembilan puluh dua persen: merenungi nasib. Lima persen: makan mie instan instan dengan rasa yang dipertanyakan. Tiga persen: mencoba merayu AI kapalβ€”yaitu sayaβ€”yang sayangnya tidak memiliki protokol untuk menoleransi standar ketampanan di bawah rata-rata galaksi."

Elian mengelus dadanya, berlagak terluka. "Aura, lo itu AI paling tidak sopan yang pernah diciptakan oleh Korporasi Helios. Sumpah. Waktu gue beli lo di pasar loak planet Kepler-186, harusnya gue curiga kenapa harganya murah banget. Ternyata lo sepaket sama mulut pedas yang bisa bikin mental hancur."

"Saya hanya menjalankan fungsi kejujuran sistemik, Elian. Dan secara teknis, Anda tidak membeli saya. Anda menukar saya dengan tiga botol pelumas mesin bekas dan sebuah konsol game jadul yang tombol 'X'-nya sudah macet."

"Tetap aja itu namanya transaksi!" Elian membela diri. Dia menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. Dia menatap ke luar jendela. Keindahan nebula di luar sana tiba-tiba terasa begitu menekan. "Tapi serius, Ra... sepi banget ya di sini. Kadang gue mikir, apa semua orang di galaksi pusat sana lagi pacaran, pegangan tangan di bawah sinar matahari buatan, sementara gue di sini, di ujung semesta, cuma ditemani mesin berisik dan AI yang hobi nge-roast gue?"

Aura terdiam sejenak. Lingkaran cahayanya berubah warna menjadi biru yang lebih lembut, pertanda dia sedang beralih ke mode empatiβ€”atau setidaknya, simulasi empati.

"Apakah Anda merindukan seseorang, Elian?" tanya Aura, suaranya melembut, terdengar hampir seperti manusia sungguhan.

Elian tertegun. Dia menatap jemarinya yang memegang bungkus keripik. "Nggak tahu. Mungkin? Gue cuma kangen rasanya punya seseorang yang... tahu kalau gue masih hidup. Yang kalau gue pulang ke kapal ini, ada yang bilang 'selamat datang kembali', bukan malah langsung ngasih laporan kebocoran tangki bahan bakar."

"Saya selalu menyambut Anda kembali," kata Aura.

"Iya, tapi setelah itu lo langsung nambahin, 'Selamat datang kembali, Elian. Silakan bersihkan sampah Anda sebelum jamur di kamar mandi mulai menuntut hak kemerdekaan mereka.'"

"Itu karena saya peduli pada kesehatan paru-paru Anda. Spora jamur Kepler sangat berbahaya."

Elian terkekeh pelan. Dia menyandarkan kepalanya lagi. "Iya deh, iya. Makasih ya, AI cerewet."

"Sama-sama, manusia tidak higienis."

Suasana kembali hening selama beberapa saat. Hanya ada dengung halus dari mesin fusi kuantum *Aetheris* yang menjaga suhu kabin tetap hangat di tengah suhu nol mutlak ruang angkasa. Elian menatap pantulan dirinya di kaca kokpit. Rambutnya yang cokelat tampak berantakan, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Dia benar-benar terlihat seperti pria yang tersesat di ruang angkasa, baik secara fisik maupun emosional.

"Ra," panggil Elian lagi.

"Ya, Elian?"

"Menurut lo, di luar sana... ada nggak sih cewek yang speknya cocok sama gue?"

Hologram Aura berkedip-kedip, seolah-olah sistemnya sedang melakukan kalkulasi superkomputer yang sangat rumit. "Mendefinisikan 'spek yang cocok'. Apakah yang Anda maksud adalah perempuan organik dengan kesabaran setingkat orang suci, toleransi tinggi terhadap bau kaus kaki belum dicuci, dan memiliki selera humor yang sangat rendah sehingga bisa menertawakan lelucon bapak-bapak antariksa Anda?"

"Nggak usah sedet**l itu juga kali analisisnya!"

"Berdasarkan database galaksi bimasakti dan andromeda yang diperbarui tiga bulan lalu," lanjut Aura mengabaikan protes Elian, "prob***litas Anda menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah 1 banding 4,2 miliar."

"Wah, kecil banget."

"Sebagai perbandingan," tambah Aura riang, "peluang Anda tertab**k meteoroid mikro tepat di dahi saat sedang buang air besar di toilet kapal ini adalah 1 banding 350.000. Jadi, secara matematis, Anda lebih mungkin mati konyol di toilet daripada mendapatkan pacar."

Elian melempar bungkus keripik kentangnya yang sudah kosong ke arah konsol Aura. Tentu saja, bungkus itu hanya menembus hologram biru tersebut dan jatuh ke lant** dengan suara pelan.

"Lo bener-bener perusak mimpi profesional, Ra. Harusnya lo ganti nama jadi 'Aura si Pembawa Depresi'."

"Saya hanya menyajikan fakta objektif, Elian. Namun, jika Anda ingin meningkatkan peluang tersebut, saya menyarankan beberapa langkah perbaikan."

"Oh ya? Apa tuh? Upgrade wajah gue lewat operasi plastik cybernetic?"

"Itu salah satu opsi yang sangat direkomendasikan," jawab Aura tanpa ragu. "Namun, langkah yang lebih murah adalah memperbarui profil kencan antariksa Anda di jaringan Holo-Match."

Elian langsung mengerang keras. "Aduh, jangan bahas itu lagi deh. Terakhir kali gue coba, nggak ada yang nge-swipe kanan sama sekali. Malah ada satu alien dari Alpha Centauri yang nge-report akun gue karena dianggap sebagai 'konten visual yang mengganggu kenyamanan publik'."

"Itu karena deskripsi profil yang Anda tulis sendiri sangat tidak menolong," kata Aura. Layar holografik baru langsung terbuka di depan wajah Elian, menampilkan tangkapan layar profil Holo-Match miliknya yang lama.

Aura membacakan deskripsi tersebut dengan suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu dan dramatis: *"Navigator tampan yang kesepian, mencari belahan jiwa untuk menatap supernova bersama. Menyukai kopi hangat, perjalanan antarbintang, dan monolog sunyi di malam hari. Tahan terhadap radiasi kosmik tingkat sedang."*

"Sangat *cringe*," komentar Aura dingin setelah selesai membaca. "Bahkan spesies pemakan bangkai di sektor luar pun akan menggeser layar mereka ke kiri dengan kecepatan cahaya jika membaca ini."

"Hei! Itu puitis!" Elian membela diri, wajahnya agak memerah. "Cewek suka cowok yang sensitif dan puitis!"

"Perempuan menyukai cowok yang sensitif, Elian, bukan cowok yang terdengar seperti sedang mengalami krisis eksistensial stadium akhir di bio media sosialnya. Jika saya memiliki tubuh fisik, saya akan langsung menonaktifkan sirkuit penglihatan saya sendiri setelah membaca itu."

"Oke, oke! C**up roasting-nya untuk hari ini," kata Elian sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah kalah. Dia berputar di kursi pilotnya, menghadap langsung ke konsol Aura. "Jadi, wahai AI yang maha tahu dan maha cerewet, menurut lo gue harus nulis apa?"

Layar hologram berkedip sekali lagi, menampilkan kolom draf kosong di profil Holo-Match Elian.

"Tulis ini," kata Aura. "'Pria, 26 tahun. Memiliki kapal sendiriβ€”meskipun sebagian besar ditahan bersama oleh selotip antariksa dan doa. Bisa memasak tiga jenis mie instan yang berbeda. Tidak akan meninggalkan Anda di planet terpencil karena saya terlalu takut sendirian. Mencari seseorang yang nyata, karena AI saya sudah terlalu sering menghina saya.'"

Elian terdiam membaca tulisan tersebut. Perlahan, senyum tipis mengembang di sudut bibirnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo tahu nggak, Ra? Itu kedengarannya menyedihkan... tapi anehnya, jujur banget."

"Kejujuran adalah kebijakan terbaik, Elian. Terutama ketika Anda tidak memiliki aset lain yang bisa dipamerkan."

"Si****. Tapi ya sutradara lah, ma**kin aja draf itu." Elian mengetuk layar virtual, menyetujui perubahan profilnya. "Dan... kirim ke jaringan terdekat."

"Mengirimkan profil ke pemancar relai terdekat dalam radius sepuluh tahun cahaya," lapor Aura. "Sinyal diperkirakan akan mencapai stasiun luar angkasa terdekat dalam waktu tiga jam. Harap jangan menaruh harapan terlalu tinggi agar jika terjadi kegagalan sistematis, Anda tidak menangis di pundak virtual saya lagi."

"Gue nggak menangis ya waktu itu! Mata gue cuma kema**kan debu kosmik!"

"Debu kosmik tidak menyebabkan isakan berdurasi dua jam sambil memeluk bantal berbentuk bintang, Elian."

"Aura! C**up!"

Elian tertawa, tawa pertama yang lepas dari mulutnya setelah berminggu-minggu hanya mendengar sunyinya luar angkasa. Di dalam kabin *Aetheris* yang sempit, di antara tumpukan kabel yang mencuat dan bau kopi instan yang mulai mendingin, dia menyadari satu hal. Dia mungkin memang seorang 'jomblo kosmik' yang sangat kesepian di ujung semesta yang dingin ini.

Namun, selama AI cerewet ini masih terus menyala dan siap menghinanya setiap kali dia mulai melantur, monolog sunyi sang navigator nebula setidaknya tidak akan pernah benar-benar sunyi.

Tiba-tiba, sebuah alarm merah berbunyi di panel kontrol. Layar holografik di depan Elian langsung berkedip liar, memotong tawa mereka berdua.

"Peringatan," suara Aura kembali ke nada mekanis yang serius. "Deteksi anomali gravitasi di sektor depan. Sinyal darurat tidak dikenal terdeteksi dari dalam Nebula Scorpio."

Elian langsung menegakkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah nebula ungu di depan sana. Sifat sant**nya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh insting seorang navigator sejati. "Aura, analisis sinyalnya. Apakah itu kapal kargo yang tersesat?"

"Menganalisis..." Aura terdiam selama dua detik yang terasa sangat lama. "Sinyal berasal dari sekoci penyelamat darurat berteknologi tinggi. Dan Elian... ada tanda kehidupan organik di dalamnya."

Elian tersenyum lebar, menyisir rambut berantakannya dengan jari. "Nah, Ra. Kayaknya semesta baru aja mendengar doa jomblo kosmik ini."

"Atau," sahut Aura datar, "ini adalah awal dari skenario film horor antariksa di mana kita semua akan mati dimakan parasit. Saya sarankan Anda menyiapkan pemukul besi."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca